Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 124 - Salah Sangka!!



Setelah mengantarkan yvone kembali kerumah dia bergegas menuju tempat pertemuan dia dan Karennina.


"Huh!"


Rangga membuang nafas kasar, dia tahu ada rasa kekecewaan yang dia rasakan juga dari sikap pasrah Yvone barusan. Dia belum siap memberitahukan alasan mengapa da masih menutupinya saat ini.


Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya Rangga bisa menemukan Karen. Dia segera menghampirinya, Nina terkejut ternyata Rangga tidak membawa Yvone di sampingnya.


"Lama amat ngapain dulu sih?!" Sungut Nina kesal.


Rangga tidak sanggup membohongi Nina, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan menyeringai pura-pura tidak terjadi apapun.


Rangga duduk di sebelah Nina, dia mengangkat tangannya meminta pelayan menghantarkan makanan untuknya. Dia sungguh lapar, seperti yang sudah di ketahui bahwa di hadapan Nina dia tak lebih dari sebutir kacang! Dia butuh ekstra energi menghadapi seorang ratu.


Nina memperhatikan gerak gerik Rangga semakin membuat pria itu salah tingkah.


"Lu liatin gitu kenapa?"


"Baru nyadar kalo gue ganteng dan menggoda gitu?" Goda Rangga menyeringai pada Nina.


"Iya..."


"Aku terkadang selalu tidak mengerti, padahal kamu sangat tampan."


"Jauh lebih baik dalam memperlakukan wanita dari pria mana pun yang aku kenal!"


Nina menatap Rangga serius, pria itu tengah termangu dengan ucapan Nina.


Apa yang ingin Karen bahas kali ini? Mengapa dia mengungkit hal ini kembali...


"Apa kamu bertengkar dengan Hanssel?"


"Apa dia menyakiti dan mengecewakan mu?!"


Seketika emosi Rangga memuncak, dia sungguh telah berkorban banyak untuk merestui keduanya. Jika Hassel berani menyakiti Nina dia tidak segan segera menyakitinya!!!


"Yeaah... Manusia itu tidak ada yang sempurna bukan?!" Nina memang senang memancing keributan bahkan saat ini menjadikan suaminya kambing hitam demi sesuatu yang ingin dia pastikan sendiri.


"Hatcciiww!!"


"Tiba-tiba merinding gini, binik gue pasti lagi berulah ni mesti!!" Gumam Hanssel menggeleng kepala dan kembali melakukan pekerjaannya di Adamson Group.


Braaak!


"Dimana dia sekarang?"


"Aku akan menghajarnya!!!"


Emosi Rangga sudah mencapai puncaknya, bahkan dia telah melihat perut Nina semakin membesar dan suaminya itu justru membuat calon ibu dari keturunannya merasakan kekecewaan.


"Hahaha!!"


"Bukan kah ini kesempatan mu?"


Nina menautkan kedua tangannya di bahu Rangga. Betapa terkejutnya pria itu dengan tindakan Nina. Debar jantungnya sejenak seperti berhenti berdetak namun satu detik kemudian berpacu dengan cepatnya. Dia menelan salivanya, dia bisa menghirup wangi yang sangat dia rindukan sangat lama.


"Kareen..." Lirih Rangga dengan nafas berat.


Sejujurnya Nina tidak suka melakukan hal ini, dia hanya sedang memancing saja. Nina kembali mendorong tubuh Rangga yang semakin mendekat dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Heh..."


"Kau senang bermain-main dengan perasaanku Karen?"


"Maaf..."


"Aku tidak bermaksud!!"


"Huh!"


"Mana cewek yang kamu sembunyikan di apartemen?!"


"Aku pikir kamu akan membawanya sekalian."


"Mengingat saat ini nyawanya masih jadi incaran!"


DEEEG!!!!


Lengkap sudah keterkejutan Rangga, setelah ini dia harus memeriksa ke dokter specialis jantung perihal debaran jantungnya yang selalu di buat terkejut sepanjang waktu.


"Farah benar, dengan mu privacy itu tidak ada harganya!!!" Sungut Rangga kesal.


"Cih, ga usah ngalihin pembicaraan."


"Dimana dia?"


"s iapa..." Lirih Rangga hampir tidak terdengar.


"YVONE!" Pekik Nina nyaring.


DEG!!


Dah lah, gue kena serangan jantung terus!


Rangga terdiam dia tidak tahu harus mengatakan apa di depan Karennina. Dia masih saja bungkam.


"Kaaak!" Pekik Yvone ketakutan kini terdengar di telinga Rangga seketika membuat tubuh pria itu berbalik 180 derajat menatap kedatangan gadisnya yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Kareen!!" Rangga kembali menampipkan wajah frustasinya di hadapan Nina.


Nina memang sudah menyediakan orangnya di apartemen Rangga demi melindungi gadis itu. Yvone masih di incar oleh pihak lawan, dia membawanya kemari bukan hanya ingin mengorek informasi melainkan membawanya ke tempat aman.


Yvone menatap nanar ke arah Rangga dengan persepsi yang salah, dia mengira bahwa dirinya di anggap selingkuhan oleh kekasih Rangga yaitu Nina.


Nina berdiri, betapa terkejutnya Yvone saat mengetahui bahwa perut Nina juga membuncit pertanda dia tengah hamil.


Aku tidak menyangka ternyata aku hanya sedang merasa indah saja!!!


Yvone semakin ketakutan, air matanya sudah membanjiri wajahnya kali ini.


Apa aku dianggap pelakor saat ini??!!! Mengapa wanita ini begitu menakutkan!! Tamat sudah riwayatku!!


Nina berhenti memberikan jarak antara dia dan Yvone.


"Kamu Yvone bukan?!" Selidik Nina.


"Kareeen!!"


"Dia tidak ingat, dia hilang ingataaan!!"


Deg!


Kali ini Yvone menatap serius pada Rangga, merasa ada yang jauh lebih salah.


"Apa kamu yang melakukan perubahan wajah ini?!"


Rangga terpaku membisu, habis sudah semua usaha penyamarannya selama ini.


"Kau adalah sahabat ku Rangga!"


"Teganya kamu menipu ku?!"


"Apa kamu meragukan aku dan Keenan?!"


"TIDAAK!!"


"Bukan seperti itu..."


"Aku bisa jelaskan..."


"Kak?!"


Yvone menatap nanar pada penolongnya, ternyata selama ini Rangga menyimpan sesuatu di belakannya. Kejadian asli yang menimpanya, Yvone mulai tidak mempercayai Rangga.


Nina terdiam, "Aku minta maaf..."


"Aku tidak bisa mencegah kakak ku!"


Nina menundukan wajahnya di hadapan Yvone membuat dia semakin di landa kebingungan luar biasa.


"Walau ini salah, tapi aku sudah pikir kan sebelumnya."


"Aku akan menjamin keselamatan mu!"


"Kamu di bawah naungan Kaviandra."


"Dan kamu berhak membantu kami menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi."


"Kamu adalah kunci dari permasalahan penyelidikan kami."


"Felicia nama yang bagus, tetaplah memakainya sampai kamu mengingat jelas siapa dirimu."


Rangga menunduk, kegelisahannya menguap setelah Nina mengungkap apa tujuannya.


"Feli, Karennina adalah penyelamat mu sesungguhnya!"


Deg!


Nina menyunggingkan senyumnya "Karen..."


Nina menjulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu Yvone menyambut menjabat tangan Nina.


"Duduklah, kamu belum makan bukan?!"


"Maaf aku menyambut tamu dengan tidak sopan."


"Sebagai gantinya kamu boleh sepuasnya memesan apapun disini."


"Huh!"


"Kageet gue!!" Rangga mengusap dadanya, semua bawahan Nina sudah kembali di posisi mereka.


"Lu juga pake sok-sokan nyembunyiin berharap bisa selesein sendiri."


"Tanpa kami, akses mu terbatas kisanak!"


"Aku bilang kita harus kerja sama!!"


Yvone masih tidak mengerti ada hubungan apa antara keduanya. Bahkan wanita di depannya mengatakan bahwa dia adalah kunci dari penyelidikan.


Apa sebelumnya aku adalah korban kejahatan?! Apapun itu setidaknya aku bukan pelakor bukan?


Bagi Yvone saat ini hal yang menjadi prioritasnya hanya bersama pria yang dia sayangi di hadapannya.


"Bagaimana jika kakakmu mengetahui keterlibatan mu kembali."


Nina menyeringai "Todak masalah!! Dia sangat menyayangiku, dia tidak akan bisa melihat aku merengek."


"Dih anak manja!!" Sungut Rangga.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui sejauh ini?"


"Gadis ini tidak tahu apa-apa lagi Karen."


"Semua karena obat itu... "


"Aku minta maaf, aku menyembunyikan kebenarannya dari mu Yvone."


"Sepertinya sudah saatnya kamu mengetahui kebenarannya."


✲✲✲✲✲✲