
Keenan menarik lengan Farah, tubuh gadis itu hampir menyentuh tubuh kakak sepupunya. Jantungnya berdebar dengan kencangnya. Jarak mereka berdua hanya tersisa satu helaan nafas saja.
"Apa kamu tengah mencari perhatian dari ku Farah Lee?!"
Keenan mengucapkan kalimat tepat di depan bibir Farah. Gadis itu tidak bereaksi apapun jiwanya seolah melayang ke alam lain. Matanya mencoba tanpa berkedip dia memperhatikan detail wajah mulus dan tampan kakak sepupunya.
Keenan adalah pria yang sudah dia sukai sedari bangku sekolahnya. Ingatan Farah dibawa kembali ke masa dimana saat itu usianya baru menginjak 17 tahun, keluarganya mengalami musibah. Keenan datang membawa angin segar. Atas nama keluarga besar Kaviandra, Keenan menjamin keluarga Lee dan membawa Farah serta mengangkatnya menjadi adik.
Farah di sekolahkan di tempat yang sama dengan Nina. Sehingga hampir separuh kehidupan remajanya di penuhi oleh fantasi memacari kakak sepupunya yang dingin dan jenius di berbagai bidang tidak hanya berbisnis. Tapi sayang seribu sayang dia hanya bisa sebatas mimpi tentu saja.
Keenan menelan salivanya menatap manik indah kedua netra gadis di depannya.
Please, don't wake me up!!
Farah berharap bahwa Keenan menciumnya.
"ONTY!!"
PRAAANG!
Retak sudah mimpi gadis itu oleh pekikan jendral kecilnya.
"Big uncle?!"
Jimmy memiringkan wajahnya.
Keenan segera melepaskan cengkraman tangannya dari gadis yang sudah membuatnya kesal beberapa hari kebelakang.
"Jimmy, what do you want?!"
Bruuk!
Keenan melewati tubuh Farah dengan sedikit kasar, Farah masih terpaku separuh jiwanya masih berada di alam lain.
Keenan bersimpuh mengacak rambut Jimmy, teringat dimana Nina selalu menempel dengannya saat mereka kecil.
"Aku hauuss..."
Keenan menatap nyalang pada Farah yang masih membawa gelas kosong. Karena isinya sudah tumpah sepenuhnya di baju Keenan.
"Okay Uncle bawakan untuk mu..."
Keenan menggendong keponakan kesayangannya dan memberikannya minuman yang diinginkan kemudian berlalu meninggalkan Farah.
"Nasib... Nasib!!"
Farah menuju dimana keluarga Kaviandra berada saat ini. Dia perlu perlindungan agar dia bisa panjang umur.
"Ibu... Papa!"
Jimmy beralih menuju pelukan orang tuanya.
Hanssel menggendong putra kesayangannya.
"Apa kamu menikmati pestanya?!" Tanyanya kemudian.
"Ehmm!!" Jimmy mengangguk antusias.
Keluarga Adamson menghampiri mereka, ini kali pertama Nyonya Rossie berbaur dengan keluarga Kaviandra. Selama prosesi acara pesta mereka belum sempat berbincang santai.
"Adamson!!"
"Kaviandra!!"
Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan. Begitu pulang pasangan keduanya saling berbagi pelukan.
"Saya sungguh minta maaf atas sikap kurang ajar saya tempo dulu." Tanpa basa basi Nyonya Rossie mengungkapkan rasa bersalahnya.
"Karennina.." Nyonya Rossie mendekati mantan pegawainya.
"Maafkan saya Karennina, saya sungguh tidak tahu diri."
"Nyonya..."
"Mama sayaaang..."
"Mulai sekarang kamu panggil dengan sebutan mama."
"Iya ma..."
Nina mengembangkan senyumnya, Nyonya Rossie merentangkan tangannya dan keduanya berpelukan hangat. Betapa bahagianya Hanssel kedua wanita yang paling di cintainya di dunia ini kembali akrab.
"Maafkan ketidaksopanan kami dalam menyambut kalian."
"Bocah degil ini baru mengatakannya sehari sebelum pesta!"
Tuan Adamson menekan kepalan tangannya di atas kepala Hanssel membuat semuanya terkekeh dengan kebersamaan keduanya.
"Haha... Kau sangat tahu aku tidak suka yang berbau formal begitu!"
"Kita kan sahabat baik..."
"Lagi pula pernikahan ini memang sudah kita rencanakan 5 tahun yang lalu."
"Ternyata mereka tetap berjodoh!"
"Benar!!"
"Kalau begitu, ijinkan kediaman kami menyambut anda di rumah."
"Tentu saja dengan senang hati!"
Rangga kembali tersenyum getir, nyatanya Nina dan Hanssel memang telah di jodohkan sedari lama. Tak berapa lama kedua orang tua Rangga membaur mereka terlibat perbincangan para orang tua.
Salah satu teman Hanssel yang lainnya yaitu Ruben beserta beberapa teman lain menghampiri pengantin.
"Congrats brow!!"
"Lama hiatus bawa pacar eh taunya punya bini!!"
"Bangsat!!"
"Haha!"
"Kakak ipar, kok mau sih sama dia?!"
"Tutup mulutmu Ruben!" Hanssel mengumpat kesal pada teman-temannya yang tengah menggodanya.
"Hans, Jimmy mengantuk biarkan dia bersama Farah!" Nina menatap putranya yang tengah dalam penglihatan mode lampu 5 watt.
"Owh okay..." Hanssel meletakan Jimmy dalam pangkuan istrinya.
"Kalian lanjutkan mengobrol saya pamit sebentar."
"Siap kakak ipar cantik!!"
"Heh bang*ke jaga matamu Simon!"
Farah tengah menempel dengan bibinya, sebelumnya Nyonya Lyn heran dengan sikap tidak wajar keponakannya itu.
"Kamu kenapa?!"
"Aku ngantuk bi!"
"Owh, bentaran lagi ya..."
Nyonya Lyn memang tidak pernah membedakan kasih sayangnya. Farah sungguh mengangap bibinya adalah seorang ibu baginya.
Keenan yang sudah pamit lebih dulu karena ulah Farah sudah tidak ingin lagi membuat perhitungan hari ini.
"Kita lihat nanti Farah Lee!!" Gumam Keenan meninggalkan aula pesta di temani asistennya.
"Farah..."
"Kareeeeeen..."
"Kamu cape?!"
Farah mengangguk dengan wajah menggemaskannya.
"Ya udah sana ke mobil, Jimmy juga udah ngantuk."
"Kalian pulang ke rumah lebih dulu."
Farah mengamati sekitar lebih dulu, dia sepertinya menduga bahwa kakak sepupunya itu sudah tidak ada disana lagi.
"Fuuh!"
"Kamu kenapa?!"
Nina membalikan badan menatap Farah yang mendengus lega.
"Hanya senang akhirnya bisa rebahan!"
"Bukannya sibuk tebar pesona disana banyak cowok ganteng nan tajir!!" Goda Nina menyenggol tubuh mungil Farah.
"Siapa?!"
"Emang ada yang lebih ganteng dari kak Keenan?!"
"Yang lebih kaya dari kak Keenan?!"
"Temen laki lu kalah jauh!!!"
Nina terbahak dengan penuturan polos sepupunya yang masih sama terobsesi dengan kakaknya.
"Nona muda..."
"Eh paman Charles..."
Keduanya di hentikan oleh asisten Adamson.
"Seperti instruksi dari Nyonya dan tuan bahwa semua keluarga Kaviandra menginap di kediaman besar Adamson."
"Oh gitu, baiklah paman maaf merepotkan."
"Farah dan Jimmy mereka akan pulang lebih dulu."
"Baik nona mari saya antarkan menuju mobil dan supir yang sudah tersedia."
Nina menyerahkan Jimmy yang sudah tertidur sepenuhnya.
"Anakmu selama pesta berlangsung tau makaaan aja!"
"Ya persis ama lu!"
"Lu kan yang ngajak dia?!"
"Hihi..."
"Hati-hati okay..."
"Paman Charles titip mereka..."
"Siap nyonya..."
Nina kembali menuju ruang aula, namun langkahnya terhenti sebelum sampai tempat tujuan. Dia seperti tengah di ikuti, namun saat berbalik badan dia tidak menemukan siapapun. Dengan tenang Nina kembali membalikan badannya dan menekan gelang miliknya yang kembali mengeluarkan lebah kecil pengintai miliknya tanpa terlihat.
Nina terus melangkahkan kakinya, para pengawal tengah membukakan pintu untuknya. Dia kembali membaur dengan tamu undangan dan suaminya.
"Gila sih lu macarin banyak gadis tapi sekali dapet buy one get one!!" Canda Simon pada Hanssel.
Rangga saja yang mendengarnya tersulut emosi mereka mengolok Nina. Hanssel menenangkan temannya.
"Dimana lagi yang bisa dapet buy one get one rasa perawan!!"
"Ba*ngke!"
Semuanya terbahak sampai Nina menghampiri mereka kembali.
***
"Aaahh Hansss..."
"Ya sayaaang!!"
Tanpa basa-basi keduanya melabuhkan kembali cinta mereka sesampainya di kediaman besar Adamson. Hanssel membawa istrinya ke kamarnya yang penuh dengan barang pribadi yang akan membawa Nina mengenal lebih dekat tentang suaminya.
Hanssel terus menggerakan tubuhnya mengikuti hasratnya yang semakin memuncak. Nina mengeratkan cengkraman tangannya di bahu prianya yang lengket. Mereka tidak mengenal apa itu kata lelah dan istirahat. Mereka hanya tahu hari ini adalah awal kehidupan baru mereka dan hari-hari berikutnya merupakan harapan bagi kebahagian keluarga kecil mereka.
Jika dua pengantin yang tengah berbahagia itu tengah bergumul dengan hasrat mereka. Berbeda dengan Rangga yang justru melanjutkan menuju bar di hotel yang sama.
"Gue lihat lu akrab banget ama bini Hanssel?!"
"Jangan-jangan Lu yang nyomblangin?!"
Ruben menggoda temannya, mereka semua memperhatikan kedua teman yang seperti saudara kembar itu.
"Ya..."
Rangga menenggak gelas wine, dia menatap nanar ke bawah tempatnya berada di atas rooftop hotel menghindari beberapa wanita yang mulai menatapnya nakal.
"Kalo iya comblangin masa iya sekarang lemes!!" Timpal Simon.
Rangga hanya mendengus kasar, dia yang tertutup tentu saja tidak akan pernah menyebar aib saudaranya sendiri. Rangga hanya melengkungkan senyuman pada temannya membuat mereka frustasi dibuatnya.
"Nyuruh cowok ini cerita tuh kek nyuruh limbad ngomong!!" Rutuk Ruben kesal.
Rangga hanya terkekeh dengan masih menenggak wine kini dari botolnya. Dia akan mabuk hari ini!!
✲✲✲✲✲✲