
“Tuan Ron tiba-tiba merubah intonasi suara anda membuat saya gelisah…” Ujar Hanssel bergurau.
“Haha… Kamu pastinya sudah tau…”
“………” Hanssel menatap Nina yang masih berekspresi datar dalam menanggapi perkataan tuan Ron.
Ada apa ini? Sepertinya Nina benar-benar meminta Tuan Ron agar dia menjadi karyawannya?
“Nina…” Tuan Ron memanggil Nina, memberi ruang agar wanita itu yang menjelaskan lebih detail.
“Baik tuan…”
“Tuan Hanssel yang terhormat, terima kasih atas 2 tahun yang berharga ini. Saya bisa seperti sekarang ini tentu ada karena anda yang sudah bermurah hati mengajari saya selama ini.”
“Jangan bertele-tele Nina!! Jelaskan maksud semua ini?!”
Di tengah emosinya, Hanssel menyimpan kegelisahan luar biasa. Dia menyadari sepertinya percakapan malam tadi dianggap serius oleh Nina.
Nina sungguh berani mengambil keputusan secepat ini.
“Baik, saya mengundurkan diri dari Adamson Group.”
DEG!!
Hanssel seperti tengah di beri pukulan berat kali ini. Apa yang dikhawatirkan ternyata terjadi juga.
“Heh…” Hanssel mencibir lirih.
“Kamu pikir kamu bilang pergi saat ini, kamu bisa pergi saat ini juga?!” Ujar Hanssel mengundang pertikaian.
“Tentu…” Tuan Ron mengambil bagiannya.
“Tender ini akan saya setujui dengan syarat, tukar sekertaris anda dengan persetujuan kerja sama kali ini.”
“Kamu tidak akan rugi melainkan untung. Yang meminta hak tender ini sudah ada beberapa perusahaan dan aku memilih kamu ini suatu keberkahan bukan?”
“Saya hanya menginginkan Nina menjadi bagian dari Lee Hi Group. Itu saja…”
“Berapapun nilai yang kamu ajukan saya akan meloloskannya.”
Dengan gaya khas pebisnis handal, tuan Ron memukul telak Hanssel. Nina sendiri sudah tahu, tender kali ini merupakan kerja sama bisnis utama yang harus di menangkan tahun ini. Dengan begitu Adamson Group akan meningkatkan nilai sahamnya di bursa.
Hanssel mengepalkan erat tangannya menahan kesal, dia menatap nyalang Nina yang kini tenah mengulum senyum ke arahnya.
Kamu ingin berperang denganku Hanssel? Sayangnya kamu belum cukup umur…
Dengan sangat jelas semua isi hati Nina terbaca di matanya. Hanssel membencinya!!
Aku pastikan kamu tidak akan pernah luput dari genggaman ku Nina! Kamu orang pertama yang berani seperti ini padaku!!
Hanssel berdiri, dia menarik jasnya menegaskan postur tubuhnya. Semua yang hadir dalam rapat menatapnya tajam.
Apa yang akan di lakukannya?
Nina berharap Hanssel tidak melakukan hal gila saat ini.
"Mohon maaf tuan Ron. Kami Adamson Group memang membutuhkan kerja sama ini. Namun, jika harus melepaskan Nina saya tidak akan mengijinkannya."
"Nina bukan sekedar karyawan atau sekertaris kepercayaan saya. Dia adalah asset Adamson Group!"
Dengan tenang Hanssel memutuskan kerja sama yang sangat di butuhkan Adamson Group. Tapi baginya melepaskan Nina jauh lebih buruk di banding kehilangan kerja sama dengan Lee Hi group.
Deg!
Nina merasa terenyuh dengan pemaparan bos mesumnya. Nina meyakini bahwa Hanssel tidak pernah peduli pada posisinya. Namun saat ini semuanya membuktikan bahwa posisi wanita itu begitu penting bagi Hanssel. Nina melayangkan senyum terbaiknya menatap Hanssel seolah sangat berterima kasih pada pria itu.
Hanssel yang di beri senyuman manis Nina tiba-tiba raut wajahnya merona. Tuan Ron yang menyaksikannya semakin di buat kagum dengan sepak terjang Nina dalam menghadapi Hanssel. Dimana rumornya Hanssel memiliki karakter kurang baik sebagai pria dan atasan.
Nina berdiri dia masih memiliki hal lain yang akan dia lakukan untuk menyadarkan ke angkuhan tuannya.
"Jika saya asset Adamson Group mungkin akan menjadi bahan pertimbangan untuk menaikan gaji saya."
"Tuan Ron, berapa yang anda sanggup untuk menghargai jerih payah saya?"
"Saya akan menaikan gaji anda dari Adamson 10x lipat."
Keduanya tengah memeras Hanssel.
"Kau bercanda Nina?! Disini gajimu bahkan lebih tinggi dari manager keuangan!" Sungut Hanssel.
"Tuan Ron menyanggupi apa salahnya..."
"Ingat, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau... Dan itu benar!!" Jawab Nina santai.
"Kau!!" Hanssel membulatkan bola matanya sampai terlihat ingin keluar dari tempatnya.
"Maaf tuan Ron ini masalah internal perusahaan kami, dan sepertinya anda telah melanggar kode etik human kapital kami!!"
"Oh ya? Tapi semua ini juga hak asasi Nina untuk memilih dimana tempat dia di hargai dalam mengasah kemampuannya!" Tuan Ron berdiri dan bersiap melancarkan serangan terakhir.
Hanssel memasukan kedua tangannya di saku celana eksekutifnya. Dia tengah gelisah dan marah melebur menjadi satu.
"Bagaimana tuan Hanssel? Saya yakin jika perkataan anda benar dengan mengatakan Nina adalah Asset Adamson. Jika kamu bisa menaikan harga Nina melebihi kesepakatan saya dengannya maka saya mundur. Itu nilai maksimal dan terbaik yang bisa saya beri untuknya."
Ingin rasanya aku mencekik Nina saat ini!!
"Baiklah, aku akan menaikan sebesar 12 kali lipat!"
"DEAL!!"
Tanpa basa-basi Nina menjabat tangan Hanssel tersenyum riang, Hanssel sendiri merasa dia tengah di lucuti oleh sekertarisnya sendiri.
"Terima kasih tuan Ron atas waktu anda dan kerja sama ini... Saya pastikan semua terlaksana sesuai dengan jadwal dan tentu saja bagi Adamson kepuasan klien adalah yang utama."
"Sekali lagi Terima Kasih..."
Nina tengah menundukan dirinya di sambut tatapan tidak percaya Hanssel, pria itu masih membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.
NINA SIALAN AKU KENA TIPU UNTUK KESEKIAN KALINYA!!!
"HAHAHAHA! Ini kali pertama saya melakukan akting sebaik ini... Tapi jujur Nina, Lee Hi memang membutuhkan sekertaris seperti kamu. Bahkan saya dengan yakin akan menjadikan kamu sebagai CEO Lee Hi group berikutnya." Tuan Ron menatap Nina sendu.
Nina merasakan bahwa tuan Ron tidak sekedar rekan bisnis mereka. Dia terdiam sejenak, menyadari Nina terlihat bimbang dengan sigap Hanssel merangkul bahu Nina dan menolak kembali tawaran tuan Ron.
"TIDAK TERIMA KASIH!"
"Seperti sebelumnya Nina selamanya hanya akan menjadi bagian dari Adamson Group!"
"Berapapun yang kamu inginkan bahkan aku juga akan menyerahkan posisi direkturku untukmu!!"
Hanssel menatap lekat wanita yang sudah memporak-porandakan hidupnya dua hari terakhir ini. Ada perasaan takut kehilangan Nina menyelimuti dirinya kali ini.
Sh*it kenapa aku seolah tengah menyatakan perasaanku pada Nina!!
Nina terpaku dengan jawaban serius Hanssel, dia sangat paham bagaimana bosnya berujar. Mana kebenaran dan mana kebohongan. Perkataannya barusan dia yakin Hanssel tengan bersungguh-sungguh.
Ada apa dengannya? Dan ada apa denganku... Rasanya aku....
Nina sungguh terharu dengan ucapan Hanssel, bahkan kali ini mampu menggetarkan hatinya. Wanita itu menahan sekuat tenaga agar air mata tidak keluar walau setetes saja.
"Wah jika begitu saya sepertinya tidak memiliki harapan... Kalau begitu saya pamit undur diri."
"Terima kasih atas kepercayaan anda pada Adamson Group. Saya berusaha untuk tidak mengecewakan anda."
Tuan Ron tersenyum pada Hanssel, Nina dengan cepat. mengantar tuan Ron hingga lobby perusahaan.
Di depan lobby tuan Ron berbalik.
"Nina, ada yang saya ingin bahas pribadi malam ini..."
"Bisakah kita bertemu di Hotel Emperor jam 8 ini?"
"Saya hanya memiliki waktu senggang di waktu itu. Esok saya harus segera ke Berlin." Ujar Tuan Ron ramah.
"Boleh tuan... Saya akan tepat waktu berada disana."
"Baiklah... Kamu jaga diri baik-baik dari Hanssel.."
Tuan Ron menepuk perlahan bahu Nina, Nina merasa dia seperti merasakan ayahnya yang melakukannya. Nina kembali membungkukan badannya berterima kasih.
✻✻✻✻✻✻