
"Sudah selesai?!" Nina membuka pintu mobil dengan langsung memberi topik pembicaraan.
"Hmmm..."
"Suamimu tahu kamu mengandung anaknya!"
"Bukankah kamu bilang dia tidak tahu?!"
Nina mengangkat bahunya, "Dia juga tidak bodoh makanya jadi CEO juga!!"
Keenan bermuka masam, menatap adiknya yang tengah sumringah.
"Kamu berpisah dengannya tapi se happy itu?!"
"Aku curiga!!!"
"Hahaha..."
"Makanya pacaran biar tahu apa itu perjuangan!!"
"BULLSHIT!!"
Nina menggelengkan kepalanya dengan kekehan. Dia tahu hati kakaknya bagai batu pada makhluk sejenis woman. Dia hanya tahu menyayangi ibu dan adiknya. Walau menjadi keuntungan ganda bagi Nina yang selalu dimanjakan tapi ada sedikit kegelisahan di hati adiknya.
"Kak..."
"Hmmm?!"
"Kakak ga jeruk makan jeruk kan?!!"
Nina menunjukan raut wajah khawatir di depan wajah kakaknya yang rupawan.
"COCOTEEEE!!!"
"Aaarrghh HAHAHAHA!!"
Nina mengusili kakaknya, kini Keenan tengah menekan kepala Nina berulang-ulang dengan kepalan tangan kekar kakaknya seperti mama shincan yang sedang marah.
***
Negara S, kediaman besar Kaviandra.
Keenan dan Nina telah sampai setelah memakai jet pribadi dan hanya memakan waktu lebih dari satu jam itu. Mereka telah di jemput oleh para pengawal pribadi dengan Limousin dan beberapa penjagaan ketat seperti protokol keselamatan seperti biasanya.
Nina menatap haru kesekitar, sudah sangat lama hampir 3 tahun dirinya tidak menginjakan kaki di Negara kelahirannya ini. Ada sedikit rasa takut jika atahnya masih tidak bisa menerimanya. Namun semua dia tepis, sejauh ini ayahnya sangat menyayanginya dia tahu itu. Suho bahkan kembali berdiri karena peran ayahnya.
Kediamannya terletak di bagian utara Negara S dengan lahan seluas 13 Hektar dengan bangunan yang bergaya kastil eropa. Nina sendiri lebih menyukai tinggal di kondominium miliknya di Beverly. Nina terlalu malas untuk berjalan dari kamar ke dapurnya aja perlu effort yang besar!
"Selamat datang kembali Nona muda..."
Para pelayan kastil tengah menunduk menyambut kedatangan tuan dan nona muda mereka saat ini. Nina mengembangkan senyumnya dia sungguh terharu. Dia bukan Cinderella yang tadinya miskin menjadi kaya. Sedari awal dia memang sudah berasal dari keluarga bangsawan. Dia adalah Elsa dunia novel karangan author sayang aku gak.
"Sayaaaang!!"
Suara wanita paruh baya yang sangat dia kenal sepanjang masa. Dia adalah ibunya nyonya Kaviandra atau nyonya Merlyn Aliaster.
"Mamaa..."
Nina menghambur kedalam dekapan ibunya, keduanya terisak berjamaah. Tuan besar Kaviandra menghampiri kedatangan tamu kehormatan. Dengan menggendong cucu kesayangannya pewaris kecil Kaviandra kelak. Nyonya Lyn melonggarkan pelukannya. Dia mengusap lembut kedua netra putrinya.
"Akhirnya kamu tahu jalan pulang!!"
Nina hanya menunjukan gigi rapinya kemudian menunduk.
"Ibuuu!!"
Panggilan putranya membuat Nina kembali mendongakan wajahnya.
"Papa..." Lirih Nina gelisah.
"Kau pulang membawa kebanggaan."
"Mengapa kamu terlihat lesu?!"
Tumpah kembali air mata Nina di peluknya erat pria paruh baya yang sudah menjadi cinta pertama dirinya sedari dia bisa mengenal dunia.
Sebelumnya tuan Kaviandra telah melepaskan gendongan Jimmy dan merentangkan kedua tangannya demi memelum putri kesayangannya.
"I'm sorry..."
"I really sorry..."
Nina bergetar mengatakannya di tengah isak tangisnya.
"Ssst..."
"You don't have to apologize."
(Kamu tidak perlu meminta maaf.)
"I'm your dad and you're my daughter."
(Aku ayahmu dan kamu putriku.)
"Everybody always do some mistakes, to find the right way!"
(Setiap orang selalu melakukan kesalahan, untuk menemukan jalan yang benar!)
Nina semakin mengeratkan pelukannya. Ayahnya ikut meneteskan air mata, dia menyeka sudut matanya cepat. Walau tidak terlihat namun seperti itulah kecintaan seorang ayah pada anak-anaknya.
"Dasar kang rusak suasana!!"
Kedua orang tuanya terkekeh kemudian mereka menyuruh para pelayan menyiapkan hidangan kebetulan ini sudah lewat dari jam makan siang.
Nina bergegas menggendong putranya.
"Ibu rinduuuu sekaliii!!"
"Are you happy in here?!"
(Apakah kamu senang di sini ?!)
"SURE!!"
(Tentu!)
"Granpa and grand ma treat me very well!!"
(Kakek dan nenek memperlakukanku dengan sangat baik!!)
"And you?!"
(Kamu bagaimana?!)
"I also do be a good boy!!"
(Aku juga menjadi anak baik)
"Toss!!"
Keduanya tertawa bersama kebahagian tengah menghampiri mereka. Lalu mereka melakukan makan siang bersama.
Nina tengah kembali ke kamar miliknya. Semua tidak berubah dari pertama dia meninggalkannya untuk mengenyam pendidikan di US sana hingga akhirnya dia pergi karena menikah dengan Erick Shin si brengsek.
"Huh!"
Brrruk!
Nina menghempaskan dirinya di ranjang kebesarannya. Jimmy tengah dimanajakan kakek neneknya. Dia kembali menemani keduanya. Sedangkan Nina pamit untuk beristirahat.
Nina mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol dari biasa yang rata ibarat ketebalan kertas HVS 80 gram.
"Papa mu sedang apa ya nak..."
"Ibu sungguh merindukannya..."
"Bukankah dia sangat baik pada kita?!"
Sekelebat memory kebersamaannya dengan Hanssel kembali terbuka bagai slide show yang berterbangan di pikiran Nina. Dia memejamkan matanya menghirup perlahan udara dan menghembuskannya perlahan juga. Dia kembali mengingat sebelum hari dimana dia dan Hanssel putus hubungan.
"Sayaaaang ayok bangun kita udah mau telat!"
Hanssel menarik tangan Nina kembali dan mengungkungnya dalam dekapan kemudian menarik selimut dan tentu saja melakukan serangan fajar.
Setelahnya Hanssel memandikan ratu di hidupnya menggosok tubuh Nina penuh kelembutan, Hanssel memanjakan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanssel juga menunduk memakaikan sepatu untuk istrinya.
Nina sungguh terbuai oleh perhatian luar biasa bos mesumnya. Selama ini dia tidak menyangka jika Hanssel bisa melakukan semua ini padanya.
"Apa semua wanita kencanmu kamu perlakukan seperti ini?!"
"Absolutely no!"
"You're the first!"
Nina mengembangkan senyumnya mendekati suaminya yang tengah memakai dasi miliknya. Istrinya di larang melakukan aktifitas yang memberatkannya. Nina meraih leher suaminya memiringkan wajahnya dan menyesap bibir seksinya tentu saja.
Hanssel menyambut dengan suka cita, dia menarik pinggang Nina agar tubuh mereka semakin dekat. Salah satu tangannya menyentuh tengkuk leher wanitanya. Mereka tengah mencari kenyamanan di setiap sapuan bibir keduanya yang telah basah.
Nina terbangun dan bangkit dari tidurnya menyentuh bibirnya perlahan.
"Astaga!!!"
"Aku seperti merasa itu baru saja terjadi..."
"HAAAIIISSSHH!!"
Nina memukul ranjangnya dengan kedua kakinya yang di hentakan kasar. Dia sungguh merindukan suaminya hingga se frustrasi ini.
Nina beranjak dari ranjang menuju kamar mandinya dia butuh berendam lebih lama. Bukan hanya para pria yang butuh meredakan hasrat yang tengah mencuat. Wanita dewasa juga butuh!
***
Keesokan harinya Hanssel sudah lebih tenang dari sebelumnya yang sangat impulsif mencari keberadaan Nina. Pria itu tengah merasa gelisah dan bahagia yang sukit di jelaskan dengan kata.
Gelisah atas tugas apa yang mungkin keluarga Kaviandra berikan untuknya demi mendapatkan restu membawa putrinya.
Bahagia karena, ya dia yakin dia dan Nina akan bersama selamanya. Dia yakin dia tidak sedang bertepuk sebelah tangan. Dia sangat yakin istrinya sangat mencintainya. Buktinya dia mau mengandung benih miliknya.
"Sayaaang... Aku akan berusaha dengan keras."
"Tunggu aku..."
Hanssel mengusap lembut potret kebersamaan mereka di ponselnya dengan senyuman mengembang. Dia bersiap keluar dari rumah namun ibunya menghentikannya.
✲✲✲✲✲✲