Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 100 - Weakness



Keenan tengah terduduk di depan ruang inap adiknya. Kepalanya dia topang di kedua genggaman tangannya.


"Huh!"


"Patutnya aku sembunyikan kamu ke Mars!"


Keenan merasakan mental adiknya sedang kacau, dia tidak ingin membebani lagi adik dengan perasaan seperti ini lagi.


"Hanssel bagaimana tugasmu disitu?"


"Kak, apa ada sesuatu yang terjadi dengan Nina?"


"Perasaanku tidak enak!!"


"Haisssh duo bocah ini!"


"Seharusnya aku memecat kalian berdua saja!"


Hanssel tidak mengerti apa yang di ucapkan kakak iparnya. Namun kalimat berikutnya cukup membuat Hanssel menjatuhkan ponselnya dan tanpa pikir panjang bergegas menuju bandara.


"Tuan, ini berkas yang anda inginkan."


"Mulai besok identitas anda menjadi Attha, sesuai dengan identitas yang kita curi dari orang ini."


"Pemilik aslinya?"


"Meninggal kecelakaan bulan lalu."


"Dia memiliki keuntungan karena pernah bekerja di bawah naungan Emperor."


"Semua barang-barang ini miliknya."


"Apa dia diberhentikan?"


"Iya kontrak dia habis sehari sebelum dia kecelakan."


Keenan tersenyum dia berterima kasih pada Sam yang selalu membantu dan mempersiapkan pekerjaannya dengan mendetail dan sempurna.


"Apa anda akan terbang menuju Negara B sekarang?"


"Iya, siapkan jet ku sebentar lagi."


"Aku pamit pada Karen, sebentar lagi suaminya yang akan menjaganya."


"Baik tuan."


Keenan kembali menuju kamar perawatan Nina, team medis telah selesai menangani adiknya yang terkejut.


"Kamu harus jaga dirimu baik-baik!"


"Kakak mau kemana?"


"Bekerja tentu saja..."


Wajah Nina kembali suram, dia sungguh takut sesuatu yang buruk akan menimpa kakak tersayangnya.


"Berjanjilah untuk tidak terlibat hal yang berbahaya!"


Nina memeluk kakaknya sangat erat, Keenan mengusap lembut kepala adik kesayangannya.


"Kau sangat tahu bukan resiko pekerjaanku."


"Sebentar lagi Hanssel pulang,dia akan menemanimu!"


"AKU TIDAK MAU TAHU BERJANJILAH PADAKU!"


Keenan terbahak melihat kekhawatiran adiknya.


"Iya adikku tersayaaangnya aku!"


Keenan mencium pucuk kepala Nina, Nina semakin mengeratkan pelukannya.


"Big uncle!"


"Hei Jimmy!"


"Ibuuuuu!"


Jimmy memekik melihat ibunya terbaring di rumah sakit. Keenan menggendong Jimmy dan memberikannya pengertian, Jimmy mengangguk mengerti.


"Sekarang temani ibu ya..."


"Uncle pergi dulu.."


"Sebentar lagi juga papa Hanssel pulang!"


"Benarkaaaah?"


Wajah Jimmy kembali terlihat menggemaskan membuat Keenan menciumi pipi bocah lucu itu berulang kali.


Apa aku berkesempatan memiliki keturunan ku sendiri? Aih, pikiran ini sungguh menggelikan Keenan!!


Keenan segera pamit dan bersiap berangkat menuju Negara B. Tempat dimana dia akan melakukan misi berikutnya.


Di dalam pesawat Keenan melengkungkan senyumanya menatap layar ponselnya.


"Bocah tengik, apa kamu akan menghukum ku jika aku menemuimu sekarang?" Gumam Keenan lirih dengan wajah yang masih dihiasi senyuman.


"Iya tuan?!"


"Apa tadi anda berbicara dengan saya?"


Sam menatap Keenan dengan gelisah, pasalnya tuannya berbicara sangat lirih.


"Eeheem!"


"Aku tidak berbicara padamu, kerja aja yang BENER!!" Rutuk Keenan merasa malu.


Sam membulatkan matanya kemudian segera menundukkan wajahnya dan meminta maaf.


***


"Gimana keadaan dia?"


"Anda benar sebagian tulang belakang nona ini patah, dia benar-benar memerlukan perawatan yang serius."


"Fasilitas disini tidak memadai, minimal anda harus membawanya ke Negara S."


"Kami angkat tangan tuan muda saya minta maaf!"


"Huh!"


"Jadi dia sedang koma?!"


"Benar tuan..."


"Dan satu hal lagi, dalam kandungan darah nona ada senyawa yang tercampur aduk."


"Ada sebagian yang sudah menghilang dengan sendirinya."


"Tapi ada yang masih bertahan menggumpal di dalamnya."


"Seperti kandungan zat halusinogen yang masih tersisa, dan yang paling membahayakan adalah senyawa Dopamin yang di temukan dalam jumlah yang banyak."


"Apa yang akan terjadi berikutnya?!"


"Senyawa dopamin sendiri erat kaitannya dengan mental, seperti skizofrenia dan kelainan bipolar. Kedua gangguan tersebut dapat menyebabkan kelainan mental yang berbahaya jika tidak segera ditangani."


"Dalam kasus tertentu bahkan menyebabkan kelainan fungsi otak."


"Saya mendapat kabar bahwa saat ini ada sekelompok penjahat yang menyalahgunakan senyawa ini menjadi senjata biologis. "


"Saya juga mendengar dengan pencampuran beberapa zat lainnya mereka akan membuat orang yang mengkonsumsi obat ini akan kehilangan ingatannya."


Rangga tertegun, dia sulit sekali mencari benang merah yang kini semakin menjalar dari kasus ke kasus yang tidak sengaja dia tangani.


Dia menatap iba pada tubuh Yvone yang kini tengah terpasang beberapa selang pembantu dan kabel-kabel yang melilit disekitarannya.


"Aku harus bertanya pada Karen..."


"Aku yakin dia terlibat dalam kejahatan internasional!!"


"Entah dipihak baik atau buruk."


Rangga terduduk dengan lemas di bangku depan ruang perawatan. Dokter juga menatap kasihan. Ini memang kasus yang jarang sekali terekspos di luar masyarakat umum.


Di satu sisi di rumah sakit Hanssel dengan berlari kencang menyelusuri ruang perawatan istrinya.


Braak!


"Sayaaang!" Pekik Hanssel.


"Papaaaa!"


"Jimmy..."


Hanssel memeluk erat putranya, dia mendekati istrinya yang tengah terduduk dan tersenyum ke arahnya.


"Apa yang terjadi?!" Lirihnya.


"Aku hanya terkejut..." Tukas Nina lemah.


"Siapa yang melakukan ini?!"


"Kau jangan menipuku!!"


Hanssel menaikan intonasi suaranya membuat Jimmy sedikit ketakutan.


"Pap..." Jimmy menatap papanya gelisah.


Hanssel menunduk dengan mata berkaca.


"Maafkan papa..."


"Pa pa..."


"Papa hanya takut jika sesuatu terjadi pada kalian dan papa tidak bisa melindungi ka lian..."


"Pa paa..."


Jimmy dan Nina terdiam menatap tubuh Hanssel yang kini bergetar hebat. Dia benar-benar ketakutan saat mendengar Nina masuk rumah sakit dan hampir keguguran.


Hanssel mendekati Nina dan bersimpuh memeluk wanitanya.


"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika itu sampai terjadi!" Gumamnya lirih.


"Bik, ajak Jimmy pulang ya..."


"Njeh non..."


"Jimmy nanti papa jemput Jimmy lagi okay.."


"Okay papa!"


Jimmy di turunkan dari gendongan Hanssel, Jimny sangat patuh dan kini tengah memegang tangan Nannynya kemudian beberapa pengawal menemani mereka pulang menuju rumah.


Setelah kepergian Jimmy, Hanssel dan Nina kembali terlibat percakapan serius.


"Aku baik-baik saja hanya saja saat itu aku terlalu terkejut melihat kakak terluka berusaha melindungiku."


"Aku tidak menyangka Yvone benar-benar mencoba mencelakaiku..."


"Lalu bagaimana dengan Yvone?!"


"Dia mati..."


Nina kembali diserang perasaan gelisah. Sejujurnya dia tidak ingin kembali membahas Yvone. Dia sungguh menyesal dia harus mengenal wanita itu lebih dulu. Kebersamaan mereka dan Farah sebelumnya membuat dia merasa Yvone tidak mungkin segegabah hari kemarin.


"........."


"Apa kakak ipar yang melakukannya?"


"Kakak bilang sepertinya Wijaya telah memperkirakannya Yvone mati sebelum di lakukan interogasi."


Giliran Hanssel yang terdiam, menatap wajah pucat istrinya. Dia kembali memeluk istrinya erat.


"Aku bersumpah aku akan terus mengembangkan kekuatanku dan melindungimu segenap jiwa."


Nina sedikit geli dengan ucapan berlebihan suaminya.


Hanssel melonggarkan pelukannya, di kepalanya masih tersimpan beberapa pertanyaan yang ingin dia bahas dengan istrinya.


"Lantas bagaimana pekerjaanmu?!"


"Kenapa kamu pulang?"


"Bukannya kamu lagi di Negara S ikut tender E.T kembali disana juga ada Huateng bukan?!"


"Oh iya kakak ku yang menghubungi mu!!"


Nina kembali terkekeh, namun Hanssel terdiam.


"What's wrong babe?!" Tanya Nina khawatir.


"Nothing..."


"Hanya saja, aku selalu bertanya bukankah kamu tidak pernah menampakan diri di lapangan?!"


"Mengapa Wijaya menargetkan mu?!"


Nina terkekeh, "Tentu saja karena Mr. K!"


"Identitas kakak ku sudah terbongkar oleh pihak musuh."


"Sialnya mereka mengetahui kelemahannya adalah aku."


Hanssel membulatkan bola matanya sampai akan keluar rasanya. Nina tersenyum usil dan kembali menjaili suaminya.


"Yang mereka tahu aku adalah kekasihnya."


Seketika raut wajah Hanssel berubah menjadi merah padam. Nina tertawa setelahnya.


✲✲✲✲✲✲