
Nyonya Tan mulai melakukan inspeksi di dalam laboratorium, Keenan menggerakan laba-laba miliknya dengan cepat memasuki ruangan rahasia yang sudah di buka aksesnya. Akhirnya dia bisa melihat wujud asli ruangan yang selama ini selalu tertutup bagi para staf kelas bawah. Hanya para staf farmasi dan beberapa ahli yang berkepentingan di ruangan alkimia tersebut.
"Kamu sudah memproduksi obat?" Tanya nyonya Tan penasaran.
"Benar tante, semua ini adalah antisera yang khusus digunakan XK!"
Nyonya Tan terdiam sejenak, sudah bukan rahasia juga suaminya memang tidak pernah lepas tangan mengenai keselamatan para karyawan terlebih eksekutor terbaiknya.
"Kamu dapat dari mana?"
"Om sendiri yang meminta Emperor memproduksi antisera yang bisa melawan jenis racun yang umum tersebar di jaringan hitam."
"Om sendiri masih memiliki 30% saham sebagian perencanaan bisnis masih di periksa dan di putuskan oleh om."
"Tapi untuk obat x dan y yang baru rilis, om belum melakukan tindakan lebih."
Nyonya tan menganggukan kepalanya mengerti. "Bukan kah antisera ini memang di produksi di lab resmi di pulau G?"
"Maaf tante, kami hanya sedang mengekstak inti sari yang mungkin di perlukan."
"Terlebih permintaan XK akan antisera ini semakin melonjak tinggi."
"Wijaya sudah mulai terang-terangan kembali menyulutkan peperangan dengan meracuni beberapa eksekutor XK."
Nyonya Tan menghela nafas panjang, dia kemudian kembali ke intinya.
"Ambil sample darah dia."
Si pria muda menganggukan kepalanya, dia kemudian di bawa oleh salah seorang juru medis yang akan mulai melakukan pengambilan darah.
"Untuk darah Luna aku sudah dapatkan malam tadi saat dia tertidur."
Salah satu asisten Nyonya Tan memberikan box cooler bag. "Setiap kali dia bertemu dengan bocah ini ingatannya kembali!"
Bo Qi terpaku sejenak, dia merasa iba melihat sepupunya sendiri menjadi alat pembalasan dendam atas permasalahan generasi orang tuanya.
Keenan yang mendengarkannya semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Namun dia terus saja memperhatikan semoga dia bisa menemukan titik terang dan misinya selesai.
"Ma, kemari papa memberikanku dosis tambahan tanpa sepengetahuannya aku mengambil serum itu." Setelah selesai dengan pengambilan darah miliknya Diaz memberikan satu tube kecil cairan yang di perkirakan salah satu varian wang.
"Saat ini dia pasti tengah mengejarku."
"Seharusnya dia juga kembali mengincar Luna untuk phase lanjutan."
"Kemarin mereka mempergoki aku bersama Luna."
Pria muda itu yang di ketahui merupakan anak satu-satunya Wijaya Saputra yaitu Diaz Wijaya.
"Apa kamu tahu jika Luna tidak mendapatkannya apa yang akan terjadi pada tubuhnya?" Tanya Nyonya Tan.
"Saat aku bertanya pada Ast Lee tidak bisa di pastikan karena kami adalah percobaan pertama yang sampai detik ini masih bisa bertahan hidup."
"Yang artinya ini suatu kemustahilan."
"Luna sudah mendapat 2 kali suntik injeksi dengan dosis yang berbeda."
"Tujuannya yaitu sejauh mana virus ini mendominasi syarat otaknya."
"Membuat dia sepenuhnya melupakan aku, tapi....."
"Hal yang membuat papa bahkan aku sendiri tidak mengerti setiap kali Luna melihatku ada gejolak emosi yang membuat rangsangan kinerja syarat di otaknya tidak terkendali dan kembali mengingat bahwa aku adalah suaminya."
"Semua ini tidak ada dalam rancangan pembuatan obat Wang."
"Bagi yang sudah terkontaminasi dengan virus ini mereka hanya memiliki dua pilihan."
"Hilang ingatan atau kehilangan nyawa."
Nyonya Tan menekan dadanya, dia tidak bisa menahan gejolak amarahnya sampai-sampai dia kini telah mengeluarkan air matanya.
"Mama minta maaf, dengan ini mama akan memasukan daftar nama papa mu menjadi orang yang akan aku eksekusi sendiri."
Keenan semakin mempertajam pendengarannya dengan mata yang hampir menonjol keluar.
"Aku tahu ma, aku sendiri sangat membencinya!"
"Dia sudah melakukan kejahatan di luar nalar."
"Sudah hal yang sepatutnya beliau mendapat hukuman atas kekejamannya."
"Bo Qi, setelah hasil darah Diaz keluar kamu cocokan dengan milik Luna."
"Selanjutnya kamu sudah mengerti harus seperti apa."
"Aku membangun tempat ini sembunyi-sembunyi untuk fokus keselamatan Luna lebih dahulu sebelum melenyapkan Wijaya."
"Aku tidak bisa menunggu lama, hidup Luna di prediksi hanya bertahan selama tiga bulan."
"Aku ingin kurang dari waktu itu aku sudah memiliki antisera yang membuat kejang di otaknya berhenti!"
"Baik tante, kami disini akan bekerja keras."
Keenan mengembangkan senyumnya, sebelum mereka selesai Keenan sudah menarik seluruh robot pengintai sebelum ketahuan.
Asisten khusus nyonya Tan menghampirinya, dia berbisik sesuatu padanya.
"Biarkan saja, selama Wira tidak mencampuri urusan laboratorium ku biarkan saja."
"Orang ini adalah murid kesayangannya."
"Tidak mudah untuk melenyapkannya!"
"Baik Nyonya..."
***
Hari ini Yvone sudah di perbolehkan keluar rumah sakit, kesehatannya semakin membaik. Semua rangkaian test sudah di jalankan. Hasilnya juga sudah dokter jelaskan pada Rangga.
"Tuan..."
"Dari data yang saya terima, cedera di kepala Nona yang diakibatkan racun tertentu mengakibatkan dia mengalami Amnesia Anterograde."
"Hal ini menyebabkan kehilangan ingatan nona secara sementara atau permanen."
"Kita akan terus memantau perkembangan nona."
"Mengenai gejala bipolar, asalkan obatnya rutin di konsumsi dan nona sendiri harus menghindari kondisi yang bisa mempengaruhi kejiwaannya."
"Seperti kemarin dia pingsan, dia mendapat rangsangan kuat dari hormon tubuhnya akan kecemasan berlebih menyebabkan prilaku infulsifnya keluar."
"Terima kasih dok."
Rangga segera keluar dari ruangan dokter setelah dia mendapatkan beberapa informasi. Mengajak Yvone keluar dari rumah sakit dan kembali menuju kediamannya.
Mereka keluar rumah sakit seperti sepasang kekasih, tidak ada lagi rasa canggung pada keduanya saat Yvone merangkul mesra lengan kekasihnya.
"Kamu menginginkan sesuatu?"
"Ehmmm..."
"Aku rindu makanan enak, selama tiga hari ini aku bosan dengan menu rumah sakit!"
"Okay..."
Akhirnya mereka memutuskan mencari tempat untuk mereka menghabiskan makan siang mereka. Di tengah perjalanan ponsel Rangga berdering. Wajah Rangga sangat pucat saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Yvone yang memperhatikannya sedikit tidak nyaman.
Apa kakak menyembunyikan sesuatu di belakangku! Segitu cemasnya...
"Halo..."
"Lamaaaa angkatnya cuy!!"
"Gue di Negara S!"
Cekiiiiiit!!
Seketika Rangga menghentikan mobilnya, nafasnya memburu debar jantungnya semakin tidak karuan. Entah mengapa sejujurnya tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Hanya saja memikirkan reaksi seperti apa, Nina jika dia tahu bahwa Yvone belum mati. Kemarin dia telah membohonginya!!
"Ko diem?!"
"Lu ga seneng ya?!"
"Eh iya, aku jemput?"
"Ga usah..."
"Aku di Shangri-La!"
"Oke aku kesana sekarang."
"Ga pake lama!"
Tut!
Yvone sudah memasang raut wajah cemburu dan kesal. Hampir saja dia terkejut saat prianya sengaja menghentikan mobilnya tanpa ada kata apapun.
"Siapa kak?!"
"Oh itu..."
"Teman lama ngajak ketemuan..."
"Aku minta maaf ya, aku anterin kamu pulang ke apartemen dulu okay."
"Kita beli makan kamu lebih dulu ya..."
Perasaan tidak enak itu menguar kembali di hati Yvone, dia merasa kecewa. Baru kali ini prianya seperti tengah membohonginya dan menutupi sesuatu yang dia tidak tahu itu apa.
✲✲✲✲✲✲
Holaaaa reader tersayang aku gak?
D I S C L A I M E R !!!
Agak ngeri-ngeri sedap sih ngangkat cerita ini.
BTW ini fiksi benar-benar karangan othor semata.
Hal yang berkaitan dengan medis dan lain-lain othor hanya riset kecil-kecilan di dunia jagat maya saja.
Jangan terlalu serius ya guyss!!! Ini hanya hiburan semataaa... Peace!!!
Terima kasih yang masih terus semangatin Othor...
Please give me some... Give me... Give me some... Somee yeaah!
LIKE, COMMENT, FAV, VOTE AND GIFT
Kiss and big HUG from othooor remahan khong guang!!
✲✲✲✲✲✲