Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 90 - Garis Dua



"Lemes amat shaay!"


Nina menatap asal suara yang sudah lama dia tidak dengar.


"Ranggaaaaa!"


"Lu ngilang kek di telan bumi!"


"Ya biasa mengobati hati yang terluka..."


"Ahh ba*ngke!"


"Gue denger-denger laki lo juga di telan bumi!"


"Apa dia berencana mengalihkan kepemilikan istrinya?"


Nina terkekeh dengan ucapan Rangga yang masih saja mengharapkan Nina kedalam pelukannya. Nina beranjak dari kursinya memeluk Rangga yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Lu kemana aja?"


"Jimmy bilang papa Rangga ga sayang dia!"


"Maaf deh... Gue lagi megang kasus berat soalnya."


"Ini baru balik!"


"Kasus apa?"


"Biasa perebutan harta warisan..."


"Lu kecipratan gak?"


"Ya sesuai bayaran lah ya..."


"Hahahaha...."


"Jadi dimana Hanssel?"


"Berburu berlian!"


"Dih bohong kualat lu lagi hamil gitu!!"


Rangga memegang perut Nina yang sudah menonjol dengan menelan salivanya.


"Kamu mau cari lah wanita yang mau mengandung milikmu!"


"Cih ga ada bibit yang lebih bagus dari elu!"


Nina terbahak dengan ucapan Rangga yang masih saja mengungkit dirinya.


"Makan yuk..."


"Yuk!"


Nina menggelayut manja di lengan Rangga, sudah sangat terbiasa bagi keduanya selama di US Nina memang tidak pernah sungkan dengan pria itu.


"Farah lu ikut gak?"


"Dih laki lagi tugas negara lu pepet sana sini!"


"Bacot buruan!!"


"Lumayan lah tar biar minta bayaran laki lu gue jagain lu dari serigala berbulu domba!"


Rangga memutarkan matanya mengejek Farah.


Ketiganya menuju salah satu Restorant ibu kota. Farah tengah berselancar di media sosial, dia kembali seperti biasa menjadi obat nyamuk kualitas super.


"Makan lu banyakan ya?"


"Makan gue emang banyak kek baru tahu aja?"


"Tapi ya ga gitu juga!"


Nina menyelidik tampilan Farah kali ini, entah mengapa dia terus merasakan perasaan aneh pada sepupunya itu. Bukan sekali dua kali dia mendapati sepupunya sering muntah, gejalanya mirip dengannya. Dia juga diam-diam melacak apartemennya namun semua normal. Dia juga tidak mendapati Farah kedapatan pergi dengan lawan jenisnya. Terlebih Farah justru saat ini lebih sering berada dirumahnya.


"Gue saking ga pernah ketemu lu gendutan ya Farah?"


"Kalo iya kenapa?"


"Kenapa kalian sibuk sekali!"


Farah sungguh kesal dengan kedua teman makannya yang selalu berkomentar mengenai perubahan tubuhnya. Dia juga tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia selalu merasa lapar tapi setelahnya dia akan memuntahkan kembali makanan yang dia makan.


Hari ini Farah kembali ke apartemen mengingat Rangga menginap di rumah Nina. Farah membulak balikan kalender miliknya.


"Bukankah harusnya aku menstruasi minggu ini?"


Farah menatap nanar kedepan, dia menjatuhkan air matanya.


"Bukankah aku sudah meminum ramuan kontrasepsi itu."


"Apa aku masih ada kemungkinan hamil?"


Farah menangisi hidupnya dengan meringkuk di atas ranjang yang beberapa kali menjadi tempat melakukan hubungan terlarang dengan kakak sepupunya.


Pagi harinya Farah menatap benda pipih yang menunjukan garis dua berwarna merah. Dia sudah tidak bisa lagi menangis. Air matanya seolah kering karena semalaman dia menangis tiada henti.


"Apa yang harus aku lakukan!!"


"Cepat atau lambat perutku akan membesar!"


Farah mengusap wajahnya kasar, akhirnya dia kembali mengeluarkan air matanya. Dia bergegaas membersihkan dirinya dan membuang alat testpack pada kotak sampah.


***


"Apa yang kamu dapatkan?"


"Don sangat lincah dalam beroperasi."


"Dia sungguh berpengalaman dan hebat."


Braak!


"Maaf tuan menyela, siang ini tuan Wira mengadakan konferensi di aula utama XK."


Sam menghentikan diskusi Hanssel dan Keenan. Keduanya beradu pandang, tuan Wira sangat jarang terlihat bahkan tidak begitu ingin mengekspos dirinya di hadapan para pegawai XK. Bahkan silsilah keluarganya dia hapuskan di system bank data miliknya sendiri. Tidak ada yang mengetahui kehidupan pribadi founder sekaligus ketua mafia Jaringan Hitam di XK tersebut.


"Selamat siang semuanya..."


"Kalian pasti terkejut dengan agenda dadakan siang ini."


"Hahaha..."


"Saya mengakui saya sangat jarang menyapa dan memberikan apresiasi untuk kalian semua yang sampai detik ini membantu dan mempermudah pekerjaan saya selama ini."


Tuan Wira langsung mengambil alih memberi sambutan setelah semua anggotanya berkumpul. Pegawai XK tidak begitu banyak, mereka hanya mempunyai jumlah kurang lebih 300 orang termasuk dengan team cleaning yang tidak boleh sembarangan di rekrut dari luar pengawasan XK.


Database XK sangat penting dan berharga, sudah banyak hacker ternama ingin menembusnya namun sejauh ini system keamanan XK belum ada yang menandingi.


"Dalam kesempatan baik ini, saya mengucapkan ribuan terima kasih bagi kalian yang sudah bekerja keras selama ini."


"Dalam hitungan detik semua akan mendapat notifikasi pembagian bonus tahunan."


Riuh seluruh pegawai bersorak girang, kemudian kembali hening saat tuan Bobby yaitu asisten kepercayaan tuan Wira mengangkat tangannya.


"Tidak hanya disitu saja, kali ini saya akan mengumumkan pergantian CEO XK!"


Semua orang saling pandang, tidak pernah beredar rumor yang akan menggantikan posisi tuan besarnya. Lantas siapa yang berani melengserkan tuannya.


"Dia adalah putri bungsu saya, Naluna Maharanni."


Nona Luna bergegas menuju podium, Hanssel mengerutkan keningnya, dia seperti pernah melihatnya.


Dimana ya? Wajahnya sungguh tidak asing.


Hanssel membuka matanya lebar. Dia adalah CEO Lunarian yang memenangkan tender perusahan E.T. Nina pernah berkomunikasi dengannya.


"Terima kasih atas kesempatannya."


"Sejujurnya aku tidak ingin, tapi papaku memaksanya!"


"Lunaaa!"


Gelak tawa kini bersahutan di sekeliling aula.


"Tentu saja saya akan menerima dengan hormat di banding menolak dengan sopan."


"Hahaha... Kau memang pantas menjadi putriku!"


"Jadi kedepannya mohon bimbingannya."


Naluna menunduk hormat di sambut oleh para anggota lainnya.


"Mulai saat ini kalian sudah mengetahui siapa atasan kalian. Jadi jangan pernah sekali-kali bertingkah tidak sopan di depannya."


"Atau kalian akan berurusan denganku!"


Semua bubar menyisakan Keenan yang secara khusus di panggil oleh tuan Wira.


"Apa kabarmu Keenan?"


"Baik tuan..."


Tuan Wira merangkul anak buah kepercayaannya.


"Aku mendengar kabar beberapa bulan terakhir Wijaya mencoba membunuh mu secara langsung?"


"Saya minta maaf tidak bisa meningkatkan kemampuan saya."


"Hahaha!"


"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri."


"Ada tugas baru untuk mu, permasalahan Huateng aku akan melonggarkannya."


"Istriku Liliana meminta memenangkan pelelangan pulau B di tepi negara B."


"Kamu selidiki dia secara rapi apa yang akan dia lakukan terhadap pulau itu."


Keenan menunduk hormat.


"Satu lagi, istriku tidak semudah yang kamu bayangkan."


"Sumber daya dia jauh lebih kuat di banding aku."


"Dia akan mengerahkan seluruh anggota Emperor mengecohku bulan depan."


"Kamu masuk kesana!"


"Baik tuan..."


"Jika identitas mu di ketahui olehnya, kau tahu apa konsekuensi mu bukan?"


"Saya mengerti!"


"Terima kasih, kamu adalah orang kepercayaan kedua setelah Bobby!"


"Saya sangat tersanjung tuan, saya tidak berani menerima kehormatan ini."


"Hahha!"


"Jika saja putriku belum menikah aku akan menjodohkan dia dengan mu."


Keenan hanya melayangkan segaris senyumnya canggung.


"Haiish si degil ini!"


"Berikan orang mu untuk mengawasi putri kesayanganku ini!"


"Dia mulai kembali memiliki hubungan dengan putra Wijaya!"


Keenan membulatkan matanya, dia akhirnya menyadari benang merah yang terjadi perang antara tuan Wijaya dan tuan Wira. Keenan segera pamit keluar ruangan tuan Wira mengijinkannya.


✲✲✲✲✲✲