Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 41 - Prasangka



"Kamu bilang apa sama Jessica barusan?!"


Ucapan Hanssel yang tiba-tiba berada di ruangan sekertarisnya membuat Nina sedikit terkejut.


"Oh itu..."


"Hanya ancaman biasa saja..."


"Bahwa selamanya kejahatan itu tidak akan pernah menang!!"


Hanssel duduk di atas meja sekertarisnya, menatap serius wajah istrinya dengan polesan make up jeleknya namun Hanssel sudah terbiasa dan yang terlihat olehnya adalah kecantikan yang sesungguhnya.


"Jadi kamu sudah tahu kamu di culik oleh orang Jessica?!"


"Ehmm.." Nina memutar otaknya baiknya seperti apa.


"Aku ga tahu juga..."


"Cuma sebelumnya aku ada berselisih di depan toilet dengan dia."


"Aku tidak tahu kalau dia di hotel itu juga!"


"Owh..."


"Kau apakan dia?" Tanya Nina.


"Tidak bisa hidup lagi!" Ujar Hanssel mengangkat dagu Nina menyeringai.


Nina memalingkan wajahnya berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


"Apa tidak mengapa kamu menghukum tunanganmu seperti itu?!" Nina sudah tidak tahan untuk mengetahui perasaan Hanssel padanya saat ini.


Sejujurnya Nina sudah sangat sering mendengar kata cinta Hanssel apalagi setelah pria itu mencapai puncaknya dengan nada tulus dan seksi akan mengutarakan semua perasaannya. Hanya saja mengapa sampai saat ini pria itu belum mau mengatakan pada Nina apa statusnya dengan Catherina.


"Dari mana kamu tahu?!" Hanssel terkejut dengan ocehan istrinya.


"Tempo hari nyonya Rossie memberitahukan padaku bahwa dia tunangan mu."


"Aku harap dia tidak sedang berpikir cemburu padaku dan membuat semua masalah ini untuk mengusirku dari Adamson!"


Dengan masih mengotak-atik komputernya Nina berujar sendu.


"Aku minta maaf sayaang..."


"Aku membawakan mu masalah..."


"It's okay!"


"Aku tahu posisiku!"


"Tentu saja sayaaang... Kamu adalah istriku!!"


Nina menghentikan aktifitasnya dia menatap Hanssel dengan tatapan nanar.


"Bukan..."


"Aku hanya penghangat kasurmu yang legal!"


"KARENNINA!!"


"Bukankah demikian Hans?!"


"Nyonya Rossie tidak akan mau menerimaku menjadi pendampingmu..."


"Saat ini statusku tak lebih dari wanita simpananmu Hans!!"


"Semua rumor itu benar!!"


"Aku adalah peliharaan pria kaya!!"


"KARENNINA KAVIANDRA!! Hanssel berdiri dengan penuh emosi.


"TARIK KEMBALI SEMUA UCAPANMU!!"


Dia mengusap kasar wajahnya, berkacak pinggang dan mendongak dengan langkah kecil ke kiri dan kanan gelisah.


"Aku tidak seperti itu Nina!!"


"Aku juga tidak pernah menganggap dirimu serendah itu!!"


"Aku benar-benar mencintaimu!"


"Aku juga mencintai Jimmy!!"


"Kalian adalah kehidupan yang aku impikan selama ini!!"


"Cukup Hanssel!!"


"Kenapa Nina?"


"Apa kamu sedang berupaya lari dari kenyataan dan sembunyi di balik keangkuhanmu?!"


"Apa kamu berani menyatakan di hadapan publik aku istrimu?!"


"....... "


Nina tersenyum getir melihat respon diam suaminya. Dia sudah mengerti maknanya.


"Aku lapar!"


"Kamu harus traktir makan udon sekarang!!"


Nina beranjak dari kursinya melaju melewati Hanssel yang masih terpaku. Dia melangkahkan kaki mengejar langkah istrinya. Hanssel meraih lengan Nina dan mengentikan langkahnya tepat setelah mereka memasuki lift.


"Aku akan melakukannya!!"


"Tapi tidak sekarang, ada beberapa pekerjaan yang aku masih butuh campur tangan Rossie."


Nina hanya menyunggingkan senyumnya tanpa kembali berkata apapun. Di dalam lift Hanssel tidak menekan tombol nomor lantai langsung. Dia memeluk erat istrinya dan menciumnya dengan mesra sebelum mereka keluar makan siang.


***


Nina tengah membasuh wajahnya di sebuah kamar mandi resto masakan jepang. Sebelumnya dia merasa mual dan kepalanya terasa berat.


"Ada apa denganku?!"


"Sepertinya aku butuh healing!!"


"Haisshh... Kalau enggak fokus gini gimana aku bisa ngambil Suho!!"


"Kakak benar aku sudah sangat lemah saat ini!!"


Nina kembali membasuh wajahnya dan bersiap kembali merias wajah dan merapihkan tampilannya.


"Kamu lagi ga enak body?!"


Hanssel mendadak mengkhawatirkan tampilan Nina saat ini.


"Mungkin kecapean aja!!"


"Sekarang tiap malam aku harus ngeronda demi muasin beruang liar dirumah!!"


Hanssel menahan tawanya, dia menggenggam erat tangan istrinya, seketika dia curiga pada Nina.


"Sayang apa kamu hamil?!"


Pertanyaan Hanssel sontak membuat Nina terbelalak. Kemudian dengan cepat dia mengendalikan kembali suasana.


"Tentu saja tidak!!"


"Kapan jadwal menstruasi mu?!"


"Sepertinya aku selalu menyantapmu setiap hari?!"


DEG!!


"Minggu depan..." Ujar Nina lirih.


"Mau kita periksa?" Ujar Hanssel gembira.


"TIDAAAK!!"


"Aku tidak hamil... Dan tidak mungkin Hamil!!"


"HEY!!"


"Aku yang menanamkan benihku tentu saja aku tahu bagaimana mereka masuk tepat ke sarangnya!!"


"KAU GILA!!"


Nina terus menghardik pernyataan Hanssel, dia sendiri tengah gelisah.


Di dalam mobil Hanssel kembali berkata serius pada istrinya.


"Aku menginginkannya sayang..."


"APAA?!" Nina mengerutkan keningnya.


"Aku menginginkan anak kita..."


Hanssel menyentuh dan mengusap perut Nina lembut. Dia juga mencium pipi Nina lembut.


"Hans..."


"Sstt..."


"Aku antar kamu pulang ya... Kamu cuti setengah hari dan istirahatlah."


"Ada yang kamu inginkan sayang?!"


Nina menggeleng perlahan Hanssel tersenyum bahagia kearahnya.


Bagaimana ini? Bagaimana jika benar aku mengandung anaknya?!!


Oh Karennina bodoh... Kamu sedang menyusahkan diri sendiri!!!


Nina merasa sangat lelah, dia perlahan tertidur. Hanssel menepikan mobilnya setelah mengetahui istrinya tertidur. Dia memperbaiki posisi tubuh Nina agar nyaman dan juga mengecup jemari Nina dengan terus mengukir senyum di sepanjang perjalanan mereka.


"Aku sangat bahagia saat ini sayaang!"


***


Di rumahnya Nina tengah gelisah, dia mondar dan mandir di area balkon kamarnya. Satu panggilan di ponselnya membuyarkan kegelisahannya.


"Halo..."


"Okey aku kesana sekarang..."


Nina bergegas mengenakan Jaket & Coat miliknya. Dia memesan taksi online sebelumnya dan pergi kesuatu tempat.


"Udah lama ya..."


Sapa Nina pada Rangga yang telah berada di Cafe ternama.


"Enggak..."


Rangga bersikap dingin membuat Nina mengernyitkan keningnya.


Ada apa dengan bocah ini?


Nina memperhatikan tampilan Rangga "Kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?"


"Karen... Mau kah kamu menikah dengan ku?!"


"Rangga!!"


Dengan cepat Nina merespon pertanyaan yang tidak masuk akal bagi Nina saat ini.


"Kenapa?"


"Kenapa kamu masih menolak ku Karen?"


"Apa kurang ku... Aku akan perbaiki dan aku akan berusaha penuhi!!"


Nina mengatupkan bibirnya erat, dia juga mengalihkan pandangan ke sekitaran.


"Kamu sudah punya lelaki lain?"


Rangga terus mencerca Nina dengan beberapa pertanyaan yang aneh, Nina memiliki firasat buruk akan perubahan sikap Rangga. Rangga sendiri sudah tidak bisa menahan untuk berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dalam hatinya. Nyatanya pemandangan yang dia lihat tempo hari di Villanya benar-benar meruntuhkan keyakinannya. Dia memberi Nina kelonggaran hanya demi menghargainya. Nyatanya dia selalu kalah waktu dengan para pesaingnya. Nina selalu bisa menerima orang lain tapi mengapa dia tidak bisa menerima dan mencoba mencintai dirinya. Rangga sungguh putus asa memikirkan semuanya. Sudah selama ini perasaannya pada wanita itu tidak pernah berubah. Dia masih sangat mencintai wanita yang sudah dia kenal selama 5 tahun lamanya.


Apa dia sudah tahu aku berhubungan dengan Hanssel.


Nina terus terdiam tidak bisa menjawab semua pertanyaan Hanssel yang terus memburunya.


"Kenapa diam saja Nina?!"


"Apa semua itu benar?"


"Apa kamu bekerja di Adamson Group?!"


"Apa kamu adalah sekertaris Presiden Direktur Hanssel Adamson?!"


DEG!!


✲✲✲✲✲✲