Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 140 - Hopeless



Ding... Dong!


Rangga menajamkan pendengarannya, menyadari bahwa bel pintu apartemennya berdering.


Ceklek!


"Kak!"


"YVONEE!!"


"Kenapa kamu kemari lagi?!"


"Bagaimana jika orang-orang itu mengejar mu kemari?!"


Rangga menarik tangan dan tubuh Yvone untuk memasuki apartemen miliknya setelah sebelumnya memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaan Yvonne di lorong apartemennya.


"Kakak terluka!!"


"Maafkan akuuu...."


Yvone menyentuh wajah Rangga yang terlihat memar dan juga perban di kening pria itu.


"Seharusnya aku tidak disini!!"


Yvone menyadari kesalahannya jika tetap di samping prianya maka dia akan melibatkannya kembali. Dia beringsut mundur dan berencana keluar.


Brruk!


Rangga memeluk Yvone erat, segala kegelisahannya menguap saat melihat Yvone baik-baik saja. Begitu pula dengan Yvone, dia menghirup lekat harum tubuh Rangga yang bercampur dengan wangi segar dan hangat dari parfume prianya.


Rasa nyaman kembali menyebar di dalam tubuh gadis itu dan memberikan semangat dalam diri Yvone. Maafkan aku kak, aku mengecewakan kalian.


"Karena udah disini kamu istirahatin saja!"


"Kamu bosan ya di Villa Karen?!"


Rangga melepaskan pelukannya berencana membawakan minum untuk Yvone. Wajah gadis itu pucat pasi, Rangga berpikir dia juga belum ada makan.


"Apa semua orang jahat itu mati kak?!"


"Sepertinya keadaan disini sudah membaik?!"


Sepanjang jalan kemari sudah bersih dari kekacauan bahkan pihak kepolisian tidak memperlihatkan aktifitas di jalan seperti kemarin-kemarin.


"Semua yang menghalangi jalan kita sudah di tembak mati oleh Karen."


"Dia datang menolong ku!"


"Huh!"


Traak!


Rangga menaruh soft drink di atas meja di hadapan Yvone. Merebahkan dirinya di sofa dan lebih dulu menenggak miliknya.


"Aku baru tahu Karen jauh lebih kejam dari yang terdengar. Aku saja sebagai cowok nyaliku menciut begitu saja saat melihat aksinya bak wonder woman!!"


"Lebih baik tidak perlu berurusan dengannya."


Rangga kembali menenggak air minumnya. Tubuh Yvone bergetar hebat saat mendengar penuturan Rangga barusan. Apa yang bisa dia lakukan agar rencana mencelakai Karennina berhasil. Yvone mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya kembali jauh lebih pucat.


"Apa kamu kecapean?!"


"Kamu kesini pake apa?!"


"Diantar orang-orang Karen kah?!"


Yvone semakin mati kutu saat rentetan pertanyaan Rangga mendesak dirinya untuk menjawabnya.


"Ehm, aku kabur kak..."


"Aku merasa tidak nyaman disana..."


"Maafkan aku..."


"Sejujurnya aku merindukan kakak..."


"Setelah ini aku akan kembali kesana."


Rangga memperhatikan tingkah laku Yvone yang terlihat gugup dan gelisah. Rangga mengacak rambut Yvone dengan lembut dan senyum manisnya.


"Dasaar!"


"Ya udah, istirahat dulu di kamar..."


"Muka pucat kayak gitu!"


Yvone menundukan wajahnya, dia sendiri kecewa pada dirinya yang tidak punya pilihan untuk membohongi pria yang di sukainya itu.


***


"Ini kah kekasih Mr. K?!"


"Benar tuan..."


Wijaya memperhatikan lekat ke arah Farah yang masih tidak sadarkan diri. Wanita itu di dudukan di kursi bangku kayu dengan posisi tangan dan kaki terikat di belakang. Wajahnya menekuk kebawah.


"Dia sungguh wanita lemah!"


"Aku pikir dia akan seperti Karennina."


Azlan mengejek Farah, namun Wijaya tidak menggubrisnya malah menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Aku justru suka wanita Keenan adalah wanita lemah!"


"Jika dia sekuat dan sepintar Karennina, aku pikir kamu sendiri tidak akan bisa membawanya secepat ini!"


"Karennina kembali membunuh seperempat anak buahku hanya dalam semalam!"


"Bahkan Hyu tewas di bawah tangannya."


Azlan mengeratkan kepalan tangannya, Hyu adalah anak didiknya. Dia bersumpah serapah dalam hatinya untuk membalaskan dendamnya pada Nina.


"Tuan serum telah siap..."


"Suntikan pada wanita ini!"


"Tapi tuan, wanita ini sedang hamil!"


"Heh, tau dari mana?!"


"Perut dia tuan, dan hasil tes lab memperlihatkan dia positif."


"HAHAHAHAHAHAHAAA!!!"


Suara tawa menggelegar Wijaya membangunkan Farah, dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan merasakan kepalanya teramat berat. Kemudian dia terkejut dia tidak bisa menggerakan tangannya.


"Aku dimanaa?!" Farah mulai gelisah.


"Kau sudah bangun?!"


Wajah Farah mendongak menatap beberapa orang yang tengah memperhatikannya. Ada satu pria paruh baya yang tengah duduk di kursi yang di belakangnya berjejer beberapa pria yang jauh lebih muda dengan seragam yang sama dengan anak buah kekasihnya.


Degup jantung Farah tak menentu, nafasnya bahkan tersenggal. Hanya melihat rupa musuh kekasihnya tubuh Farah bergetar hebat karena rasa takut berlebihnya.


"Apa yang kalian inginkan dariku?!"


Farah mencoba berontak dengan menggerakan tubuhnya.


"Haha!"


DEEG!!


Aku sudah mengira aku akan menjadi umpan membuat kak Keenan melepaskanku! Maafkan aku kaak!!


"Haha kalian salah orang!!"


"Aku tidak mengenal kalian dan aku tidak memiliki kekasih!!"


"Oh ya?!"


"Kamu tidak memiliki kekasih lantas kamu hamil oleh siapa?!"


"Apa kamu seorang wanita ja*lang yang tidur dengan sembarang pria huh?!"


Perkataan Wijaya terdengar biasa namun penekanan di tiap kata membuat jantung Farah seolah berhenti berdetak terlebih saat mereka mengetahui kehamilannya.


Tik!


Wijaya menjentikan jarinya, asistennya membawakan jam tangan milik Farah menatapnya memainkan sejenak dan tersenyum ke arah Farah. Farah menelan salivanya semakin gelisah.


Apa hidup ku akan berakhir saat ini juga?! Jika memang nyawaku bisa membantu Kak Keenan terlepas dari bebannya maka maafkan ibu nak... Kita harus melindungi ayah demi keselamatannya.


"Jam tangan ini besutan KTech!"


"Hanya di produksi sebanyak 10 buah saja di dunia."


"Lima unit di jual komersil yang mana fungsinya bisa di sesuaikan si pembeli."


"Harga jam ini di pasaran mulai dari 100ribu USD tergantung rumitnya permintaan."


"Orang biasa jelas tidak bisa memesannya!"


"Bahkan orang kaya sekalipun belum tentu bisa mendapatkannya."


"Keenan sangat selektif!"


"Dua unit sudah dia produksi untuk pewaris Kaviandra tentu saja."


"Duanya lagi diberikan untuk asisten kepercayaan dan adik iparnya."


"Satunya lagi tentu saja......."


Wijaya berdiri dan menghampiri Farah, menekan tombol dan...."


Welcome back Mrs. Keenan...


Suara khas seperti Siri mengkonfirmasi bahwa pemilik jam itu tentu saja Nyonya Keenan yang tak lain adalah Farah Lee.


"HAHAHAHA!!"


"Kamu ingin mengelak bermaksud untuk melindungi priamu itu hah?!"


"HAHAHA!"


Wajah Farah semakin pucat pasi saat ini, niatnya untuk tidak membebani kekasihnya terbongkar sudah hanya karena jam tangan miliknya.


"Aku sangat menyukai ekspresi keputus-asaan mu itu!"


"Semakin membuat aku bergairah untuk terus menghabisi Keenan Kaviandra!!"


"Dia sudah melenyapkan hampir separuh anak buahku dalam semalam."


"Dia juga melenyapkan eksekutor terbaik ku Don dan yang lainnya!"


"Aku ingin membalaskan semuanya."


Wijaya membelakangi Farah dan kini melirik ke arahnya dingin.


"Aku akan membuat dia memohon untukemilih mati dibanding hidup!"


"Aku juga akan membuatnya perlahan tersiksa dengan menyakiti orang terdekat bahkan kini aku tahu kelemahannya bertambah satu!"


"Karennina sendiri di didik memiliki kemampuan setara dengan Keenan."


"Tapi kamu?!"


"Aku berterima kasih kamu tidak memiliki keahlian khusus yang bisa menghalangi niat baik ku untuk menghabisinya!!!"


"Kamu bahkan mengandung generasinya!"


"HAHAHA!"


"Kau tahu, kamu adalah kelinci percobaan kedua setelah kekasih putraku!"


"Dia juga sama, saat aku memberikan injeksi virus dia tengah hamil!"


"Kamu tahu apa yang terjadi?!"


"Beruntungnya nyawanya selamat, Dia hanya keguguran dan kehilangan ingatannya!!"


"HAHAHAHHA!"


"Mereka yang percaya akan cinta!"


"Aku membencinya!"


"Karena definisi cinta mati bagi ku adalah.... "


"Saat kamu merasakan cinta saat itu juga kata MATI IKUT SERTA!"


"Lakukan sekarang!!"


Wijaya perintahkan team medis menyuntikan serum virus Wang phase terakhir.


"Ini dosis ketiga!"


"Sebelum di injeksi pada Luna sebaiknya aku melakukan test padamu lebih dulu!!!"


Wijaya menyeringai, menikmati wajah pucat pasi tanpa kata dari Farah. Wajah putus asa dari seorang manusia yang percaya akan kekuatan cinta. Bagi Wijaya cinta itu BULLSHIT! Tentu saja hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya adalah memisahkan dua insan yang tengah dimabuk cinta dengan perpisahan.


"Tapi tuan?!"


Seperti biasa Asisten Lee selalu saja memiliki sisi manusiawi dibanding anak buah Wijaya yang lain.


"Kenapa?!"


"Prianya sudah meluluh lantahkan pasukan terbaik ku!"


"Bukankah ini sebanding?!"


Asisten Lee tidak bisa lagi berkata, kemudian dia perintahkan team medis mempersiapkan injeksi virus pada Farah.


Tenggorokan Farah seolah tercekat oleh bola api panas yang membuatnya tidak bisa berkata, namun menghantarkan sesak di dadanya. Air matanya mengalir begitu derasnya.


*Harapan ibu sederhana kala itu, menjauhi ayahmu agar ibu bisa membesarkan mu. Namun ternyata rasa suka dan cinta ibu pada ayahmu yang membuat ibu selalu mengijinkannya berada di sampingku beberapa bulan terakhir... Semua itu ternyata mengantarkan kita pada perpisahan untuk selamanya.


Maafkan ibu nak...


Terima kasih sudah hadir bersama ibu enam bulan ini, kamu hal paling menakjubkan yang pernah terjadi di hidup ibu.


Maafkan ibu, karena seperti orang jahat itu bilang, ibu terlalu lemah untuk melindungi mu...


Ibu*....


Farah sungguh merasa sesak, ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan segala kekecewaan, ketakutan, dan penyesalan yang mendera tubuhnya. Sialnya semua tidak keluar dari mulutnya, semua tertahan di esofagusnya.


✲✲✲✲✲✲