
Di kantor Adamson sendiri Hanssel sangat terkejut karena jadwal meruntuhkan Suho di luar kendalinya.
"KARENNINA!!" Hanssel menyambar ponselnya.
Sialnya Nina tidak bisa di hubungi saat ini juga, ponselnya bernada sibuk.
Tut!
"FARELL MASUK!!"
"Baik tuan..."
Setelah Farell menghadap Hanssel, dengan wajah khawatir, tuannya berada di depan jendela besar ruangannya.
"Mengapa aku tidak bisa menghubungi Nina?!"
"Aku tidak bisa mengakses CCTV rumah!!"
"Maaf tuan..."
"Akses server kita down!!"
"APAAAA?!"
"Bagaimana mungkin?!"
"Lantas laporan kepolisian itu siapa yang keluarkan?!"
"Database kita telah di masuki virus tuan."
"Saya dan beberapa teknisi IT sedang memperbaharuinya namun...."
"Semua berjalan tanpa bisa di kendalikan!"
Hanssel menutup matanya erat, Aku tidak ingin mencurigai mu Nina. Tapi, tidak ada lagi yang bisa melakukannya selain kamu!
Hanssel berlari keluar ruangan dia harus menemukan istrinya.
***
"Charles!!"
"Iya nyonya..."
"Bagaimana bisa Adamson melakukan kesalahan besar seperti ini?!"
"Maaf nyonya, semua di luar kendali."
"Saat ini server Adamson Group sedang down!"
"Kami tidak bisa melakukan apapun..."
"Siapa di balik semua ini?!"
"Panggil Hanssel?!"
"Tuan muda sedang melakukan investigasi mendalam nyonya, sebaiknya kita tidak mengganggunya saat ini..."
"Baiklah!!"
"Beri aku kembali orangmu dan pantau terus gerak gerik keduanya."
"Terlebih Karennina..."
"Mengapa semua terjadi saat aku membongkar hubungan mereka..."
"Baik nyonya..."
"Tunggu!!"
"Bawa aku berkas Nina sekali lagi..."
"Baik nyonya..."
Semua berita mengejutkan dunia bisnis saat ini tidak hanya mengguncang kediaman Adamson melainkan beberapa orang yang ikut terlibat termasuk keluarga besar Kaviandra.
"Keenan, apa semua ini ulah Nina?!"
"Siapa lagi!!"
"Bocah itu..."
Senyuman lebar di wajah pria paruh baya tengah melengkung sempurna. Sebagai orang tua Nina semua yang di lakukan putrinya tentu saja terobosan terbaru baginya. Pasalnya dulu Nina sangat melindungi keluarga Shin.
"Akhirnya mata adikmu terbuka lebar."
"Siapkan dana dalam jumlah besar beli Suho saat ini juga!!"
"Baik pah..."
"Hubungi si degil itu, suruh dia pulang..."
"Katakan kita akan mengadakan perayaan..."
Di lain tempat di kantor hukum milik Rangga Adyatama.
"Sudah di mulai?!"
"Aku akan membantumu lagi Karen!!"
Rangga meraih kunci dan bergegas keluar menemui seseorang dalam penjara sekarang. Tidak memerlukan waktu lama Rangga telah berada di salah satu kantor kepolisian yang menangani kasus penipuan komersial yang di lakukan Erick Shin.
"SAYA TIDAK BERSALAH!!"
"INI SEMUA JEBAKAN!!"
Erick tengah emosi melawan petugas sipir yang bertugas menginterogasi keduanya.
"Udah salah masih aja sombong!!"
Ceklek!
"Ada tamu untuk tuan Shin dan Soraya." Salah satu petugas lainnya menghampiri mereka.
Raut wajah kebingungan jelas terpancar dari keduanya. Soraya yang sedari tadi terisak tidak terima kini terdiam dan menatap Erick.
Nina memasuki ruangan dengan wajah berseri dan elegan. Tampilan yang sangat cantik dan berkelas telah mencolok mata Soraya.
"KAU!!!" Soraya bangkit dan menunjuk ke arah Nina. Dia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya Soraya mendekati Nina dan ingin memukulnya. Beberapa petugas mengamankan Soraya. Nina menertawakan tingkah musuhnya.
"Apa kamu yang melakukan ini semua?" Lirih Erick masih tidak percaya.
Nina meminta petugas untuk keluar dan petugas yang telah dia suap itu menyeringai mengerti. Keduanya bertugas di luar ruangan menjaga situasi di luar.
Nina duduk di hadapan mereka mengangkat kakinya dan menopang dagu dengan satu tangannya.
"Jika bukan aku, apa kamu pikir orang iseng?"
"Heh!!"
Nina tertawa senang mempermainkan keduanya.
"Aku telah curiga sebelumnya, aku..."
"ERICK SHIN!!!"
"Tidak perlu merasa bersalah pada iblis semacam dia!!"
"Iblis?!"
Nina menatap Soraya tajam, Soraya merasakan jantungnya di hujam tombak panjang melihat tatapan nyalang seorang Karennina.
"Aku ingat dulu kehidupan keluargaku baik-baik saja."
"Bahkan aku baru saja mengabari suamiku bahwa aku tengah mengandung buah hati kami yang pertama!!"
"Lalu seorang wanita yang sudah di anggap temannya dia masukan menjadi sekertaris pribadi suaminya."
"Nyatanya kalian berdua menusuk ku dari belakang!!"
"Kamu menggoda suamiku!!"
"Aku ingat kamu selalu berusaha membuat aku terus keguguran!!"
"Tapi tuhan menghendaki bayiku kuat!!"
"Dia tumbuh sempurna sampai detik ini!!"
"Belum berakhir disitu!"
"Di hari persalinanku kalian tengah berbuat nista di kantor ku!!"
"Kalian selalu berusaha memisahkannku dengan bayi ku!!"
"Menjadikannya alat untuk mengontrol ku?!"
"Aku bahkan di jadikan pembantu di kediamanku sendiri!!!"
"Dia tidak perlu mengetahui betapa bajingan ayah kandungnya!!"
Seluruh emosi Nina keluar saat ini juga, dia bahkan tidak ingin air matanya keluar namun sulit dia kendalikan.
Erick menundukkan kepalanya, dia tengah menangis mengakui semua kesalahannya dan menyesali semuanya.
"Aku mengijinkan kamu mengurus Suho karena kamu suamiku!!"
"Dengan tidak tahu malu kamu mengambil alih mengatas namakan milikmu menyabotase kepemilikan saham ku!!"
"Kemudian kalian mendepakku!!"
"Kalian IBLIS SESUNGGUHNYA!!"
"Semua ini belum seberapa..." Lirih Nina.
Soraya masih dengan keangkuhannya, tidak merasa berdosa. Nina sungguh ingin menembak mati wanita itu saat ini juga.
"Maafkan aku Karen..."
"Erick!!!"
"CUKUP SORAYA!!"
"Aarrghh..."
Soraya berpura-pura kesakitan di bagian perutnya.
"Sorayaaa..." Erick melunak dan mendekati istrinya.
"Karen lepaskan dia, dia sedang hamil!"
"HAHAHAHAHAHA!!" Nina tertawa sekaligus menangis kali ini.
"Apa aku pantas iri dengan perlakuan mu Erick?!"
"Saat itu aku hamil!"
"Dan kamu berselingkuh!!"
"Sekarang?"
"HAHAHAHAHA!!"
"AKU SUNGGUH SANGAT BODOH PERNAH MENCINTAI MU!!!"
"Karen... A Aku..."
"Cukup!!"
"Aku sudah tidak peduli lagi!!"
"Aku datang kemari hanya sekedar memberikan ucapan selamat!!"
"Aku sudah menepati janjiku mengambil apa yang menjadi HAK KU!!"
"Satu hal lagi, aku membawakan hadiah untuk kalian."
"Selamat menikmati!"
"DASAR JA*LANG!!!" Maki Soraya tidak pernah kapok.
Nina menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap keduanya kembali. Soraya tengah terdiam tidak se impulsif barusan. Tatapan Nina benar-benar menusuk jantungnya.
"Erick, apa kamu percaya bahwa kandungan yang ada di perut istri tercintamu itu benih milik mu?!"
"Apa?!" Erick tengah menatap curiga pada Soraya. Sejujurnya saat istrinya mengatakan pertama kalinya dia sudah curiga.
"Haha... Lelucon apa lagi ini?!"
"Tentu saja ini anak mu Erick!?"
"Apa kamu percaya dengan perempuan gila itu?!" Elak Soraya gelisah.
Nina menyunggingkan senyumnya kemudian keluar ruangan.
Tring!! Tring!!
Sebuah notifikasi yang terdengar dari ponsel di kedua belah pihak bahkan sekarang di seluruh nusantara. Ponsel mereka tengah memutar adegan dewasa perempuan dengan pria yang sangat panas.
Soraya menutup mulutnya, tangannya bergetar ponselnya terjatuh.
PLAAAAAAAAAAK!!
Tamparan keras dilayangkan Erick pada istrinya.
"Mulai saat ini juga aku menceraikanmu SORAYA BAGASKARA!!"
"Aku akan melayangkan surat perceraian kita melalui kuasa hukum ku!!"
"Tidaaak Erick!!"
"Kumohon percayalah padaku!!"
"Ini pasti ulah Karennina!!!"
"Dia wanita....."
PLAAAAAAAAAAK!!!
Satu tamparan keras kembali Erick layangkan pada Soraya hingga wanita itu kembali tersungkur di lantai.
"DASAR WANITA MURAHAN!!"
"AKU SUNGGUH MENYESAL!!"
Erick menjambak rambutnya frustasi, tidak berhenti disitu. Ponselnya kembali berdering. Terpampang nomor yang tidak dia kenal, perlahan dia menjawab panggilan misterius itu.
"Halo..."
"Apa benar ini kerabat dekat dan keluarga dari Nyonya Yu Shin?"
"Iya benar, saya adalah putranya."
"Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan bahwa Nyonya Yu saat ini mengalami serangan jantung dan dia tengah dalam masa krisis!"
Braaaak!!
Erik menjatuhkan ponsel pintarnya, belum 24 jam hari ini dia lewati tapi seluruh kesialannya terus datang bertubi-tubi.
Ceklek!
"Siang tuan Erick, saya kuasa hukum nona Karennina dia mengatakan menggugat anda atas penyalahgunaan kekuasaan pada perusahaan Suho!"
"Berikut adalah tuntutan yang nona kami ajukan..."
Kuasa hukum Nina yang tak lain Rangga menaruh map berisi dokumen yang akan menjatuhkan keluarga Shin sampai tidak bisa lagi bernafas.
Bruuuk!!
"Eriiickk!!!" Pekik Soraya panik.
✲✲✲✲✲✲