
Pagi ini di sebuah perusahaan multinasional terbesar di ibu kota memperlihatkan kesibukannya. Seperti biasa Hanssel Adamson yang merupakan CEO atau presidir direktur Adamson Group tengah berkutat dengan beberapa berkas di meja kerjanya yang harus segera dia verifikasi.
"Tuan, nona Nancy mengunjungi anda..."
Di tengah kesibukannya tiba-tiba sekertaris pribadi sekaligus tangan kirinya di perusahaan tengah mengabarkan bahwa salah satu gadis kencannya tengah berkunjung keperusahan.
Bukan rahasia jika CEO Adamson senang sekali bermain dengan wanita. Baginya wanita adalah baju sekali pakai. Memang sangat menyebalkan prinsip pria yang baru berusia 28 tahun ini.
"Iya... Biarkan dia masuk..."
Tanpa melirik sekertarisnya Hanssel mengijinkan salah satu teman kencannya berkunjung.
"Hanssel sayaaang... Aku membawakanmu makan siang.." Suara manja yang jelas di buat-buat sangat terbiasa di telinga Hanssel dan sekertarisnya.
Hanssel menanggapi wanita yang berparas cantik dengan make up tebal dan wangi menyengat bagi yang tidak terbiasa itu dengan senyuman palsunya. Nancy wanita yang kini sudah duduk di pangkuan Hanssel merupakan seorang artis pendatang baru, dia butuh dukungan kuat agar bisa menjadi artis papan atas. Salah satunya dengan mendekati Hanssel, pria ini terkenal seorang donatur di industri perfilman tanah air sehingga banyak artis wanita yang masih bau kencur mengantri meminta dukungan Hanssel.
Hanssel sendiri tidak masalah selama dirinya terpuaskan dia akan dengan senang hati mendukung siapa pun wanita kencannya.
"Mmm.... Hanssel kamu nakaaal!!"
Bunyi ketukan pintu tiba-tiba membuat keduanya menghentikan kemesraan mereka berdua.
"Maaf tuan, saya mengingatkan anda bahwa jam 1 siang ini ada pertemuan meeting dengan Lee Hi Group."
Suara dingin dan tegas sekertarisnya membuyarkan kesenangan Hanssel, wajah pria itu kesal begitu pula wanita di depannya. Tidak ada satupun yang menyukai Karennina Kaviandra di kantornya. Dia terkenal dengan sebutan Ratu Antagonis di perusahaan. Nina sapaan akrab sekertaris Hanssel telah bekerja selama 2 tahun di perusahaan Adamson, selama itu juga kinerja Nina tidak di ragukan lagi. Tidak ada yang bisa menggertaknya, Hanssel sendiri mengakui etos kerja Nina sudah diatas standard pegawai di kantornya. Sekesal apapun Hanssel pada Nina dia akan mudah memaafkan wanita 30 tahun itu karena hanya Nina yang bisa menghandle segala rupa permasalahan di kantor.
Bahkan Hanssel akan mengakui dengan bangga, bahwa pencapaian luar biasa kantornya tahun ini adalah berkat jasa sekertarisnya.
"Kamu paling tahu menghentikan kesenangan ku!!" Sungut Hanssel menatap dingin sekertarisnya. Nina sendiri hanya mengangkat kedua bahunya.
Wanita itu sudah sangat hafal dan terbiasa dengan permainan bosnya yang merupakan pria casanova. Nina sendiri terbilang sangat berani mengatur segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan selama itu memang benar.
Nina segera menutup kembali pintu ruangan bosnya membiarkan bosnya sendiri yang mengusir wanita kencannya saat ini.
"Kamu pulanglah lebih dulu... Nanti malam aku akan menemui mu!!"
"Tapi kan..."
Nancy sangat membenci Nina, begitu pula teman kencan Hanssel yang lainnya. Karena dengan sekali ucapan Nina, Hanssel akan menuruti wanita yang tak lain hanya sekedar seorang sekertaris saja.
"Aku tidak suka sekertaris mu!! Dia terlalu mengaturmu ga sih?!!"
Nancy berujar manja dengan memainkan kerah baju prianya.
"Sudahlah... Dia sekertaris kepercayaanku... Hanya dia yang bisa menghandle segala urusan bisnis ku.."
Hanssel bangkit dari kursinya dan merapihkan diri kemudian berlalu dari hadapan wanita kencannya.
Aku sangat tidak menyukai sekertaris itu! Jangan-jangan dia sendiri menyukai Hanssel.
Nancy segera beranjak setelah asisten pribadi Hanssel mengunjungi dan menuntut Nancy agar keluar dari ruangan bosnya.
*****
"Semoga kerja sama kita saling menguntungkan kedua belah pihak."
Hanssel menjulurkan tangannya disambut baik oleh tuan Ron yang merupakan presidir Lee Hi Group.
"Sekertarismu ini tidak ada duanya... Dia sangat tau melayani pelanggan dengan baik."
Tuan Ron memuji Nina, wanita itu sendiri hanya menanggapi dengan senyuman dan bungkukan badannya.
"Terima kasih loh bingkisannya... Kamu benar-benar mencari tahu apa makanan kesukaan ku.."
Tuan Ron kembali memuji Nina, kali ini Nina menjawab sopan pujian rekan kerja perusahaannya.
"Sudah hal yang mendasar bagi saya untuk menjamu tamu kehormatan."
Hanssel menatap Nina takjub, bukan sekali dua kali dia bahkan hafal dengan kebiasaan yang tidak pernah di lakukan sekertaris lainnya selama dia menjabat menjadi presidir. Nina lah satu-satunya sekertarisnya yang pandai menjamu klien dengan baik. Lancarnya seluruh prosesi persetujuan tender salah satunya karena Nina mempersiapkan detail khusus diluar pekerjaan. Seperti apa hoby, kesukaan atau apapun tentang klien mereka Nina telah mempersiapkannya dengan baik.
Kacamata Nina sungguh mengganggu penampilannya!! Jika saja dia lebih modis dan kacamata itu di ganti dengan softlens aku yakin dia akan terlihat semakin gorgeous!
Saking seriusnya Hanssel memperhatikan Nina dia tidak menyadari bahwa tuan Ron memanggilnya.
"Sepertinya kamu memperhatikan nona Nina... Apa kalian terlibat suatu hubungan?"
Keduanya saling pandang dan berujar kompak.
"TIDAK!"
Tuan Ron hanya terbahak melihat kegelisahan keduanya.
"Apa jadwalku selanjutnya?!" Hanssel bertanya mencairkan suasana.
"Tidak ada, semua pertemuan sudah di arrange ulang di minggu depan." Ujar Nina datar
"Kok bisa?" Hanssel mengerutkan keningnya.
"Bukannya anda yang meminta mengubah jadwanya padaku tempo hari."
"Anda bilang memiliki acara khusus penyambutan sahabat anda Rangga Adyatama kembali ke tanah air."
"Astaga!!"
Hanssel terbahak kali ini, sungguh jika bukan karena Nina. Dia akan melupakan kedatangan sahabat dekatnya Rangga yang tengah menyelesaikan study Magisternya di Inggris sana.
"Terima kasih Nina..."
"Bagaimana jika malam ini kamu menemaniku?"
Hanssel ingin sekali menguji keteguhan sekertarisnya.
"Maksud tuan?"
"Sebagai sekertaris pribadiku, sepertinya kamu juga harus bertanggung jawab saat siang tadi moodku hancur karena kedatanganmu."
"Lalu?"
"Temani aku di mansionku malam ini ya..."
"Ok..."
"Hah? Kamu serius?"
Hanssel tidak percaya sekertarisnya menjawab begitu saja dengan datarnya.
Haha ternyata dia memang sama saja dengan wanita-wanita lainnya. Siapa sih yang tidak terpesona dengan diriku. Hanssel Adamson.
Hanssel merasa berbangga diri dengan dirinya dia mengulumkan senyumnya. Dia bahkan sudah tidak sabar apa yang akan terjadi dengan mereka malam nanti.
Sudah bukan rahasia juga jika Hanssel juga sering sekali berbuat mesum dengan sekertarisnya sehingga tidak ada yang tahan berada di dekatnya. Namun selama Nina yang menjabat Hanssel tidak pernah menggoda wanita itu.
Jika bukan karena kecerdasannya mungkin dulu aku tidak akan pernah menerima Nina. Style wanita itu terlalu kuno dan kacamata besarnya terlalu mencolok merusak pemandangan. Rambut panjangnya yang selalu dia ikat kebelakang benar-benar tidak berselera menatapnya.
"Kenapa kamu tidak ikut langsung denganku?" Tanya Hanssel setelah Nina turun di halte bis.
"Sepertinya aku butuh persiapan.." Jawab Nina kembali datar kemudian berlalu saat bis datang.
Hanssel mengulumkan senyumnya dan menyuruh supirnya segera melajukan mobilnya.
******
Mansion Beverly Hill, 7 PM.
Hanssel bergegas membuka pintu mansionnya, dia sendiri tengah berfantasi sedari tadi bagaimana penampilan Nina kali ini. Apa dia akan berpakaian seksi seperti para wanita kencannya?
Namun fantasi itu buyar ketika dia membuka pintu dan....
"Siapa kamu?"
"Selamat malam tuan Hanssel, saya di perintahkan untuk melayani anda malam ini...."
Dengan nada malu seorang wanita manis dengan pakaian kurang bahannya tersenyum ke arah Hanssel dengan gaya topless nya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Hanssel kesal.
"Saya tidak tahu tuan, hanya di arahkan ke mansion ini... Apa anda tidak suka dengan saya tuan?"
Hanssel mengeratkan kepalan tangannya.
"KARENNINAAAAA!!!!"
Di sisi lain di Mansion Peony.
Nina tengah mengoleskan seabreg skincarenya. Mengembangkan senyumnya dan berujar.
"Kamu ingin mengerjaiku, mimpilah HANSSEL ADAMSON!! Siapa yang menyukai pria yang suka mempermainkan wanita seperti kamu..."
Nina bergegas mengambil laptopnya dan dia akan melanjutkan streaming drama kesukaannya.
✲✲✲✲✲