Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 49 - Fear



Tender salah satu pengembangan Mall terbesar di ibu kota menjadi sorotan publik. Kawasan di bawah naungan Group Adamson itu dalam pelaksanaannya di peruntukan beberapa kontraktor yang akan membantu mereka.


Salah satunya vendor pengadaan bahan baku utama yang di menangkan oleh Suho Enterprise. Atas dasar apa perusahan baru itu bisa melewati tahapan seleksi Adamson dan mengalahkan beberapa vendor besar yang sudah terpercaya?


Beberapa opini menyebutkan bahwa Adamson memang selalu berlaku obyektif. Namun rumor lainnya mengatakan bahwa sepak terjang Adamson sendiri sangat mengerikan dalam melahap perusahaan yang baru-baru ini mengakusisi satu perusahaan baru lagi seperti Mentari Abadi.


Akankah Suho nantinya menjadi seperti mereka?!


Nina mematikan saluran bisnis di televisinya. Hanssel tengah menyuap sandwich terakhir buatan istrinya kemudian menyesap kopi hitamnya.


"Mengapa kamu matikan?" Tanya Hanssel kemudian, mengambil iPad miliknya dan memeriksa indeks saham Adamson saat ini.


"Kapan kasus mereka muncul kepermukaan?"


"Aku ingin menambahkan sesuatu yang akan membuat mereka semakin terpuruk!"


Hanssel menghentikan jemarinya berselancar, wajahnya menatap serius istrinya.


"Apa yang kamu punya?"


Nina menghembuskan nafas perlahan. "Laporan keuangan mereka..."


Hanssel menyeringai, "Kamu tenang saja, kita tunggu tanggal mainnya."


"Tuan Long tahu apa yang harus dia lakukan."


"Terima kasih..."


Nina menatap sayu ke arah suaminya yang selalu memanjakannya beberapa waktu terakhir. Membuat hati Nina semakin terpaut dengan bosnya itu.


"Apa kamu masih kurang enak badan?"


"Not really, tapi aku sedang ingin cuti."


"Baiklah..."


Hanssel beranjak dan mengecup kening istrinya.


Cup~


"Aku berangkat dulu ya sayang..."


Nina mengangguk perlahan, Hanssel menuju area belakang meminta pelukan anak kesayangannya yang sepagi ini sudah meminta wahana baru flying fox yang sedang di kerjakan beberapa anak buah Hanssel.


"Be carefull papa Hanssel!"


"May god always bless you everytime and everywhere!!"


"Mulutmu sungguh manis pria kecil!!"


Hanssel menciumi pipi dan tubuh Jimmy berkali-kali. Jimmy tertawa geli dengan kerasnya. Dia benar-benar bersyukur bisa mengenal keduanya yang mengubah kehidupan Hanssel begitu drastis.


Hanssel memberi titah pada anak buah dan vendor yang di tunjuknya untuk kembali menambahkan wahana permainan di rumah Nina.


"Kamu terlalu memanjakan Jimmy..." Ujar Nina mengantar kepergian suaminya.


"Aku senang..."


"Apapun akan aku usahakan dan berikan untuknya."


Nina tersenyum bahagia, disaat ayah biologisnya memperlakukan anak kandungnya sendiri seperti orang lain. Hanssel justru kebalikannya.


"I love you Hanssel..."


Hanssel mengeluarkan kepalanya meminta vitamin C pada istrinya.


"Love you too my wife..."


"My everything..."


Hanssel melajukan kendaraannya, Nina melambaikan tangan kemudian kembali memasuki rumahnya.


***


"Tante, apa kita tidak meminta persetujuan Hanssel lebih dulu?!"


"Tidak perlu..."


"Selama tante yang urus dia akan menyetujuinya..."


"Tapi tan, Hanssel sangat dingin padaku sekarang ini..."


"Kamu tidak perlu khawatir, setelah pesta pernikahan kalian selesai dia pasti tidak akan dingin lagi."


"Apalagi jika kalian cepat membuat keturunan Adamson!!"


"Tante yakin Hanssel tidak mungkin mengabaikanmu lagi..."


Catherina mengembangkan senyumnya, selama keluarga Hanssel memihak padanya Nina bukan lagi jadi ancaman besar baginya.


"Tante tahu masalah di kantor dari orang tante, kamu masuk lah ke perusahaan sekarang."


"Jika Hanssel mengomentarimu suruh dia menghadap tante!!"


"Tante tidak perlu seperti itu..."


"Aku sebagai karyawan yang baik tentu saja harus mentaati peraturan."


"Jika tidak mungkin karyawan lain akan memandang lain terhadapku..."


"Terlebih mungkin mereka akan berpikir bahwa Hanssel tidak memiliki pendirian."


"Kamu memang menantu yang paling pengertian..."


"Kamu benar-benar sangat cocok dengan Hanssel..."


"Minggu depan kita akan adakan pesta dansa sebagai awal perayaan sebelum hari pernikahan kalian. Sekalian mengumumkan tanggal resepsi!"


"Semua orang penting akan di undang disana!"


"Tidak ada orang yang tidak akan tahu pernikahan besar kalian!"


Keduanya masih meneruskan perbincangan mengenai rencana pernikahan mereka yang jadwalnya di majukan dari rencana awal.


Setelah kepergian Catherina, Nyonya Rossie memanggil asistennya.


"Baik nyonya..."


***


Keesokan harinya Nina sudah bekerja seperti biasanya, dua hari lagi dia akan menyaksikan kejatuhan Suho dan dia akan mengambil alih perusahaannya kembali.


Nina sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Ini benar untukku?!"


"Tentu saja!"


"Bukankah kamu menyukai cheesecake?!"


"Dari mana nona tahu?!"


"Nona? Nina lah!!"


Nina terkekeh dengan penuturan Farell. Dia berterima kasih pada asisten super yang selalu membantu pekerjaannya walau dia tidak di peruntukan kesana.


"Anda sudah menikah dengan tuan muda tentu saja aku harus menghormatimu sekarang."


"Jika dia di hadapanmu!"


"Jika tidak maka seperti biasa saja."


Nina mengulumkan senyumnya. "Terima kasih bantuanmu... Aku tanpamu bagai sayur sop tanpa royco rasa ayam!"


"Hahahaha!"


Farell tertawa dan melanjutkan menyuap sepotong kue dari satu pack bulat cheesecake yang Nina berikan untuknya.


Braak!


Hanssel membuka pintu ruangan Nina, terlihat sorot matanya memerah menandakan tengah cemburu.


"Mm... Mulai deh..." Gumam Nina lirih masih tidak bergeming dari pekerjaannya.


"Kenapa kamu makan kue di ruangan Nina?!" Tanya Hanssel dengan intonasi tinggi.


"M Maaf tuan, ini juga ruangan saya bukan?"


"Nona tadi memberikan saya kue..."


"Pake di bilangin!!" Lirih Nina menepuk jidatnya.


"APAAA?!"


"BERIKAN SISANYA!!"


"INI SEMUA MILIKKU!!"


Farell membuka mulutnya lebar "Bos cemburu selalu tidak pada tempatnya dan tidak ada elegannya sama sekali!!" Rutuk Farell dalam hati.


"Sudahlah sayaaang..."


"Nanti aku belikan yang baru okay.."


"Itu milik Farell, aku membelikannya sebagai bentuk terima kasih sudah membantu pekerjaanku selama aku cuti kemarin."


"Tidak perlu!!"


"Aku akan memberikannya bonus akhir tahun!" Ketus Hanssel bersedekap dada.


"TERIMA KASIH TUAN..."


"Ini kue milik anda semua!!!"


Tanpa pikir panjang lagi tentu saja Farell lebih menyukai hadiah dari tuannya.


"Haissh..." Nina menggelengkan kepalanya menyerah.


Farell tengah sumringah bonus akhir tahun miliknya pasti yang akan lebih besar di banding Nina. Kekalahan tahun lalu membuatnya sedikit murung. Tuannya telah pilih kasih setelah Nina menjadi sekertaris andalannya.


Sore harinya nyonya Adamson tengah berkunjung ke perusahaan. Beberapa karyawan menyambut membungkukan tubuh mereka. Nyonya Rossie melaju dengan anggun menuju ruangan presidir.


Nina menunduk dan membukakan pintu untuk pemilik saham terbesar di Adamson Group.


"Ada apa mama kemari?" Tanya Hanssel ketus.


"Hanssel..."


"Mama dengar kamu tidak lagi tinggal di apartemenmu?!"


DEG!!


Hanssel menghentikan aktivitas verifikasi dokumen. Dia menelan salivanya.


"Mengapa mama begitu mengurusu urusan pribadiku."


"Mama tahu sendiri aku memiliki property dimana saja."


"Oh ya?"


"Tapi, para pelayan di PIK mengatakan kamu tidak berada disana."


"Padahal mobil mu terlihat jelas di kawasan PIK!"


Nyonya Rossie mengatakan dengan perlahan dan menyesap Teh Chrysanthemum yang baru di sajikan Nina. Nina yang tidak sengaja mendengar perbincangan mereka menelan salivanya. Debaran jantungnya tidak mengenakan perasannya.


Nina melangkah menjauh namun panggilan nyonya besar menghentikan langkahnya.


"Aku baru tahu kamu juga tinggal di PIK Nina?"


"Apa kamu lupa tentang isi kontrak kerjamu?


" Bukankah sudah tertulis jelas persyaratan khusus sebagai sekertaris Hanssel itu seperti apa?!"


Hanssel berdiri saat ini juga dari tempat duduknya.


✲✲✲✲✲✲