Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 6 - Salah



Hanssel mengetuk jarinya di meja kerjanya frustasi. Pagi hari saat dia terbangun dari tidurnya dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Dia mencoba mengingat apa yang tengah terjadi semalaman. Dia masih ingat bahwa dia kesal karena Nina selalu mengacuhkannya dan pergi minum di salah satu Bar di ibu kota. Dia merasa dirinya mabuk dan meminta asistennya untuk menjemputnya. Namun sialnya yang dia hubungi justru sekertaris bar-barnya. Setelah itu dia tidak ingat apapun.


Tuut!


"Ke ruangan sekarang juga!!"


"Pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?!" Sapa Nina terlihat berbeda kali ini. Lebih ramah dari biasa yang selalu datar.


Hanssel mengerutkan keningnya memperhatikan lekat penampilan sekertarisnya yang sangat kuno sejurus kemudian dia mengingat seorang wanita cantik yang tengah membantunya saat dia mabuk.


"Kamu kan yang membawa aku pulang dari bar?!" Selidik Hanssel.


"Maksud tuan?"


"Aku mendapatimu keluar bersama tuan Ron! Apa yang kamu lakukan dengannya?! Apa kamu melakukan transaksi di luar bisnis dengannya?!"


Entah mengapa dari ingin menginterogasi pasal mabuknya dia justru tengah ingin tahu apa yang dia lihat sampai harus melepaskan amarahnya dengan minum.


"Apa anda memata-matai saya?!" Ujar Nina kesal.


"Tidak.. Hanya saja aku tidak sengaja melihat tuan Ron bersama seorang wanita yang aku perkirakan itu kamu!!"


"Hanya saja kacamatamu kau lepas, rambut kau gerai indah bergelombang. Pakaian modis serta high heels senada dengan dress yang kamu kenakan."


Hanssel terdiam sesaat, mengapa dia begitu lancar mengatakan ciri-ciri wanita yang dia prediksi sekertaris kunonya. Pertama kali mendengar ucapan tuannya Nina tertegun tidak percaya namun kemudian dia menyeringai.


"Hahaha, tuan sungguh senang membuat lelucon. Saya tidak pernah melepaskan kaca mata ini, jika iya saya tidak bisa berjalan."


"High heels?! Saya lebih mengutamakan kesehatan kaki saya."


"Rambut bergelombang? Apa anda sangat berhalusinasi penampilan saya seperti wanita yang berada dengan tuan Ron yang anda katakan?!"


"Apa anda tidak lihat rambut saya jatuh lurus begini?!!"


Nina terkekeh dengan tingkah konyol bosnya yang hampir mengetahui identitas aslinya. Dalam hal kepura-puraan Nina sudah sangat ahli dalam dua tahun terakhir.


Raut wajah Hanssel memerah antar malu dan marah bercampur menjadi satu. Dia masih meyakini wanita dalam penglihatannya malam itu adalah Nina!!


"Kalau begitu malam kemarin aku menghubungimu kan? aku menyuruhmu menjemputku di MO Bar?!"


Kini Nina mengerutkan keningnya dan seolah berpikir.


"Maaf tuan saya tengah di rumah menonton serial drama kesukaan saya... Lagian anda tidak pernah menghubungi saya di luar jam kerja... Mungkin itu salah satu teman kencan baru anda?"


Nina kembali membantah dengan tenang tanpa keraguan sedikitpun.


"Jika anda ragu bukankah sebaiknya anda periksa saja history panggilan dan CCTV apartemen anda. Saya juga tidak ingin anda semakin gencar menuduh saya di kemudian hari."


"Jika tidak ada yang lain lagi maka saya pamit undur diri!!"


Tanpa persetujuan Hanssel Nina berlalu menuju keluar ruangan tuannya. Hanssel mengeratkan kepalan tangannya dan menopang dagunya.


"Aku ingat itu pasti dia!!" Rutuknya.


Hanssel membuka CCTV Apartemen dan betapa terkejutnya saat dia tahu bahwa dirinya di antar oleh salah satu wanita yang tidak dia kenal. Kemudian dia memeriksa history panggilan. Buru-buru dia menghubungi Farell yang sedang dia perintahkan mengurusi proses akusisi dengan Mentari Abadi.


"Farell aku ingin kamu menyelidiki sesuatu... Aku ingin secepatnya kamu dapatkan informasi ini."


"Prioritaskan akusisi Mentari Abadi. Buat si bajingan Revan menyadari kesalahannya telah berurusan denganku!!"


Kemudian tak berapa lama saluran terputus. Dia kembali menghubungi seseorang.


"Rangga, apa kamu sibuk?"


"Aku menemuimu sekarang ya... Ada hal yang ingin aku tanyakan..."


Hanssel bersiap meninggalkan kantor, setelah menutup saluran teleponnya.


"Nina, aku ada urusan... Kerjakan apa yang harus kamu kerjakan rasanya tanpa perintahku kamu sudah tau semuanya!!!" Dengus Hanssel kesal dan berlalu begitu saja.


Hanssel merasa dirinya tengah di bodohi oleh sekertarisnya.


"Huh!!"


Nina membuang nafas kasar dan menghubungi Farell.


***


Ding... Dong!


Nina menghentikan aktifitas mengunyah kripik kentang kesukaannya. Dia terdiam beberapa detik, merasa tidak mengundang tamu ke apartemen nya dan siapa juga yang tahu dimana tempat dia tinggal.


"Jangan-jangan si bodoh Hanssel?!"


Nina beranjak dari sofa dan menuju pintu. Dia memeriksa di kamera pengawas kemudian senyumnya mengembang.


"FARAAH!!"


Nina menyambut satu-satunya sahabat dan saudara sepupu jauhnya. Farah Lee, dia adalah anak dari paman jauh keluarga Kaviandra. Farah jug sama histerisnya dan langsung memeluk Nina.


"Dari mana kamu tahu dimana aku tinggal?!" Nina menarik lengan Farah mempersilakan perempuan itu masuk.


"Kamu amnesia ya? Aku kan pernah berkunjung kesini tahun lalu? Kamu tidak bilang pindah rumah berarti tetap disini."


"Aaah..." Nina memeluk Farah dengan bahagia. Disaat dia membutuhkan teman nyata untuk berbagi hari terberatnya tuhan mengantarkan Farah kesisinya saat ini juga.


Mereka berdua larut dalam diskusi panjang, seolah bertemu soulmate yang lama di nantikan mereka berdua sama-sama mencurahkan isi hati mereka.


"Clubbing yuk?!" Ajak Farah.


"Sampai kapan kamu disini?!" Nina mengalihkan.


"Tak tahu... Jika urusanku sudah selesai aku akan kembali pulang... Apa kamu tidak rindu om, tante sama kak Keenan?"


Nina terdiam, jangan di tanya lagi bagaimana dia merasa homesick. Sepertinya lebih baik menerima ajakan clubbing dari sepupunya saat ini.


***


MO Bar and Pub 09.00 PM.


Musik keras yang bisa membuat seluruh badan kita merasa ingin terus bergoyang tengah menggema di seluruh penjuru PUB. Nina dan Farah tengah mengikuti irama. Kali ini mereka berani dengan menenggak beberapa gelas wine membuat keseimbangan dan kesadaran menurun.


Nina merasa mual kali ini, dia ijin ke belakang karena rasa ingin muntah dan ingin buang air kecil. Setelah selesai tanpa sengaja di depan washroom dia menabrak seseorang.


"NINA!!" Pekik Hanssel.


Nina membulatkan matanya namun mencoba tenang untuk tidak terpancing.


Hanssel menarik lengan Nina tanpa basa-basi mencium bibir Nina dan menggigitnya.


PLAAAAAK!


"Anda sungguh kurang ajar! Menyingkir dari hadapanku!! Aku tidak mengenalmu!!" Bantah Nina membual.


Hanssel menyeringai saat kondisi tubuh Nina tidak seimbang dan terjatuh di depannya.


"Walaupun penampilanmu berbeda jauh dengannya... Tapi aku hafal wangi parfume mu Karennina Kaviandra!"


Nina menatap lekat sejurus kemudian tidak sadarkan diri. Hanssel menggendong Nina dalam dekapannya dan membawanya ke apartemen miliknya.


Hanssel menyakini wanita di depannya adalah Nina. Walau tampilan mereka berdua bagai Bumi dan Mars tapi Hanssel berfirasat wanita didepannya memang sekertarisnya.


"Jika aku benar-benar jahat saat ini aku sudah menyantapmu!!"


Hanssel menyentuh setiap inci tubuh Nina, tubuhnya merasakan desiran yang membuat darahnya terasa panas, dia terus menelan salivanya. Dia kembali mencium bibir ranum Nina kemudian dia membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh wanitanya.


"Kamu sungguh sangat menggoda.... Mmmmm...."


✲✲✲✲✲✲