
"Aaarrgghh HANSS!!"
Hanssel tengah mencumbu Nina liar di dalam mobilnya.
"Kamu kenapa!!" Nina mendorong kasar suaminya.
"HEBAT YA KAMU SELALU MENJERAT PARA LELAKI ITU!!"
"APA AKU KURANG CUKUP UNTUKMU!!"
"APA AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MEMUASKANMU HAH?!!"
Hanssel menumpahkan kekesalannya pada Nina di dalam mobil setelah mereka selesai dengan pertemuan bersama founder K-Tech. Sebelumnya mereka juga sedikit bersitegang untungnya Nina bisa melerai dan segera menuju intinya dengan mempersentasikan prototype perencanaan pembangunan kantor cabang KTech.
Nina tertawa lirih "Kau lucu Hanssel... Aku jelek begini mana mungkin mereka tertarik!!"
"LANTAS GODAAN KEDIPAN MATA SAMA KAMU ITU APA?!"
"W H A T?!" Nina tidak percaya apa yang di dengarnya.
"Apa kamu cemburu?" Tanya Nina menggoda dengan merangkulkan lengannya di bahu Nina.
"TENTU SAJA!!" Hanssel segera mencium bibir Nina dengan lembut dan semakin menuntut. Saat ini mereka sudah hilang akal setiap kali selalu saja melakukan hal mesum dimana mereka berada.
"Bukankah itu mobil Hanssel dan Nina?" Keenan tengah menuju mobil yang di parkirnya tak jauh dari mobil Hanssel, namun langkahnya terhenti saat melihat mobil Hanssel yang masih belum beranjak padahal mereka telah keluar 20 menit yang lalu.
"Sam!"
"Iya tuan..."
"Selidiki hubungan si degil sama bosnya itu!!"
"Baik tuan..."
Saat Keenan akan mendekat kearah mobil mereka, Hanssel telah melajukan mobilnya.
"Jika akau berani menyakiti adik ku, aku akan membuat Adamson terguncang!"
***
"Nona tidak tahu ya kalau Nina dan Hanssel memang memiliki hubungan yang sangat intim?!" Jessica kembali dengan aksinya.
Kali ini dia menghasut Catherina dengan menyuguhkan semua rumor yang di buatnya.
Dengan begini aku menggunakan tangan orang untuk menepuk lalat! Dan si Karennina akan menepuk Catherina untukku! HAHAHAHA
Betapa pintarnya aku!!
Catherina termakan dengan hasutan Jessica yang tiba-tiba mendekatinya dan menawarkan pertemanan saat mereka makan siang di area pantry kantor. Catherina berharap bisa bertemu dan makan siang dengan Hanssel. Nyatanya pria itu sudah tidak ada di ruangannya begitu pula Nina dia tidak ada di ruangannya.
"Mereka berdua tidak pernah makan siang disini."
"Mereka akan makan di luar dan..."
"Dan apa?" Tanya Catherina sangat penasaran.
"Aku pernah tidak sengaja makan di luar dan mendapati mereka memasuki sebuah hotel. Saat aku mencoba mengikutinya, mereka bukan menuju resto melainkan memasuki lift menuju sebuah kamar!" Jessica menjelaskan dengan menggebu.
Catherina yang mendengarnya meremas erat genggaman tangannya. Dia sudah tersulutkan amarahnya.
Nina sialan!! Jangan salahkan aku bertindak kasar kedepannya!!
"Tapi heran ya... Padahal tampilan Nina itu jelek loh!"
"Kuno lagi!!"
"Hilih! Sekarang itu tampilan tidak masalah selama service ranjang memuaskan tampilan termaafkan!!"
"Gitu ya?"
"Kamu lihat, kemarin dia pakai Porsche!"
"Sebelumnya BMW!"
"Sekertaris mana yang bisa memakai mobil mewah itu jika bukan memiliki penyokong keuangannya!!"
"Jangan-jangan bukan cuma tuan Hanssel saja!!"
"Bisa jadi!!"
Jessica dan Cindy semakin memanasi Catherina untuk segera bertindak. Catherina menggebrak meja.
Brak!
"Terima kasih informasinya."
Catherina berlalu dengan sangat emosi meninggalkan Jessica dan beberapa temannya.
"Hahaha... Nona muda meskipun anda tunangan yang di kenalkan nyonya Adamson tapi kami tidak akan pernah merestui anda bersanding dengan tuan kami!!" Guman Jessica menyeringai.
Candy dan beberapa temannya tertawa menyetujuinya.
Nina dan Hanssel telah berada kembali di kantornya.
"Hanss udah ya..." Rengek Nina pada suaminya untuk melepaskan dirinya.
Bibirnya sungguh kebas rasanya namun prianya masih meneruskan permainan. Bahkan tidak tanggung mencoba memainkan jari di dalam inti miliknya yang segera ia tepis.
"Kamu sungguh membuat aku candu sayaang!!"
Keduanya merapikan tampilan mereka sebelum benar-benar keluar dari mobil dan kenbali ke ruang kerja mereka.
Nina kembali berkutat dengan pekerjaannya sore ini adalah pemberitahuan pemenang tender pengadaan bahan baku. Suho akan memenangkannya.
Erick Shin nikmatilah puncak kesenanganmu... Karena sebentar lagi kamu akan terjatuh!
Nina mengulum senyumnya, walau sudah di pastikan pembalasan dendamnya namun hatinya masih merasa terluka.
Nina menghapus bulir air matanya, ingatan masa lalunya tiba-tiba terbuka dan menunjukan di setiap kejadiannya di kepala Nina.
"Nina, menikahlah denganku aku bersumpah aku akan membahagiakanmu seumur hidupku!"
"Mencintaimu satu-satunya wanita yang bisa menggetarkan hatiku!"
"Kamu yang mampu merubahku menjadi lebih baik..."
"I love you Karennina..."
Nina mengingat kembali ucapan cinta Erick yang mengantarkan mereka berpacaran selama satu tahun lamanya setelah itu mereka sepakat melanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Huh! Kamu hanya bagian dari masa lalu yang harus di buang!"
Nina menguatkan dirinya kembali. Dia hanya akan hidup untuk Jimmy dan keluarganya saat ini.
Di ruangan presiden direktur, Hanssel tengah berbincang dengan Farell.
"Kamu sudah persiapkan semuanya?"
"Sudah tuan seperti yang tuan minta..."
"Bersih?!"
"Aman!"
"Saya sudah bertanya pada Tuan Long, dia memastikan Suho akan memberi bahan baku pada mereka."
"Tuan Long telah menukar semua kualitasnya dan membiarkan mereka menerima yang terburuk!!"
"Bagus!!"
Hanssel mengulumkan senyumnya kemudian menyuruh Farell kembali mengerjakan tugas lanjutan. Meretas sistem Suho.
"Tuan..."
"Hm... Ada yang lainnya?!"
"Saat tengah meretas Suho saya tidak sengaja menemukan data rahasia di dalam sistem keamanan mereka..."
"Apa itu?" Hanssel berubah serius.
"Mengenai Karennina, tapi saat akan mengimport data mereka menghilang..."
".........." Hanssel sejenak terdiam.
"Apa kamu merasakan yang serupa Farell?!"
"Nina tidak sesederhana yang kita bayangkan..."
"Apa saja yang sudah kamu dapatkan data lanjutan keluarga besarnya?!"
"Semua rapi tidak bisa tersentuh tuan!"
"......."
"Biarlah kamu kembali saja, aku sudah mendapatkan Nina kamu bantu aku agar Rossie dan Catherina tidak mengetahuinya!"
"Baik tuan..."
Farell kini beranjak dari ruangan tuannya dan bersiap melaksanakan semua titah tuannya.
"Sayaaang... Berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan dariku?!"
"Semakin sulit di dapat semakin penasaran untuk berjuang!!"
Hanssel tengah mengusap layar ponsel miliknya yang berpotretkan mereka bertiga di sebuah taman bermain tempo hari.
***
Kediaman keluarga Shin,
Keluarga Shin tengah berpesta atas kemenangan Suho tahun ini langsung memenangkan proyek besar bersama Adamson Group.
Soraya dan Nyonya Shin tengah mengundang beberapa teman sosialita mereka untuk pamer keberhasilan putranya dalam mengelola perusahaan dan menjadikan mereka keluarga yang mapan.
Tidak biasanya bagi Erick Shin saat ini menarik dirinya dan beralasan mempersiapkan pekerjaannya. Dia memilih menuju ruang kerjanya menjauh dari pesta yang di adakan istri baru dan ibunya.
Dia menuang wine kedalam gelas, membawanya menuju balkon kamar. Semenjak pertemuannya kembali dengan Nina di Bali dan saat persidangan hak asuh putra mereka Erick kembali di dera perasaan yang tidak biasanya.
"Aku sungguh menyesal... Maafkan aku Nina..." Gumamnya lirih dan segera menenggak wine miliknya.
"Jimmy... Papa merindukanmu..."
Cekleeek!
Terdengar suara pintu terbuka ternyata Soraya istrinya tengah menghampirinya. Soraya berparas lumayan cantik, dengan riasan tebal dan parfume yang menyengat entah apa yang membuat Erick terpikat padanya kala itu.
Memang benar semenjak Nina ikut ke kediaman Shin dia tidak secantik dulu, terlebih saat dia mengandung putra mereka. Tubuhnya menjadi gempal dan wajahnya kusam, sungguh tidak menggairahkan saat ingin menyentuhnya. Soraya datang dengan penampilan yang jauh lebih menarik membuat Erick khilaf dan gelap mata.
"Sayaaaang..."
Soraya menghampiri suaminya dan merangkulnya. Wanita itu mengenakan dress satin tali tipis yang mengekspose sebagian lekuk tubuhnya. Erick yang sudah setengah mabuk mencium pucuk kepalanya.
"Apa pestamu sudah selesai?"
"Kenapa ga mau gabung sih... Semua kan pengen liat siapa yang berperan penting disini!"
Soraya mendongak, jemarinya menyentuh wajah tampan Erick. Dia tengah menggoda prianya dan si pria dengan kehilangan ke sadaran dia seolah tengah melihat Nina di hadapannya. Dia yang tengah rindu seolah di hadapkan dengan orangnya langsung menyesap bibir Soraya yang dia pikir Nina.
Sudah seminggu ini dia tidak ingin menyentuhku. Ini kesempatan baik.
Soraya memapah suaminya melanjutkan aksinya di dalam kamar mereka.
✲✲✲✲✲✲