
Nina tengah berselancar dengan laptopnya. Dia mencari informasi yang dia butuhkan. Beberapa panggilan masuk dari beberapa orang tidak dia indahkan.
Setelah memastikan Jimmy istirahat dia kini menyendiri di kamarnya. Dia berencana mencari rumah yang jauh lebih luas untuk dia tempati bersama buah hati dan pengasuhnya.
Ting... Tong...
Nina pura-pura tuli dengan suara bel di luar. Namun Nanynya telah membuka pintu depan dan kini mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf nyonya... Di depan ada tuan Hanssel."
"Biarkan saja..."
"Tapi nyonya..."
"....... " Nina tidak lagi memperdulikan sahutan Nanynya.
Tidak berselang lama Hanssel telah menerobos memasuki kamarnya.
"Apa kamu lupa pelajaran tata krama!" Ujar Nina dingin.
"Ini rumahku."
"Tanpa seijin ku kamu dilarang menemuiku..."
"Sekarang pergi atau aku menghubungi security!!"
Tanpa menatap Hanssel dia masih asik dengan ketikan di laptopnya. Hanssel mendengus kesal, menghampiri wanita pujaannya.
"Sayang maafkan aku ya..." Hanssel bersimpuh di sebelah ranjang Nina.
Nina masih membiarkannya, sedikitpun tidak ingin merespon tindakan Hanssel walau itu tindakan romantis sekalipun.
"Sayang, aku menyesal kamu boleh meluapkan dengan memukul ku?"
"Aku siap menerima semuanya..."
"Aku hanya minta maafkan aku dan kembali merespon ku ya sayang..."
"Kamu pengen apa?"
"Kamu mau gimana aku akan kabulkan semuanya..."
"Atau besok kamu ingin Suho mu menjadi milikmu aku akan lakukan!!"
Nina menghentikan jemarinya, Hanssel senang akhirnya ada yang bisa mengubah pemikiran wanitanya.
"Sayang..."
Hanssel mendekati Nina yang masih diam terpaku dan memancarkan aura yang tidak enak. Hanssel juga sudah terbiasa dengan sikap arogan sekertarisnya jika dia tengah datang tamu kehormatannya. Hanssel selalu jadi sasaran emosi Nina jika itu terjadi. Sudah sangat hapal di luar kepala Hanssel kelakuan sekertarisnya.
Hanssel menyerahkan belati kecil ke arah Nina.
"Kamu tusuk aku dengan ini lampiaskan semuanya sayang... Aku tidak masalah asal kamu memaafkan aku ya..."
"Seandainya kamu tahu betapa aku emosi kamu menganggap hubungan kita hanya main-main saja!!"
"Aku serius dengan mu Nina..." Lirih Hanssel mencoba menggenggam jemari Nina yang tengah memegang mouse miliknya.
Hanssel ingin serius denganku? Apa-apaan dia ini? Apa ini salah satu jurus buaya daratnya?
"Kamu sudah mendapatkan semuanya dariku bukan?"
"Kapan kamu akan melepaskanku?"
"Aku sudah tidak berniat dengan Suho."
"Karennina!!"
"Jangan keras kepala oke!!"
"Kita jalan-jalan?"
Hanssel mencoba terus menahan emosinya, dia bahkan tengah menahan harga dirinya sebagai atasannya.
"Aku sangat lelah Hanssel..."
"Baiklah... Apa kamu ingin aku pijat?"
"Aku menawarkan pijatan relaksasi gratis untuk mu."
Nina segera menarik tangannya dengan raut wajah gelisah.
Pijat? Apa si mesum tidak tahu diri ini tidak mengerti apa itu lelah?!
"Nina... Karennina Kaviandra... Aku mencintaimu!"
"Deg!"
"Hanssel... Berhenti berpura-pura... Tinggalkan aku sendiri aku mohon..."
"Aku janji esok aku akan masuk kantor seperti biasa."
"Apa kamu menolak ku Nina?" Hanssel berdiri dari tempatnya.
Nina tidak menjawab dia terdiam, kemudian Hanssel beranjak dari tempatnya tidak percaya bahwa dia mencintai wanita yang keras hati.
Nina kembali terisak setelah kepergian Hanssel, langkah kaki Hanssel tertahan. Hatinya masih ingin memperjuangkan Nina namun egonya meronta untuk tidak lagi merendahkan dirinya. Pada akhirnya Hanssel beranjak dari apartemen Nina.
***
Di ruangannya Hanssel tidak lagi mengganggu Nina. Sudah cukup penolakan semalam membuat harga dirinya jatuh saat itu juga.
Namun dia sangat gelisah, dia memutar video CCTV ruangan sekertarisnya dia menatapnya lekat. Teringat kembali bagaimana dia bercinta dengan sekertarisnya. Kemudian kembali teringat bagaimana brutalnya dia memperlakukan Nina.
"Astaga!"
Hanssel berdiri dan segera menemui Nina.
"Temani aku kesuatu tempat." Ujarnya dingin.
"Kemana?" Tanya Nina heran.
"Cepatlah!!"
Nina mendengus kesal, dengan langkah gontai dia mengikuti bosnya. Sepanjang jalan mereka bersama, Nina merasakan bahwa beberapa pegawai kembali menatapnya dengan tatapan sinis dan tidak menyukainya.
Di dalam mobil Nina kembali bertanya kemana tujuannya.
Hanssel terdiam, badannya berbalik dan mendekati Nina. Dia menelan salivanya betapa dia rindu menyentuh bibir manis wanita di depannya.
Hanssel menyesap lembut bibir Nina, namun segera di dorong oleh wanitanya.
"Kesepakatan kita masih berlaku Nina!!"
"Kau baru jadi pacarku selama seminggu!!"
"Masih ada 3 minggu lagi!!"
"Jangan mencoba batas kesabaranku Nina!"
Hanssel mencengkram erat pergelangan tangan Nina. Dia meringis menahan perih.
"Maafkan aku..." Hanssel mengusap dan mencium tangan Nina.
Nina membiarkannya, perasaan nyaman itu menjalar kembali di relung jiwa seorang Nina. Perlahan dia merangkulkan kedua tangannya di bahu prianya kemudian keduanya kembali bertautan mesra.
Hanssel sangat gembira, dia melepaskan tautannya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Apartemen?" Tanya Nina heran.
Mereka telah berada di apartemen milik Hanssel. Hanssel menggenggam erat jemari Nina. Keduanya memasuki lift selama di lift Hanssel berani dengan terus mencumbu tubuh wanitanya.
"Hanss!"
Tring!
Tanpa basa basi saat baru saja memasuki rumah Hanssel sudah mengungkung tubuh sekertarisnya. Kembali terdengar suara rintihan Nina menguasai kesadaran Hanssel. Dia benar-benar kecanduan untuk terus melakukannya bersama Nina.
"Hanss... Pelan sedikit!"
"Aahh iya ini sudah pelan sayang... Kamu sempit banget!!"
"Kamu canduku sayang!!"
Hanssel mengecup kening Nina, wajah wanitanya tengah basah oleh peluhnya terlihat sangat seksi di mata Hanssel.
"Aku ingin segera menikahimu sayang."
"Apa kamu tengah bercanda?" Ucap Nina tidak percaya apa yang dia dengar barusan.
"Atau maksud menikah itu meniduri ku?"
Hanssel tertawa kecil dengan jawaban Nina.
"Aku ingin menjadi papa Jimmy sayang..."
"Aku bersumpah aku akan membahagiakan kalian...."
"Kamu kurang ngopi apa gimana?" Nina masih saja tidak ingin mempercayai perasaan sesungguhnya dari atasannya.
Astaga Karennina Kaviandra!! Bisakah dia lebih serius lagi!!
"Kamu pintar pasal pekerjaan.. Namun ternyata kamu sangat bodoh tentang perasaan!!"
Plaak!
Nina memukul bahu polos prianya yang masih berada di atasnya. Hanssel kembali menggerakan miliknya.
"Hanss... Ini sudah mau masuk jam makan siang loh!!"
"Kalau ada hal penting di kantor?"
"Ada Farell yang urus."
"Aku masih harus membuka pikiranmu sayang!!"
Nina kembali menjerit sekaligus sangat menikmati permainan Hanssel.
Aku benci mengakui aku mencintaimu Hanssel.
Tanpa Hanssel sadari Nina menumpahkan air matanya.
"Makan siang dimana sayang?!" Tanya Hanssel berbisik di belakang telinga Nina. Membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Hanss!!" Nina kesal dia benar-benar tidak memiliki tenaga lagi untuk bangun.
"Kamu lelah ya... Aku suruh Farell membelikan kita makan siang ya..."
Cup~
Hanssel mencium kening Nina, Nina tersipu malu di buatnya.
"Kita baikan kan sayang?"
Nina tidak ingin memperpanjang masalah, dia mengangguk dengan terpaksa.
"Sampai esok aku tidak akan membiarkanmu turun dari ranjangku Nina!!"
"Hanssel!!" Protes Nina tidak senang.
"Aku harus mengurus Jimmy..." Ucapnya seraya bangkit memposisikan dirinya duduk di ujung ranjang.
"Aku sudah menyuruh Farell menyiapkan semua.. Lagian kan ada Nanny juga!"
"Hanss..."
"Panggil aku sayang!!" Pinta Hanssel sedikit memaksa.
"Sayang... Boleh ya..." Rengek Nina.
"Mulai besok ya sayang... Ini hukuman kamu pergi begitu saja di HK!!"
"Hanss... Aku sungguh tidak sanggup jika harus melayanimu sepanjang hari.."
"Siapa bilang kamu harus melayaniku sepanjang hari?"
"Justru sebaliknya aku akan melayanimu sepanjang waktu sayang..."
"Mengapa aku tidak bisa berhenti menghisap bibir ini!!" Hanssel menyentuh bibir Nina dengan ibu jarinya kemudian menghisapnya lembut dan menuntut.
"Hanss sayang... I love you..."
"Love you too..."
Seolah perasaan keduanya tengah bersambut, keduanya kembali terbuai oleh kenikmatan surga dunia mereka.
✲✲✲✲✲