
Hari ini Hanssel tidak langsung melaksanakan tugas terbarunya, dia kembali ke Adamson.
"Makan siang aku jemput ya..."
Nina menganggukan kepalanya dengan senyuman manisnya. Hanssel juga menampilkan segaris senyum tampannya. Tangannya menggenggam lengan istrinya.
"Sayaaang ga boleh nyusahin ibu ya, semalaman papa udah nemenin kan?!"
Nina terbahak dengan penuturan mesum suaminya yang sedang berkomunikasi dengan bayi mereka.
"Hati-hati sayaang..."
Hanssel mengusap lembut wajah Nina, dia masih ingin berlama-lama dengan istrinya.
"You too..."
Cup ~
Nina mengecup pipi suaminya mesra, namun Hanssel meminta lebih dengan memiringkan kembali wajahnya meraup bibir menggoda istrinya.
"Selamat pagi bos..." Yvone telah berada di meja kerjanya dan menyambut Nina.
"Pagi..."
"Kamu udah sarapan?!"
"Udah bos tadi Kak Rangga mengajak aku sarapan juga..."
Nina menghentikan langkah kakinya untuk memasuki ruangannya. Dia mendekati Yvone, yang bersangkutan sedikit keheranan dan sangat gelisah melihat tatapan Nina kearahnya.
"Jadi kamu diantar jemput Rangga?!"
"Eh itu... Saya belum berani keluar sendiri..."
Yvone menundukan wajahnya menjelaskan alasannya meminta Rangga menjemputnya.
"Owh oke..."
"Baguslah..."
Nina kembali menuju ruangannya. Yvone menghembuskan nafas lega.
"Aku tidak tahu bahwa hanya seorang wanita bisa memancarkan aura menakutkan seperti barusan."
"Pantas saja Farah selalu memperingati akan sikapku didepannya."
"Jika aku ingin bertahan lebih lama disini aku harus bisa mengambil hatinya."
Yvone kembali berkutat dengan pekerjaan barunya. Sebelumnya beberapa kali dia mencoba menghack sistem keamanan Suho namun selalu gagal.
"Aku biasanya tidak pernah gagal."
"Aku tidak menyangka Suho yang notabene nya baru di dunia bisnis namun tingkat security data mereka sudah sekelas perusahaan besar."
"Aku harus mendapatkan kelemahannya dengan begini aku bisa menyelamatkan keluargaku!"
"Maafkan aku..."
Sedangkan di ruangan Nina dia tidak mengurusi Suho, dia membuka kamera pengawas apartemen, dia melihat gerak gerik Yvone, Nina melihat Rangga mampir sejenak kemudian pulang.
"Apa aku akan tenang memberikan Rangga pada wanita ini?!"
Nina menghubungi Rangga "Haloo bestie!!"
"Kenapa? Apa suamimu sudah kembali ke alamnya?!"
"Hahaha!!"
"Aku rinduuu bisa kah kamu membelikanku waffle di depan kantormu itu!"
"Cih, bilang aja ngidam!!"
"Mau rasa apa?!"
"Kamu memang yang terbaik!!"
Rangga menutup sambungan telponnya, "Semalam aku menemani Yvone membeli perlengkapan pribadinya."
"Tidak ku sangka Yvone memiliki niatan membahayakan Karen!"
"Akan lebih bagus jika aku bisa mengawasinya lebih dekat."
"Dengan begitu aku tahu apa yang akan dia lakukan pada Karen!!"
Rangga bergegas membelikan pesanan wanita yang masih sangat sulit dihilangkan dari hatinya. Selama dia masih bisa berhubungan baik dengan Nina, itu sudah cukup baginya.
Setengaj jam kemudian Rangga telah berada di kantor Nina. Dia melewati Yvone, Yvone yang menyadari dari parfume yang menyeruak di penciumannya menatap siapa yang berkunjung.
"Kakak!" Pekik Yvone senang.
"Hmm..."
Rangga melewatinya dengan dingin dan segera memasuki ruangan Nina.
"Padahal keduanya saling berteman, apa mereka tidak takut di kira berselingkuh?!"
Yvone merasa sedikit gelisah, dia tidak menyangka bisa merasakan perasaan kurang nyamaan saat Rangga menenteng bungkusan plastik yang di perkirakan kudapan untuk bosnya.
Kemarin saat dia merengek meminta di temani Rangga sangat acuh dan dingin. Bahkan saat diminta masuk ke runah dan makan malam bersama pria itu tidak ingin.
"Aku sungguh menyukai pria yang jual mahal!!"
Yvone mengembangkan senyumnya, sejujurnya dia tidak memiliki pengalaman dalam segi percintaan. Masa lalunya hanya ada perpustakaan di dalam kehidupannya. Dia melahap semua jenis buku yang saat ini mengantarkannya menjadi seorang mata-mata di pihak musuh XK.
Karena dia seorang wanita dan masih sangat muda, tugasnya hanya untuk mendapatkan kelemahan dan mengecoh anak buah Keenan. Dia sendiri tidak bisa melacak keberadaan Keenan, namun saat kejadian terbongkarnya bisnis ilegal tuan Lim dia melihat Keenan keluar dihadapan publik dan sangat akrab dengan Karennina. Dia berpikir bahwa wanita ini kelemahan pria itu.
Tanpa di duga bahwa Hanssel yang dia temui setelah bertransaksi dengan tuan Don ternyata juga satu kelompok dengan XK.
"Sekali menyelam dua pulau terlampaui!!"
Di dalam ruangan Nina Rangga telah masuk begitu saja seperti biasanya.
"Aaaa... Waffle ku!!" Pekik Nina girang mendekati sahabatnya.
"Nih, hati-hati makannya..."
"Thank you bestieee!!" Canda Nina kembali ke kursinya dan membuka bungkusan.
Nak kamu sungguh sangat manjaaa!!
"Kenapa?!" Rangga telah duduk di depan Nina dan merasa bahwa Nina bertingkah sendu.
"Aku merasa dejavu!"
"Heh?!"
"Maksudku..."
"Dulu saat aku hamil Jimmy boro-boro ngerengek manja minta ini itu..."
"Bisa hidup aja aku sungguh bersyukur!"
Nina kembali berkaca, Rangga mengepalkan genggaman tangannya erat.
"Aku minta maaf Karen, aku bukannya mencoba berada di sisimu."
"Aku justru pergi karena sakit hatiku dan membiarkanmu terluka saat itu."
"Sudahlah... Semua sudah berlalu!"
"Sekarang aku bahagia, aku memiliki Hanssel, kamu, Kakakku dan semuanya saat ini berada di pihak ku!!"
Rangga menggenggam erat jemari Nina.
"Maaf bos..."
Yvon tiba-tiba memasuki ruangan tanpa mengetuknya, Nina dan Rangga refleks menatap dan melepaskan genggaman tangan mereka.
Aku tidak menyangka sepertinya mereka memang memiliki affair di belakang suaminya! Aku sungguh merasa iba pada suaminya.
"Letakan saja disini..."
Nina menyuruh Yvone menaruh berkas yang dibawanya. Dengan masih menyuap Waffle yang dia sukai, kemudian Nina ingin tahu reaksi Yvone padanya.
"Sayaaang kamu mau ga?!"
Yvone membuka matanya lebar saat Nina berkata mesra pada Rangga, Rangga seolah mengerti apa yang dimaksud Nina dia mengikuti permainan Nina.
"Tentu saja..."
"Mumpung Hanssel tidak disini!!"
Rangga mendekati Nina, dia menggigit Waffle yang Nina sodorkan. Sejenak Rangga melihat bibir Nina belepotan. Dia semakin mendekatkan wajahnya.
"Kamu makan masih saja berantakan kayak gini!!" Rangga mengusap perlahan sudut bibir Nina dengan jemarinya.
Tidak hanya Yvone, Nina terpaku luar biasa dengan akting sahabatnya yang sudah dia anggap berlebihan.
Tidak hanya itu Rangga berbisik menggemparkan kedua wanita yang masih dalam mode freeze.
"Mmm manis sekali..."
"Mengingatkan aku pada rasa bibir mu sayang!"
Deg!!
RANGGA SIALAN!
SEJAK KAPAN DIA PANDAI MENGGOMBAL
Nina merutuki tingkah Rangga saat ini.
"Kamu nih!! Ga liat ada orang lain..."
"Tar di kira macem-macem!"
"Oh maaf bos, saya lancang masih disini."
"Sayaa permisii!!"
Yvone segera berlalu dengan wahah yang memerah, antara malu atau menahan amarah pada dua orang yang dia anggap memiliki hubungan gelap.
Nina dan Rangga menyeringai. Rangga kembali ke tempatnya. Dia sendiri tidak menyangka mengapa dia bisa seliar barusan.
"Maaf..." Ujarnya lirih.
"Sepertinya kamu butuh teman kencan tsaay!!"
Ledek Nina pada Rangga yang kini wajahnya memerah malu.
"Bagaimana dengan dirimu?!"
"Satu malam saja!!"
"Ranggaaa..."
"Haiisshh sudah lah!!"
"Nanti malam kerumah ya..."
Nina sungguh tidak enak hati, dia masih seenaknya pada pria itu. Rangga menatap wajah Nina dengan tatapan nanar.
"Mengapa aku sangat sulit menghilangkan perasaan ini padamu Karen."
Nina mengatupkan bibirnya erat, "Aku yakin kamu bisa, akan ada wanita lain yang membantumu menghapus rasa cinta dan sakitmu karena diriku."
Rangga melengkungkan senyuman pahitnya. Nina beranjak dari kursinya mendekati Rangga dan memeluknya.
"Aku bisa melupakan Erick karena aku menemukan Hanssel."
"Aku baru menyadari Hanssel lebih dulu berada di hatiku sebelum kamu datang menemuiku hari itu."
"Berhati-hatilah dengan Yvone, sepertinya dia memiliki tujuan lain berada disini."
"Kau mengetahuinya?!"
"Tidak juga, hanya dia terus menanyakan semua tentang dirimu dan Hanssel."
"Itu sebabnya kamu terus mengantar jemput dirinya?!"
Rangga terkekeh, "Sorry!"
Secepatnya Rangga mencium bibir Nina, sedari tadi hatinya sungguh gelisah. Setelah mengusap sudut bibir Nina terbersit kembali saat Rangga mencium bibir lembut itu tempo dulu.
Nina terdiam, Rangga segera berlalu meninggalkan wanita yang mungkin akan mengomelinya. Tanpa Nina lihat Rangga mengembangkan senyumnya.
Bibirmu adalah yang paling manis Karen.
✲✲✲✲✲✲