
DEG!!
"Maaf..."
"Saya hanya mengingatkan sebentar lagi ada penandatanganan kontrak dengan Suho!"
Jantung Nina seperti di remas kencang saat ini, tidak seperti biasanya saat dia mendapati tuannya berciuman dengan wanita biasa lainnya. Kali ini dia melihat Catherina tengah mencium Hanssel.
Nina segera berlalu dengan dingin, sungguh penguasaan emosi yang baik dari seorang Nina. Walau setelahnya di dalam ruangan dia menjatuhkan air matanya.
"Ini baru permulaannya saja Nina..."
"Aku hanya akan mengambil apa yang harus aku ambil..."
Nina menyeka sudut matanya merapikan berkas sebentar lagi dia akan menemui mantan suaminya. Sungguh berat harinya saat ini.
Di dalam ruangan Hanssel.
"Catherin!"
"Aku minta maaf, aku bisa jelaskan pada Nina!!"
"Tidak perlu pergilah!!"
"Lain kali jangan bersikap berlebihan di kantor."
Catherin menyunggingkan senyumannya, dia bersiap beranjak dari ruangan atasannya. Sebelumnya di ruangan itu mereka tengah membahas masalah yang belum mereka selesaikan semalam. Namun Hanssel mengatakan untuk memberikannya waktu, dia memang mencintai Nina, namun untuk berselisih dengan ibunya dia masih belum bisa.
Catherina yang emosi mendekati Hanssel, dia mencoba mencium bibir pria itu. Hanssel bersiap mendorongnya namun bertepatan dengan datangnya Nina. Saat itu Hanssel ingin menghardik namun sikap Nina yang acuh membuatnya kesal.
Mengapa dia tidak cemburu sama sekali!!!
Hanssel memanfaatkan keadaan ini untuk membuat istrinya itu cemburu. Sebagai bukti bahwa Nina benar mencintainya. Hanssel segera menepis Catherina saat Nina telah keluar, Hanssel beranjak dari kursinya dan menemui sekertaris yang juga istrinya itu.
Nina terlihat berjalan lebih dulu tanpa menunggu tuannya seperti biasa.
"Hey!!" Sapa Hanssel.
Nina menghentikan langkahnya.
"Aku bisa jelaskan..." Hanssel ingin sekali menguji Nina.
"Menjelaskan apa?"
Dengan wajah datar dan dinginnya Nina seolah tidak peduli apa yang dia lihat yang sejujurnya menyayat hatinya itu.
"Aku..."
"Ck..." Nina tertawa lirih.
"Apa tuan lupa bahwa saya telah jutaan kali ngegap anda bersama puluhan wanita kencan anda?"
"Untuk apa memperdulikannya aku sudah terbiasa!"
Nina segera berlalu menuju lift yang telah terbuka. Hanssel mengepalkan tangannya kesal. Dia benar-benar emosi mendengar apa yang Nina katakan. Dia menarik lengan Nina dan menciumnya paksa di dalam lift.
"Aku tidak menyangka Hanssel yang mengejarnya!!!" Catherin melihat seluruh kejadian di depan matanya tanpa keduanya sadari keberadaannya. Dia mengepalkan tangannya emosi, dia seolah flash back di masa sekolah mereka. Hanssel lah yang selalu mengejarnya. Bahkan Hanssel sungguh tidak tahu malu sering mengecup pipi Catherin di manapun mereka bertemu. Hanssel memang terlihat seperti lelaki brengsek. Namun pria itu hanya melakukannya pada Catherin. Sampai akhirnya mereka putus Hanssel benar-benar menjadikan wanita adalah baju sekali pakai.
PLAAAAK!
Nina menampar Hanssel membuat pria itu terpaku tidak percaya atas tindakan istrinya saat ini.
"NINA!!" Pekik Hanssel.
"Tuan jangan kurang ajar!!"
"Ini di kantor!!"
"Rumorku sudah sangat buruk... Tidak ada reputasi yang baik yang orang sini lihat dariku!!"
"Apa anda berniat menambahnya lagi?!!"
Tring.
Pintu lift terbuka Nina segera berlalu dengan menyapu semua bulir matanya. Dia berharap make up nya tidak luntur dan membuat tampilannya berantakan.
Hanssel berjalan di belakang Nina, dia menyesal telah menyakiti wanitanya.
***
"Selamat tuan Shin, anda memenangkan proyek besar ini."
"Seperti yang tertera dalam kontrak ada kewajiban dan standart yang harus Suho berikan."
"Jika tidak kalian akan membayar kompensasi dan dinyatakan wanprestasi tidak akan pernah bisa lagi menerima proyek Adamson dan beberapa perusahaan besar lainnya."
"Terima kasih atas kepercayaan kalian."
"Kami Suho akan berusaha semaksimal mungkin tidak akan mengecewakan."
Keduanya berjabat tangan dan proses serah terima telah selesai. Sejujurnya selama perbincangan random sebelumnya Erick terus memperhatikan Nina. Dia seperti sangat hafal dengan tubuh dan harumnya.
Walau wajahnya tidak jelas menampakan seorang Karennina tapi Erick merasa sangat familiar dengan sekertaris rekannya itu.
"Apa anda ada keperluan lain dengan sekertarisku!!" Hanssel kembali di landa cemburu.
Tadi pagi aku mencoba membuat nenek lampir ini cemburu, saat ini justru aku tengah cemburu padanya!!
"Oh... Maaf bukan maksud saya tidak sopan pada nona Nina!"
"Tapi... Pernahkah kita bertemu sebelumnya?"
"Anda mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya hafal."
"TIDAK!!"
"LEBIH BAIK ANDA KELUAR ATAU AKU BATALKAN SEMUA KERJA SAMA INI!!"
Nina membulatkan matanya melihat reaksi berlebihan Hanssel yang terlalu posesif padanya.
Cih, dia selalu bermain-main dengan wanita aku biasa saja. Sekarang dia seolah tidak ingin aku di goda pria lainnya. Kau egois!!
Nina berdiri "Iya, tentu saja kita pernah bertemu sewaktu di bali!"
Nina segera menunduk dan berlalu meninggalkan keduanya yang tengah terbelalak atas pernyataan Nina.
DEG!
Erick Shin memandangi bayangan Nina yang menghilang saat ini. Hanssel sungguh emosi dengan istrinya dia segera mengejar Nina.
Tring.
Nina bersiap memasuki lift namun di tarik paksa oleh Hanssel keluar gedung kantor.
"HANSSEL!!" Pekik Nina tidak terima.
Hanssel tidak memperdulikan atas aksinya saat ini, dia bahkan tengah memaksa Nina mengikutinya. Dia sedikit menyeret wanitanya semua tindakannya tentu mengundang perhatian karyawan yang tengah berada di lantai yang sama dengan mereka. Termasuk Jessica, dia segera berlari mengikuti keduanya.
Braak!!
Hanssel melempar tubuh Nina dalam mobilnya. Dia juga membanting pintu mobil dengan kerasnya.
"Wow!!"
"Nina diperlakukan kasar seperti itu apa yang sudah terjadi?!"
"Ingin rasanya aku mengikuti mereka!!"
Jessica menyeringai menghubungi seseorang kemudian dia kembali ke ruangannya.
"HANSSEL APA YANG KAMU LAKUKAN!!"
Nina memaki suaminya keras, namun Hanssel tidak peduli. Dia melajukan mobilnya dengan cepat. Di jam kantor seperti ini jalanan ibu kota cukup senggang membuatnya lebih leluasa mengendalikan kendaraannya.
"Apa kamu cemburu?!" Nina kembali merutuki bosnya.
"IYAAA!"
"AKU CEMBURU PUAS KAMU?!"
"AKU CURIGA KAMU SEDANG MEMPERMAINKAN AKU NINA!!"
"AKU MENCINTAIMU!"
"AKU SELALU CEMBURU SAAT KAMU DEKAT DENGAN PRIA LAIN."
"TAPI MENGAPA KAMU BIASA SAJA SAAT AKU DENGAN WANITA LAIN HAH?!"
"APA KAMU TIDAK CEMBURU?!"
"KAMU TIDAK INGIN MEMPERTAHANKAN AKU?!"
"KAMU TIDAK MENCINTAIKU KAN KARENNINA!!"
Nina terdiam dengan makian panjang Hanssel padanya, dia tidak bisa mengontrol air matanya. Namun segera dia tepis, dia tidak ingin terlihat lemah saat ini.
"JAWAB AKU NINA!!"
CEKIIIT!!
"HANSSEL!!"
Hanssel turun dari mobilnya, menarik paksa Nina untuk turun dan meninggalkannya sendirian di jalanan flyover.
"Hah?!"
Nina membuka mulutnya lebar. Dia tidak percaya apa yang sudah di lakukan bosnya.
"Hanssel sialan..."
"Ga bawa hape ga bawa dompet..."
"Apes banget gue!!"
Rasa ingin menangis berganti menjadi ingin membunuh seseorang. Setelah berjalan lima menit menelusuri jalan flyover sebuah Ferrari merah menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Nina menoleh "KAKAAAAAK!!"
"MASUK! BOCAH DEGIL!!!"
✲✲✲✲✲✲