
HANSSEL!!!
Nina terpaku, seluruh sensor motoriknya berhenti saat ini. Detak jantungnya ikut berhenti sejenak dan kini berpacu dengan cepatnya. Dadanya sesak, ingin rasanya dia mencari lubang saat ini juga menguburkan dirinya.
Belum selesai satu masalah datang lagi masalah lain!!
Aku tidak ingat bahwa aku bisa membawa masalah akhir-akhir ini. Selama 2 tahun hidupku begitu biasa dan tidak pernah menghadapi masalah, setelah merencanakan kebangkitanku masalah bertubi-tubi menghampiriku!!
Nina tengah merutuki dirinya, betapa kemalangan itu mudah sekali datang padanya. Masih segar di ingatannya bagaimana Hanssel menyantapnya dengan brutal pagi tadi. Lantas saat ini? Apa yang mungkin bisa terjadi setelah ini.
Rangga mendekati Hanssel yang sama tengah terpaku tidak percaya apa yang dia lihat. Ternyata sekertarisnya mengenali sahabatnya. Bahkan terlibat percakapan serius yang memperlihatkan air matanya. Walau tidak bisa mengetahui apa percakapan mereka, namun secara alami perasaan cemburu menguar kembali di dalam diri Hanssel.
Aku baru melepaskannya beberapa jam yang lalu. Sekarang Nina kembali membuat ulah!!
Buug!!
Satu pukulan keras Rangga layangkan bagi sahabat yang dulu dianggapnya saudara. Saat ini justru keduanya tengah berkompetisi mendapatkan hati wanita pujaan mereka yang merupakan orang yang sama.
"HANSSEL!!" Pekik Nina menghampiri suaminya.
"Cih!"
"Orang seperti ini yang kamu cintai Karen?!"
"Dia adalah lelaki kurang ajar yang terus meniduri wanita tanpa dosa!!"
"Kamu juga korbannya HAH?!"
BUGG!
Satu pukulan keras kembali Rangga layangkan di wajah Hanssel.
"RANGGA STOP!!"
Nina menghalau gerakan tubuh Rangga.
"Rangga!! Kau mengecewakanku!!!" Isak Nina padanya.
Hanssel yang belum mengerti apa-apa mencoba bangkit menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan sahabatnya sendiri.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku?!" Ujar Hanssel masih tidak mengerti.
"Kau boleh mengencani wanita manapun Hanssel..."
"AKU TIDAK PEDULI!!"
"ASALKAN BUKAN DIA!!"
Rangga menunjuk ke arah Nina.
"KARENNINA ADALAH WANITA YANG AKU CINTAI SEUMUR HIDUPKU."
"DAN KAMU MERUSAKNYA!!!"
Rangga memaki Hanssel, Nina sudah tidak bisa lagi menghentikan sikap impulsif Rangga saat ini. Apa yang di katakan Rangga membuat jantung Hanssel merasa di remas kencang dan tubuhnya seperti di hempas ke dasar jurang saat ini juga. Dia masih tidak bergerak ditempatnya pandangannya menatap nanar ke arah sahabatnya, Hanssel sangat tahu sahabatnya hanya mencintai satu wanita di dunia ini.
Mengapa aku baru mengetahui sekarang. Di saat aku sendiri telah jatuh cinta padanya.
Hanssel menjatuhkan air matanya.
"Dia hanya mengincar Suho!!"
"Setelah semua urusan kalian selesai lepaskan dia!!"
"Dan mulai saat ini kita bukan lagi teman!!"
Bug!!
Rangga kembali memukul temannya.
"Hanssel!!!"
Nina memilih membantu Hanssel di banding berada di samping Rangga, semua pemandangan itu menyakiti hati Rangga dia berlalu meninggalkan keduanya.
"Sejak kapan?!"
"Sejak kapan kamu membohongiku?!"
"Atau...."
"Sedari awal kamu memang selalu membohongiku kan Nina?!"
"Apa kamu begitu membenciku?!"
"Apa kamu berniat membalas dendam dan menyakitiku?!"
Nina terisak tanpa kata yang bisa dia keluarkan, dia menundukkan wajahnya. Hanssel mengusap wajah Nina lembut.
"Kamu sudah berhasil melakukannya Nina!"
Hanssel bangkit dan meninggalkan Nina disana. Dirinya memilih untuk pergi, berniat menenangkan hatinya. Nina masih terisak disana dia tidak peduli jika ada orang yang melihatnya. Baginya sudah terbiasa mendapat opini buruk di masyarakat luar.
***
Di dalam apartemennya Catherina berjalan kesana kemari dengan sangat gelisah. Dia tidak bisa mengingat apapun tentang semalam. Setelah memberikan upah pada pria bayaran yang dia sewa untuk melakukan hal jahat pada Nina, dia tidak bisa mengingat sisanya.
Pagi hari tadi dia terbangun di kamar yang dia sewa untuk melakukan kejahatan pada Nina. Betapa terkejutnya dia saat terbangun tubuhnya polos tanpa sehelai benang menempel padanya. Terlebih dia merasa lengket di sekujur tubuhnya bahkan ada beberapa tanda cinta membekas di tubuhnya.
Dia begitu ketakutan luar biasa, dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi padanya. Dia bahkan tidak bisa menghubungi pria bayarannya itu. Foto bahkan Video yang di janjikan tidak di dapatnya satupun.
"Mengapa Nina tidak berada disana?!"
"Apa para pria itu membawa Nina ke lokasi lain?!"
"Tadi aku menyuruh informanku melacak keberadaan Nina, dia justru tidak masuk kantor!!"
"Mungkin dia tengah meratapi nasibnya!!"
"HAHAHAHA!!"
Catherina merogoh ponselnya yang sedari tadi berdering.
"Halo...."
"Miss you too Charlie..."
"I'm already in Jakarta when will we meet dear?"
"Hold on... Give me your hotel..."
Catherina menyeringai dia segera meraih sling bagnya dan menemui pacarnya selama di US. Mereka telah menjalin hubungan selama 3 tahun lamanya.
***
Nina berjalan gontai memasuki kamarnya, dia sangat lelah, jiwa dan raganya amat sangat lelah. Sebelumnya Nina mengunjungi kamar Jimmy, dia tengah tidur siang. Nina kembali merebahkan dirinya. Dia sudah tidak ingin lagi menangis, dia terlelap melupakan makan siangnya.
Nina terbangun hari sudah senja, perutnya terasa perih. Dia ingat tidak ada makanan yang mampir disana. Pagi hari saja dia memuntahkan isi perutnya.
Hoek... Hoek... Hoek...
"Owhh..."
Nina bersimpuh di lantai, dia begitu lemas untuk berdiri saja dia tidak mampu rasanya. Namun tiba-tiba seseorang tengah menggendongnya dari kamar mandi.
"Hanssel..." Ujar Nina lemah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata Hanssel menurunkan Nina di ranjang mereka dengan perlahan. Nina menarik tubuh Hanssel memeluknya erat.
"Aku lapaaaaaaar!!!" Rengek Nina mau tak mau membuat Hanssel mengulum senyumnya.
"Kamu mau makan apa?!"
"Apapun!!"
"Dari pagi sampai saat ini aku belum makaan!!"
"Aku lapaaar..."
"Aku akan mati kelaparan!!"
"Ini semua salahmu!!"
Hanssel mengerutkan keningnya, kemudian dia mencium bibir istrinya.
"Tunggu sebentar ya..."
Hanssel beranjak dari kamar untuk membawakannya beberapa makanan. Kebetulan asisten rumah tangga telah selesai memasak untuk makan malam mereka.
"Papa!!"
"Sayaaang!!"
"Papa terluka?!"
"Mengapa bibir papa berdarah? Pipi papa juga bengkak!!"
"Papa tidak apa-apa sayang tadi papa tidak sengaja menabrak dinding saking ga fokusnya."
"Jimmy obati ya pa!"
Hati Hanssel kembali hangat, semua perlakuan Jimmy membuatnya terenyuh. Hanssel menggendong putra kesayangannya, dia menciumi Jimmy bertubi-tubi. Wangi bedak dan parfume bayi yang menguar di indra penciumannya membuat segala pedihnya hilang entah kemana. Hal ini lah yang membutnya kembali ke rumah Nina. Setelah pertengkarannya di taman x, dia kembali ke apartemennya. Disana dia bingung mesti berbuat apa, bukannya menenangkan dirinya dia justru tertekan.
Terbiasa dengan sambutan anak sambungnya, wangi bayinya. Tawa riang serta tingkah menggemaskannya menari-nari di kepala Hanssel. Belum lagi suara merdu istrinya yang selalu menggema saat mereka tengah memadu kasih semua benar-benar mengubah hidup Hanssel sepenuhnya saat ini.
Dia memutuskan kembali pulang ke rumah, tempat dimana seharusnya dia berada.
Karennina dan Jimmy adalah rumah ku. Aku tidak bisa lagi melewati pintu yang berbeda. Aku tidak bisa tanpa mereka!
"Ibu ko tidak keluar kamar?!"
"Ibu sedang tidak enak badan..."
"Biarkan dia istirahat ya..."
"Papa berikan makanan ini untuk ibu kemudian kita makan bersama okay?!"
"Baik papa!!"
"Aku akan menunjukan keahlian baruku!!"
"Oh ya?!"
"Apa itu?!"
"Papa sudah penasaran!!"
"Aku bisa membengkokan sendok!!!"
Keduanya tertawa bersama kemudian Hanssel memasuki kamar, Nina tengah meringkuk memegang perutnya yang perih.
"Apa mau ku panggilkan dokter?"
"Tidak perlu aku hanya telat makan saja..."
"Atau lebih tepatnya tidak makan seharian!!"
Hanssel tersenyum, di balik pertikaiannya siang tadi istrinya masih bisa merengek dan bermanja-manja padanya. Hanssel mengecup jemari Nina.
"Maafkan aku..."
"Aku tidak memperhatikan mu lebih awal..."
Nina terdiam, dia menatap wajah Hanssel yang masih membengkak. Dia merabanya dan mengusap perlahan.
"Masih sakit?!" Tanya Nina.
Hanssel memegang tangan Nina.
"Sakit bekas pukulan ini tidak seberapa dengan sakit di hatiku Nina..."
Nina mengatupkan bibirnya dia menjatuhkan tangannya dari genggaman Hanssel. Merasa bersalah atas apa yang terjadi selama ini. Bukan niatannya membohongi Hanssel, keadannya kali ini benar-benar sudah di luar ekspektasinya.
✲✲✲✲✲✲