
Di dalam kamar Nina masih mengotak-atik laptop miliknya kemudian dia menghubungi seseorang.
Ceklek!
Hanssel telah selesai dengan mandi malamnya, dia menghampiri istrinya.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?"
"Di rumah juga kamu bekerja?"
Beberapa pertanyaan sekaligus Hanssel layangkan, dia juga tengah berusaha mendapat informasi langsung mengenai istrinya. Mungkin saja dia akan menceritakannya sendiri begitu pikir Hanssel. Namun sejauh yang Hanssel tahu Nina memang pandai sekali menutupi kebenarannya. Bahkan selama dua tahun dia memakai wajah dan tampilan jelek serta kuno baru bisa Hanssel ungkap saat ini bahwa istrinya aslinya sangat cantik.
"Hanya mencari tontonan drama..."
Hanssel menatap Nina lekat "Aku akan menemui teman lama sebentar..."
"Apa kamu mau ikut?"
"DEG!"
Maksud dia bertemu Rangga? Bisa mampus aku kalo ketemu bareng dia!!
"Tidak aku lelah... Kamu saja."
"Apa kamu tidak curiga aku kelayapan malam-malam?!"
Hanssel menggoda istrinya dengan memeluk dan memberikannya ciuman-ciuman mesra.
"Hahaha... TIDAK!!"
Hanssel melepas kasar dia kembali tersulut emosi.
Mulai LAGI!!
"Aku mempercayaimu sayang... Aku juga tidak ingin memaksamu..."
Nina memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya. Hanssel menatap dengan senyumannya.
"Terima kasih sayang... Aku mencintaimu!"
Nina hanya bisa membalas dengan senyuman yang di ukirkan di bibirnya. Hanssel kembali merebahkan istrinya di ranjang.
"Katanya mau ketemuan!"
"Nanti kamu telat!!"
Goda Nina dengan tidak melepaskan rangkulan tangan di bahu suaminya yang kini justru telah turun menarik tali handuk kimono suaminya. Hanssel menyeringai "Sepertinya aku tidak jadi ketemu!!"
Nina menutup matanya erat memeluk dan memainkan rambut lebat suaminya yang basah. Keduanya seolah tidak ada hari tanpa bercinta. Sampai sebuah panggilan di ponsel Hanssel mengusik kemesraan mereka.
"Ada telpon sayaang!!" Rengek Nina mencoba mendorong tubuh suaminya.
"Mmm...." Hanssel masih menciumi tubuh Nina namun segera beranjak.
Hanssel menuju nakas, dengan wajah yang pucat dan perasaan gelisah Hanssel beranjak menjauh. Nina terduduk memperhatikan tingkah prianya. Ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya.
"KAMU TUNGGU DISITU CATHERIN!!"
"AKU SEGERA KESANA!!"
Tanpa pamit pada Nina, Hanssel segera memakai pakaiannya dan pergi begitu saja.
DEG!
"Hahaha..."
Nina tertawa mengejek dirinya sendiri saat ini.
"Apa seharusnya tadi aku tidak mengingatkannya..."
"Kamu tidak perlu menangis Nina!!"
Nina beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
***
"Catherin!"
Hanssel telah sampai di tempat yang wanita itu ucapkan.
"Aku tidak menyangka kamu ternyata..."
"Aku memang bersalah Hanssel, aku hanya mengejar mimpiku Hans!"
"Aku bilang sayangku ke kamu tidak akan pernah berubah..."
"Aku terus mencintaimu selama disana!!"
"Lalu apa yang aku dapatkan disini?"
"Aku banyak mendengar rumormu dengan para artis wanita!"
"Aku cukup mengerti dan aku akan terima semuanya!!"
"Tapi aku tidak menyangka!!"
"KAMU SUDAH MENIKAH DENGAN SEKERTARISMU HANS!!"
"Aku sungguh konyol kemarin mami mengenalkanku di depan publik aku adalah tunanganmu!!"
Catherina merupaka putri sulung keluarga Lim, Keluarga Lim dan Adamsom bersahabat dekat. Saat mengetahui keduanya menjalin hubungan semasa sekolah menengah mereka sudah sepakat menjodohkan mereka saat waktunya tiba. Akhir pekan lalu lah waktu pengumuman pertunangan mereka. Rencananya mereka akan menikah dalam waktu dekat. Dengan begitu Perusahan Lim akan bergabung dengan Adamson dan melebarkan sayap mereka di dunia bisnis.
"Kamu mendapatkan informasi dari mana."
"Tidak perlu tahu aku dapat dari mana!!"
"Sekarang juga aku akan memberitahukan Tante Rossie kebenarannya!!"
"Aku hanya pihak ketiga di pernikahanmu dengannya!!"
"Aarrghh!!"
"CATHERIN!"
Catherina memegang perutnya yang sakit, Hanssel segera beranjak dan merangkul tubuh wanita itu agar tidak terjerembab. Walau bagaimanapun dia adalah cinta pertamanya tentu saja masih ada sisa rasa untuknya saat ini walau tidak sebanyak dulu.
"Apa kamu sakit?"
"Aku akan membawamu ke rumah sakit..."
"Kita bahas masalah ini lain kali okay!!"
Hanssel memapahnya menuju mobil yang tak jauh Hanssel parkir di wilayah itu. Pria itu bergegas memacu kendaraannya menuju rumah sakit. Tangan Catherin merangkul lengan Hanssel sedangkan kepalanya dia sandarkan di bahunya.
"Aku sudah tidak apa-apa..."
"Mungkin asam lambungku kumat..."
"Kamu antar aku pulang saja ke apartement.."
"Baiklah..."
Hanssel mengikuti kemauan Catherin dia melajukan mobilnya menuju apartemen mantan kekasihnya.
***
Pagi ini Hanssel bersama Catherina memasuki kantor bersama. Banyaknya orang yang memperhatikan mereka membuat Catherin semakin mengambil kesempatan dengan merangkul lengan Hanssel. Sialnya pria itu tidak menolak sama sekali.
Di area yang lumayan jaraknya dari kantor Nina dia tengah menggerutu pada Rangga.
"Lu tuh ya!!"
"Nyetirnya gimana sih bisa nubruk segala!!!"
"RUGII GUAA!!"
"Gue ganti Karen..."
"Bukan masalah ganti tapi...."
"Haisshh!!" Nina menjewer telinga Rangga kesal.
Saat Nina mabuk tempo hari, mobilnya dia parkir di MO, dia di bawa Rangga menuju apartemennya. Saat akan ke kantor mereka bertukar karena Nina tidak sempat membawanya kembali. Namun saat akan kembali di tukarnya kemarin, pria itu justru naas menabrak mobil pembatas membuat mobil yang baru di beli Nina rusak bagian depan. Nina baru mempermasalahkannya saat ini setelah beberapa hari kemarin Hanssel menempel dengannya.
"Lu mabok kan?!" Umpat Nina.
"......."
"Ga perlu jemput aku lagi, aku nanti mau urus ke dealer."
"Aku udah urus, mobilmu bisa di kembalikan minggu depan."
"TERUS GUE PAKE TAKSI?"
"Ya ini pake mobil gue, atau ga ya gue beliin lagi sih!!" Umpat Rangga ikut kesal.
"Ga perlu deh..."
Bruk!
"Jadi telat ah!!" Nina memukul bahu Rangga.
"Hati-hati lain kali mabok ga usah nyetir!!" Nina kembali membungkuk di jendela mobil seraya pamit.
"Kabarin kalo dah sampe!!"
"Iya nyonya!!"
Nina bergegas lari menuju kantor yang satu blok lebih jauh agar Rangga tidak mengetahui dimana dia bekerja. Rangga yang tidak begitu memperhatikan bergegas berlalu menuju kantornya.
Saat memasuki lobi Nina berpapasan dengan Erick.
Bruug!
"Sorry..." Ujar Nina membungkuk.
Saking buru-burunya dia tidak memperhatikan sekitar. Dia terus melaju mengejar pintu lift yang akan tertutup.
Dua hari gue telat... Haish!!
"Erick yang belum sempat menggerutu tiba-tiba terpaku "Mengapa wangi wanita itu mengingatkan aku pada parfume milik Nina!"
"Huh!!"
Erick menunggu di area reseptionis untuk pembahasan penandatanganan kontrak kerja samanya dengan Adamson Group.
✲✲✲✲✲✲