Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 141 - Someone You Loved!



Hanssel menatap penuh cinta pada istrinya yang tengah terlelap. Menaikan selimut dan bangkit dari ranjang menyambar ponsel serta laptopnya.


[JAGA KARENNINA DENGAN SEGENAP JIWA RAGA MU SEKARANG! JIKA DIA CELAKA AKU AKAN MENGUBUR MU BERSAMA NYA!!]


Hanssel membulatkan matanya hingga akan keluar dari tempatnya saat kata sarkas dari kakak iparnya terbaca di pesan singkatnya.


Sepertinya pihak musuh kembali akan melakukan penyerangan. Aku tidak boleh meninggalkan Nina sendirian!!


Hanssel mencoba menghubungi kakak iparnya untuk mengkonfirmasi dan meminta informasi lanjutan. Namun tersambung pada kotak suara. Sepertinya ponsel kakak tidak aktif. Kemana dia? Bukankan urusan disini telah dia selesaikan?


Hanssel juga tidak bisa menghubungi asisten Sam. Perasaannya menjadi sangat gelisah, di tatapnya lekat istrinya yang terlelap setelah dia meminta haknya selama satu jam penuh.


Hanssel mendekati Nina, dia kembali memeluk erat istrinya. Rasa takut hinggap di hatinya, sekuat tenaga Hanssel meneguhkan hati semua dalam kendalinya. Namun musuhnya terlalu kuat.


Walau sudah berapa kali mereka membunuh pasukan Wijaya, mereka seolah kembali mendapat pasukan yang lain yang tak kalah lebih kuat.


Hanssel sendiri telah menerima informasi bahwa kakaknya telah membunuh Don dengan adu duel samurai. Begitu pula seluruh anak buah Don, tidak ada yang tersisa sama sekali.


Hanssel baru pertama kali melihat bagaimana mata Keenan berubah tidak hanya nyalang namun benar-benar haus akan darah. Selain menggunakan pistol, Keenan juga memakai senjata lainnya. Semua percikan darah musuhnya tidak pernah di hiraukannya. Bahkan baginya jeritan musuhnya justru melengkungkan senyumnya menjadikan itu kesenangannya.


Bayangan yang tercipta dari matanya hanya ada memusnahkan musuhnya dalam satu kali tebasan pedang atau satu kali tembakan. Semua tepat sasaran tidak ada yang meleset satupun. Dalam setiap langkah Keenan tidak pernah ada keraguan, membuat mental musuhnya berasa tertawan dan ketakutan untuk sekedar berhadapan dengannya.


"Hmmm..." Nina mengerjapkan matanya, dia terbangun. Hanssel melengkungkan senyuman menyambut istrinya.


"Kamu ga tidur sayang?!" Tanya Nina manja semakin menempelkan tubuhnya dalam dekapan prianya.


"Aku juga baru bangun..." Bual Hanssel, di situasinya saat ini dia harus selalu tetap terjaga. Dia tidak ingin lengah.


"Aku lapaaar..." Rengek Nina.


Hanssel terkekeh, "Bayi kita kelaparan juga ya diajakin olahraga ama papa?!"


Hanssel mengusap lembut perut Nina yang benar-benar sudah terlihat bulat dan besar. "Baik-baik di perut ibu ya, bentar lagi kita ketemu sayaaang!"


Cup~


Hanssel mencium perut Nina lembut, dia menatap Nina sejenak dan mencium bibirnya kemudian meninggalkan Nina sebentar untuk membawakan makanan.


Nina mengambil ponselnya, salah satu pelayan Villa yang di tempati Yvone sebelumnya mengatakan bahwa Yvone kembali kesana. Nina tersenyum dingin, dugaannya benar.


Dia beranjak dari ranjang menuju wardrobe mengganti pakaiannya. Tinggal satu langkah besar lagi, semua kekhawatiran akan kejahatan ini sirna dan semoga sesuai rencananya musuhnya akan lenyap sebentar lagi dan dia akan merajut mimpi bersama suami dan anak-anak tercinta.


"Sayaang baik-baik di dalam, tadi udah kangen-kangenan kan sama papa?!" Nina berkomunikasi dengan bayinya.


Nina keluar kamar dan berencana menyusul suaminya.


"Loh ko udah rapi?!"


"Mau kemana?!"


"Menemui seseorang..."


"....."


Hanssel meletakan makanan di hadapan Nina, istrinya menerima dengan senyuman bahagia dan mengecup pipi Hanssel mesra.


"Kemana?!"


"Aku akan menemanimu!"


"Okaay..."


"Aku ganti baju dulu ya, jangan kemana-mana!"


"Habiskan okay?!"


Nina mengangguk dengan perintah suaminya yang sudah mulai dirasakan Nina memiliki kecemasan yang berlebih.


Nina membuka kamera pengawas di Villa nya, dia sedikit terkejut saat dia menyadari sepertinya ada yang salah.


"Sayaaaang?!" Seru Nina memanggil suaminya.


Hanssel telah siap dan menemui istrinya.


"Kenapa?!" Hanssel memeluk pinggang istrinya.


"Yuks!"


"Jujur padaku, kamu sedang melakukan apa?!"


"Kakak mengatakan padaku untuk selalu menjaga dan mengawasimu!"


"Dia bahkan tidak bisa aku hubungi saat ini."


Nina menghembuskan nafas kasar, "Kita lihat disana, aku tidak memiliki rencana khusus. Hanya sedikit lebih waspada saja!"


"Karennina..." Lirih Hanssel.


"Aku tidak akan pernah mengijinkan kamu mengorbankan dirimu sendiri."


"Entah itu sebagai umpat atau langsung mengeksekusi!"


"Ingat sayang, hanya sisa beberapa bulan lagi kita akan bertemu bayi kita."


Hanssel memegang wajah Nina dengan menatapnya sendu. Ada rasa takut yang luar biasa menguar di hatinya seperti firasat yang buruk yang akan terjadi pada mereka.


"Sayang, aku berdiam diri disini pun mereka akan tetap mengejar dan menargetkan ku."


"Aku telah membunuh Sarah dan Hyu, mereka akan menuntut balas!"


Hanssel menangis tanpa aba-aba, "Apa aku terlihat seperti lelaki lemah sekarang?!"


"Tidak sama sekali!"


"Kau sungguh berani sayaang!"


Hanssel menyeringai perih, "Berjanjilah, ini yang terakhir kalinya."


"Setelah ini aku akan membawa mu dan jimi jauh dari lingkaran hitam ini...."


"Aku rasa, kakak mu juga akan menyetujuinya."


Nina tercekat, entah mengapa perasaannya juga tidak karuan saat ini. Merasa ada firasat buruk yang akan menghampirinya. Dia sudah meminum vitamin penguat janinnya dia juga sangat menjaga asupan makan dan aktifitasnya jika bukan kemarin dia begitu mengerikan.


"It's time..." Nina menatap Hanssel meyakinkan.


Hanssel memeluk Nina dengan eratnya. "Jangan pernah menjauh dari sampingku!"


Nina melonggarkan pelukan, menatap Hanssel lekat dengan senyuman. "Iya sayaangnya akuu!"


Keduanya masih menyempatkan diri bertautan sebelum mereka keluar kawasan. Hanssel memerintahkan pengawal pribadi dan seluruh yang dipersiapkan Keenan mengikuti mereka. Hanssel menghirup dan menghembuskan nafas perlahan beberapa kali sebelum akhirnya mereka pergi menuju salah satu Villa milik Kaviandra.


***


Villa Kaviandra,


Yvone sungguh sangat gelisah, earphone di telinganya telah terpasang. Salah satu pengawal Wijaya menginstruksikan padanya untuk meretas sistem keamanan Villa. Dengan mematikan beberapa kamera pengawas dan memasukan rekaman palsu di dalam sistem.


Yvone di instruksikan menaburkan obat tidur di Water Dispenser sesuai intruksi yang dititahkan. Mereka juga menggunakan kamera pengawas selain untuk mengawasi gerak gerik Yvone dengan apa yang akan dia lakukan ini juga membantu dia memuluskan jalan menjebak seluruh pengawal Karenina.


Nina telah datang beserta suaminya.


"Mengapa dia disini?!" Ujar Hanssel tidak senang.


"Dia sama seperti mu menjadi kelinci percobaan Wijaya."


"Aku yang melakukan detoksifikasi padanya."


"Beberapa antisera XK cocok dengannya dan gejala Infulsifnya berkurang drastis!"


Nina membela Yvone di hadapan Hanssel.


"Dimana Rangga?!" Ujar Nina bertanya.


"Ehm..."


"Kakak di apartemennya, dia bilang dia akan menyusul ada pekerjaan yang mendesak."


Yvone berbohong, sejujurnya dia memberikan obat tidur pada Rangga, tujuannya agar dia tidak terlibat dengan urusannya kali ini.


Nina menatap lekat Yvone sejenak, terlihat kegelisahan yang teramat sangat di wajah dan tubuh Yvone yang mulai bergetar hebat.


"Okay..."


"Jadi, bagaimana keadaan mu sekarang?!"


Hanssel menginstruksikan pengawalnya tanpa sepengetahuan siapapun dengan gerakan tangannya. Hanssel menyapu seluruh area ruangan terlihat sepi dan mencurigakan.


"Kemana semua pelayan?!" Tanya Hanssel dingin.


"Aku tidak tahu, biasa mereka tengah beristira... Aarrrkk!"


Hanssel mencekik leher Yvone saat ini. Nina bangkit dari duduknya.


"Sayaang..."


"Aku tahu kamu pasti tengah merencanakan sesuatu kan?!"


"Kau masih mempercayainya?!"


Bruuk!!


Tubuh Yvone di hempaskan di lantai.


"Uuhhukk!!" Dia seperti dejavu dengan kejadian ini.


"Sudahlah Hans, mungkin dia benar..."


"Lagian asisten disini hanya empat orang."


"Heh, asisten mana yang tidak tahu diri majikannya datang ke rumah tidak di sambut?!"


"Hanss..."


Karennina menarik lengan Hanssel agar prianya lebih tenang.


"Nina, aku tidak sedang tawar menawar tentang keselamatan mu!"


"Tubuh mu ada dua nyawa dalam satu raga!"


"I know..."


"Tapi aku yakin Yvone berada di pihak ku!"


DEEEGG!!!


Tumpah sudah tangis Yvone mengetahui kepercayaan Nina padanya. Di saat paling menyentuh hatinya seruan pihak musuh terngiang di telinganya saat ini.


"Apa kamu melemah hanya karena sepat dua patah kata Karenina?!!"


"Berikan minuman itu sekarang juga!!!"


DEEEG!


✲✲✲✲✲✲