
Di tengah mempersiapkan berkas yang di inginkan tuannya Nina merasa dirinya sangat pusing.
"Ko gue mual gini!!"
"Oh iya... Gue lupa ga sarapan!!"
Nina bergegas menuju pantry yang di sediakan kantor. Kebetulan saat ini sudah waktu coffee break.
Nina mengambil beberapa kue dan kopi seperti biasa. Dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
"Gue inget belum ada makan malam udah langsung mabok!!"
"Haissh!!"
Nina merutuki kebodohannya. Dia menyuap sedikit demi sedikit cemilan penghilang laparnya kemudian terdengar desas-desus yang membuat perhatiannya teralihkan.
Ternyata nyonya Adamson mendatangi kantor bersama seorang wanita cantik di sebelahnya. Nina menghentikan suapan kue nya. Mendadak dia kehilangan nafsu makannya.
Wanita itu yang kemarin memeluk Hanssel mesra!
Nina sulit menyembunyikan kesedihannya namun dia harus! Berulang kali dia menghirup dan menghempaskan udara perlahan.
"Perkenalkan semuanya wanita ini adalah tunangan Hanssel!"
"Namanya Catherina!"
JEDEEER!!
Nina menjatuhkan garpu kue nya, pemandangan itu sangat di sukai Jessica yang berada tepat di belakang Nina berada. Dia menyeringai penuh arti dan mempunyai sesuatu yang berguna untuk kembali menjatuhkan Nina.
Nina menelan salivanya di lihatnya nyonya Adamson menghampirinya.
"Nina... Apa Hanssel sudah datang?"
"Sudah nyonya..."
Dengan sekuat tenaga Nina memperlihatkan keramahannya walau sejujurnya hatinya tengah hancur berkeping-keping.
"Baiklah kalau begitu..."
"Nina perkenalkan nyonya Adamson berikutnya kamu bantu dia juga ya kedepannya dia akan bekerja disini."
"Catherina Lim" Ujarnya ramah.
"Karennina..."
"Baik nyonya..."
Kemudian keduanya beranjak dan pergi ke ruangan Hanssel.
Hati Nina sungguh sakit dia ingin menangis rasanya saat ini.
Mereka sungguh sangat cocok, Catherina juga sangat cantik dan ramah. Terlebih kedua orang tua mereka telah setuju. Hahaha
Nina sedang mengejek dirinya sendiri sampai dia berhenti dan kesal mendengar si Jessica menghampirinya.
"Hahaha!!"
"Ada yang lagi kecewa nih girls!"
"Udah sombong merasa sudah menjadi angsa yang mempesona!"
"Nyatanya dia hanya itik buruk rupa yang sampai kapanpun tidak bisa memanjat ataupun terbang ke angkasa!!"
Riuh terdengar sebagian tertawa kecil bahkan yang masih sibuk saling berbisik.
"Heh! Makanya jangan sok kecentilan deh ga usah mimpi tinggi-tinggi!" Jessica menjentikan telunjuknya di bahu Nina.
"Takutnya kayak sekarang ini jatuhnya sakiiit banget!!"
"HAHAHAHA"
Jessica dan beberapa temannya tengah sibuk mentertawakan Nina yang tengah diam sejenak.
BRAAAK!
Nina menggebrak meja yang dia tempati membuat keributab sejenak hening terkejut atas tindakan Nina.
"Dengar ya ratu drama..."
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan?!"
"Apa kamu berpikir aku memiliki hubungan dengan bosku?!"
"Atau pernahkah kalian mendengar bahwa aku mendeklarasikan hubungan pribadiku?"
"Tidak tsaaay!!"
"Aku tidak sedang berharap, aku tidak sedang terjatuh!"
"Kalian orang-orang yang sangat senggang mengurusi hidup orang lain makanya tidak bisa mengurusi diri sendiri."
"Aku sungguh kasihan pada kalian!!"
"Kalian sibuk ngomongin diriku, dan aku sibuk memperkaya diri sendiri!!"
"Bahkan dengan gajiku aku bisa menggaji dirimu Jessica!!"
Nina senang sekali menggoda Jessica dengan mengangkat dagunya menggunakan jari telunjuknya. Kemudian menyeringai mengejek dan meninggalkan sekelompok kerumunan sampah bagi Nina.
***
Di dalam ruangan Hanssel, dirinya sedang beradu mulut dengan ibunya. Kemudian mengalah karena tidak ingin menjadi anak yang durhaka.
"Sejujurnya Adamson sedang tidak kekurangan orang ma!"
"Nanti aku akan tanyakan bagian Designer, jadi hari ini kamu bisa pulang!!"
"Aku tengah sangat sibuk!"
Dengan ketus dan malas Hanssel mencoba menghalangi ibunya memasukan Catherina di dalam perusahaannya.
"Catrin, kamu tunggu di luar sebentar." Tukas nyonya Rossie
"Baik tante..."
Catherina keluar ruangan dan menunggu di ruangan Nina. Dia tidak sengaja mengamati sekeliling, sekilas tercium aroma Hanssel yang tersisa di sudut ruangan.
Catherina melihat beberapa berkas yang menumpuk dengan laptop yang tertutup saat ingin membuka laptop milik Nina wanita itu tertarik pada secarik post it yang tempo hari di gambar Hanssel dengan emoji lucu dengan gambar hati bertuliskan Love you nenek lampir!
"Ini tulisan tangan Hanssel?!"
"Heh..." Catherina menyunggingkan ujung bibirnya sinis.
"Dia ada affair dengan sekertaris jeleknya?!"
Catherina sungguh cemburu dia meremas post it milik Nina dan membuangnya ke kotak sampah.
"Pantas dia tidak suka aku disini!!"
"Karennina... Sebentar lagi posisi mu akan aku rebut!"
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan Hanssel!!"
Ceklek!
Catherina terkejut Nina telah berada di ruangannya.
"Oh maaf tadi mami suruh aku tunggu disini."
"It's okay..." Ujar Nina mencoba ramah.
Dia memperhatikan posisi semua berkasnya, dia tersenyum kecil terlebih saat melihat post it miliknya berada di kotak sampah.
Nyonya Rossie menyusul keruangan Nina.
"Nina mulai besok kamu bagi tugasmu dengan Catherina sampai departemen Design telah selesai dengan assesmentnya."
Nina terdiam sejenak, akan sangat merepotkan saat dia akan menjebak Suho.
"TIDAK BISA!!"
Hanssel yang merasa tidak enak perasaan keluar menyusul ibunya dan menolak semua rancangan ibunya.
"HANSSEL!!" Bentak nyonya Rossie.
"Dia satu-satunya karyawan terbaik Adamson. Tanpa bantuan siapapun dia sudah memenangkan 2 proyek besar tahun ini. Jika salah sedikit saja habis sudah Adamson di pasar global!!" Sungut Hanssel menolak.
"Apa salahnya justru meringankan tugas Nina?!" Ibunya masih ngotot.
"Mulai besok Catherina menjadi manager departemen pemasaran. Tidak masalah bukan?!" Hanssel menatap Catherina.
"Oh ok... Up to you... Aku dengan senang hati dan akan membuktikan bahwa aku sangat mampu!" Ujar Catherina.
Hati Catherina merasa sakit, harga dirinya seolah lebih rendah dari sekretaris buluknya.
"Nina siapkan berkas Suho! Kita bertemu klient saat ini juga!"
"CEPAAAT!!" Bentak Hanssel membuat ketiga wanita di ruangan itu terpaku gemetar ketakutan.
"Baik pak..."
Nina menyiapkan berkas yang diminta, dia memasukan laptop miliknya dan menyambar tasnya.
"SEJAK KAPAN KAMU LAMBAT!!" Bentak Hanssel kemudian.
"W h a t?!" Nina menatap kesal.
Catherina tidak lepas terus memperhatikan gerak gerik keduanya. Nyonya Adamson terkejut dengan sikap anaknya yang tiba-tiba sangat arogan.
Hanssel dan Nina segera menuju keluar kantor.
"Kita mau kemana?" Tanya Nina penasaran.
"KE CHINA!!"
"Kamu lagi PMS ya?!" Ujar Nina kesal.
Hanssel yang tengah sangat kesal mendengus perlahan. Dia segera menarik lengan Nina cepat dan sedikit menyeret wanita itu.
"HANSSEL!!" Maki Nina tidak terima dengan perlakuan Hanssel saat ini.
Setelah memasuki mobil tanpa basa-basi Hanssel mencumbu Nina kasar.
"Aargh!!" Nina mencoba melepaskan diri.
"BAJINGAN!!" Umpat Nina sama kesalnya.
Hanssel melajukan mobilnya dengan cepat, dia menuju salah satu hotel di kawasan pusat kota. Dia menghubungi Farell memintanya memesan kamar untuknya. Sepanjang jalan Nina terus melayangkan protesnya. Sesampainya di Hotel juga Hanssel masih bersikap kasar sampai di dalam kamar mereka, Hanssel menjatuhkan tubuh Nina di atas ranjang besar dan mencoba mencumbunya kasar.
Sekuat tenaga Nina melawan namun kekuatan Hanssel bukan tandingannya.
"Arrgh!!"
"Kenapa kamu menolakku Nina!!"
"Aku suamimu!!"
Nina menangis menahan rasa sakit hati di perlakukan bak wanita murahan. Harga dirinya seolah telah di cabik-cabik sedikit demi sedikit oleh pria yang baru dia cintai saat ini. Hanssel tersadar dia mempercepat aksinya sampai dia mengeluarkan pelepasannya.
"Aku minta maaf sayang... Aku mencintaimu..." Hanssel mengusap lembut pipi Nina.
"BULLSHIT!!" Umpat Nina kesal.
"Terserah, aku sangat tersiksa, merindukanmu tanpa bisa menjamahmu seharian!!" Dia kembali menciun leher Nina dan memeluk wanita itu erat.
"Kau gila Hanssel!!" Nina masih terisak.
"Iya!! Aku tergila-gila olehmu sayang!!!" Hanssel menatap lekat wanitanya.
Hanssel kembali menciumi tubuh polos Nina, dia kembali memberikan sentuhan seksualitasnya agar tubuh Nina kembali meremang.
"Arrgh Hans..." Lenguhan yang di nantikan Hanssel akhirnya terdengar.
"Panggil aku lagi sayaang..."
"Hans... Aargh... Aku mencintaimu..."
Nina mengungkapkannya dengan menitikan sebutir air matanya yang langsung mengalir begitu saja. Hanssel yang tidak memperhatikannya terus saja melakukan aksi yang membuatnya melayang menikmati surganya dunia.
"Aku mencintaimu sayangku Karennina!"
✲✲✲✲✲✲