Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 80 - Snapping



Keenan tengah merobek pakaian Farah. Farah memalingkan wajahnya dengan masih terus berderai air mata. Semua usaha pemberontakan dirinya sia-sia.


Keenan menggerakan lidahnya di depan bibirnya, betapa menggiurkan tubuh indah di depan matanya saat ini. Farah kembali menatap pria yang sangat di sukainya sedari lama dengan tatapan penuh kekecewaan. Dia tidak menyangka pada akhirnya kehormatannya akan terenggut paksa oleh kakak sepupunya sendiri.


"Aku mohon lepaskan aku..." Lirih Farah memohon dengan berderai air mata.


Namun Keenan yang masih dalam pengaruh obat tidak memperdulikannya. Dia kembali menanggalkan pakaian yang masih melekat di keduanya. Farah memejamkan matanya erat, dia juga mengatupkan bibirnya erat sampai bibir prianya menyentuh permukaan kulit bibirnya dan memaksanya untuk membukanya perlahanan. Dengan kasar prianya menyesap tiada hentinya, tangannya terus bergerilya di atas permukaan tubuh polos gadis yang tak lain sepupunya sendiri.


Keenan sudah tidak sabar, dia segera memasukan senjatanya yang telah siap tempur tanpa foreplay lebih dulu. Jeritan Farah menggema di telinga Keenan, pria itu justru menikmatinya dia tengah membiasakan dirinya. Tanpa pengalaman dia membiarkan insting menuntunnya bergerak mencari kenyamanan dan kenikmatannya.


Farah terisak pilu, hancur sudah masa depannya. Harga dirinya terkoyak saat ini juga. Kesucian yang dia jaga selama 28 tahun terenggut begitu saja. Dan yang membuatnya naas adalah yang merenggut semua harta terakhir miliknya ada orang yang paling dia kagumi di muka bumi ini.


Di tengah isak tangisnya Farah tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang memiliki reaksi berbeda dengan hatinya. Dia bahkan tengah melenguh berbarengan dengan erangan prianya.


"Aku sangat menyukai tubuh dan suaramu sayaang..."


Hati Farah sungguh sangat sakit mendengarnya. Baginya semua itu adalah olokan halus dari pria yang masih terus membombardir dirinya dengan gerakan yang tidak di pungkiri membuat dia mendapatkan perasaan lain yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Apakah ini rasanya saat kita bercinta dengan seorang lawan jenis?! Bagaimana bisa aku menikmatinya disaat semua ini hanya paksaan!


Farah merasakan dirinya akan mengeluarkan sesuatu.


"Kak... Aku ingin pipis!!"


Keenan tidak memperdulikan ucapan Farah dia terus menggerakan tubuhnya mengikuti semua insting yang membuat dirinya kini lihai memainkan permainan yang baru pertama kali dia lakukan selama dia hidup di dunia.


Lenguhan panjang Farah menandakan wanita itu sudah berada di puncaknya. Keenan berhenti sejenak dia melebarkan senyumnya, dengan tatapan sayu Farah melihat betapa wajah tampan itu seolah tengah meminta kewajaran atas apa yang dia lakukan saat ini terhadap dirinya.


Tanpa di biarkan beristirahat Keenan kembali dengat aksinya yang lebih liar. Rasa perih yang di terima Farah tidak hanya diterima oleh tubuh bagian bawahnya saja melainkan sekujur tubuhnya bahkan hatinya yang sedari awal merasakan rasa pedih dan sakit hati, semua itu membuatnya pingsan saat ini juga. Keenan yang sudah seperti kerasukan jiwa binatang tidak menghentikannya sama sekali. Dia bahkan semakin gencar menerobos tubuh mungil sepupunya yang tanpa disadari olehnya sudah menimbulkan rasa candu dalam dirinya.


***


Mata Farah mengerjap saat menerima cahaya silau matahari yang menerobos tirai dan menyinari matanya. Dia membuka matanya perlahan, dia terbelalak bisa menggerakan tangannya.


Ternyata kak Keenan melepas ikatannya.


Kemudian Farah kembali tersadar, dia berusaha terbangun walau sejujurnya dia sangat kesulitan. Rasa ngilu di sekujur tubuh terlebih bagian inti miliknya membuat dia enggan beranjak. Dia menatap kesamping, tidak ada Keenan disana. Dia kembali terisak pilu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tanpa dia sadari bahwa Keenan masih disana hanya berada di ruang tv yang terdapat sekat pemisah.


Keenan tidak menyesali atas apa yang terjadi semalam, dia hanya kecewa dirinya bisa di lumpuhkan dengan obat terlarang itu.


Farah berhenti menangis, dia berusaha bangkit dan menuju kamar mandi. Dengan membelitkan selimut di tubuhnya dia berjalan tertatih, dia bahkan meringis merasakan perih di bagian inti miliknya terasa sangat ngilu saat dia berjalan. Farah menggosok tubuhnya yang sudah kotor saat ini, dia sungguh menyesal menerima tawaran Karennina menuju penjamuan tadi malam.


Farah telah selesai dengan membersihkan diri, tubuhnya penuh dengan memar dan tanda cinta dari kakak sepupunya yang beringas. Dia menyentuh lehernya yang juga terdapat luka bekas cekikan kuat yang dia pikir saat itu akan mengantarkan dirinya bertemu Raja Ming. Dia juga memperhatikan pergelangan tangannya yang terdapat tanda merah bekas ikatan ikat pinggang yang sangat erat semalam.


Farah kembali terisak pilu, dia tidak pernah membayangkan bahwa ternyata pria yang dia anggap sangat menghargai wanita nyatanya lebih hina memperlakukannya semalam.


Ceklek!


Farah keluar dengan berbalutkan handuk menutupi bagian intimnya.


"Bajuku sudah koyak gini?"


"Gue pulang gimana?"


Lirih Farah merutuki kesialannya yang bertubi-tubi hadir di hidupnya.


"Kau sudah selesai?!"


Farah membelalakan matanya, dia menatap ke arah asal suara. Dia pikir pria itu meninggalkannya begitu saja.


Braaak!


"Pakailah, itu pakaian gantimu!"


Farah tidak habis pikir dengan Keenan Kaviandra, pria itu benar-benar dingin, kejam dan tidak berperasaan. Farah memungut bungkusan paper bag yang berisi satu set pakaian wanita. Dia kembali menuju kamar mandi untuk mengenakannya.


"Walau aku dalam pengaruh obat semalam, tapi kejadian itu terekam jelas di otak ku!"


"Ingin rasanya aku hilang ingatan mengenai kejadian semalam."


Karena profesi dan tanggung jawab di team XK mewajibkan Keenan untuk bisa mengingat setiap detail kejadian kejahatan. Dia di beri obat penguat ingatan oleh tuan Wira, dengan obat itu sudah beberapa misi jaringan hitam sukses ditangannya. Sialnya untuk masalah semalam dia benar-benar ingin menghapus memory buruk itu.


Farah sudah kembali, dengan kembali dingin Keenan meminta Farah menghadapnya.


"Minum!"


Farah melihat semangkok minuman berwarna coklat. Dia menatap nanar ke arah pria yang sudah berhasil merobek harta miliknya.


"Apa ini kak?"


"Minum sekarang juga!"


"Aku tidak akan bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan kita semalam."


"Semua itu kecelakaan."


"Aku di beri obat, aku tidak bisa mengendalikan emosi dan hasratku sendiri."


"Sekarang minumlah, dengan begitu kamu tidak akan membebaniku dengan kehamilanmu kelak!!"


Hati Farah bagai di tusuk pisau tajam tepat di dalamnya. Dia tidak menyangka kakak sepupunya benar-benar sejahat ini memperlakukan dirinya. Setelah merenggut kesuciannya, dia juga tidak ingin bertanggung jawab dia bahkan tidak mendengar permintaan maaf terucap dari mulut pria itu. Gadis itu menduga bahwa minuman itu adalah ramuan obat kontrasepsi agar dirinya tidak hamil.


Dengan bergetar Farah mengambilnya dan menenggak habis tak tersisa kemudian meletakan kembali manguk di atas meja.


Bruk!


"Ambilah kompensasi yang sudah aku siapkan, dan tanda tangani surat itu!"


Farah membuka map putih dengan bergetar, dia membaca lembar demi lembar.


"Kamu harusnya sudah mengerti isi surat itu."


"Dengan tanda tanganmu disana, kamu berkewajiban untuk menutup mulutmu atas kejadian semalam!"


"Aku tidak ingin ada satu orang pun yang mengetahui apa yang terjadi semalam!"


"Terlebih Karennina!!"


"Jika kamu ingkar, aku pastikan Daniel Lee tidak akan mendapatkan lagi pengobatan dan aku akan menghentikan seluruh finansial dukungan Kaviandra untuk keluarga Lee yang tersisa."


"Paham?!"


Farah sudah meneteskan kembali air matanya, betapa malang nasibnya di hadapan Keenan Kaviandra. Dia mengira dia akan di perlakukan seperti saudara seperti anggota keluarga Kaviandra lainnya memperlakukan dirinya. Nyatanya memang sangat sulit mengambil hati seorang pria berdarah dingin seperti kakak sepupunya.


"Haha..." Farah tertawa lirih membuat Keenan mengerutkan keningnya waspada.


"Sudah!"


Farah kembali meletakkan pena di atas map. Dia bangkit dan bersiap pergi dari tempat terkutuk itu.


"Kau lupa membawa black card mu!"


"Tidak perlu kak!"


"Anggap saja semalam aku balas budi atas kemurahan hati keluarga Kaviandra membantu keluarga Lee selama ini!"


Farah meninggalkan Keenan yang masih terpaku dengan perkataan menusuk dari gadis itu


✲✲✲✲✲✲