
Tiga hari kemudian,
Karennina tengah mempersiapkan sidang pertamanya dengan Erick Shin mantan suaminya. Ditemani Rangga yang menjadi kuasa hukumnya. Nina menyerahkan segalanya pada Rangga. Rangga menggenggam erat tangan Nina saat dia menyadari kegelisahan hati wanita yang dia amat sayangi itu.
Erick terus menatap Nina selama persidangan.
Mengapa aku sungguh bodoh melepaskan wanita tercantik yang sudah aku berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya.
"Karen..." Erick memanggil Nina setelang sidang pertama mereka selesai.
Nina mencoba mengabaikan panggilan itu namun Erick memaksa dengan menarik lengan Nina.
"Kamu jangan kurang ajar!!" Maki Nina.
Bug!
Rangga dengan kasar menarik kembali Nina.
"Dia sudah bukan milikmu, aku sudah mengalah dulu, tapi tidak kali ini!!" Ujar Rangga membuat Erick terdiam.
"Aku hanya ingin berbicara sejenak..."
"Aku berjanji aku tidak melakukan apapun.. Terlebih aku rindu dengan Jimmy..."
"Dia tidak ingin menemuimu... Dia membencimu!!" Umpat Rangga kembali.
Namun Nina menenangkan Rangga dan berbicara untuk memberikan mereka waktu bersama sejenak.
"Tapi Karen!!"
"Ga, mungkin dengan begitu dia akan segera memberikan hak asuh untukku..."
"Karen kamu tahu bajingan itu tidak pernah melunak!!"
"Jika iya mengapa dia membiarkanmu selama 2 tahun dan kembali mengejarmu sekarang?!"
"Dari mana kamu tahu dia mengejarku?!"
Rangga terdiam, dia masih terlihat kesal dengan keputusan Nina.
"Walau bagaimanapun dia adalah ayah biologis Jimmy."
"Aku tidak sedang melunak... Aku butuh sesuatu untuk mengambil Suho ku!!"
"Huh!"
"Kau janji setelah selesai aku menjemput mu..."
"Aku memakai mobilku..."
"Kau istirahat saja... Aku dengar dari asisten mu kamu baru menyelesaikan kasus hukum di Bandung."
"Sekarang kamu langsung mengurus kasus ku..."
"Tidak masalah selama itu tentangmu..."
Rangga menyentuh wajah Nina, wanita itu menatap nanar.
Maafkan aku Rangga, aku sungguh tidak bisa membalas cintamu selama ini. Aku malah terjerat cinta sahabatmu...
Nina mengikuti Erick dan menjemput Jimmy. Di dalam mobil Erick mencoba mencairkan suasana.
"Aku minta maaf..."
"Untuk apa?"
"Segalanya..."
"Terlambat!"
Erick menelan salivanya perih dia parkir di tempat yang di tentukan Nina, Nina keluar menjemput Jimmy dan menyuruh Nanny pulang kembali ke apartemen mereka.
"Papa!" Pekik Jimmy terkejut.
"Jimmy... Maafkan papa..."
Jimmy memeluk erat ibunya. "Kau bisa lihat sendiri Jimmy tidak ingin lagi dengan mu!!"
"Kamu sudah aku beri kesempatan 2 tahun menjaganya... Tapi kamu menyia-nyiakannya."
"Aku bersalah..."
Keduanya kembali menembus jalanan ibu kota. Hanssel telah mengubungi ponsel Nina namun Nina abaikan saat ini. Mereka telah sampai di salah satu taman bermain terkenal di ibu kota.
"Kenapa kesini bu?" Tanya Jimmy.
Sejujurnya Nina juga tidak tahu apa yang di rencanakan mantan suaminya itu.
"Ibu juga tidak mengerti..." Ujar Nina menatap serius ke arah Erick.
"Sayang, papa minta maaf kemarin bukankah papa janji membawamu ke taman bermain?"
Jimmy mengangguk dengan ragu.
"Papa gendong kamu ya..."
"Tidak perlu!!" Nina tidak mengijinkan anaknya di pegang lagi oleh manusia kotor seperti mantan suaminya itu.
Dia membuka pintu dan keluar menuju loket pembelian tiket. Akhirnya Erick yang membayar tiket mereka setelah berebut sebelumnya.
Nina menurunkan Jimmy dia membiarkan putranya berlarian kesana kemari. Erick melengkungkan senyumnya.
Sudah sangat lama aku tidak membuat keduanya tersenyum seperti ini. Aku akui aku merindukan kalian... Kamu sangat cantik Nina. Jimmy maafkan papa...
Erick membelikan topi karakter serta balon udara.
"Jimmy, papa beli ini kamu mau?"
"M-mau..." Ragu Jimmy memegang semua dan mengenakannya.
Erick mengacak rambut Jimmy, tanpa terasa hatinya terenyuh terlebih saat putranya bahagia menerima apa yang dia berikan kemudian berlarian dengan suka cita.
Nina meninggalkan Erick yang masih bersimpuh tertegun.
Betapa bodohnya aku membuang kalian...
Erick bangkit dan mengejar langkah Nina. Dia memberikan Nina topi agar tidak kepanasan mengingat hari sudah sangat terik.
"Makan siang dimana?" Tanya Erick.
"Oke..."
"Kamu bekerja dimana?"
"Di tempat dimana aku di hargai..."
"......."
"Karen..." Erick mencoba bertanya serius.
"Semua aku lakukan demi Jimmy, setelah ini kita tidak akan lagi saling bertemu..." Nina menghentikan langkahnya berbicara dingin kemudian berlalu meninggalkan Erick.
Erick dibuat kagum oleh mantan istrinya.
"Dulu kamu sangat ramah, periang dan lembut. Bahkan saat aku sakiti sekali pun kamu tidak memperlihatkan perlawanan..."
"Kamu rela di usir oleh keluarga besarmu.."
"Jika bukan hasutan ibuku, mungkin kita masih bersama!"
Erick menatap kepergian Nina dengan terus melihat punggung wanita itu menjaga putra mereka.
Di dalam sebuah resto cepat saja Nina berhadapan dengan Erick dan Jimmy di sebelah dirinya. Jimmy sibuk memasukan semua kentang goreng dan burger kesukaannya.
"Nina... Aku tidak akan berebut hak asuh denganmu..."
"Baguslah kalau begitu... Kita tidak akan membuang waktu dengan terus mengikuti sidang itu." Ujar Nina dingin.
"Tapi dengan syarat..."
Nina terdiam. "Kamu berani melempar persyaratan denganku?"
"Karen, syarat ku hanya ingin bertemu kalian setiap 2 minggu sekali..."
"Untuk apa lagi?"
"Kamu sudah memiliki keluargamu sendiri bukan?!"
"Karen, Jimmy masih putraku selamanya akan menjadi putraku!! Darahku mengalir di tubuhnya."
"Menyesal aku menikah denganmu Erick!!" Nina menumpahkan kekecewaannya.
"Aku minta maaf Nina..."
"Jujur aku sangat mencintaimu... Aku tidak pernah berniat mempermainkan perasaan mu."
"Hanya saja sikap keluarga besarmu sudah merendahkan aku dan keluargaku!"
"Aku sangat emosi kala itu!!"
"Aku seperti di anggap sampah oleh keluargamu!!"
"Jangan bawa keluarga besarku!! Aku justru menyesal tidak menuruti perkataan mereka!!"
"Lalu menurutmu aku di anggap apa oleh ibu mu setelah aku menikah denganmu?!"
"Dia menjadikanku pembantu di rumah!"
"Aku selalu bersabar atas perlakuan kasarnya... Kamu juga seolah tutup mata melihat perlakuan ibumu padaku!!"
"Aku tidak akan pernah lupa semuanya Erick!!"
"Aku minta maaf Karen... Karena hal pertama itu rasa cintaku tertutupi emosiku! Aku tidak bisa lagi berpikir rasional..."
"Aku benar-benar menyukai dan mencintaimu aku berusaha berubah dan menjadi pria baik untuk mu. Tapi...."
"I'm done!!"
"Semua itu hanya masa lalu... Tidak perlu penyesalan karena semua sudah terjadi maka terimalah!!"
"Erick, aku hanya ingin mengingatkan sebentar lagi aku akan mengambil yang menjadi milikku!"
"Aku akan mengambil Suho yang sedari awal aku dirikan atas kerja kerasku!!"
"Saat ini kamu membuat perusahaan ku bangkrut kamu tidak tahu diri!!"
Nina berdiri dan mengajak Jimmy untuk menyudahi makan siang mereka.
"KAREN TUNGGU!!!"
Erick berusaha mengejar langkah kaki Nina, namun dengan cepat Nina membaur dengan kerumunan orang-orang sehingga Erick kehilangan jejaknya.
Nina terisak sepanjang jalan kemudian langkahnya terhenti....
"Hanssel..."
"Aku pikir apa yang membuatmu mengabaikan panggilan ku!!"
"Ternyata hanya seorang tidak berguna dari keluarga Shin!"
"Aku melacakmu dan mendapati kamu menangis sepanjang jalan membawa Jimmy aku pastikan besok..."
"Tidak saat ini juga aku akan membunuhnya!!"
Hanssel bergegas melewati Nina, namun segera Nina cegah.
"TIDAK! HANSSEL TUNGGU!!"
"Aku sudah memiliki rencana lain..."
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sedari 3 tahun yang lalu aku akan membalaskan segala rasa sakitku pada mereka!"
"Aku akan membuat mereka memungut setiap tetesan air mata yang telah aku keluarkan dengan pembalasan yang akan membuat mereka sadar akan kesalahan mereka!"
Nina masih berderai air mata menahan lengan Hanssel. Entah mengapa perasaan pria itu ikut merasa pedih dan sakit. Hanssel mengusap lembut wajah Nina yang basah. Kemudian dia bersimpuh menatap Jimmy yang ikut terisak dalam diam tengah mengusap air matanya dengan tangan mungilnya.
"Jimmy, mulai saat ini papa Hanssel yang akan menjadi papamu... Papa Hanssel berjanji akan membahagiakanmu dan ibumu..."
"Kita pulang kerumah okay?"
Jimmy tersenyum mengangguk kemudian memeluk pria di depannya. Hanssel menggendong pria mungil itu dan menggandeng tangan Nina keluar dari kawasan permainan. Hati Nina sungguh terenyuh dengan sikap Hanssel saat ini.
Mengapa dia datang di saat aku sedang merasa down seperti ini. Apa mungkin dia penyelamat hidupku kelak...
Genggaman Hanssel semakin erat pada jemari Nina.
✲✲✲✲✲✲