
"Mulai sekarang kamu tinggal disini."
Rangga mempersilahkan Yvone memasuki apartemen miliknya di Negara S. Sementara waktu Yvone akan dia tempatkan disini, dimana dia berpikir lebih aman dari jangkauan orang-orang yang ingin mencelakai Yvone.
Entah terbiasa atau memang memiliki perasaan khusus Rangga semakin peduli dan tidak ingin jauh dari keberadaan Yvone. Namun pekerjaannya tentu tidak bisa membuatnya tetap bersama. Terlebih saat ini dia perlu mengkaji ulang informasi lebih lanjut dari Nina.
Kasus ini harus aku selesaikan dengan tuntas. Aku seperti kehilangan beberapa potong alur cerita sehingga aku perlu kembali memeriksa agar aku tidak menduga-duga.
"Waw!!"
"Kakak ternyata orang kaya..."
Rangga mengerutkan dahinya, dia juga tersenyum dengan pernyataan polos Yvone.
"Boleh kah aku memanggilmu Felicia mulai sekarang?!" Tanya Rangga hati-hati.
Yvone menatap Rangga lekat dan mengembangkan senyumnya "Tentu saja boleh!"
"Manggil sayang aja ga masalah!!"
"Hahaha!"
Tawa Yvone pecah di kala wajah Rangga memerah atas pernyataan Yvone yang memanggilnya Sayang.
Ceklek!
"Ini kamarmu..."
"Kita perlu beberapa potong baju sesuai ukuranmu..."
"Nanti aku akan menyuruh asisten ku mempersiapkannya untuk mu!"
"Ah tidak kaaa..."
"Bolehkah aku memilihnya sendiri?!"
"Bagaimana jika kakak menemaniku berbelanja?!"
"Bolehkan?!"
"Pleaseeee..."
Yvone memelas di hadapan Rangga dengan wajah yang menggemaskan. Rangga membuang muka, wajahnya benar-benar sudah seperti kepiting rebus.
Apa kak Rangga tengah tersipu?! Wajahnya memerah sangat lucu!!!
"Ppfftt!"
Yvone menahan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan kepalan tangannya.
"Baiklah..."
Rangga mengusap lembut kepala Yvone kini berbalik membuat gadis itu tersipu malu.
Aargh jantungku... Mengapa jantukku berdetak tidak karuan!!!
Yvone mengatupkan bibir mungilnya, Rangga menarik tangannya dan mengajaknya kembali keluar menuju area pusat perbelanjaan.
Apartemen Rangga memang terletak di jantung ibu kota Negara S. Mereka tidak perlu keluar jauh untuk sekedar singgah di Mall besar.
"Kamu pilih lah yang kamu sukai..."
"Tidak perlu sungkan!"
"Benarkah?!"
"Apa kakak tidak akan menyesalinya?!"
Rangga mengerutkan keningnya belum juga dia menjawab pertanyaan anak kecil di depannya Yvone tengah lebih dulu memekik kegirangan.
"TENTU SAJA AKU TIDAK AKAN SUNGKAN!!"
"Yuhuuuuu!!!"
Yvone berlari mencari apa yang dia butuhkan dan inginkan, beberapa pakaian telah masuk di keranjang belanjaannya. Dari mulai atasan, dres, celana, pakaian dalam bahkan Rangga menurunkan senyumnya serta menelan salivanya saat wanita itu mengambil beberapa set baju tidur seksi yang sering dia lihat jika bersama dengan Karennina.
Aku pikir menyembunyikan satu wanita yang cukup umur di rumah akan menjadi tantangan tersendiri kedepannya. Hufft!!
Rangga menghembuskan nafasnya kasar. Dia berharap imannya seluas hamparan langit di angkasa!
"Aaarrgh!"
"Lelahnyaaa!!"
"Apa aku telah membuat kakak bangkrut seketika?!" Tanya Yvone dengan mimik khawatir.
"Tidak juga..."
"Uangku masih sangat banyak!"
Triing!
Tiba-tiba mata Yvone berubah jadi pecahan dollar Amerika!
"Kaaaak aku lapaar!!" Yvone merengek dengan menggoyangkan lengan Rangga berkali-kali.
OMG! Orang bakalan mikir gue sugar daddy sekarang!!
Keduanya memutuskan makan di salah satu resto yang tak jauh tempatnya berada. Rangga terus memperhatikan lekat Yvone, gadis itu dengan semangat membuka buku menu dengan wajah ceria dan senyuman yang terus merekah membuat hati Rangga seolah seperti tengah menetaskan ribuan ulat menjadi kupu-kupu dalam jumlah ribuan. Rangga menundukan wajahnya yang memereh.
"Samain aja..."
"Ok!"
Pelayan kembali pada tempatnya setelah Yvone memberikan menu yang akan mereka santap untuk makan malam mereka.
"Nih..."
Mata Yvone terbelalak menatap satu kotak persegi panjang yang dia sudah tahu isinya apa. Dia menatap haru kearah pria di depannya.
Aku tidak mengerti mengapa pria di depan ku ini begitu baik terhadapku? Apa aku patut mencurigai kebaikan dirinya.
Tapi dari sikapnya dan raut muka kak Rangga menjelaskan bahwa dia pria baik-baik.
"Apa ini kak?!"
"Ini ponsel yang akan kamu gunakan..."
"Besok aku ada perlu ke Jakarta, aku bekerja disana."
"Aku akan meninggalkanmu disini sementara."
"Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungi nomorku di ponsel ini."
"Semua sudah berisi nomor dan kontak ku."
Rangga membuka kotaknya, menaruk ponsel boba yang dia serahkan di tangan kiri Yvone. Wanita itu terdiam menatap tangan Rangga yang lembut menyentuh permukan punggung tangannya. Ada desir rasa yang menggelitik hatinya saat ini. Kedua netranya spontan menatap kedua manik pria didepannya.
Perasaan apa ini?!!
Yvone menelan salivanya, Apa dia menjadikanku selingkuhannya?!
Dia menyimpanku disini dan dia akan kembali pada pacarnya di Jakarta. Bisa aja kan?!!
"Kamu ko bengong?!"
"Kamu ga suka?!"
Rangga terlihat kebingungan saat ini dengan sikap Yvone yang tiba-tiba sendu.
Apa penyakitnya sungguh datang tiba-tiba dan menghilang juga tiba-tiba?!
Rangga mengangkat dagu Yvone perlahan dengan tangannya menatap lekat wajah Yvone yang layu setelah merekah sebelumnya.
"Emm... Apa kakak sudah punya pacar di Jakarta?!"
"Makanya kakak ninggalin aku?!"
Seketika Rangga terbahak dengan pertanyaan polos Yvone yang begitu khawatir dan gelisah akan kepergiannya ke Jakarta.
"Haha!"
Rangga menjentikan jemarinya di kening Yvone perlahan "Pekerjaan utamaku di Jakarta, aku seorang pengacara terkadang bisa ke mana saja tergantung kasus yang aku dalami."
"Memangnya kenapa jika aku memang sudah punya pacar?!" Rangga mencoba menggoda Yvone.
Perasaan Yvone bergemuruh hebat, dia cemburu...
"Aku...." Ucapannya tercekat.
Cemburu?! Kenapa aku ingin bilang cemburu?! Aku bukannya hanya gadia yang tidak sebgaja dia tolong saja! Aku mikir apaan sih....
Beruntungnya pelayan tengah menghampiri mereka dan meletakan semua menu di atas meja. Yvone bisa menghindari dari pertanyaan yang akan menjebaknya.
"Selamat makan..." Yvone mengucap semangat dengan menutup matanga dan menangkupkan kedua tangannya seraya berdoa.
Rangga terkesima melihat pemandangan yang jarang dia temui. Rangga mengikuti apa yang di lakukan Yvone kemudian keduanya larut dalam makan malam mereka.
Dua puluh menit sudah mereka menyelesaikan makan malam dengan keheningan. Kini mereka telah sampai kembali di Apartemen. Rangga menyuruh Yvone untuk beristirahat todak lupa mengingatkan gadis itu akan obat yang harus selalu dia minum secara teratur.
"Kak..."
Yvone menarik lengan Rangga seketika saat Rangga akan berlalu menuju kamarnya.
"Hmm?!" Rangga menatap dengan senyuman tampannya.
Deg!!
Perasaan Yvone kembali bergemuruh hebat, dia sedikit gemetar saat ini. Dia mengatupkan bibirnya erat menggenggam ujung dresnya.
"Terima kasih..."
Cup ~
Yvone mencium pipi Rangga dengan cepat kemudian segera berlari menuju kamarnya dengan berlari kecil meninggalkan Rangga yang tengah terbelalak dengan apa yang dilakukan Yvone terhadapnya barusan.
Rangga memegang pipi sebelah kirinya perlahan, senyumnya mengembang.
"Apa aku terlalu cepat mengatakan bahwa mungkin saja perasaan ku padanya lebih dari sekedar ingin membantu?"
"Bagaimana bisa hanya dengannya aku merasa mendapatkan kembali makna sebuah kebahagian?!"
Rangga tertawa lirih berbalik kembali menuju kamarnya. Di dalam kamar Yvone sendiri gadis itu tengah membenamkan wajahnya di atas bantal empuknya, dia memekik malu atas hal arogan yang dia lakukan pada pria yang telah menolongnya, pria yang menariknya dari dasar jurang terdalam. Pria yang perlahan memberikannya rasa aman dan memberikan cahaya di gelapnya kehidupannya saat ini.
✲✲✲✲✲✲