
Nina menyambar ponselnya yang bergetar. Dia juga menaruh tangan Hanssel perlahan dari pinggangnya. Berlalu menuju keluar kamar.
"KAU GILA!!"
"JAM BERAPA INI?!"
Maki Nina kesal pada kakak semata wayangnya.
"Kita bertemu sekarang juga."
"Ayok lah kak!!"
"Ini pukul 2 pagi!!"
"Bukankah kamu terbiasa keluyuran!!"
"Atau jangan-jangan bos mu sedang tidur di sebelahmu!"
"OKE!"
"Share loc!!"
Keenan menutup sambungan telpon mereka, Nina mendengus kesal. Dia mengganti kimono tidurnya dengan baju perginya, mengenakan t-shirt lengan panjang di padukan bersama coat dan celana jeansnya. Nina melesat mengambil mobil miliknya dan menuju tempat yang sudah di kirimkan lokasinya via chat.
Dia sudah tiba di salah satu bar tak jauh dari rumahnya, sepertinya Keenan sudah mengetahui rumah baru Nina di kawasan PIK.
"Langsung ke intinya!!"
"Jika Jimmy bangun aku tidak di sampingnya dia akan merajuk sepanjang masa!!"
"HAHAHA!!"
"Apa pantas kamu menipu ku nona!!"
Nina semakin membuat raut wajahnya dia tekuk sebal dengan campur tangan kakaknya.
"Buat apa sih kakak disini!!"
"Ganggu tau gak!!"
Tuk!
Keenan kembali menjentikkan jemarinya di kening Nina.
"Aku lihat ada aktifitas abnormal dari anak buahku?!"
"Kamu melakukan apa?!"
"Sampai-sampai mereka turun tangan?!"
"Rahasia!!"
"Ini urusan pribadiku... Aku hanya meminjam mereka sebentar saja."
"Pelit banget jadi orang!!"
"Bukan masalah pelit enggaknya..." Keenan tengah menyalakan pematik cricket dan menyesap cerutunya.
"Kamu berulah pada seseorang yang cukup berpengaruh disini!!"
"Kamu menyelidiki ku?!"
"SEBAL!!!"
Nina benar-benar tidak bisa memiliki privasi dengan kakaknya. Tanpa dunia tahu bahwa keduanya adalah agen rahasia yang ikut dalam sebuah organisasi dalam naungan XK. Pendiri XK sendiri merupakan mafia nomor 1 di asia. Berbasis di negara Aussie namun founder mereka berasal dari Negara S.
"Aku selalu bilang sama kamu bocah!!"
"Jatuh cinta bawa serta otakmu!!"
"Aku hanya membela diri!!"
Keduanya masih bertikai, seperti biasanya saat dulu mereka masih tinggal dalam satu atap.
"Jauhi Hanssel!!"
"Mengapa?"
"Tidak ada yang baik dari dia!!"
"Apa kamu mengatakan itu hanya berdasarkan data yang kamu terima?!"
Nina masih teguh akan pendiriannya.
"Kamu sendiri akan menyesalinya kelak..."
"Aku tidak pernah salah, bukti nyatanya adalah mantan suami mu!!"
Nina terpaku dengan penuturan kakaknya, dia tengah menoreh luka yang sama yang baru dia tutup.
"Ini urusan pribadi ku, kakak tidak perlu ikut campur!!"
"HUH!!" Dengus Keenan.
"Catherina Lim adalah anak satu-satunya keluarga Lim. Mereka bergerak di Lini perbankan."
"Apa yang akan mereka lakukan jika tahu putrinya kamu kerjai seperti itu?!"
"DIA YANG MULAI!!!"
"LANTAS KALAU DIA BOLEH AKU TIDAK?!"
"KAMU MEMILIH AKU YANG JADI KORBAN DI KAMAR ITU."
Nina tengah berdiri dan memaki kakaknya kasar. Dia keluarkan seluruh emosinya. Dia tidak menyangka saudaranya berpikir tindakannya tidak rasional.
"Bukan seperti itu..."
"Kamu memiliki pilihan lain untuk membalasnya!!"
Pembawaan Keenan yang tenang membuat kondisi Nina tidak terlalu bergejolak. Walau masih dalam intonasi kekecewaan yang jelas terdengar dari setiap kata yang Nina lontarkan.
"Oh aku tahu kamu belum jelas membaca file si Catherina!!"
"Di US sana, kehidupannya tidak sealim tampangnya!!"
"Dia bahkan tercatat sudah pernah melakukan aborsi!"
"Apa aku perlu melunak?!"
Rentetan kata Nina kemukaan untuk memberikan pencerahan pada kakaknya.
"Aku hanya mengingatkan saja..." Ujar Keenan menenggak birnya.
"Aku juga melakukan balasan yang setimpal!!"
"Satu hal lagi!" Keenan memotong pembicaraan Nina.
"Hanssel tengah curiga identitas aslimu..."
"Kamu jangan sampai ketahuan keanggotaan agenmu!!"
"Aku mengerti!"
"Sementara ini, biarkan kakak yang urus yang menghalangi jalanmu..."
"Aku menerima bocoran, Mr. Long telah menukar kualitas produk dengan yang terburuk."
"Reputasi Suho akan hancur dalam seminggu lagi."
"Disaat itu kamu beli sejumlah saham dengan sporadis dan bisa mengambil alihnya kembali."
"Jika sudah selesai kita pulang!!"
DEG!!!
Percakapan berat ini membuat kepala Nina terasa akan mengeluarkan isinya. Saat ini juga otaknya telah mengeluarkan kepulan asap dari kepalanya.
"Terima kasih bantuan kakak!"
"Urusan pulang aku akan pertimbangkannya."
"Tenang saja Jimmy sudah mengetahui keberadaan kakek neneknya."
"Kami tidak akan ingkar, namun kapan pastinya aku mohon beri aku waktu lagi!" Ujar Nina melemah.
"Hanssel sudah di jodohkan Karennina!"
"Apa kamu tidak ingin menyerah saja dan mencari penggantinya seperti Rangga misalnya!!"
"Apa kamu tidak jijik dengan pria yang selalu celap celup disana sini?!"
"JANGAN MENGECEWAKAN KAMI!!"
Keenan mematikan api cerutunya di meja, dia meninggalkan Nina berlalu dengan dingin tanpa ada kata perpisahan lainnya. Nina kembali merasa didera sakit kepala yang hebat. Tenggorokannya tercekat, bahkan untuk menangis pun dia tidak bisa.
Nina memarkirkan mobilnya di garasi, baru saja dia memijakan sebelah kakinya di lantai, dia melihat tatapan nyalang suaminya tengah berdiri di depan mobilnya dengan bersidekap tangan dengan piyama tidurnya.
Nina mendengus pasrah, dia tersenyum getir ke arah suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Hanssel dingin.
"Menghirup udara..."
"Aku tidak dapat tidur!"
Nina berbohong berharap Hanssel tidak memperpanjangnya. Hanssel berlalu meninggalkan Nina yang masih berdiri tegak di sebelah mobilnya.
Nina tersadar dia segera mengikuti langkah kaki suami diatas kertasnya itu. Hanssel tengah berada di dapur dia menenggak air putih dingin. Nina merangkulnya dari belakang.
"Maafkan aku..."
"Aku tidak ingin membangunkan mu atau bahkan mengganggu tidurmu..."
"Aku hanya terlalu gelisah mengenai Suho..."
Nina semakin erat memeluk Hanssel. Tidak ada respon apapun dari suaminya. Sepuluh menit yang lalu pria itu terbangun merasakan haus mendera dirinya, betapa kagetnya dia saat mengetahui istrinya tidak ada disampingnya. Dia mencari di seluruh penjuru rumah. Kemudian dia melacak ponsel istrinya, saat mengetahui dia sedang di jalan Hanssel mencoba untuk menyusulnya namun siapa sangka Nina sudah pulang saat dirinya baru mau memanaskan mobilnya.
Hanssel berbalik badan dan menangkup wajah Nina "Istirahatlah..." Ujarnya dingin.
"Aku tidak mau!!"
"Kamu masih marah padaku!!"
Tidak di sangka-sangka, saat ini Nina menunjukan aksi merengek untuk pertama kalinya di hadapan Hanssel. Pria itu seperti tengah mendapat panah asmara tepat di jantungnya yang berdetak seirama alunan kopi dangdut!!
Hanssel tersenyum mencubit kedua sisi pipi Nina gemas dan mencium bibirnya lebut.
"Aku tidak bisa marah padamu lagi sayang..." Ucapnya lembut.
"Benarkah?" Nina mengedipkan matanya berulang kali.
Ya ampuuuun!!! Aku baru lihat si nenek lampir ini sungguh mempesona buat gemees aku saja!!
"Lain kali, jangan pernah bikin aku khawatir lagi okay?!"
Nina menganggukan kepalanya dan memeluk Hanssel erat. Kali ini Hanssel menyambut dan membalas dengan pelukan yang sama eratnya. Dia menggendong istrinya menuju kamar mereka. Di taruhnya perlahan tubuh istrinya di tepi ranjang. Hanssel bersimpuh di bawah istrinya.
"Kamu sudah membuatku sangat khawatir..."
Hanssel merogoh sesuatu dalam saku piyamanya.
"Sekarang kamu pake ini ya..."
Nina menelan salivanya berat, dia menunjukan senyum palsunya. Kemudian mengambil kotak persegi panjang yang barusan Hanssel sodorkan padanya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya..."
Pamit Nina bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tentu saja bersiap memberikan jawaban dari rasa penasaran suaminya saat ini.
"Maafkan aku Hanssel..."
✲✲✲✲✲✲
Hai reader tersayang aku gak_
Terima kasih banyak-banyak yang sudah support cerita ini!!
Lebih terima kasih lagi kalo terus dukung, Like, vote, love, sama hadiahnya... (●'▽'●)ゝ♡(*´ω`*)/♡
Biar athor makin mangad update terusnya... ᕦ( ͡͡~͜ʖ ͡° )ᕤ
Btw, walau bakalan update setiap harinya dan bahkan lebih dari satu bab (Author usahakan!!) coba mampir di karya Author yang lainnya yaa...
Siapa tahu berkenan ngintip tipis2
o(〃^▽^〃)o
...Sekali lagi arigatou gozaimasu!!!...
...Terima kasih!!...
...♡ Thank You ♡...
─────────ೋღ 🌺 ღೋ─────────