Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 139 - Caught!



Dor!! Dor!!


Praaang!


Braaak!!


Adu tembakan bersahutan mengenai beberapa benda yang ada di dalam Villa besar itu. Seluruh kaca jendela berhamburan.


DDDOOOOORRRR!!


Farah memegang perutnya mengusap terus menenangkan bayinya. Maafkan ibu nak... Bertahan sayaang, ayahmu akan kemari menolong kita!! Ibu janji setelah ini ibu akan mengaku padanya!!!


Seperti yang di katakan Ken, pihak musuh sungguh sangat banyak. Farah memperhatikan dari balik ventilasi sebelum dia membuka pintu rahasia dia mengamati sekitar.


Dooorr!!


Terdengar letusan senjata dan siluet Ken tengah menarik perhatian beberapa musuh yang ada disana. Farah terus menerus mengatur pernapasannya dan berkomunikasi kembali dengan bayinya.


Mari sayang, kita keluar dari sini!!


Farah mengamati kembali sekitar dan dia merasa bahwa tidak ada seorangpun disana. Perlahan dia mengendap melewati jajaran mobil mewah milik Keenan yang sungguh sayang teronggok begitu saja. Farah terus mengendap dengan menunduk dibelakang jajaran mobil itu.


Sisa satu mobil lagi dia akan mendapati Maybach yang dikatakan Ken. Nak kamu sungguh beruntung ayahmu seorang crazy rich kelak kamu ingin apapun dengan mudah ia akan kabulkan untuk mu! Sekarang kita bekerja sama baik-baik di perut ibu sampai kita lihat batang hidung ayah mu itu!!!


Farah tengah membuka pintu secara manual demi menghindari perhatian jika dia menekan tombol pembuka kunci otomatis.


Bruuuk!!


"Tuan Azlan, wanita itu sudah saya dapatkan!!"


"Bagus!!"


Farah tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang menyadari keberadaannya dan menunggu waktu yang tepat membuatnya pingsan dengan memukul tengkuk lehernya. Orang itu berkomunikasi dengan HT.


Ken terbelalak, secepat ini Farah tertangkap. Dia sendiri telah tertangkap oleh Azlan yang kini mencengkram lehernya dan mengangkat tubuhnya. Kepalanya telah berlumuran darah. Nafasnya tersenggal, peluru di pistolnya hanya tersisa satu. Dia berencana meledakan tempat ini jika Farah sudah keluar nyatanya rencananya gagal.


"Ka li an me nyen tuh nya a ku pas ti kan Mr. K me nyeret ka li an ke da sar ne ra ka ter da lam!" Dengan sisa nafas terakhir Ken dia mencoba menggertak musuhnya.


"Aku justru senang jika dia yang datang!"


DOR!!!


BRUUK!


Azlan melepaskan tubuh Ken setelah dia menarik pematik pistol yang dia arahkan tepat di kepala Ken.


"Bawa wanita itu dengan baik."


"Ledakan tempat ini!"


Seluruh anak buah Azlan mengerti, beberapa orang tengah mempersiapkan peledak di beberapa titik di dalam Villa. Suara mobil yang nyaring terdengar menjauhi Villa. Sampai mobil terakhir dalam radius beberapa meter kemudian terdengar suara letusan dahsyat.


BUUUUMMM!!!


Tuut... Tuuut!!


"F a r a h!!"


"SAM LACAK KEBERADAAN FARAH LEE!!!"


"Eh..."


"B-Baik tuan!!"


Keenan telah menerima sinyal SOS dari gadget milik Farah. Hatinya sungguh teramat ketakutan. Dia terlambat memprediksikan serangan musuh yang bergerak secepat ini. Keenan membuka kamera pengawas di iPad miliknya, dia meneteskan air matanya saat melihat Villanya hancur, dia juga memutar beberapa kejadian sebelumnya. Benni dan Ken tewas di tempat! Kemudian dia melihat tubuh Farah yang tidak sadarkan diri tengah di bawa oleh pihak musuh.


"Faraah tunggu aku sayang!!"


"Bertahanlaah..."


***


Yvone telah berada di sebuah laboratorium bawah tanah milik Huateng Group. Dia terpaku beberapa saat, dia menangis saat melihat ibu dan adiknya yang masih di pekerjakan paksa menjadi seorang buruh.


"Tuan Lee..."


"Apa ini benar Yvone?!"


"Benar tuan dia merubah wajahnya mungkin agar kita tidak menemukan keberadaannya."


"Hm.."


"Bawa dia ke lab, ambil sample darahnya satu tabung!"


"Baik tuan..."


Yvone tidak banyak bicara dia hanya terus menangis dalam diam. Hal yang tidak pernah dia prediksi sebelumnya adalah...


Bruuuk!


"Aarrgh!!"


Suara rintihan seorang perempuan paruh baya dan satu lagi yang tidak berbeda jauh dengannya di jatuhkan paksa di lantai di hadapan Yvone. Hatinya kembali seperti tengah di robek paksa.


Kraaak!


Salah satu anak buah tuan besar menodongkan senapan ke arah kedua wanita yang menjadi tawanan mereka.


Yvone menggelengkan kepala dengan cepat, namun air matanya tidak berhenti mengalir deras.


"Tidak usah berbohong!!"


"Jika tuan besar tahu kamu berencana mengkhianati nya maka bukan hanya nyawamu yang melayang tapi keluarga mu ini!!"


"Dia adalah ibu dan adik mu!"


"Ayahmu masih sangat berguna mengembangkan persenjataan kami!"


Jiwa Yvone sungguh terhempas di dasar jurang paling dalam.


"Lakukan kembali misi mu Yvone!"


"Berikan racun pada Karennina, buat dia dan bayinya mati saat itu juga!!!"


Salah satu pria sebayanya menyerahkan botol racun ke arahnya. Yvone masih tidak bergeming dia terus membanjiri wajahnya dengan air mata.


"Kami juga sanvat mudah mendapati kembali pria penolong mu dan membunuhnya tentu saja."


"Kami tidak menerima sebuah pengkhianatan!!"


Dengan ragu Yvone menerima racun itu, dia menganggukkan kepalanya perlahan tanda mengerti. Tanpa kata yang keluar dari mulutnya Yvone merasa sungguh sesak, menggerakan kepalanya saja dia seperti tengah smelucuti seluruh tulang dari tubuhnya.


"Aku akan persiapkan semuanya!"


"Jika kamu membuat kesalahan lagi."


"Bukan tidak mungkin kamu akan merasakan kembali kematian untuk kedua kalinya!!"


"Kali ini kami pastikan kamu tidak akan sempat hidup kembali!!!"


***


"Sayaaang..."


Hanssel memeluk Nina erat, dia benar-benar tenang mengetahui istrinya baik-baik saja.


"Kamu mandi dulu gih, bau amis!!" Seru Nina merasa mual.


Hanssel melengkungkan senyumnya, tanpa menghiraukan ocehan istrinya dia menarik wajah Nina dan mencium bibirnya lembut. Menyesap tiap bagian bibir istrinya yang selalu membuatnya candu sepanjang waktu.


"Ahhh..." Nina melepaskan tautan Hanssel yang mulai memburu dengan gairah.


"Sayaang!" Tolak Nina saat pria itu kembali mencoba mencumbunya terus menerus.


"Sebentar aja sayaang, aku sungguh minta bantuan mu menenangkan kegelisahan ku saat ini!!" Racau Hanssel.


Nina merasakan tubuh Hanssel bergetar, kegelisahan prianya terasa di sekujur permukaan kulit bibirnya. Nina mengerti dia melingkarkan kedua tangannya di bahu prianya. Merespon tautan prianya, lidah keduanya saling membelit bahkan kini keduanya telah bertukar saliva.


"Aku menginginkan mu sayaang!!" Bisik Hanssel tengah tersulutkan hasratnya.


Ga ada yang lebih mesum dan aneh dari laki gue! Lagi perang aja dia masih bisa mikir minta jatah!! Ampuuuun dah!!!!


Mereka melakukan penyatuan serta pelepasan secara singkat di dalam bathtub kamar mandi. Kini Hanssel tengah memandikan istrinya dengan lembut, mulai menggosok punggungnya secara perlahan kemudian berlanjut menuju bagian dada yang terdapat dua bukit kembar yang sangat indah serta selalu menggodanya.


"Ssshhh... Arrh!" Nina merasakan gerakan tangan Hanssel seolah tengah kembali menyulutkan gairahnya.


"Sayaang, kapan semua ketegangan ini berakhir?!" Hanssel dilanda sendu.


"I don't know..."


"Selama pihak musuh masih bebas berkeliaran."


"Minimal mereka belum mendekam di penjara semua ketegangan ini akan terus menghantui kita!"


Nina menatap jauh kedepan, di kamar mandi milik kakaknya ini mereka bisa menikmati pemandangan luar yang menakjubkan.


"Sayang, aku sungguh terus berdoa agar kehidupan kita bisa kembali normal tanpa ada bunyi selongsong peluru yang berjatuhan."


"Tanpa percikan darah yang menempel di tubuh kita."


"Tanpa perasaan khawatir saat kita keluar rumah..."


Hanssel terdiam sejenak setelah beberapa kalimat membuat dadanya sesak.


"Berharap suatu saat hanya akan ada tawa Jimmy dan putra kita..."


"Menikmati waktu terbaik kita menjadi sebuah keluarga utuh melepaskan gelar yang melekat di pundak kita."


Nina membalikan tubuhnya, menatap lekat suaminya yang tengah berkaca. Dia mengusap lembut wajah prianya dan mencium mesra bibirnya.


"Aku justru sangat mengharapkannya."


"Aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini saat harapan sederhana itu terwujud!"


Hanssel mengusap lembut bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata istrinya.


"Aku akan mencari tempat paling aman di dunia ini untuk kita habiskan selama sisa hidup kita bersama anak-anak!"


Nina mengangguk antusias dengan impian sederhana mereka. Keduanya berpelukan mesra, memberikan ketenangan dan kekuatan. Meyakinkan diri mereka masing-masing bahwa kesulitan ini akan berakhir segera.


✲✲✲✲✲✲