
Hanssel menjawab panggilan yang membuatnya sangat kesal karena sudah mengganggu pergumulannya dengan istrinya tercintanya untuk ronde kesekian.
"Mampus gue!!" Gumam Hanssel lirih.
Wajah Hanssel terlihat pucat, "Halo kak..."
Nina menyunggingkan senyum tipisnya, dia usil dengan bangkit dan memberikan kembali sentuhan di tubuh suaminya. Mata Hanssel melotot tajam dengan kelakuan gesrek istrinya.
"Keluar dari ranjang mu temui aku!!"
"Kita ada pertemuan bisnis!"
Nina merebut ponsel Hanssel dan merengek "KAKAAAAAK AKU MAU HOKBEEEN LAPAAAR... HANSSEL MEMAKAN KU SEPANJANG WAKTU!!!"
"Adik lucnut!!" Sungut Keenan kesal.
Hanssel merasa bahwa dia akan mendapat pukulan cambuk dari kakak iparnya setelah ini. Nina terkekeh senang mengusili.
"Kak, apa kamu sangat senang memisahkan ayah dan anak dalam kandungan ku?!"
"Apa sih Karen!!"
"Suruh suami mu cepat kemari atau tidak aku akan membeli Adamson dalam waktu 30 menit saja!!"
Dengan kecepatan cahaya Hanssel bangkit dan bergegas membersihkan diri menyusul kakak iparnya.
"Cih!"
"Kakak tidak kangen kah dengan ku?!"
"Aku mendekati mu maka kamu terjerat lagi dengan anak buah Don!"
"Aku lihat mereka kembali mengintai rumah mu, keluar dari sana saat aku intruksikan!"
"Pindah menuju mansion ku!"
"Sekarang kamu pulihkan dulu tenagamu, mereka tidak akan mampu melanggar perbatasan yang aku buat!"
Deg!
"Baik kak..."
"Karen, aku tahu kamu pasti sedang merencanakan sesuatu."
"INGAAT!"
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYETUJUINYA!"
Tuuut!!
"Cih!!"
"Aku kesal baginya tidak ada rahasia yang tidak bisa dia bongkar!"
"Emang kenapa kalo aku ikut andil?!"
"Bukan kah semua meringankan bebannya?!"
Nina bermonolog dengan lirih, suaminya telah selesai. Dia sungguh gelisah, terakhir dia melakukan kesalahan kakak iparnya tanpa belas kasih mengurungnya di kandang macan!
"Untungnya aku bisa membobol system kunci pintu exit dengan menggunakan bantuan Jarvis*) sebelum macan itu menyergapku!"
*) Menamai sistem miliknya sesukanya mengikuti salah satu film kesukaannya.
Jika ingat bagaimana kejamnya kakak iparnya dalam bekerja di lebih baik menurutinya, menurunkan harga dirinya dan menyayangi nyawanya demi menjaga istri dan anak-anaknya.
"Aku pergi dulu ya sayang..."
"Be carefull honey!!"
Mereka melakukan ciuman perpisahan dan segeranya Hanssel melesat menemui titik pertemuan dengan kakak iparnya.
Braaak!
Hanssel telak keluar dari rumah kebetulan Rangga tengah keluar.
"Kemana dia?!"
"Numpang wik-wik doang ya?!"
"Bang*sat!" Umpat Nina.
"Dia ada kerjaan..."
"Oh!"
Rangga duduk di sebelah Nina yang tengah duduk di mini bar mengoperasikan laptop miliknya.
"Apa kamu yakin akan melakukannya?!"
"50:50"
"Apa yang akan terjadi selanjutnya?!"
"Kau lihat mereka?!"
Rangga mendekati Nina, dia mengamati gerak-gerik beberapa orang dari kamera pengawas yang tersebar di beberapa titik di area mansion Nina.
"Itu yang kamu bilang antek Wijaya."
"Ehmm..."
Rangga tidak berkedip melihat layar laptop Nina bahkan hanya dengan kamera pengawas semua data orang-orang itu keluar, dia seperti tengah bermain game Dota atau Pubg!
Seperti ini kah kehidupan Karen selama ini? Ternyata aku tidak cukup mengenal seorang Karennina.
"Lantas bagaimana kita menghindari mereka?!"
"....."
"Kamu beritahu Yvone, kita harus terus waspada."
"Saat waktunya tiba kita harus bergegas."
"Karen..."
Rangga menggenggam tangan Nina erat. "Sudah cukup ya, kamu sedang hamil besar."
"Bukan kah ini sangat berbahaya?!"
Rangga memohon menggenggam erat tangan Nina dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana situasi kedepannya yang akan membahayakan Nina.
"Terima kasih Rangga..."
"Kau tahu, mungkin jika aku tidak bertemu Hanssel aku bisa mencoba membuka hati ku untuk mu."
"Kakak ku menyukai kamu lebih dulu di banding Hanssel."
"Tapi sayang, takdir berkata lain."
"Lagi pula, satu hal yang aku tahu..."
"Saat aku terjun di dunia ini, saat aku mengenal apa itu kehidupan paling gelap dan liar dari seorang manusia yang penuh ambisi."
"Saat itu pula aku tahu, aku berdiam diri sekali pun bahaya akan selalu menghampiri ku."
"Terlebih identitas kakak ku sudah terbongkar, dan aku adalah titik terlemahnya."
"Aku tidak bisa hanya diam saja."
"Aku juga sama sepertinya, aliran darah kami sama."
"Kami akan selalu saling menjaga satu sama lain."
"Aku tidak pernah ingin menempatkan diriku menjadi bebannya."
"Dengan menjadi kuat dan berani salah satu gertakan paling ampuh bagi lawan, dengan begitu mereka tidak akan gegabah dan buru-buru bertindak padaku."
"Suatu keuntungan bagi ku untuk sejenak mencari jalan keluar."
Tanpa aba-aba Rangga memeluk Nina erat, dia tidak menyangka kehidupan wanita yang dia sayangi hampir menginjak tahun keenam ini begitu berbahaya.
Nina membalas rangkulan Rangga, "Aku hanya minta Yvone satu-satunya kunci kita mendapat markas mereka. Jaga dia baik-baik!"
"Selanjutnya biarkan para kepolisian yang menangani mereka."
"Karen, berjanji lah padaku, tidak akan berada dalam situasi yang bahaya."
Rangga membelai pipi Nina tanpa di duga membuat Nina terkejut dan terdiam tanpa kata. Nina tersenyum manis dan kembali merangkul sahabatnya erat.
"Karen, jujur aku masih sangat mencintai mu."
"Enam tahun memendam perasaan pada mu, bukan hal mudah bukan untuk melupakan mu begitu saja?"
"Walau aku dengan sangat jelas mengetahui rencana kamu membuat aku mendekatkan diri dan membuka hati pada Yvone."
"Tapi hati aku masih bertaut padamu!!"
"Maafkan aku Rangga!"
Mendengar hal itu Yvone yang tidak sengaja ingin mengambil air minum dan mendapati Rangga mengutarakan perasaannya pada Nina hatinya seperti ditusuk ribuan pisau di waktu bersamaan. Bahkan saat ini dia tidak bisa menggerakan tubuhnya, dia sungguh kecewa.
"Jika kamu merasa terbebani dengan kehadiran ku."
"Aku akan menghindari mu Rangga!!"
"Jaaangan!" Pekik Rangga ketakutan.
"I'm sorry...." Lirihnya kemudian dengan menundukan wajahnya.
"Tapi ijinkan aku sekali ini saja!!"
Nina mengerutkan keningnya mendengar kalimat membingungkan yang di lontarkan pria manis di depannya.
Wajah Rangga mendekat dengan wajah Nina, entah bagaimana gairah dan hasrat ingin kembali mencicipi bibir strawberry segar itu kembali di rasakannya.
Mata Nina teebelalak saat bibir itu kembali mendarat sempurna di bibir Nina. Rangga menarik tengkuk leher wanita pujaannya dan terus menyesap pelan bibir Nina yang masih tertutup rapat untuk di buka perlahan.
"Gaa!!" Nina mendorong tubuh Rangga perlahan.
"I'm sorry..."
"But...
"I love you..."
Wajah Rangga kembali mendekat, dia sengaja berhenti tepat hanya berjarak kurang lebih satu centimeter saja. Nina bisa merasakan hembusan nafas pria di depannya yang sudah terbaca tengah berhasrat padanya. Wanita itu menelan salivanya. Dia tidak mungkin mengijinkan Rangga kembali mencicipi bibirnya.
Bagaimana jika Hanssel memergoki kami?
"Aku minta satu kali terakhir ini saja Karen, ijinkan aku kembali merasakannya." Rangga membuyarkan lamunan Nina membelai lembut wajahnya membuat Nina meremang tanpa bisa di tahan ataupun di tolak.
"Hanssel yang telah merebut mu dari ku lebih dulu!!" Umpatnya lirih di depan bibir Nina yang masih mengatup rapat.
"Aku akan mengijinkan untuk terakhir kalinya!"
"Sebagai permintaan maafku terus menyakiti perasaan mu!"
Rangga menyeringai puas, tanpa ragu menarik dagu wanitanya dan kembali menyesap lembut dan kini menuntut. Nina sampai-sampai merasa turn on kali ini hanya karena mereka berciuman. Dia merasa ciuman ini lebih hot dari sebelumnya!!
✲✲✲✲✲✲