Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 83 - 1, 2, 3!



Bruuk!


"Kau gila!!!"


"Mau kemana kamu!!!"


Keenan segera menarik lengan Farah yang akan berlari keluar.


HAIIIISSHH DIA SUNGGUH BEBAN!


"Aku lebih baik mati tertembak saat ini juga!!"


"Aku ingat kakak bilang harus menjauhi kakak!"


"Aku sedang mematuhi perjanjian.... mmm"


Mulut Farah Keenan tutup dengan tangannya, dia menyadari seseorang tengah mendekat kearah mereka. Farah menyadarinya juga akhirnya dia bersikap patuh dan terdiam.


Keenan tengah menutup matanya dan mempertajam indra pendengarannya. Dia kembali mengandalkan EYES dengan kontak lensanya.


DOR!


"Arrggh!"


Satu tembakan Keenan layangkan pada musuhnya tepat di sudut 30 derajat dari dirinya. Farah Lee bisa melihat dengan jelas wajah kakak sepupunya, dia bahkan seolah tengah dalam situasi dirinya di selamatkan oleh team Avenger.


Bagaimana aku bisa berhenti mengaguminya! Dia begitu sempurna.


Farah menelan salivanya, detak jatungnya berpacu dengan deru nafasnya. Kemudian kedua netra mereka saling pandang. Dalam hitungan detik mereka menatap bersama tanpa bergerak.


"Cepat!"


Keenan menarik lengan Farah dia membawanya ke sebuah lemari persediaan minuman. Keenan menyuruh Farah masuk disana.


"Kamu tunggu disini!"


"Jangan bersuara dan jangan lakukan gerakan menarik perhatian!"


Farah hanya sanggup mengikuti aturan main Keenan dia ternyata memilih panjang umur saat ini.


Keenan menutup pintu lemari dan menguncinya dari luar. Dengan adanya Farah disisinya dia memiliki titik lemah yang menjadi poin bagus untuk musuh.


Dor!


Keenan meyakini bahwa tempat ini bukan hanya bertujuan sebagai tempat bertransaksi, melainkan menjebak dia dan teamnya.


"Sam laporkan situasi di luar?!"


"Kami kehilangan jejak target tuan!"


"Mereka dilindungi oleh pihak sana!"


"SIAL!!"


"BUNUH SEMUA YANG MASIH BERADA DISINI!"


"LEDAKAN TEMPAT INI!!"


"Tapi tuan area ini belum benar bersih dari warga sipil."


"Bereskan semua yang masih tersisa, aku habiskan yang berada didalam!"


"Noted!"


Kurang lebih 30 menit Keenan dan team melakukan penyerangan dan terlibat baku tembakan. Semua telah berakhir, pihak musuh yang terpojok melarikan diri. Sedangkan beberapa anak buah Keenan mengalami cedera.


"Sam, segera berikan perawatan medis pada mereka!"


"Baik tuan..."


Keenan menggunakan jam tangan canggihnya yang tidak hanya berfungsi menunjukan waktu. Baginya jam itu memiliki fitur canggih tidak sekedar menunjukan waktu saja. Dia tengah melakukan screening mendeteksi kehidupan di area yang sudah porak poranda oleh ulahnya. Dengan menggunakan sinar inframerah dia menyimpulkan kawasan itu sudah bersih. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Keenan menuju mobilnya dan bersiap meninggalkan kawasan sebelum pihak berwenang menemukannya.


Farah masih di dalam lemari dia seperti akan kehabisan oksigen saat ini.


"Perasaan udah sepi banget diluar."


"Suara tembakan udah ilang!"


"Kenapa kak Keenan belum juga menjemputku?!"


"Haloooo!"


Farah mencoba memanggil apa ada orang di luar sana yang bisa mengeluarkannya.


Di tengah jalan Keenan seperti melupakan sesuatu.


"Apa aku melupakan sesuatu?!"


"Apa ya?!"


Kemudian matanya terbelalak dan menghentikan Porsche 911 Hitam miliknya mendadak.


Ckiiiit!


"FARAH LEE SUNGGUH BEBAN!!!"


Keenan kembali memutar mobilnya menjemput sepupunya itu.


Braak!


Keenan menutup pintu dengan kesal, dia bergegas menemukan keberadaan Farah. Farah sudah mulai kehabisan oksigen, tubuhnya sangat lemas.


Kraaak!


"Faraah!!"


Farah terkulai lemas, kesadarannya menurun dia terjatuh di pangkuan Keenan.


"Akhirnya kakak ingat juga menjemputku!!!" Lirihnya.


Keenan menunjukan senyum tipisnya dengan ucapan kesal Farah padanya. Farah terbius oleh senyuman tipis Keenan sejenak terlebih dia berada didalam pelukan pria yang membuat dirinya memiliki 1001 rasa padanya. Keenan membantunya berdiri.


"Jalan sendiri!" Ujar Keenan dingin dan meninggalkan wanita itu begitu saja.


"Hah?!"


"Aku akan mengutukmu jadi kulkas dua pintu!!" Rutuk Farah lirih.


Keenan yang masih bisa mendengar suara lirihan Farah mengulumkan senyumnya tanpa sepengetahuan Farah.


"Tungguuu!"


Farah berlari kecil mengikuti kakak sepupunya yang sudah berlalu menjauh menuju mobilnya.


"Kakak in... mmmm!"


Farah yang akan mengomel tiba-tiba kembali di bekap oleh tangan Keenan keduanya berlindung di balik mobil.


"Tuan besar..."


"Apa kalian sungguh bodoh menghabisi seorang bawahan kepercayaan Wira saja tidak bisa!!"


"Maaf tuan lain kali...."


DOR!


"Aku tidak butuh lain kali!"


Keenan tidak menyangka dia bisa melihat langsung seorang Wijaya Saputra penjahat buronan internasional. Di depan matanya Wijaya membunuh anak buahnya.


"Lee..."


"Apa kita butuh recehan dari mereka?!"


"Obatku di produksi untuk kalangan atas!!"


"Maaf tuan, tuan Stephen dalam profilnya merupakan Direktur utama Bank AB"


"Dia membeli untuk putranya yang membangkangnya menolak perjodohannya. Memilih bersama wanita yang dia cintai."


"HAHAHAHAHA!!"


"AKU SUKA..."


"Aku memang menciptakan senjata biologis yang akan mengubah Cinta menjadi petaka!!"


"HAHAHAHAHA!"


"Hancurkan tempat ini termasuk Porsche di belakangku!"


Mata Keenan terbelalak secepatnya dia menarik tubuh Farah.


DUAAAAAARRR!!!


***


"Kakak terluka!"


Keenan membawa Farah menuju apartemennya. Beruntung saat ledakan terjadi dia bisa menemukan tempat perlindungan yang tidak terduga. Amblasan tanah diarea parkiran membuat dia dan Farah terhindar dari partikel besar saat ledakan terjadi. Mereka keluar setelah situasi aman dan memastikan tidak ada orang yang membuntuti mereka.


Dengan meminjam id Farah dia memesan taksi online di wilayah yang sedikit menjauh dari lokasi itu guna menghindari kecurigaan.


"Kotak P3K nya dimana kak?!"


Farah panik karena ternyata lengan kiri Keenan terluka. Keenan menduga dia mendapatkannya saat menghardik serpihan kaca yang akan mengenai Farah.


Farah bergegas mencari kotak pertolongan pertama itu. Keenan tidak bisa berkata apa-apa dia merebahkan dirinya di sofa. Hari ini untuk pertama kalinya misinya berantakan.


Farah sudah mendapatkannya dia mendekati Keenan.


"Kak, bisa kah kakak membuka baju kakak?!"


Dengan hati-hati Farah bertanya.


"Hmm..."


Keenan bangkit membuka pakaiannya patuh. Dimulai dari jas dan sekarang kemejanya dia lempar sembarang.


Aarrghhh!


Farah terpaku dan mimisan melihat tatanan roti sobek beraneka rasa dia berharap ada rasa kesukaannya coklat keju wijen!


"Kau terluka juga?!"


Tanya Keenan saat melihat ada darah di hidung Farah.


"Owh ini, udaranya panas jadi aku alergi dan...."


Keenan melengkungkan senyumnya dengan respon gelisah Farah.


Aku tidak menyangka gadis ini menggemaskan.


Oh Farah bodoh!!! Pake mimisan segala!!


Keenan kembali merebahkan dirinya. Farah yang salah tingkah mendekati kakak sepupunya dan mulai mengobati luka lengannya.


"Untuk cuma tergores!" Ujar Farah lirih.


Keenan tengah lelah, dia menutup matanya namun masih bisa merasakan sentuhan lembut tangan Farah. Sesekali Keenan menelan salivanya.


"Aargh!!"


"Aahh apa aku menyakiti kakak?!"


Farah terkejut Keenan tiba-tiba bangkit dengan jeritan. Pria itu sedang mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Farah di malam terkutuk itu.


"Sudah selesai..."


Farah telah membalut luka lengan Keenan dengan perban. Pria itu memperhatikan gerak gerik gadis manis yang menggemaskan di depannya. Dengan dress yang lumayan terbuka membuat Keenan merasa haus saat ini juga.


"Terima kasih..."


Keenan mengucapkannya lirih dan bangkit mengambil minumnya. Farah menunduk tersipu malu.


Hey! Rasanya ada yang salah... Bukannya aku membencinya? Mengapa aku justru merasa bahagia... Haissh!!


"Kamu mau minum apa?!"


"Susu coklat!"


"Buat sendiri!"


"Tadi nawarin?"


"Manja!"


Farah tertawa kecil, dia bangkit dan menuju dapur.


"Nih..."


Farah memperhatikan gelas yang terisi susu uht coklat itu dengan mimik curiga.


"Kenapa?!"


"Apa kau pikir aku meracunimu?!"


Farah mengambilnya dia segera menenggaknya. Dia ingat jangan membuat perkara dengan kakak sepupunya.


"Aku lapar!"


"Semua kejadian itu membuat energi ku merosot!"


"Hah?!"


"Kau terlalu dimanjakan oleh keluargaku sampai seenaknya begini!"


"Oh itu..."


"Tiba-tiba aku kenyang sekarang!!"


Farah berlalu kembali duduk di sofa.


"Apa disini ada baju Karen?!"


"Bisa aku meminjamnya?"


"Tidak, dia tidak pernah disini!"


"Bagaimana dengan meminjam baju kakak?!"


"Ambil di lemari sana!"


"Emosian cepet tua ga laku baru tau rasa!"


"KAU!!!"


Farah cekikikan menuju area wardrobe yang di tunjukan kakak sepupunya. Dia memilih kaos oversize yang pas di badannya.


"Kak aku numpang mandi ya!!"


Braak!


Tanpa persetujuan Keenan dia sudah memakai kamar mandi depan.


"Ada wanita di rumah ku apa ini pertanda baik atau buruk?!"


Keenan menuju kamarnya membawa satu botol wine. Harinya sungguh melelahkan di tambah hadirnya Farah membuat dia tidak tenang.


✲✲✲✲✲✲