
Nina tengah menyiapkan sarapan pagi, Hanssel bangun terlambat saat ini. Dia terperanjat saat mengetahui tidak ada siapapun di sampingnya.
Bergegas dia memakan piyama tidurnya dan keluar kamar memastikan.
"Tunggu ini rumah Nina?" Gumamnya saat menuju area dapur.
Senyumnya mengembang saat melihat istrinya tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya.
"Kau sudah bangun?"
Hanssel merangkul Nina dari belakang dan menciumi tengkuk lehernya. Nina tengah menata sup asparagus dan roti panggang.
"Kamu tega ninggalin aku sendiri di kamar!!" Rengek Hanssel seperti Jimmy saat tengah merajuk.
"Kau sudah besar!!" Canda Nina dengan senyuman manisnya.
"Mandi sana aku tunggu 5 menit kita sarapan bersama." Ujar Nina kemudian dengan membalikan badan dan memegang wajah prianya dengan kedua tangannya.
Hanssel mencium pipi Nina saat akan menuntut lebih mereka terhenti oleh celotehan Jimmy.
"PAPA HANSSEL!!"
Hanssel membalikkan badannya menundukan badannya dan merentangkan kedua tangannya menyambut putra kesayangannya.
"Anak kesayangan papa!!"
"PAPA RINDU!!"
Dia menciumi pipi Jimmy gemas.
"Papa bau!!" Ejeknya.
"Ups..."
Mereka tertawa bersama, Hanssel bergegas membersihkan dirinya dan sudah tidak sabar bergabung kembali dengan keluarga kecilnya. Hanya bersama mereka Hanssel merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Di kediaman besarnya akan sangat dingin sepi dan masing-masing. Berbeda saat bersama Nina dan putranya. Dia seolah tengah flash back melihat film dokumenter perjalanan seorang ibu merawat putranya dengan penuh kelembutan.
"Papa Hanssel... Ibu bilang papa tidak akan pernah datang lagi!"
"Papa katanya mau pergi jauh dan lama!"
UUHHUUUKKK!!
Nina menyemprotkan yogurt dingin yang tengah dia minum. Raut wajahnya pucat seketika. Terlebih saat Hanssel menatapnya penuh emosi dan kecurigaan.
"Benarkah demikian?" Tanya Hanssel pada Nina.
"Itu... Karena..." Nina tengah berpikir.
"Apa kamu lupa hari ini pas satu bulan kita?!" Nina ingat dan kemudian berujar dingin.
Hanssel menghentikan suapan terakhirnya. Dia mendadak tidak berselera sepagi ini Nina mengajaknya baku hantam.
"Apa kamu lupa kalau kita sudah menikah?!"
"Aku menikahimu bukan memacarimu!!"
Hanssel berujar tak kalah dingin dan kembali menyantap suapan terakhir dari sarapannya. Mengabaikan respon Nina saat ini yang tengah terpaku dan tidak percaya atas ucapan dirinya.
"Jimmy, papa akan selalu berada di sampingmu selama kamu menginginkannya."
"Benarkaaah?!"
"I love you papa Hanssel!!"
Jimmy turun dari kursinya dan segera memeluk papa sambung yang amat dia sayangi itu. Hati Hanssel kembali hangat setelah sebelumnya di buat kesal oleh istrinya, perlakuan Jimmy justru menjadi obat baginya.
"Aarghh!!"
"Hanss kita akan terlambat.."
Hanssel sangat kesal pada istrinya, bisa-bisanya dia sudah mulai menjauhkan Jimmy dengannya saat ini. Dia kembali mengerjai istrinya dengan liarnya. Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Selain menghukum istrinya dia juga kembali menikmatinya.
"Aarrghh Karennina!!"
"Aku tidak akan mungkin melepaskanmu!!"
Hanssel telah mencapai puncaknya, dia menggendong Nina menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Mereka benar-benar terlambat, "Hilang sudah kompensasi absensi ku!!"
Nina terus merutuki suaminya kesal. Hanssel terkekeh dengan tingkah karyawan teladannya yang saat ini tengah menurunkan prestasinya ulah bosnya sendiri.
Saat mereka berdua menuju ruangannya terlihat Catherina telah berada di ruangan Nina menunggu keduanya.
Hanssel yang tengah menggenggam tangan Nina tiba-tiba melepaskannya. Terlihat Catherina menatap sinis pada Nina.
"Apa yang membuat kalian berdua datang siang bersama?" Tanya Catherina mencurigai mereka.
"Kami kebetulan ada jadwal bertemu klien di luar namun di batalkan." Ujar Nina menjawab dengan lugas. Hanssel mengulumkan senyumnya.
"Kamu sedang apa?" Tanya Hanssel pada Catherina.
"Bukankah hari ini aku mulai bekerja di bagian pemasaran?" Tanya Catherina kesal.
"Nina kamu suruh manager pemasaran menghadap kemari."
"Baik tuan."
Nina memasuki ruangannya melewati Catherina begitu saja. Dia sudah harus bersikap seperti semula, walau dia masih merasa sakit di hatinya namun semua tidak boleh menghancurkan segala rencana yang sudah dia susun kedepannya.
Baginya jangan pernah melibatkan perasaannya kembali, mau di sakiti atau di hina sekalipun selama dia tidak melanggar humum dan segera mendapatkan Suho kembali dia tidak akan peduli lagi.
Cih!! Aku perlu mengawasi perempuan ini!! Berarti isi dalam kertas itu mungkin memiliki arti yang sejujurnya!! Bagaimana bisa Hanssel menyukai wanita jelek seperti dia!! Aku harus segera menyingkirkannya.
Catherina mengekor di belakang Hanssel, ingin rasanya dia segera menanyakan hubungan keduanya. Hanssel mencoba mengacuhkannya sampai Catherina merangkulnya dari belakang.
"Hans... Kamu begitu dingin padaku..."
"Ini di kantor..."
Hanssel melepaskan rangkulan mantan kekasihnya.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Hans, kita sudah akan bertunangan kenapa kamu begitu acuh!!"
"Bukankah kamu sangat tahu mengapa aku berubah seperti ini?!"
"Aku minta maaf Hans..."
"Please ngertiin aku di posisi itu!!"
Ctherina menunduk dengan meneteskan air mata..."
Hanssel yang melihatnya merasa iba "Sudahlah..."
"Kamu bisa menunggu sebentar..."
Hanssel melanjutkan verifikasi pekerjaannya.
"Aku lihat hubunganmu dengan sekertaris mu sungguh harmonis."
"Aku bahkan mendengar beberapa rumor mengenai dia yang terus menggodamu!"
Catherina mulai menginterogasi pria yang akan menjadi suaminya kelak.
"Itu hanya rumor... Sekertarisku tangan kiriku!"
"Dia yang terbaik tidak ada yang bisa menggantikan dia..."
"Bahkan seluruh klien ku menginginkan dia!!"
"Ck... Apa dia memakai sihir?"
"M Maksudmu?"
Hanssel mengerutkan keningnya, setelahnya menggelengkan kepala dan menyeringai.
Tuuut!!
"Iya..."
"Manager pemasaran sudah tiba tuan..."
"Suruh masuk..."
"Oh iya jangan lupa persentasi siang ini untuk mr. K jika tidak habis sudah kita!!" Lirih Hanssel membuat Catherina mendelik ke arahnya curiga.
"Permisi tuan..."
"Iya duduk tuan Chang..."
***
Siang harinya keduanya telah berada di salah satu ruangan hotel sama seperti sebelumnya. Kini Nina tidak menghindar dia harus bersikap profesional.
"Maafkan saya Mr. K kemarin saya benar-benar apes." Nina menundukan tubuhnya.
"Baik tidak masalah..."
"Kamu bisa menebusnya hari ini."
Keenan segera meminta Nina untuk kembali.
"Terima kasih atas kesempatan yang masih anda berikan pada kami." Ujar Hanssel menjabat tangan Keenan.
"It's okay..."
"Terlebih saya sangat penasaran dengan nona Nina!"
Nina memicingkan matanya seolah mengatakan JANGAN!
"Wow, seperti yang tuan Ron bilang kamu sangat mengerti klien mu..."
"Kamu paling tahu aku menginginkan apa saat ini!!"
Nina berekspresi memutar bola matanya dan memajukan bibirnya di belakang Hanssel dengan sekuat tenaga Keenan tidak tertawa.
"Manis.... Seperti orang nya..." Keenan mengekspresikan seolah menggoda Nina.
"Aku tebak kamu membelinya di grocery G bukan!!"
"Rak paling belakang!"
Hanssel membulatkan matanya, mengapa patner bisnisnya kali ini sedikit diluar batasan terlebih pada istrinya.
Nina membelikan buah favorit kakaknya Strawberry yang akan dimintanya di Grocery G di barisan paling belakang entah mengapa kakaknya itu memiliki kebiasaan yang aneh seperti itu. Nina mengisaratkan dengan tangannya bahwa dia akan memenggal kepala kakaknya.
Segitu tidak ingin diketahui bosmu kamu adikku!!
"Maaf Mr. K anda sungguh tidak sopan menggoda sekertaris saya!!"
"Hah?!" Keenan membulatkan matanya dan menyeringai menyukai untuk semakin mengerjai mereka.
Nina tengah menepuk jidatnya dalam keheningan dengan mimik wajah frustasinya.
Sialan!! Nina padahal sudah berpenampilan kuno seperti ini tapi tuan Ron dan Mr. K benar-benar tergoda olehnya!! Bagaimana jika Mr. K tahu tampilan asli Nina!!
Sedari awal aku curiga mengapa dia menginginkan Nina melakukan semua persentasi kerja sama ini!!
Hanssel mengepalkan tangannya cemburu.
✲✲✲✲✲✲