Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 126 - Day by Day



Rangga dan Yvone sudah berada di kediaman Nina di Beverly Hill, tanpa sadar dia terus menggandeng tangan Yvone selama berjalan dari pelataran basement hingga kini berada di depan unit milik Nina.


"Cieee!!"


"Gue minta pajak ya?!"


"Apa sih!!" Rangga menyadari dan segera melepas genggam tangan Yvone.


Yvone menyadari sepertinya di depan Karen, Rangga selalu menjaga sikapnya.


Apa mungkin dia menyukai nona Karen. Tapi siapa sih yang ga menyukai dia?! Aku juga jika lelaki akan sangat mendambanya.


Yvone merasa sakit hatinya, menyadari sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Ibuuu!!"


Jimmy menghambur memeluk ibunya setelah pintu rumah di buka oleh anak buahnya.


"Papa Ranggaaaa!!"


"Jimmy sayaaaang!!"


DEG!!


Maksudnya apa iniii!!!


Yvone terbelalak memandang kedekatan Rangga dengan anak yang paling besar dari wanita yang akan menolongnya.


"Kamu jangan salah sangka, anak ku memang senang memanggilnya papa."


"Tapi dia bukan ayahnya bahkan bukan suami ku!"


Nina menyadari kegelisahan Yvone, dia mendekati dan memberikan angin sejuk bagi panas hatinya yang sudah membara.


Rangga memajukan bibirnya kesal Nina menjulurkan lidahnya menggoda.


"Terus mana papa Hanssel?!"


"Loh oom ga tahu kalo papa Hanssel sakit?!"


"APAAA?!"


Rangga terkejut dengan penuturan polos anak angkatnya.


"Udah baikan, dia sedang mengurus beberapa hal di Adamson."


"Mungkin dia akan menyusul kemari."


"Dia masih harus di pantau."


"Sama seperti Yvone, dia menjadi salah satu percobaan obat varian terbaru dari musuh ku."


Nina menutup pintu kulkasnya dengan sendu. Rangga tidak menyangka hanya satu pekan dia meninggalkan ibu kota kejadian tidak terduga silih bergantian. Yvone juga merasakan suasana menjadi sendu diantara mereka.


"Sebenarnya apa sih yang mereka incar?!" Sungut Rangga ingin mengetahui duduk permasalahannya.


Mereka telah duduk di ruang tamu, Jimmy sudah Nina perintahkan bermain di kamarnya bersama nanny.


"Aku tidak tahu pasti, namun setahuku keduanya sudah bermusuhan sedari lama."


"Aku tentu saja mengikuti tuanku, dan kami berperang melawan musuh dengan satu tujuan mengambil antisera dari obat yang bernama Wang!"


"Obat itu diindikasikan digunakan untuk menghilangkan ingatan seseorang."


"Kabar terbarunya adalah, perang senjata biologis ini terjadi karena kedua anak mereka menjalin kisah asmara."


Rangga membuka mata dan mulutnya lebar. Hanya karena restu percintaan anak mereka?! Impossible!!!


Yvone masih menyimak semua percakapan serius dari keduanya.


"Yvone, apa kamu bisa mengingat sesuatu?!"


"Karena kamu tiba-tiba datang mendekatiku dan mencoba membunuh ku!"


"Itu lah alasan mengapa kakak ku menyiksa mu!"


JEDEEER!


Tubuh Yvone bergetar hebat, namun ajaibnya sikap impulsifnya tertahan tidak seperti biasanya. Dia menangis saat tubuh Nina sudah tepat di sampingnya. Nina merangkul wanita itu, memberikan energi positif dan menenangkannya.


"Aku minta maaafff!!!" Pekik Yvone di sambut isak tangisnya. Karena hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya.


Nina melayangkan senyuman tipisnya dan terus mengusap lembut rambut serta punggung Yvone. "It's okay..."


"Walau tidak buru-buru namun kita akan terus mensimulasikan agar syaraf di otakmu juga mendapat rangsangan."


"Dunia terlihat sangat tidak adil bagi manusia yang lemah dan mudah putus asa."


"Dunia juga terlihat sangat kejam pada kita yang sudah bekerja keras namun masih belum juga terlihat jelas hasilnya."


"Dunia juga kadang menganggap kita sampah saat kita tidak bisa memuaskan persepsi kebanyakan orang."


"Tapi percayalah, sekeras apapun kamu meyakinkan orang-orang, mereka sendiri tidak akan puas."


"Manusia adalah makhluk paling serakah."


"Mulai saat ini, mari kita sama-sama keluar dari belenggu ketidak adilan."


"Kita bisa mengubah takdir kita dengan terus yakin berdoa dan berusaha."


"Karena tidak ada hasil yang mengkhianati usaha."


"Berdirilah di tempat dimana kamu di hargai."


"Yakinlah pada orang yang selalu disampingmu, menerima mu dalam keadaan terbaik dan terburuk mu!"


Yvone semakin terisak dengan beberapa kata yang cukup menusuk dan membuka pikirannya. Rangga yang menyaksikannya tidak pernah terpikir Nina yang selalu terlihat bar-bar itu memiliki sisi yang lembut. Walau sejunurnya dia sangat tahu, karena hal itu dia selalu terjerat dengan wanita yang sampai saat ini tidak bisa menerima cintanya.


Ah, Karen... Mengapa sangat sulit melepas bayangan mu!


"Sudah kenyang nangisnya??!" Tanya Nina lembut.


"Saat pertama kali keluar rumah sakit aku seperti bermimpi."


"Mimpi buruk..."


"Aku sengaja tidak menceritakannya pada kak Rangga."


"Aku takut..."


Nina kembali menggenggam jemari tangan Yvone.


"Aku seperti tengah mencuri sebuah benda berharga di sebuah pelelangan, dan aku...." Yvone memegang kepalanya.


"Cukup!"


"Kamu istirahat lah lebih dulu..." Hardik Nina merasa Yvone dalam mode kelebihan tekanan.


Yvone menggeleng, "Aku ingat saat aku bermain di Disneyland aku bertabrakan dengan seseorang dia bernama DION."


"Aku ingat lagi satu nama lainnya, Saraah dan tuan Don!" Yvone memaksakan kembali ingatannya dengan terus mengeratkan matanya yang tertutup.


"Aku pernah berada di sebuah ruangan seperti bangsal bawah tanah. Tempatnya berada di sebuah danau!"


Nina dan Rangga menjadi serius mendengarkan cerita Yvone. Nina mengangkat tangannya dan anak buahnya mengerti apa yang di inginkan nona mudanya.


Yvone terbelalak "PAPAAAA!!!"


Sekelebat kejadian dimana ia kembali melihat papa, ibu dan adiknya melakukan kerja paksa terpampang jelas.


"Tenaaang..."


"It's okay..."


"Kamu sungguh hebat!!"


"Kamu sudah berusaha dengan keras, sekarang kamu istirahatlah..."


"Tidaaak!!"


"Keluargaku dalam bahayaaa!!"


"Mereka menjadikan keluarga ku budaaak!"


"Aku bisa menjadi bagian dari mata-mata karena aku memiliki sumber daya dan mengerti beberapa cara melakukan sabotase meretas sistem!!!"


Nina tersenyum, akhirnya apa yang dia inginkan dia dapatkan bahkan dalam waktu yang terbilang singkat.


Nina kembali menarik tubuh ringkih Yvone dan memeluknya erat.


"Good girl..."


"Kamu tenang saja, kami akan mengeluarkan keluargamu..."


"Tugas mu mengingat dimana jalan masuk menuju ke kawasan persembunyian mereka."


"Syukur-syukur jika kamu tahu dimana letak laboratorium mereka."


"Laboratorium?!" Guman Yvone.


"Laboratorium itu terletak persis di bawah danau!"


"Markas mereka di bawah danau itu!"


"Kami akan dibawa menggunakan lift kebawah tanah."


"Ayah ku merupakan ahli alkimia dan pakar pembuatan mekanisme teknik mesin."


"Aku ingat!"


***


Semenjak pertemuan dengan wanita cantik tempo hari Farah merasakan kegelisahan dalam hatinya.


"Kenapa ini?!"


"Nak, jangan bilang kamu rindu ayahmu!"


"Dia ada dimana saja ibu tidak tahu!!!"


"Huhuhu..."


"Sudah dua hari juga aku merasa gelisah memikirkan Karen."


"Jika aku hubungi dia terus dia terbang kesini bisa bahayaa!!"


Farah terlonjak saat dering ponselnya memecah kekhawatirannya. Farah mengatupkan bibirnya, dia tengah bingung.


"Iya bu..."


"Kamu udah beberapa minggu tidak pulang ke rumah apa kamu pergi keluar kota?!"


"Maaf bu..."


"Aku memang ada pekerjaan keluar KL."


"Anak durjanaa kamu tidak pamit pada ibu?!"


"Bikin khawatir aja!!"


"Maaff..."


Bukan tidak ingin namun tidak bisa, perutnya sudah membesar. Dia belum bisa berterus terang, dia tidak ingin membuat wanita yang dia sayangi itu kecewa akan pilihannya yang memang bukan keinginannya.


Farah menutup tokonya lebih awal, dia merasa kelelahan kali ini. Dia bergegas merapikan dan berjalan menuju salah satu groceries membeli keperluan kebutuhan di rumah yang sudah hampir habis. Namun saat keluar dari toko dia berpapasan dengan seseorang yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


"FARAAH LEE?!!!"


✲✲✲✲✲✲