
"Maaf kak membuat kakak menunggu lama!"
Yvone segera memasuki mobil Rangga.
"Apa bos mu sudah pulang?"
"Sudah kak, barusan suaminya menjemputnya..."
Yvone menatap wajah Rangga yang tiba-tiba murung.
"Kak, bagaimana kalo kita ke bar malam ini?"
"Hah?!"
"Sepertinya kakak butuh melepaskan emosi kakak hari ini."
Yvone mengucapkannya seolah memberi konotasi lain.
"Okey... Aku ikut kamu saja!"
"Benarkah?!!"
Rangga menatap wajah Yvone lekat, rasanya wajah Yvone sekilas sangat mirip dengan Karennina. Dia sedikit gelisah saat ini. Rangga kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Hatinya tiba-tiba berdegub kencang, dia kembali mengingat siang tadi dia mencium Nina.
Aku ingin tahu reaksi Hanssel saat tahu aku mencium bibir istrinya. Apa dia akan memukul ku?
Rangga mengulumkan senyumnya, Yvone yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya tersipu malu. Dia salah mengartikan di balik senyuman Rangga.
Apa kak Rangga tiba-tiba ada perasaan padaku? Aku cantik gini masa iya dia nolak kan ya?
Tapi kalo aku terang-terangan ngejer dia malu gak sih?!
Yvone membuang mukanya ke luar jendela. Dia tidak pernah berencana memiliki pasangan. Terlebih saat ini sejujurnya dia tengah melakukan pekerjaannya.
"Kenapa melamun?" Tanya Rangga.
"Eh..."
Yvone tersadar, keduanya telah berada di pelataran salah satu hotel ternama di ibu kota.
"Kenapa kakak ajak aku kesini?" Yvone terkejut dan menutup tubuh bagian depannya dengan kedua tangannya.
Rangga menautkan kedua alisnya keheranan. "Kamu bilang mau makan terus ke bar?"
"Eh.. Hahaha!"
Yvone sungguh sangat malu, sedari tadi berfantasi liar dengan pria tampan di sebelahnya dia melupakan apa tujuan awal mereka. Keduanya turun dari mobil dan masuk ke area restaurant hotel untuk makan malam dan minum.
***
Keenan mengunjungi adiknya di kantor, dia melewati meja yang biasa di tempati Farah namun betapa terkejutnya dia saat yang dia lihat bukan Farah.
Dimana bocah tengik itu?!
Keenan melaju dingin melewati Yvone.
"Maaf tuan, ada keperluan apa anda kemari?"
"Apa anda sudah membuat janji dengan tuan saya?"
Keenan menghentikan langkahnya dan menatap dingin pada sekertaris baru Nina.
"Kamu anak baru ya?!"
"Kamu tidak sopan pada pemegang saham terbesar di Suho saat ini!"
"Aku tidak membutuhkanmu..."
"Kamu boleh mengemasi kembali barang-barang mu!!"
DEG!!
Wajah Yvone berubah pucat "M-Maaf kan kelancangan saya tuan..."
"M-Maaf saya tidak mengetahuinya..."
Yvone berkali-kali menundukkan badannya, sebagai permintaan maaf atas kelancangannya. Nina yang tengah memeriksa berkas mendengar keributan di depan ruangannya akhirnya beranjak dari kursinya dan keluar memeriksa.
"Kak..."
"Siapa dia?"
KAKAK? Yvone kembali pucat saat dia tahu bahwa pembunuh yang bernilai seratus juta usd di jaringan hitam itu adalah kakak dari wanita yang tengah dia incar.
"Haish.."
"Dia sekertaris baruku, wajar dia tidak mengenalmu..."
"Dimana Farah?!!"
Nina melihat ekspresi tidak biasa kakaknya yang bertanya perihal sepupu jauhnya. Biasanya pria itu tidak pernah memperhatikan lebih sebelumnya.
"Aku sedang dalam mood yang baik!"
"Kamu masih bisa di posisimu."
"Sebagai gantinya gaji bulan ini kamu tidak akan mendapatkannya."
Nina menepuk jidatnya dengan kekehan kemudian kembali keruangannya tidak ingin juga membela sekertaris barunya. Itung-itung peringatan awal karena dia berniat tidak baik padanya. Setelah mengucapkan dingin dan angkuh Keenan menuju ruangan Nina.
"Astaga!!"
"Jantung gue hampir copot!!"
"Pantas aja Farah ga betah disini!!"
Yvone kembali duduk di meja kerjanya mengambil tissue dan membasuh wajahnya yang sudah mengeluarkan keringat dingin sedari tadi.
Tapi aku sungguh beruntung, bisa melihat langsung wajah seseorang yang diincar nyawanya di jaringan hitam. Jika aku bisa membiusnya dan membawanya di hadapan tuan besar hidup-hidup aku bisa menyelamatkan keluargaku bahkan aku bisa membuka kerajaan bisnisku ke depannya.
Yvone kembali berfantasi dengan kehidupannya saat ini.
"Kemana dia?"
"Siapa?"
"Farah..." Keenan mengucapkan lirih.
Nina menatap kakaknya penuh kecurigaan. "Mengapa kakak tiba-tiba peduli padanya?"
"Ehm... Biasa dia sangat berisik di depan..." Bual Keenan membuang muka.
"Kamu merasa kehilangan?"
Deg!
"Bagus juga dia tidak ada, kupingku sakit mendengar suaranya!!"
Nina mengulumkan senyumnya. "Daniel kembali masuk rumah sakit, dia bilang ingin menemani ibunya."
"Hal yang aku minta apa kakak sudah dapatkan?"
Keenan terdiam sejenak, Orang yang aku utus di KL tidak ada melaporkan apapun mengenai Daniel. Apa Farah berbohong?
"Kak?!" Nina kembali memanggil kakaknya yang terlihat seperti tengah berpikir.
"Apa kamu ingin aku membeli jantung dari lapak jual beli organ ilegal?" Ujar Keenan dingin.
"Ya bukan gitu!!"
"Kamu kan ikut serta dalam perdagangan pasar gelap, siapa tau bisa mendapat informasi mengenai orang yang membutuhkan uang dan bersedia menukarnya..." Nina menggantung kalimatnya.
"Karen..."
"Kita juga tidak bisa egois, siapa yang ingin mengorbankan jantungnya begitu saja hanya karena uang?"
"Kau berniat menghidupkan Daniel kembali dengan mematikan nyawa orang lain?"
"Apa kamu setega itu?!"
Nina mengatupkan bibirnya erat, dia juga menelan salivanya.
"Aku tahu kepedulianmu terhadap keluarga Lee sangat besar."
"Tapi kita juga tidak bisa melawan takdir bukan?"
"Belum tentu juga tubuh Daniel bisa beradaptasi dengan jantung baru milik orang lain."
"Semua memiliki resiko yang sama besarnya."
"Kamu tidak bisa gegabah!"
"Aku juga tidak diam begitu saja, kita serahkan pada team ahli yang menanganinya."
"Sejauh ini mereka sudah aku bayar mahal."
"Mereka tidak mungkin mengkhianati keluarga Kaviandra."
"Kita tunggu kabar baiknya."
Nina mengusap kedua netranya, "Maafkan aku..."
Keenan beranjak dari tempatnya menjentikan jarinya dan kembali membuat ruangan itu dalam mode smoking room.
"Gue lagi hamil WOY!" Rutuk Nina kesal dengan tingkah kakaknya yang jika banyak beban pikiran akan menghabiskan cerutu dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Sorry..."
Keenan melayangkan senyum tampannya dan kembali menjentikan jarinya membuat ruangan itu kembali seperti semula. Yvone yang tiba-tiba menghadap membuka matanya lebar. Selain terpesona oleh kecanggihan kantor yang dia tempati. Dia dibuat kagum oleh pria tampan di depannya.
Alangkah beruntungnya aku, jika aku bisa membuat Mr. K takluk padaku!!
"Maaf tuan, saya membuatkan kopi untuk tuan besar."
"Okay kamu bisa taruh di meja situ."
Yvone berjalan gugup menuju meja yang tak jauh dari Keenan berdiri saat ini, dia merasa Keenan memperhatikan gerak geriknya dengan tatapan nyalang dan mematikan.
"Tunggu!"
Keenan menghentikan langkah kaki Yvone yang akan keluar ruangan. Jantung Yvone seolah berhenti berdetak kemudian kembali berpacu dengan cepatnya. Nina beranjak dari kursinya merasakan atmosfer diruangannya seketika dibawah tekanan normal.
"I-iya tuan..."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Dengan gemetar Yvone membalikan tubuhnya menghadap Keenan. Keenan melangkah mendekati Yvone, menyelidik wanita itu dari atas hingga bawah.
Kraaaak!
"Aaarhhh!!"
Yvone terkejut saat Keenan menodongkan senjata tajamnya yang tiba-tiba bisa berada di tangannya.
"Siapa kamu?!"
"A-ampun tuan saya hanya orang biasa, saya kebetulan di bantu oleh nona Nina dari incaran keluarga saya."
Yvone tengah dalam mode ketakutan luar biasanya, apa mungkin penyamarannya akan terbongkar saat ini juga. Dia lupa bahwa Keenan memiliki sumber daya dan anak buah yang banyak di penjuru dunia. Bukan tidak mungkin jika keberadaannya akan dengan sangat cepat di ketahui olehnya. Yvone sedang dalam keadaan tidak beruntung saat ini.
"Kak!"
"Diam disitu!!"
Keenan memperingati adiknya agar tidak ikut campur dengan urusannya. Dia semakin mendekati Yvone, Tvone beringsut mundur.
"MINUM KOPINYA SAAT INI JUGA!!!"
"a p a ?" Lirih Yvone tersentak oleh makian Keenan.
Dengan cepat Keenan kembali memasukan senjatanya dan berganti membawa cangkir kopi yang di hidangkan Yvone barusan. Mata Yvone terbelalak saat tenggorokannya tengah di cekik oleh satu tangan Keenan dan membuka paksa mulut wanita itu dan meminumkan kopinya.
Bruuukk!
"Uhuukk... Uhuukkk..." Yvone terjatuh dan terbatuk memegangi lehernya.
Nina menundukan wajahnya, situasi seperti ini bukan yang pertama kali di lihat oleh Nina. Namun melihat kebersamaan dia dan Yvone dua hari terakhir membuatnya sedikit iba.
Apa karena aku hamil aku menjadi tidak memiliki pendirian yang teguh?
Nina kembali merasa kinerjanya semakin payah.
"Kau belum merasakan sesuatu?!" Kenan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tubuh Yvone yang masih terduduk di lantai.
"Apa yang kamu masukan dalam kopi ku?"
"A-ampun tuan, saya tidak mengerti."
"Saya tidak memasukan apapun..."
Yvone memang berencana memberikan racun pada kopi yang di hidangkannya. Racun Halusinogen yang berbahan dasar Licercik Acid Dhietilamide (LSD) yang memiliki tujuan mengontrol emosi dan sifat yang meminumnya.
Apa aku akan mati saat ini juga?!
Yvone sungguh gegabah, hanya karena melihat ketampanan Keenan dia buru-buru melakukan serangan sebelum di rencanakan dengan matang.
✲✲✲✲✲✲