Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 142 - Dirty Trash



Dengan tubuh bergetar dan air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata Yvone dia bangkit dari lantai. Berusaha tersenyum.


"Terima kasih nona..."


"Aku sungguh beruntung bertemu dengan anda."


"Aku..."


"Aku tidak pernah merasa di cintai sepenuh hati seperti ini selain dari keluarga ku."


"Anda dan kak Rangga adalah orang asing yang memberi ku kesempatan menjalani kehidupan untuk kedua kalinya."


Yvone berjalan menuju meja bar yang tak jauh dari mereka, membawa satu gelas minuman yang sudah berisi racun untuk Karennina.


"Aku lebih memilih mati menyelamatkan anda dibanding harus menusuk anda dari belakang!"


PRAAAAANG!


Yvone menjatuhkan gelas itu tepat di hadapan Nina dan Hanssel membuat keduanya terkejut.


"LARIII NONA TEMPAT INI SUDAH DI KEPUNG OLEH ANAK BUAH WIJAYA!!!"


Di salah tempat persembunyian musuh mereka mengumpat atas tindakan Yvone yang mengkhianati mereka.


"DA*MN YVONE!"


"YOU'RE BASTARD!!!"


DOOOOOORR!


PRAAAAANG!


"AAARGGHHH!!"


Semuanya menunduk saat tembakan peringatan musuh telah di layangkan di kediaman mereka.


"SHIIIIITTTT!" Umpat Hanssel dia menarik senjata dari saku kemejanya.


DORRR! DORRR! DORRR!


"YVONE!!" Maki Hanssel emosi ingin sekali melenyapkannya. Jika bukan karena istrinya ingin memastikan keadaan gadis pengkhianat ini mungkin mereka tidak akan terjebak kembali dalam situasi krisis seperti ini.


Karennina menatap Yvone haru, ada sebuah kebanggaan dalam dirinya, Yvone memiliki sumber daya yang cukup menjadi anak buahnya kelak. Yvone menundukan tubuhnya dalam balutan ketakutan luar biasa. Seluruh anak buah Hanssel dan Nina melindungi tuannya.


BUUUUMMMM!!!


Ledakan di gerbang depan membuat musuh bisa memasuki Villa mereka dengan bebas. Beberapa anak buah Karennina tewas di tempat.


"Tetaplah di belakang ku sayang!!!" Mata Hanssel tengah berkaca dia sungguh takut.


"Sayaang..."


"I'll be fine, selesaikan mereka saat ini juga."


"Jangan pedulikan aku, aku akan membantu mu."


"Jangan perlihatkan kelemahan mu di hadapan mereka!"


Nina menenangkan suaminya, dia mencium singkat bibir Hanssel, kemudian menarik senjata Glock miliknya yang sudah dia siapkan sebelumnya. Mengaktifkan system EYES di jam tangannya. Dia mulai bergerak menarik tangan Yvone menuju keluar bangunan Villa dan melarikan diri. Nina mengaktifkan earphone dan berkomunikasi dengan anak buahnya. Hanssel memastikan jalan yang di lewati istrinya bebas dari musuhnya.


"YVONEEE!!"


DOOORRR!


Nina menyadari musuh membidik Yvone dan dengan cepat Nina mendorong tubuh Yvone agar terhindar dari peluru yang menargetkannya.


Brruukk!!


"AAARRGGHHH!!"


"KARENNINAAAAAAAA!!!"


Keduanya terjatuh, Yvone dan Nina terbentur di lantai, sialnya Nina tidak sempat membalikan tubuhnya melindungi perut besarnya. Yvone menutup mulutnya dengan kedua tangannya, membanjiri wajahnya dengan air mata yang terus mengalir tubuhnya tiba-tiba tidak bisa dia gerakkan. Secepatnya Hanssel membidik musuh yang sudah sangat berani menyerang batas kesabarannya.


DOOORR!!!


DOOORR!!!


DOOORR!!!


Hanssel berlari dengan cepat kearah Nina.


"SAYAAANG!"


"BERTAHANLAH!!"


"CHEN, SIAPKAN MOBIL KITA KELUAR NINA TERLUKA!"


"Aaarhh Hanssell..." Rintih Nina, darah segar mengalir dari se*langkangannya menuju betis.


Dengan cepat Hanssel menggendong tubuh istrinya yang semakin lama darah yang mengalir semakin banyak. Bahkan kini wajah Nina mulai pucat pasi.


Sayang, maafkan ibu... Ibu teledor dan tidak melindungimu... Bertahanlah sayangnya ibu... Bertahaan!! Kita sudah sejauh ini... Kamu kuat sayangnya ibuu!!


"Selamatkan Yvone!" Lirih Nina masih memikirkan keselamatan orang lain di tengah kondisi dirinya jauh lebih parah.


"YOUU!!" Umpat Hanssel tidak terima.


"Please Hans, I'll help her without regrets!!"


Nina menatap sayu ke arah suaminya, bagaimanapun juga semua ini tercipta karena idenya.


"KIM BAWA YVONE!"


"YVONE, JIKA SESUATU TERJADI PADA ISTRI DAN ANAK KU KAMU ADALAH ORANG PERTAMA YANG HARUS MEMBAYAR SEMUANYA!!"


Yvone menggenggam erat kepalan tangan di dadanya. Hatinya sungguh sakit terus melihat Karennina membantu hidupnya tanpa pikir panjang. Aku harus melakukan sesuatu untuknya!!!


Di tengah kalutnya situasi di Villa Kaviandra, keajaiban lainnya datang di waktu yang tepat Yvone kembali mengingat bagaimana dia bisa mengoperasikan senjata api. Tanpa pikir panjang lagi dia menyambar Glock 17 yang terjatuh dari tangan Nina saat menolongnya.


"Nona, mari keluar dari sini!" Bujuk Kim melindungi Yvone, Yvone mengangguk mengerti. Dia juga membantu Kim saat mereka kembali terjebak oleh serangan musuh.


Beberapa anak buah memberi jalan bagi Hanssel yang tengah membawa istrinya.


"Chen, pancing seluruh musuh di dalam Villa, dan ledakan saat kita pergi dari sini!"


"Baik tuan!"


"Tuan Hanssel!!"


"Aku tahu dimana markas mereka!!!"


Hanssel membalikan wajahnya dingin, Nina melengkungkan segaris senyum kearah Yvone, tanpa kata namun Yvone sungguh menerima pesan yang dalam pada ekspresi Karennina.


"You did it!"


Wijaya tengah duduk di kursi kebesarannya di kediamanannya di Negara B. Dia menatap meremehkan pada sosok pria yang beberapa bulan terakhir memporak-porandakan kerajaan bisnisnya.


Prok! Prok! Prok!


"Haha, para anak buahku mari kita sambut tamu kehormatan kita!"


"Mr. K!"


"Or Keenan Kaviandra!"


Semua anak buah Wijaya bertepuk tangah bahkan ada yang mengejeknya dengan senyuman merendahkan bahkan tawa lirih dari Azlan yang menatap Keenan lekat dengan menggerakan kepalanya kekiri dan kanan seolah tengah melemaskan otot lehernya.


"Where she?!"


"Calm down!"


"Permainan kita tidak akan seru jika langsung pada intinya!"


Prook! Prook!


Wijaya menepukkan tangannya, anak buahnya mengerti dan kini mempersiapkan segala sesuatunya.


Keenan hanya sendiri menuju kediaman Wijaya sesuai ketentuan yang Wijaya berikan di ultimatum yang dia kirimkan pada Keenan sebelumnya. Tanpa keraguan sedikitpun dari pria itu, dia melangkah pasti yang akan menyelamatkan wanitanya saat ini. Dia bahkan telah siap jika harus bertukar nyawa dengan gadisnya.


"Duduklah!" Ucap Wijaya kembali meremehkan dan membuang waktu mereka.


"Aku tidak ingin basa-basi!"


"Serahkan dia atau aku akan ratakan tempat ini!"


"HAHAHAHAHAHAHA!"


"Aku tidak percaya, kamu menemuiku saat ini hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam saja setelah kamu menyelesaikan Don!"


"Kalau begitu gadis ini memiliki tempat special di hati mu bukan?!"


"Oh I'm so happy... Finally!"


"You show your weakness!!!"


Tik!


Jentikan jari Wijaya membuka tirai besar di belakangnya. Saat ini terlihat sebuah ruangan yang terdapat jendela kaca pemisah besar. Keenan membelalakan matanya saat dia melihat gadisnya disana tengah di ikat di sebuah bangku dan beberapa eksekutor dan juga seorang team medis telah siap di belakangnya.


"Apa penawarannya?!"


"Hahaha!"


"Come on!!"


"Apa kamu harus seserius itu?"


"Mari kita bermain sejenak!"


"Tidak perlu langsung mengetahui apa maksud dan tujuan ku!!"


"Hahahaa"


Ingin rasanya Keenan menghabisi Wijaya saat ini juga, emosinya tertahan di kepalan tangannya yang semakin erat dia genggam.


Tik!


Satu layar besar kembali turun di samping ruangan kaca, entah apa yang akan di pertontonkan Wijaya pada Keenan saat ini. Pria jahat itu sudah sukses mempermainkan perasaan Keenan saat ini.


"Aku ingat, kelemahan mu dulu adalah adikmu!"


"Oleh sebab itu, kamu melatihnya hingga bisa memiliki kekuatan hampir setara dengan mu!"


Kini layar itu tengah memutar kondisi Nina di Negara S. Dengan bersimbah darah dalam kursi penumpang belakang di temani suaminya yang tengah baku tembakan dengan musuh yang mengejar mereka. Seketika jantung Keenan diremas kencang, bahkan saat ini rasanya dia lupa caranya bernafas!


"Oh I like it!"


"Pemandangan kegelisahan, ketakutan dan keputus-asaan!"


"Smells good!"


Wijaya tak henti-hentinya mempermainkan perasaan Keenan saat ini.


"Kau tahu, adik mu sungguh murah hati membantu Yvone kembali di kehidupan keduanya."


"Namun apa yang dilakukan Yvone?!"


"Dia membuat Nina celaka!!"


"HAHAHA! Sungguh ironis!" Wijaya menerima gelas winenya dan meminumnya dengan senyuman kebahagiaan.


Keenan masih terpaku di tempatnya tidak bergeming sama sekali, Apa yang dilakukan si bodoh Hanssel apa dia tidak bisa mencegah kejadian ini!! Bukankah aku sudah memperingati sebelumnya!!! HANSSEL SIALAN!!!


Setelah puas melihat air muka Keenan yang mulai menampilkan kegelisahan luar biasa. Wijaya kembali menjentikan jarinya.


Salah satu anak buah yang berada di ruangan kaca menarik rambut Farah dan membangunkannya dengan menamparnya keras.


PLAAAAK!


"BANGUN!!" Maki pria yang menampar Farah.


"BAJINGAN KAU!"


"ENYAHLAH KE NEREKA!"


Kraaaak!


Keenan telah menodongkan pistol di wajah Wijaya kesabarannya sudah diambang batas melihat wanitanya diperlakukan kasar dia bersumpah serapah akan mencincang pria yang berani menyentuh Farah.


Wijaya melengkungkan senyuman kemenangannya karena telah memancing emosi Keenan.


"Kau tahu, wanita mu saat ini resmi menjadi kelinci percobaan obat Wang tahap akhir!"


"Sebelum aku menggunakannya pada putri Wira, alangkah baiknya meminjam raga wanita mu!"


"Dosis ini jauh lebih besar di banding sebelumnya."


"Betapa beruntungnya aku bisa menggunakannya pada wanita hamil!"


"Saat aku melakukannya pada Luna di dosis kedua dia ke gu gu ra n dan hi lang inga tan!"


"Aku harap yang ini langsung bisa me le nyap kan nya wa nya!"


JEEEEDDEEERRR!!


✲✲✲✲✲✲