
Nina tengah mempersiapkan beberapa pasang baju, walau penampilan aslinya telah diketahui oleh bosnya. Tidak serta merta dia mengubahnya saat ini juga. Semua ini juga sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari sifat agresif bosnya jika berhadapan dengan wanita cantik sesuai kriterianya.
Sayup terdengar dering ponselnya, dia berjalan menuju area nakas sebelah tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang tengah dia isi daya.
"Halo..."
"Apa kamu sudah persiapkan semuanya?" Suara serak dan seksi bosnya tiba-tiba membuat Nina merinding saat mendengarnya.
"Sudah tuan... Pesawat take off jam 8 pagi, kita bisa berangkat satu jam sebelumnya."
"Oh iya, anda tidak perlu menjemput saya. Saya pastikan akan disana sebelum anda datang beserta satu cup kopi anda!"
"HAHAHA!! Okay..."
Hanssel menutup sambungan telpon dan membayangkan kembali bagaimana semalam dia membuka seluruh pakaian sekertarisnya dengan bergetar menahan hasrat yang sudah memuncak. Hanya demi tidak melecehkan wanita yang sudah 2 tahun membantunya membesarkan nama perusahaannya.
"Belum apa-apa aku selalu memikirkanmu Nina... Padahal jika dengan wanita lain aku hanya menjalaninya seperti itu saja tanpa perlu kepikiran sebegininya!!"
"Aku masih bisa merasakan hangatnya bibirmu Nina, bahkan aku masih ingat makian yang kamu lontarkan dengan mengatakan aku maniak mesum!!"
Hanssel kembali terkekeh entah mengapa kemarin adalah hari yang membahagiakan untuknya.
Keesokan harinya sesuai yang di ucapkan Nina dia telah datang lebih dulu dengan satu gelas kopi yang dia beli dari salah satu coffee shop kenamaan berlogo wanita dengan latar hijau itu.
"Pagi tuan..." Sapa Nina basa-basi menyerahkan kopi untuk tuannya.
"Pagi..." Hanssel menerima gelas kopinya dan berjalan menuju area boarding pass bersebelahan dengan Nina.
"Kenapa kamu masih berpenampilan kuno seperti ini sih?!!"
"Kacamata kamu itu aku yakin hanya pajangan saja!!" Ungkap Hanssel kesal.
"Aku nyaman saja tidak ada yang perlu dirubah..."
"Penampilan yang seperti ini menunjukan diriku, dan aku juga tidak akan menampik lagi penampilan saat di bar juga itu aku!"
"Hanya saja saat ini perjalanan bisnis berarti aku berpenampilan layaknya aku bekerja seperti biasa."
Hanssel hanya berdengus kesal atas jawaban datar Nina.
Setelah semua selesai keduanya segera menuju pesawat dan mengudara. Selama di dalam pesawat Hanssel kembali di buat kesal oleh sekertarisnya. Pasalnya tempat duduk mereka tidak bersebelahan.
Aku semakin ingin memiliki mu Nina... Dan saat itu tiba aku akan membuat kamu tidak bisa lepas dari diriku!!
Nina mengulumkan senyumnya, dia mengetahui bahwa bosnya pasti tengah sangat kesal. Bahkan dia memesan kamar hotel yang berbeda lantai dari bosnya.
Kau pikir semudah itu menguasaiku Hanssel... Kamu masih bau kencur! Jikapun aku mau mungkin sudah sedari dulu aku memanfaatkan mu!
Keduanya sudah mendarat dengan selamat di Bali. Nina telah mengkoordinir semua keperluan selama mereka berada disana termasuk transportasi. Ada supir yang telah menunggu kedatangan mereka langsung setelah mereka keluar dari bandara. Mobil melaju menuju salah satu hotel berbintang 5 di kawasan Nusa Dua.
"Ini kunci anda tuan... Kamar presiden suites!" Nina menyerahkan sebuah kunci pada Hanssel.
"Kamu?"
"Aku tentu saja kelas bawah... Tenang saja aku sudah memesan seseorang yang akan menemani anda di kamar!"
Bruug!
"HANSSEL!!" Pekik Nina tidak terima saat bosnya menarik lengannya dengan sangat keras.
"Aku tidak membutuhkan lagi wanita panggilan!! Aku mau kamu yang menemaniku!!"
Deg!!
Disaat bersamaan Nina menatap sebuah keluarga yang tengah berjalan menuju area resepsionis. Dengan cepat Nina menyembunyikan dirinya dengan merangkul Hanssel erat. Dari balik rangkulannya Nina masih bisa melihat jelas seorang anak berusia 3 tahun yang sangat dia kenali yang sukses membuat kedua netranya berembun.
"Jimmy..." Gumam Nina lirih.
Hanssel yang diberikan respon mengejutkan seperti itu telah salah mengartikan sikap sekertarisnya.
Haha, bilang aja mau sok pura-pura jual mahal barusan!!
"Apa sudah cukup menikmati tubuhku?!" Ejek Hanssel.
"Idih Ge-er!!"
Nina meninggalkan Hanssel begitu saja menuju kamar yang sudah dia pesan. Hanssel melengkungkan senyuman manisnya entah sejak beberapa hari berurusan dengan Nina hatinya seolah hangat jika berada disamping wanita itu.
***
Nina tengah menikmati berendam di bak mandi dengan beberapa kelopak bunga dan minyak essential.
"Erick Shin, aku akan mengambil apa yang seharusnya jadi milikku tidak lama lagi..."
"Jimmy sayaang... Sebentar lagi ibu akan menjemput mu..."
Nina menenggelamkan dirinya dalam rendaman air sampai akhirnya dia menyadari pintu kamarnya berbunyi.
"Aku tidak memesan apapun berarti si brengsek Hanssel!!"
Nina menyambar handuk kimononya dan mengenakan pakaiannya kembali.
Kreek...
"Apa bapak tidak tahu.... Rangga?!" Nina terkejut ternyata bukan Hanssel.
"Bapak siapa? Bos mu?" Ucap Rangga dengan senyuman tipisnya.
"Aku pikir kamu tidak akan datang... Masuk lah..."
Keduanya masuk dan duduk di balkon.
"Aku sudah bilang akan membantumu..."
"Aku dengar E.T sedang mencari supplier bahan baku untuk proyek di pulau N."
"Suho mencobanya? Tapi ini bukan bidang Suho? Apa dia mau bunuh diri!!"
"Iya... Dia sungguh nekat!"
"Tunggu! Proyek pulau N? Berarti perusahaanku juga ikut tender ini?!"
Rangga mengangkat kedua bahunya. Sejauh ini Rangga tidak bertanya dimana tempat Nina bekerja, yang dia tahu Nina bekerja di salah satu perusahaan multinasional bukan di perusahan dimana sahabatnya adalah bos Nina.
Rangga meminum welcome drink yang tersedia dia memperhatikan Nina yang tengah gusar entah apa yang di pikirkan wanita itu.
Nina, sudah 5 tahun lamanya aku terus memendam perasaan cintaku. Lihatlah... Kamu menolak ku, bersikeras menjalani pernikahan dengan seorang bajingan dan kamu di campakan begitu saja!!
"Hei... Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Nina menggerakan tangannya di depan wajah teduh Rangga.
Rangga merupakan teman Nina semasa kuliah di US. Mereka sangat akrab sampai akhirnya Nina bertemu dengan Erick dan keduanya memutuskan berpacaran. Padahal Rangga sudah memendam perasaan sukanya saat pertama kali bertemu dengan Nina.
Erick sendiri terkenal play boy saat itu, namun Nina telah di butakan oleh segelintir kalimat rayuan sampah Erick yang mengatakan dia hanya mencintai Nina.
Seluruh keluarga Nina tidak merestui hubungan anaknya dengan Erick. Jejak digital Erick terlalu buruk bagi keluarga Kaviandra. Namun lagi-lagi Nina tidak mengindahkannya sampai akhirnya kedok Erick terbongkar 2 tahun setelah mereka menikah. Erick membawa wanita lain, mengusir Nina dari rumah dan memaksa wanita itu menandatangani peralihan kepemilikan perusahan pribadinya. Bahkan yang lebih menyakitkan adalah Jimmy Shin putra mereka di jadikan taruhan untuk keluarga Shin agar Nina patuh pada mereka.
"Aku sudah memperingati mu dari awal, jangan berhubungan dengan si brengsek Erick. Lihat apa yang kamu dapatkan sekarang?!"
"Aku tahu... Aku sungguh menyesal.. I'll fixed it..."
"Jadi, mau kah kamu membantuku?" Lirih Nina memohon pada Rangga.
"Bolehkah aku mengajukan syarat?" Ujar Rangga ragu.
"Apa itu?"
"Maukah kamu menjadi pacarku?!"
DEG!!
✲✲✲✲✲✲