
Rangga tidak menyangka dalam hal pekerjaan Nina memang sangatlah perfectionist dilihat dari sudut manapun bahkan dia hampir terkecoh dengan peran yang dia mainkan. Rasanya dia benar-benar menjadi seonggok butiran kacang bagi Karennina.
Wanita yang nyaris sempurna ini sangat di sayangkan, aku tidak akan pernah bisa memenangkan hatinya. Dia bahkan jauh lebih memilih bersama Hanssel. Apa aku masih belum bisa menerima keduanya? Hehehe kamu sungguh kasian Rangga!!
Rangga terus menatap Nina lekat, namun kembali menghadapi kenyataan bahwa sampai kapanpun wanita itu tidak akan bisa dia gapai.
Lebih baik menerima seseorang yang mencintai kita lebih besar, merasa sangat di cintai oleh orang lain. Mungkin dengan begitu hati kita akan terbuka dengan sendirinya.
Yvone terus memperhatikan pria yang dia cintai, entah mengapa dia merasakan firasat bahwa pria itu memiliki perasaan khusus pada wanita yang di ucapkannya sebagai penolongnya. Dia merasa sanagt canggung saat ini, Nina tengah mengisi energinya dengan memakan beberapa suap makanan yang telah di hidang.
"Ko mendadak sepi?"
"Lagi ziarah ya?"
Ocehan Nina membuat Rangga terkekeh, sedang Yvone hanya berani menundukan pandangannya.
"Felicia Tsu?"
"Kamu bergerak sanagt cepat, memang pengacara hebatku bukan kaleng-kaleng!!"
Rangga memutar bola matanya mengejek ucapan Karennina.
"Kamu benar-benar tidak mengingat sesuatu?" Nina menatap Yvone serius kali ini.
Dengan masih mengatupkan bibirnya Yvone menggeleng berkali-kali.
"Lu ni, kalo nanya emang kek ratu Neraka!"
"Orang jadi takut lah!!"
"Lah gue kan emang kek gini!!" Sungut Nina kesal.
"Huh!"
"Tadinya aku ingin menyembunyikan semuanya lebih lama."
"Tapi ternyata Ratu Neraka sudah datang maka aku hanya bisa melakukan yang seharusnya."
Rangga menaruh peralatan makannya, menyesap air minum dan menyeka sudut bibir dengan serbet hingga menaruh ditempatnya kembali.
"Nama aslimu adalah Yvone Caroline..."
DEG!
Yvone terbelalak, dia menelan salivanya.
"Arrrghh!!"
Seketika Yvone merasakan kepalanya seperti di hantam benda keras, beberapa suara aneh menghiasi relung jiwanya.
"Yvone, kemari lah..."
"Yvone... Papa membawakanmu setumpuk bacaan terbaru..."
"Kak Yvoneee!"
"Yvone sayaaang!!"
"Yvone, mulai sekarang kamu adalah bagian dari team kami. Lakukan tugas mu dengan baik, jika tidak maka nyawa keluargamu taruhannya!!"
Mata Yvone membulat, hingga urat di samping pelipisnya terlihat, deru nafasnya tidak beraturan. KEdua tanagnnya masih dia taruh di atas kepalanya. Rangga telah memeluknya dengan erat dengan spontan. Pria itu tahu, jika memaksakan Yvone untuk mendengar kenyataan yang terjadi maka gejala bipolarnya kemungkinan menghampirinya dengan cepat.
Nina memperhatikan keduanya, dia mengangkat satu tangannya. Anak buahnya mengerti, setelah Yvone kmbali tenang Nina kembali bertanya dengan hati-hati, dengan meraih tangan Yvone perlahan menggenggamnya dengan bersimpuh di bawah kursinya.
"Aku tahu hidup mu akan lebih berat kedepannya."
"Tapi percayalah, kamu berada di tempat yang benar..."
"Ijinkan kami membantumu mengobati rasa sakit mu ya."
"Semua tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
"Terlebih, kamu memiliki pria yang paling baik di dunia ini yang penuh tanggung jawab dan berbudi pekerti yang luhur!"
Nina mengerlingkan matanya ke arah Rangga, Rangga mengacungkan jari tengah jika mengingat dulu mereka terjerat dengan Yvone karena alasan yang di lontarkan Nina barusan.
Bagi Yvone sendiri perkataan Nina seperti kehangatan yang di berikan seorang ibu terhadap anaknya yang membutuhkan perlindungan disaat dia di jahati oleh rekannya. Dia tidak menyangka Nina benar-benar bisa mengambil hatinya saat ini.
Aku sungguh tersihir oleh kharismanya, bagaimana dia memperlakukan ku saat ini sanagt cukup membuat aku jatuh dalam pesonanya. Hal yang wajar jika pria di samping ku mungkin saja mendambanya!
Yvone menganggukan wajahnya perlaha dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Good girl!"
Nina mengusap perlahan kepala Yvone, lagi-lagi Yvone merasa bahwa sebelumnya dia sering mendapatkan perlakuan itu.
"Boys, kamu sedikit jaga jarak."
"Team ku akan mengambil sample darahnya."
"Setelah itu kami akan menginjeksikan antisera yang aku dapatkan dari asisten kakak ku."
"Kita lihat apa yang akan terjadi dengan tubuh mu!"
Yvone kembali di landa kecemasan berlebih, dengan sigap Rangga menggenggam erat jemari Yvone memberikannya rasa nyaman agar semua prosesnya berjalan lancar. Nina yang menyaksikannya mengulumkan senyumnya.
"Kamu tenang saja ya, semua ini demi kesembuhan mu!"
Yvone melebarkan senyumnya, hanya perkataan sederhana pria yang di sukainya semua rasa kekhawatiran itu lenyap sendirinya.
Rangga, mungkin ini adalah cara tuhan menggantikan rasa sakit dan kekecewaan mu selama ini. Dia menghadirkan seseorang yang bisa jadi orang yang sangat mencintai mu dan akan selalu berada di samping mu... Aku doakan yang terbaik untuk kalian.
Sebelum Nina memutuskan pergi mengunjungi Rangga, dia telah berkonsultasi lebih dulu dengan Sam mengenai antisera yang berada di tangannya. Nina juga mendesak Sam untuk menceritakan pasal kejadian Yvone, dia juga memberitahukan orang kepercayaan kakaknya itu bahwa Yvone tidak mati. Hal yang sangat mustahil karena anak buahnya bahkan Keenan sendiri telah memastikan bahwa denyut nadi dan nafas wanita itu berhenti.
Semua proses telah selesai dengan cepat, Yvone meringis tubuhnya merasakan langsung efek dari pemberian antisera yang baru saja di injeksikan oleh seorah ahli medis yang di bawa Nina.
"Rangga, bawa dia."
"Kita akan lanjutkan di kediaman ku."
"Beberapa anak buah Wijaya sudah di tempatkan di seputaran bahkan di mansion sebelah tempatmu."
Rangga terbelalak, namun dia mengerti dan menganggukan kepalanya.
"Apa tidak masalah jika berada di tempat mu?"
"Tidak masalah, kakak ku sudah menyiapkan beberapa perangkap bagi siapa pun yang berani macam-macam di dalam kawasannya tentu akan berakhir menjadi kudapan anjing kesayangannya."
Nina melenggang dengan anggun meninggalkan kedua pasangan yang merasakan mual mendengar kata sarkas yang keluar dari seorang wanita yang tengah mengandung.
***
Triiing!
"Selamat siang nona..."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Farah tengah menyambut kedatangan pelanggan di kios bunga miliknya. Dengan ramah dan senyuman yang terus merekah dia menyambut dan memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggannya. Tak heran tokonya selalu ramai pengunjung.
"Ya, aku ingin memesan kembali satu buket mawar putih ya."
Farah mengiyakan dan kemudian kembali menuju biliknya. "Sepertinya aku merasa tidak asing wanita cantik itu..."
"Ah sudah lah..." Farah melanjutkan memilah mawar putih terbaik dang mengelompokan merangkainya menjadi satu buket yang cantik.
"Wah, apa kamu tengah mengandung?" Tanya si perempuan.
Tiba-tiba raut wajah Farah mendadak gelisah, dia memang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perutnya yang saat ini tengah menampakan dirinya. Walau tidak terlalu besar namun entah mengapa sudah beberapa kali pelanggannya menyadari bahwa dirinya tengah mengandung.
Saat ini usia kandungan Farah sudah memasuki 18 minggu, dia bahkan telah mengetahui jenis kelamin bayi lucunya. Tentu saja tanpa sepengetahuan siapa pun. Terlebih Keenan sendiri tidak pernah lagi mengunjunginya, Farah tidak ingin larut dalam kesedihan karena statusnya.
"Mengapa terlihat murung?" Tukas si perempuan kemudian ikut merasa iba, dengan masih membelai perut Farah.
"Ah, iya nona..."
"Saya memang tengah mengandung..."
"Wah, selamat ya..."
"Sepertinya bayi kamu laki-laki ya?"
"Eh, bagaimana nona tahu?!"
Kini keduanya dalam mode menggosip.
"Hahaha, dulu aku pernah mengandung aku sedikitnya tahu perbedaan bentuk perut hamil anak perempuan dan laki-laki."
"OH YAA??"
"Aku pikir anda masih gadis loh?!!"
"Impossible sih!!"
"Anda pasti bercandaaa..."
Farah yang memang selalu terlihat heboh akan sesuatu membuat nyaman lawan bicaranya.
Si wanita tersenyum dengan pandangan menerawang dan berakhir menelan salivanya, kini justru raut si wanita mendadak suram.
"Nona, are you okay?"
Si wanita mengusap lembut salah satu pelupuk matanya yang telah basah.
"Ya, tapi itu mitos sih menebak jenis kelamin dari bentuk perut... Hehehe"
"Eh, tapi saya beneran hamil anak cowok loh!"
"Tebakan anda tidak meleset sama sekali."
Si wanita tertawa kecil saat ini, "Sehat selalu yaaa... Aku doakan persalinan mu kelak lancar."
"Eh, tapi benar kah anda sudah pernah mengandung?"
"Lalu apa anda kemari dengan anak-anak anda?"
Farah masih penasaran dengan si wanita misterius itu. Dari penampilannya wanita itu seperti seorang gadis, dengan masih bertubuh langsing bahkan wajah yang berseri tidak seperti telah menikah. Make up nya yang tipis simple tanpa polesan make up tebal seperti tante-tante sebelah yang memang telah memiliki keturunan.
Wanita itu kembali tertawa lirih dengan menundukan kepalanya. "Aku kehilangan anak-anak ku sebelum mereka tumbuh besar di rahim ku.
DEG!!
Tiba-tiba saja perasaan tidak nyaman menjalar di sekujur tubuh Farah. Dia sangat takut, dia takut itu terjadi padanya kelak. Mengapa aku bisa memiliki firasat seperti ini? Tidak... Tidaaak... Aku harus berpositif thingking!!!
"Ah, maaf aku terlalu banyak bercerita..."
"Berapa semua ini?"
Farah tersentak, "M Maafkan aku nona, aku pasti telang mengingatkan anda pada masa lalu yang kelam."
"Sekali lagi aku minta maaf..."
"Ah, tidak masalah..."
Farah membalikan badan, dia mengambil beberapa tangkai bunga Piony berwarna kombinasi putih dan pink muda yang sangat cantik.
"Sebagai permintaan maaf ketidaksopanan ku, bunga ini untuk anda."
"Menurut kabar beredar, bunga piony melambangkan kebahagian."
"Saya berharap anda selalu di limpahkan kebahagiaan dimana pun anda berada."
"Ah... Thank you so much." Wanita asing itu melayangkan senyuman manisnya.
Setelah membayar bunga yang dia pesan, wanita itu pergi dari tempat Farah. Farah mengusap perutnya perlahan Sayang, baik-baik di dalam perut ibu ya nak... Kamu ingin bertemu ayah mu bukan? Dia adalah pria terhebat di muka bumi ini! Kau pasti akan sangat bangga...
✲✲✲✲✲✲