Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 5 - Fakta



"Apa yang kamu dapatkan?!" Tanya Hanssel pada asisten khususnya Farell.


"Anda bisa mengeceknya sendiri tuan...."


Farell meletakan beberapa berkas mengenai Karennina Kaviandra.


Setelah membacanya Hanssel menutup dengan keras, dia bergegas keluar ruangannya. Di depan ruangan sekertarisnya Hanssel ingin sekali mengajaknya berbincang santai.


"Apa kamu sudah puas dengan hasil menjarahku barusan?!" Ujar Hanssel menggerutu mengejutkan Nina.


"Kepuasan itu mudah datang dan pergi tuan, tapi aku bersyukur setidaknya aku mendapatkan keuntungan yang lebih besar kali ini!!!" Nina menjawab datar dengan merapikan meja kerjanya bersiap pulang.


"Mari kita berbincang, aku traktir kamu..." Hanssel mengajak Nina keluar. Banyak sekali pertanyaan silih berganti di kepalanya ingin sekali bertanya pada wanita di depannya.


"Aku minta maaf, aku telah ada janji dengan seorang yang penting. Lagi pula bukankah seharusnya sore ini anda menjemput tuan Rangga?!"


"APAAAA?!" Pekik Hanssel seketika.


"Astaga!!" Hanssel memegang kepalanya teringat akan temu janji dengan sahabat yang sudah dia anggap sebagai sudaranya sendiri.


"Hahaha... Untung kamu mengingatkan ku!!"


"Sialaan aku tidak sempat membelikannya sesuatu untuk menyambutnya!!" Rutuk Hanssel.


"Tuan tenang saja saya sudah persiapkan..."


Nina memberikan satu paper bag kecil pada tuannya. Hanssel semakin di buat kagum dengan sekertarisnya. Dengan motto semakin terdepannya.


"Kau tau Nina, kau selalu bisa di andalkan!!"


"Tentu saja, semua tagihannya saya bayar menggunakan black card anda."


"Kalau begitu saya pamit lebih dulu..."


Nina berlalu begitu saja melewati Hanssel tanpa basa basi lainnya atau bahkan senyuman sedikitpun tidak tersemat di wajahnya.


"Dasar nenek lampir!! Cepat tua kamu kayak gitu... Siapa yang bakalan suka sama cewek dingin sejenis dia!!"


Hanssel menyusul keluar kantornya.


***


08.00 PM Hotel Emperor.


"Apa anda sudah lama menunggu?"


"Saya minta maaf, tetiba kesulitan mendapat taksi online."


"Tidak masalah Nina, saya juga baru sampai."


Tuan Ron dan Nina mengadakan pertemuan pribadi di luar jam kerja mereka.


"Ngomong-ngomong kita tidak perlu terlihat formal santai saja okay..."


Nina melebarkan senyumnya, tuan Ron memanggil pelayan dan keduanya tengah memesan makan malam.


"Aku kecewa sepertinya kamu melupakan saya..."


Nina mengerut keningnya.


"Kamu mengingatkanku pada teman lama, putri dari Marlin Kaviandra."


"Tuan Ron mengatehui ayah saya?"


"Tentu saja.."


Nina menundukan pandangannya sendu.


"Aku mendengar rumor mengenai dirimu di masa lalu. Aku turut prihatin..."


"Aku sudah mengecewakan mereka... Aku sungguh bodoh percaya pada Erick Shin dan mengabaikan keluarga besarku..."


Nina menitikan air matanya, selama ini dia berusaha tegar menjalani hidupnya diatas luka-luka yang dia terima di masa lalunya.


"Aku seperti ini sekarang agar aku bisa menghadapi keluarga Shin, membawa pulang Jimmy dan mengambil kembali apa yang menjadi milik ku."


"Suho Enterprise dalam masa krisis... Tidak akan bertahan dalam pasar global tahun ini." Tuan Ron memberikan informasi pada Nina.


"Si idiot Erick dan keluarganya hanya tahu menghamburkan uangku saja!!" Umpat Nina kesal.


"Aku dengar kakakmu Keenan telah kembali dari inggris. Dia akan mengembangkan perusahaan StartUp nya disini. Mengapa kamu tidak meminta bantuannya?"


Nina tersenyum pilu, "Aku telah mengkhianati keluargaku... Aku tidak mungkin tidak tahu malu meminta bantuan mereka kembali. Lagi pula aku sudah bertekad aku sendiri yang akan merebut dan menyiksa mereka seperti mereka merendahkanku sebelumnya."


Tuan Ron merasa iba melihat betapa manik indah Nina penuh dengan aura kebencian kali ini.


"Aku doakan, kamu selalu mendapat kemudahan... Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan beritahu padaku."


"Terima kasih tuan Ron..."


"Satu lagi, papamu sakit Nina... Dia merindukan kamu pulang..."


Deg!!


Nina kembali terisak pilu, "Aku tidak bisa... Aku belum membawa kesuksesan ku padanya. Aku belum membayar semua kesalahanku terdahulu."


"Aku minta tolong tuan Ron... Beritahu papa bahwa aku baik-baik saja. Tunggu aku akan membawa kembali kesuksesanku. Aku akan merebut Suho dengan tanganku sendiri." Nina memohon dengan tatapan memelas.


Bagi tuan Ron Nina juga sudah di anggap anak baginya. Kemudian keduanya larut dalam perbincangan lainnya sampai akhirnya mereka berpisah dan menuju rumah masing-masing.


***


Bar and Lounge Emperor.


"Gue ga nyangka elu tau apa yang gue pengen!!" Ujar Rangga menepuk bahu sahabatnya setelah melihat bingkisan hadiah penyambutan dirinya.


Keduanya bersama beberapa teman sepermainan mereka tengah menyambut hangat kedatangan kembali teman mereka yang baru menyelesaikan Magister Ilmu Hukumnya.


Aku selalu merasa ingin tahu, dari mana keahlian Nina dalam mengetahui kesenangan atau apa yang diinginkan seseorang dalam waktu yang singkat!!


Lagi-lagi Hanssel mengingat wanita yang dia bilang tidak mau menyukainya.


"Ko lu sekarang ga bawa cewe baru lagi Sel!" Ucap salah satu teman minum mereka.


"Aku belum ingin..."


"Tumben..."


Hanssel hanya tersenyum kecut kemudian meninggalkan kerumunan dan menyendiri. Dia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Nina selalu mampir di pikirannya.


Padahal dia buka tipe wanita kencanku. Untuk apa aku memberikannya perhatian khusus!!


"Lu ada masalah apa? Sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang buruk?" Rangga mendekatinya dan berdua memandang pemandangan ibu kota di malam hari. Sejurus kemudian Hanssel menatap seorang wanita yang seperti dia kenal bersama tuan Ron berada di pelataran Hotel Emperor.


"Nina..." Gumamnya lirih.


"Apa? Lu ada ngomong apa??" Tanya Rangga bingung.


"Sorry sob gue cabut duluan ya!! Next time gua janji kita kesini lagi aku yang traktir semuanya!!"


"Hmm..."


"Halo Karen..."


"Aku sudah pulang ke ibu kota... Apa kita bisa bertemu? Aku merindukanmu..."


***


Tap... Tap... Tap...


Walau sudah berlari secepat yang dia bisa dia tidak menemukan Nina dan tuan Ron.


"Sialaan!!!!" Hanssel merasa kesal.


"Jangan-jangan Nina simpanan tuan Ron?!"


Hanssel merasakan amarahnya mencuat kepermukaan. Dia menghubungi Nina secepatnya.


"SIALAAAN!!"


Hanssel menerima jawaban operator seluler mengatakan bahwa nomor Nina sedang sibuk. Dia sangat frustasi hari ini, dia bergegas menuju bar dan pub lainnya melampiaskan segala ke kesalannya. Masih di tempat yang sama di Empero, Nina akhirnya menemukan sosok pria yang sangat di kenalinya.


"Karenninaa!!" Rangga menghambur memeluk wanita yang di sukainya. Sayangnya Nina tidak pernah membalas perasaannya.


"Kamu tidak berubah!!" Ujar Nina menepuk bahu pria tampan di depannya.


"Bagaimana keadaanmu?" Rangga mempersilahkan Nina untuk duduk di kursi.


"Seperti yang kamu lihat..." Ujar Nina tersipu.


"Aku sudah mendengar rumormu disana..."


"Bisa kita tidak membahasnya..." Ujar Nina sendu.


"Aku sudah memperingati mu sebelumnya. Kamu tidak mempercayaiku... Bahkan kamu lebih memilih Erick di banding aku!!"


"RANGGA!! Jika kamu ingin mengajak baku hantam, aku sungguh lelah kali ini..."


"Tau seperti ini aku tidak mau menemui mu!!" Rutuk Nina kesal.


"Maafkan aku Karen..."


"Aku begini karna aku peduli ren..."


"Aku tahu, terima kasih..."


"Aku bisa membantumu menjebloskan Erick ke penjara tergelap di Singapore!!"


"Belum waktunya... Jimmy masih bersamanya..."


"Bantu aku mendapatkan Jimmy ku kembali..."


"Serahkan padaku aku akan menjadi kuasa hukummu mendapatkan hak asuh penuh atas Jimmy Shin."


"Dia bukan bagian dari keluarga Shin saat bersama ku. Dia Jimmy Kaviandra."


Rangga tersenyum pahit, wanita yang dia sukai selama 3 tahun itu memilih lelaki yang salah. Bahkan dia tengah memiliki keturunan. Namun dia tidak peduli, walaupun Nina telah memiliki anak dia akan menerimanya dengan sepenuh hati termasuk dengan buah hatinya.


Dddrrrrttt... Dddrrrrttt... Dddrrrrttt...


Ponsel Nina berdering, dia menatap layar ponselnya dan menjawabnya enggan.


"Halo..."


"NINA JEMPUT AKU DI MO!!"


"Kenapa kamu memintaku bukan Farell?!" Rutuk Nina kesal.


"AKU MAU KAMU MAKA KAMU!!"


"Ingat kamu sekertarisku... Aku sudah membayar kamu sangat mahal KARENNINA KAVIANDRA!!"


Tuuut!


Aku yakin si babi itu tengah mabuk!!!


"Sorry Rangga, aku ada urusan pekerjaan... Lain kali kita sambung lagi pertemuan kita..."


"Mau aku antar?" Tawar Rangga.


"Tidak perlu..." Nina menolak halus niat baik Rangga.


Sesampainya di MO Bar, Nina mencari dimana keberadaan tuannya.


"KAU MABUK?" Tanya Nina kesal berkacak pinggang.


"Ayo pulang!" Nina mencoba memapah tuannya.


"Kamu Nina?? Kamu Karennina Kaviandra benar bukan?!"


Nina mendengus kesal, dia melupakan tampilannya saat ini tidak seperti biasa saat dia bekerja di perusahaan.


"Untungnya babi ini mabuk!!" Nina tidak menghiraukan racauan bosnya.


Dia memapah bosnya menuju mobil pribadi Hanssel yang dia parkir di area VVIP. Dia menghempaskan kasar tuannya. Nina menyeringai, jarang-jarang dia bisa menyiksa tuannya jika dalam keadaan normal.


Nina melajukan mobilnya ke area Beverly Hill. Selama dalam perjalanan Hanssel mengomelinya. Bahkan Nina kali ini tahu apa pikiran kotor Hanssel dirinya.


Cekiiiit!


Bruukk!!


Tubuh Hanssel terhempas kedepan dengan kerasnya, Nina sengaja tidak memakaikan tuannya seat belt. Saat terhempas Nina tertawa lirih dan dia kembali memapah Hanssel turun dari mobilnya.


"Akhirnya sampai juga..." Nina melepaskan Hanssel di lantai.


Bruukk!


Tubuhnya seperti mati rasa sedari tadi menopang berat badan Hanssel di pundaknya. Bergegas dia memindahkan tuannya, kali ini dia tengah menyeret bosnya.


"Aaarrggghh!! Kau sungguh berat Hanssel!! Dasar B4B1!!" Sekuat tenaga Nina menyeret kedua kaki Hanssel menuju kamar pria itu.


Brak... Bruk...


Tubuh Hanssel terhempas menubruk apa yang menghalangi tubuhnya. Dapat di pastikan keesokan harinya pria itu akan kesakitan di seluruh badannya. Nina telah menaruh bosnya di ranjang besar miliknya. Nina menatap lekat bosnya. Dia mendengus kasar kemudian berencana segera keluar dari mansion Hanssel. Namun tiba-tiba...


Bruuuk!!


"HANSSEL!!!" Pekik Nina tidak terima dia di rangkul begitu saja.


"Karennina si nenek lampir!!! Aku tidak menyangka aku menyukaimu!!" Tegas Hanssel menatap ke arah Nina.


DEG!!!


Nina terpaku dengan ucapan Hanssel saat ini. Kemudian Hanssel kehilangan kesadarannya kembali. Nina menelan salivanya kering.


"Bagimu wanita adalah baju sekali pakai bukan?! Saat ini aku tidak berminat dengan pria brengsek seperti mu!!!"


Nina segera bergegas keluar sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.


✲✲✲✲✲✲