Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 131 - Fall in Love



"Sayaaang..."


Panggilan suara Hanssel sesaat setelah dia memasuki apartement istrinya.


"Sayang... Sayaang!"


"Sok mesra!!"


Rangga yang menyambut kedatangan Hanssel dengan menggodanya untuk berselisih.


"Si kupret ngapain lu disini!!!"


Keduanya kembali terlibat baku ocehan, membuat Nina yang baru selesai mandi keluar kamarnya mencari sumber keributan. Yvone yang juga merasa terganggu ikut keluar dari kamarnya.


"Ada apaan sih ribut-ribut?" Tanya Nina menghampiri.


"Sayaangkuu..."


"Aku rinduuu!!"


"Najiiiisss!" Umpat Rangga kesal.


Yvone mengulumkan senyumnya tipis dia mengira bahwa pria yang kini berada di depannya adalah suami Nina.


Sikap Hanssel berubah dingin saat dia menangkap sosok wanita asing di rumah Nina.


"Siapa dia?!"


Rangga terkejut dengan perubahan cepat sahabatnya, dia mengakui hanya di depan Nina sahabatnya itu bertingkah konyol memuakan!


"Oh, itu Yvone..." Jawab Nina singkat menuju area dapur.


Hanssel terdiam sejenak, dia yakin banyak kejadian yang dia lewati. Namun dia tidak peduli, selama bukan berkenaan dengan keselamatan istri dan keluarganya dia tidak ingin lebih jauh mengetahuinya.


"Aku tebak, lu yang selametin?"


"Emang muka dia rusak sampe kamu operasi plastik segala?!" Sarkas Hanssel.


"Bacot!" Umpat Rangga tak kalah ngegas.


Yvone menunduk merasa tidak nyaman dengan percakapan keduanya. Walau dia belum sepenuhnya bisa mengingat namun dia merasa sedih saat tahu ternyata wajahnya telah di rubah. Perubahan emosi juga terjadi dalam benak Rangga, dia merasa bersalah kali ini. Tanpa persetujuan Yvone dia telah membuat wajahnya berubah.


"Aku minta maaf sebelumnya Yvone."


"Saat itu yang aku tahu kamu akan selalu di incar beberapa pihak yang berkepentingan."


Yvone mengangguk berusaha mengerti bahwa memang dia tidak bisa menyalahkan pria penolongnya.


"Sudah... Sudaah..."


Nina menaruh beberapa minuman dingin dan kudapan di meja tengah, mempersilahkan semuanya duduk dan bercerita dengan sopan dan normal.


Hanssel mendekati istrinya dan menundukan wajahnya di perut buncit wanita pujaannya.


"Baby, are you missed me?" gumamnya lirih.


Nina melengkungkan senyumnya mengusap lembut kepala suaminya.


"Kau tidak menanyaiku?" Canda Nina.


"Jika aku tidak datang kemari, aku yakin kamu tidak akan mencariku!!!" Umpat Hanssel kesal.


Nina terkekeh "Jangan marah papaa..." Nina menirukan suara Jimmy saat dia membujuk papa kesayangannya dikala merajuk.


"Dih males gue liat dua sejoli yang suka ga tau tempat kalo pamer!!"


Yvone hanya mampu menundukan wajahnya malu, *Tuan Hanssel hanya lembut dan manja pada istrinya saat*melihatku dia seolah seperti bongkahan es batu.


"Jadi lu ama Yvone udah tahap mana?" Balik Hanssel menatap nyalang temannya.


Gleek!


"Apa sih lu..." Ujar Rangga terbata


"Cemeen!!" Goda Hanssel.


"Jimmy dimana sayang?"


"Di rumah papa..."


"Owh..."


"Jadi apa yang aku lewatkan?"


"Tidak ada, aku hanya tidak sengaja berpapasan dengan Rangga."


"Namun aku tidak menyangka bahwa mereka di buntuti anak buah tuan Don."


"Jadi aku yang berbudi pekerti yang luhur membawa mereka kemari."


Nina menjelaskan secara singkat agar tidak membuat suaminya curiga.


"Sepertinya aku tidak asing dengan alur cerita seperti ini?"


"Menuntun kita pada markas mereka dan menyergap kita disaat bersamaan!!"


Mata Hanssel menatap dingin ke arah Yvone dia juga berkata penuh dengan penekanan. Cukup satu kali dia memendam amarah saat tahu istrinya mengalami gejala keguguran karena ulah gadis di hadapannya. Inginnya dia menampar keras wanita itu sekarang.


Yvone yang di cecar perkataan menekan Hanssel mengeratkan pegangan tangannya pada dressnya. Rangga menyadarinya dan membantu meluruskan masalah.


"Dia hilang ingatan..."


"Aku yang membawanya aku yang tahu pasti keadaannya."


"Dia dalam pengawasan ku."


"Jika kamu meragukannya aku akan menyuruh dokter pribadi kami membawakan hasil diagnosis penyakitnya."


"Mengapa kamu ada di pihaknya?!"


Kedua belah pihak meneruskan perselisihan mereka, Yvone tidak tahu harus seperti apa dia ingin membantu Rangga untuk tidak berselisih, namun dia bisa apa? Dia saja tidak ingat apapun.


"Yvone, masuk lah kekamar mu."


"Jangan pernah keluar dari sana selama aku tidak mengijinkannya."


"Baik nona..." Yvone bangkit dia menunduk hormat.


"Maafkan aku kak, membawa mu dalam masalah..." Lirih Yvone menatap pria yang selalu saja membelanya dengan tatapan sendu.


"Kamu tidak perlu khawatir..." Rangga menggenggam jemari tangan Yvone. Wanita itu kembali menerima sebuah energi positif.


Hanssel takjub melihat betapa lembutnya Rangga memperlakukan wanita itu. Yvone bergegas memasuki kamarnya dan mengunci dirinya.


"Dia di beri obat x oleh kakak, kebenaran dia hilang ingatan bisa di pastikan 80%" Ujar Nina membenarkan.


Nina menatap Rangga untuk tidak mengatakan jauh apa rencana mereka pada Hanssel, Rangga mengerti tatapan sahabatnya itu. Rangga mengambil soft drink dan menenggaknya dengan bersender punggung di sofa.


Gue jauh-jauh buru-buru dateng kesini pengen mesra-mesraan ama binik gue nyatanya kerjaaa lagiiI!!! Tau gitu mening jaman dulu jadi CEO gesrek aja bisa mesumin istriku kapan saja!! Haissh...


Rutukan demi rutukan Hanssel umpat dalam hatinya. Dia sedang ingin bermanja-manja dengan istrinya, sebelum kembali kakak iparnya tugaskan dengan hal berat lainnya. Dia mendapat kabar bahwa Keenan akan berada di Negara S siang ini, jadi sebelum dia bertemu harusnya dia menabung daya kehidupan dengan istrinya. Jika sudah seperti ini hilang sudah gairahnya.


"Gue juga istirahat lah, males jadi obat nyamuk!"


Rangga akhirnya menyingkir, dan menuju salah satu kamar yang sedari kemarin dia pakai. Hanssel mengembangkan senyumnya, akhirnya semua orang pergi dengan sendirinya! Tubuhnya kembali mendekat pada istrinya.


"Sayaaang!"


Nina terkekeh dengan tingkah suaminya yang masih saja mesum dan kekanak-kanakan.


"Hm..." Nina merangkulkan kedua tangannya di bahu prianya, wajahnya dia miringkan dan memagut bibir prianya perlahan.


Hanssel yang di beri ransangan kecil seperti itu tidak tahan untuk meminta lebih sesuai keinginannya.


"Kita ke kamar ya sayaaang?" Bujuk Hanssel dengan nafas memburu dan kembali menyesap lembur bibir yang dia rasa seperti aroma strawberry segar menggugah selera.


"Anything for you papaaa..." Lirih Nina menggoda.


"Tapi aku ga bisa di gendong loh berat!" Canda Nina melonggarkan tubuh mereka.


"Benarkah?"


"Aaarrrgggh!!"


Nina memekik terkejut saat kedua lengan kokoh suaminya telah menaikan tubuhnya dalam dekapan suaminya dan berjalan menuju kamar mereka yang tak jauh dari sana.


Suara jeritan pertama Nina membuat tubuh Rangga meremang dia bergegas mencari earphone miliknya dan menyumpal telinganya setelah mengaktifkan iTunes dengan volume yang hampir menyentuh maksimal. Sedangkan di kamar sebelah yang di tempati Yvone tidak sengaja dia mendengar jeritan nona muda di rumahnya membuat otaknya bertraveling kemana-mana.


Hanssel menurunkan perlahan tubuh Nina, "Kapan kita melihat bayi kita sayaang?"


"Aku ingin tahu dia lelaki atau perempuan."


Hanssel tengah bersemangat, saking semangatnya dia telah melucuti terusan istrinya yang kini dia lempar kesegala arah berlanjut dengan miliknya.


"Coba tebak, yang kalah bayar taruhan!!" Goda Nina.


"Curaang kamu pasti udah liat duluan!!!" Umpat Hanssel tidak terima dengan membuka lebar kaki istrinya. Nina menggigit bibirnya seksi.


"Belum dong!"


"Apa taruhannya..." Hanssel menyapu kaki jenjang istrinya yang putih mulus dengan ujung lidahnya.


"Sshhh... Mmm.." Lenguh Nina mendapat serangan arus listrik pendek dari suaminya yang walau mereka berdiskusi tetap saja cabul!


"Yang kalah harus berjanji setia sehidup semati pada pasangannya!" Ujar Nina asal.


Hanssel yang sudah berada di depan pintu sangkar emasnya kini mendongak dan menghadapkan wajahnya di depan wajah istrinya yang sudah penuh dengan gairah.


"Walaupun aku menang, tanpa perlu kamu minta aku akan melakukan dengan sendirinya!"


"Ini bukan taruhan, ini komitmen kita sayang!"


Nina terkekeh, nyatanya dia hanya menggoda Hanssel saja dan pria itu selalu saja bertingkah serius mengenai janji mereka. Padahal sejujurnya mereka sendiri telah sama-sama ingkar dengan kesepakatan awal mereka menjalin hubungan. Let's not fall in love! Which is they have fallen in love... 


✲✲✲✲✲✲