Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 38 - Fast and Furious



Nina segera membuka pintu mobil kakaknya. Dia menumpahkan kekesalannya setelah dia menduduki kursinya


"Siapa yang berani menurunkan mu disana?!" Tanya Keenan ikut kesal.


"Bosku!!"


"Ckckck..."


"Dia tengah membuntuti kita di belakang!!" Keenan menyeringai memperlihatkan kaca tengah.


"APAAA?!"


Nina membalikan badan memastikannya. Benar saja, Range Rover hitam pekat milik suaminya tengah mengejar mereka saat ini.


"Mampus gue!!" Lirih Nina.


"Mampus? Dia yang akan mampus!!" Keenan menyeringai menekan tombol khusus pada mobil sport kesayangannya. Semua layar tersembunyi menampilkan dirinya.


Welcome back Mr. K... We read that your heart rate and temperature are normal.  There's something else we can help for you?


Selamat datang kembali tuan K. Kami membaca detak jantung dan suhu anda normal. Ada hal lain yang bisa kami bantu?


Sebuah system tengah menyala dalam mobilnya, sistem besutan KTech yang dinamai KSpy merupakan another level aplikasi terkenal G dengan bantuan satelit miliknya sendiri.


"Wuii.." Nina tengah memancarkan kenorakannya walau sejujurnya dia sudah tidak aneh lagi dengan semua hal itu.


"Berikan aku akses jalan tercepat!" Tukas Keenan pada sistemnya.


⋘ 𝑃𝑙𝑒𝑎𝑠𝑒 𝑤𝑎𝑖𝑡... ⋙


𝐍𝐨𝐰 𝐥𝐨𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠. . .


██████████100%


Layar membuka map lokasi mereka dan menganjurkan mengikuti arah yang bergaris merah.


Ceeekiiiit!


Keenan tengah berbelok menukik ke jalan yang di arahkan. Nina memastikan Hanssel tertinggal namun dia masih terkejar.


"What?!" Nina berekspresi tidak percaya.


"Besar juga nyalinya!" Keenan Kembali menekan pedal.


Bruuumm!!


Keenan semakin mempercepat laju kendaraannya. Di dalam mobil yang di kendarai Hanssel dia tengah menggerutu kesal.


"Berani sekali dia membawa Nina!!!"


"Aku menurunkannya belum ada 5 menit!!"


"Aku tersadar dan kembali untuknya siapa sangka Nina sudah di bawa oleh mobil mewah di depan."


"KARENNINA siapa kamu sebenarnya?!"


"Aku harap mobil itu tidak berniat jahat padamu!!"


Hanssel merogoh ponselnya menghubungi Farell untuk menyiapkan beberapa anak buahnya dan membantunya. Hanssel memotret nopol Ferrari di depannya dan mengirimkan pada Farell untuk di lacak.


"Kak berhenti aku mual!" Pekik Nina menahan mulutnya dengan tangan.


"Apa?!" Keenan berbalik dengan mengernyitkan keningnya.


"Baru 100 kamu bilang mual?!"


Keenan mengusili adiknya dia kembali memacu hingga kecepatan 120km.


"KEENAN KAVIANDRA!!" Maki Nina.


Keduanya telah berada di kawasan terpencil, saat ini mereka sudah lolos sepenuhnya dari kejaran Hanssel. Nina segera membuka pintu keluar dan memuntahkan isi perutnya. Keenan menggelengkan kepalanya. Dia mengambil botol air mineral dan melemparkan ke arah Nina. Dengan cepat Nina bisa menangkapnya.


"Sudah selemah ini kah keahlianmu?!" Ejek Keenan.


"Aku sudah melahirkan."


"Tentu kondisi badanku tidak sesempurna saat aku gadis!"


"Alasan!!"


Keenan mengejek kualitas pertahanan adiknya saat ini. Tetapi dia tetap mengkhawatirkan adik semata wayangnya itu.


"Kamu masih mual?"


"Not really..."


Nina duduk di sebelah Keenan menenggak air mineral yang diberikan kakaknya.


"Ada masalah apa kamu dengannya?"


"Atau aku harus bilang apa kalian bertengkar?"


"Kamu memiliki hubungan khusus dengannya bukan?"


Nina menundukan kepalanya, membohongi kakaknya seperti menyembunyikan patung raksasa. Semua akan ketahuan juga, tidak ada privasi yang tidak bisa Keenan lacak sejauh ini. Dia adalah agen mata-mata rahasia besutan XK.


"Aku hanya sedang bekerja sama yang saling menguntungkan." Ucapnya memainkan botol minumnya.


"Jangan pernah rendahkan dirimu di hadapan orang lain lagi Karennina!"


"Ingat posisimu dimana!"


"Mereka tidak sebanding dengan kita."


"Cukup kak!"


"Erick menyakitiku karena dia merasa di rendahkan oleh keluarga kita."


"Masalah pribadiku itu menjadi urusanku!"


Nina beranjak dari tempatnya mereka menggunakan kap mobil sebagai tempat duduk.


"Kita kembali sekarang kak..." Nina membuka pintu dan memasuki kembali mobilnya.


Nina telah turun kembali ke kantornya.


"Ingat, jika sudah menyinggung keluarga Kaviandra dia tidak akan selamat."


"Aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama lagi!!"


"Cinta ama bego itu satu species!"


"Pintarlah sedikit... Ikut sertakan otakmu saat jatuh cinta!!"


"WEEK!!"


"Ga usah nasehatin!"


"Lu kek gitu aja terus jomblo seumur hidup tau rasa!!" Umpat Nina mengejek kakaknya dan bergegas masuk ke kantor.


"Dih! Dibanding ngurusin cinta mening menumpuk harta!!" Gumamnya seraja melajukan mobilnya meninggalkan area Adamson Group.


***


Nina melupakan tuannya yang tengah mengejarnya entah kemana sampai saat ini belum menampakan dirinya.


"HP sama Laptop di mobil Hanssel lagi..."


"Huh!"


Nina memesan makanan dengan menyuruh OB mengantarkan ke tempatnya.


"Mmm... Wanginya enak!"


"Perasaan dua hari ini gue ko pengen makan mulu!!"


"Abis makan kelar mual... Huh!"


Saat akan menyuap makanannya terdengar suara bantingan pintu dengan kerasnya.


BRAAAK!!


"KARENNINA KAVIANDRA!!"


"BERANINYA KAU!!"


Hanssel mendekatinya dengan wajah merah padam menandakan dia tengah menahan emosi yang besar. Nina terdiam sejenak menaruh kembali sumpit di atas cup bakmi yang dia pesan. Melihat rupa dan penampilan kusut Hanssel membuatnya mendengus. Nina mendekatinya, dia seolah tahu apa yang harus dilakukan dia sedang tidak ingin beradu mulut atau baku hantam. Saat ini tubuhnya mudah sekali lelah.


Hanssel menatap tajam kearah Nina yang mendekatinya selangkah demi selangkah.


"Kamu meninggalkanku di jalan entah berantah, tanpa ponsel dan uang pegangan!"


"Kau sungguh tega denganku Hanssel!!"


"Sebelumnya kamu membuatku cemburu..."


"Saat ini kamu memakiku!"


Nina merangkulkan tangannya di bahu bidang Hanssel memiringkan wajahnya berujar dekat sekali dengan wajah Hanssel yang mulai sendu.


Cup ~


Sebuah kecupan singkat Nina layangkan pada bosnya yang di tepis oleh prianya. Nina menyunggingkan senyumannya dan beringsut mundur. Namun secepatnya tangan Hanssel menarik tubuh Nina dan tangan lainnya menarik wajah wanitanya.


"Mmmm..."


Lagi-lagi si babi ini cuma tahu ciuman doang!!


Nina mendorong tubuh Hanssel dan melepaskan paksa tautan prianya.


"Aku minta maaf sayang..."


"Mengapa kamu sudah disini lagi?!"


Hanssel mengusap lembut pipi Nina.


"Aku naik taksi!" Nina berbohong.


"BOHONG!!"


"Aku melihatmu menaiki Ferrari!!"


Hanssel menyambar bakmi Nina dan melahapnya.


"Bakmi guee!!!" Umpat Nina.


"Huh!!"


Dia kembali menghubungi OB dan menyuruhnya membelikan yang baru. Hanssel tengah kelaparan dia melahap habis bakmi milik Nina.


"Ferrari mana yang mau menepi dan membawa cewek jelek macam aku!!"


"Taksi mana yang berhenti di Flyover sana!!"


"Ini namanya Serendipity!"


Hanssel memicingkan matanya tajam ke arah sekertarisnya, dia merasa Nina akan terus membantah dan membohonginya.


Apa yang kamu sembunyikan dariku Nina. Mataku dengan jelas menangkap wanita yang masuk di dalam Ferrari itu adalah kamu.


Untuk apa juga mobil itu terus menghindar dari pengejaranku jika itu bukan kamu yang tidak mau aku temui!!


Nina menerima kembali bakminya kemudian bersiap melahap makan siangnya. Hanssel mendekatinya dan mengusap lembut rambut Nina.


"Maaf kan aku atas perlakuan kasarku tadi pagi..."


"Hmm..."


Nina tidak menjawab dia sibuk mengunyah makan siangnya.


"Apa selapar ini?"


"KAMU PIKIR?!!!" Bentak Nina membuat Hanssel terkekeh.


Nina tengah menuju area parkir mengambil ponsel dan laptopnya di mobil milik suaminya. Namun sesaat kemudian netranya menangkap seseorang yang dia kenal tengah berbincang dengan orang yang tidak dikenal.


"Sepertinya itu bukan bagian dari karyawan AG." Nina menyembunyikan dirinya di balik pilar, dia memencet tombol di smart watch miliknya dia mengeluarkan benda pipih jika dia sentuh berubah menjadi seokor robot seukuran lalat yang bisa merefleksikan gambar dan merekam suara.


Setelah kepergian orang yang Nina kenali dia bergegas menuju mobil milik tuannya dan mengambil apa yang dibutuhkannya. Di dalam ruangannya Nina tengah membuka program pengintai miliknya. Dia membuka data yang telah di simpan oleh robot miliknya barusan.


Nina melengkungkan senyumnya, menyeringai serta tertawa lirih tidak percaya apa yang akan dia hadapi berikutnya.


✲✲✲✲✲✲