Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 28 - Rumit!



Nina telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia berencana menjemput Rangga di bandara.


"Sayang... Ayok!" Ajak Hanssel di ambang pintu.


Nina terdiam sejenak, kemudian dia membohongi suaminya.


"Aku minta maaf aku baru di kabari temanku dia pulang hari ini dan minta aku menjemputnya di bandara."


"Oh okay aku temani..."


"Tidak perlu!"


Hanssel mengerutkan keningnya melihat gelagat istrinya seolah tengah menyembunyikan sesuatu.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Selidik Hanssel mendekat ke arah istrinya.


"Ha Ha Ha... Mana mungkin!"


"Dia teman dekat yang selalu aku repotkan dengan menjaga Jimmy kemarin."


"Bukannya kamu ada janji mengajak Jimmy ke Timezone?"


"Bagaimana jika kalian duluan nanti aku menyusul.."


"Dia hanya meminta aku jemput dan antar ke rumahnya."


"Ya... Please..."


Nina terus berkata tanpa jeda dan dengan serangan terakhirnya dia merangkul mesra suaminya dan memberikan kecupan ringan di bibirnya.


Hanssel menarik tubuh Nina dalam dekapannya dan menuntut mereka bertautan mesra. Setelah puas Hanssel melepaskan Nina.


"Jangan mengecewakan ku!" Bisiknya penuh penekanan.


Nina hanya memperlihatkan garis senyumnya dan bergegas meninggalkannya.


Hanssel tidak lagi banyak berpikir dia segera menjemput Jimmy.


***


Bandara Internasional SH.


Plak!


"Udah gede pake minta jemput segala!!" Nina menepuk bahu Rangga dengan keras.


"Pelit amat ga kangen gitu sama aku?!"


Nina haya tertawa kecil kemudian keduanya bergegas menuju pelataran dimana Nina meninggalkan mobilnya.


"Aku hanya antar sampai apartemen ya... Jimmy meminta aku ke Timezone!"


"Ya udah kalo gitu ayok!!"


"Ga perlu!"


"Kenapa?"


"Itu..."


Nina mulai pusing sendiri, sedari tadi dia terus memikirkan alasan untuk dua sahabat ini yang belum saatnya di pertemukan. Nina mendengus kasar, setidaknya hubungannya dengan Hanssel tinggal seminggu lagi setelah itu dia tidak lagi terikat dengan bosnya.


Jadi menyembunyikan statusnya tentu jauh lebih baik. Terlebih dia tak ubahnya hanya penghangat kasur yang legal untuk Hanssel.


"Kamu istirahat dulu kamu itu baru sampe... Besok libur kita Hang Out bareng!!" Nina sudah tidak bisa berpikir cepat Rangga sudah mulai mencurigai dirinya.


"Baiklah..."


"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?"


"Apa yang bisa aku sembunyikan?" Gumam Nina lirih merasa dadanya sesak.


Ternyata hati tak bisa diajak berdusta. Aku tidak tega untuk terus menyakiti perasaanmu Rangga. Tapi hatiku benar-benar tidak bisa menerima mu!


Mereka telah sampai di apartemen milik Rangga, pria itu kini menatap wanita pujaannya dari balik jendela yang kemudian Nina turunkan kacanya.


"Karennina, aku sangat menyukaimu!!" Ujarnya dengan senyuman tulus.


DEG!!


Nina menelan salivanya kering.


"Rangga aku...."


"Ssssttt!"


"Aku tidak suka terburu-buru. Kita jalani saja kemana aliran ini menuntun kita..."


Rangga terdiam dengan penuturan Nina yang sudah sangat jelas berisikan penolakan halus.


"Kita belum tahu pasti esok lusa Nina!"


"Jadi tidak perlu terburu-buru okay..."


Cup ~


Rangga mencium pipi Nina.


"Aku tulus mencintai kamu dan Jimmy..."


Rangga berlalu menyisakan senyuman pahit untuk Nina. Nina meneteskan ait matanya. Dia segera mengusapnya dan melaju menjemput putranya.


***


Lenguhan demi lenguhan tengah menggema di kamar utama milik Nina. Dia tengah melayani hak suaminya. Setelah sampai di rumah keduanya bergegas menaruh Jimmy di kamarnya. Pria mungil itu tertidur dalam dekapan ibunya selama perjalanan pulang. Sepertinya kelelahan setelah memainkan seluruh permainan di dalam Timezone bersama ayah sambungnya.


"Aarrgh.. Aku mencintaimu Karennina!!"


Nina sudah terbiasa dengan ucapan Hanssel seperti itu setiap kali dia telah mengeluarkan pelepasannya. Dengan wajah lelah penuh peluh dan nafas yang masih terengah Nina hanya bisa membalas dengan segaris senyuman di bibirnya yang terlihat pucat saat ini.


Bibir itu terasa kebas karena hisapan suaminya yang liar saat menjamahnya. Belum lagi perih di bagian tengah terlebih bagian bawah tubuhnya. Dia sungguh tidak bisa lagi memberikan kata yang pantas untuk si raja ranjang umpat Nina.


"Aahh Hans, sudah ya..." Rengek Nina menolak ajakan kembali prianya.


"Sekali lagi sayang aku janji!!"


"Besok pagi aku harus ke Negara S, aku harus mengisi daya kehidupanku!!"


Hanssel memainkan jemarinya di dalam pusat inti milik istrinya yang kini telah basah kembali. Hanssel terus memberikan Nina sentuhan sensualitas sebagai foreplay mereka, semua itu memudahkannya untuk memasuki inti milik istrinya yang membuatnya candu luar biasa.


Hanssel membenamkannya dalam saat terasa menuju puncaknya bersama istrinya.


Entah mengapa aku ingin kamu hamil dari benihku!


Selama berhubungan badan sedari awal Hanssel tidak pernah memakai pengaman dan juga selalu mengeluarkannya di dalam. Jika itu wanita kencannya yang lain tentu saja dia tidak pernah mau melakukannya.


Jika bersama para mantan teman kencannya dia hanya akan bertahan 10 bahkan 5 menit saja. Sering kalinya setelah si wanita puas maka Hanssel akan menyudahinya walaupun dirinya belum mencapai puncaknya.


Semua tidak berlaku saat bersama Nina. Dia bahkan bisa on semalaman untuk terus membenamkan miliknya pada inti Nina seolah si burung telah menemukan sangkar emasnya yang cocok dengannya.


Hanssel menyelimuti tubuh polos istrinya, setiap permukaan kulit istrinya sudah terdapat banyak tanda cinta yang baru bahkan yang lama dia buat. Hanssel terkekeh di buatnya.


"Kamu benar-benar canduku sayang... Terima kasih! "


Hanssel terlelap dengan memeluk istrinya.


***


"Keenan, apa kamu benar akan tinggal di Jakarta mulai minggu depan?"


"Iya pap... Bukankah papa ingin menyeret putri degil papa yang satu itu!!"


"Keenan jangan begitu keras padanya!!"


"Papa sungguh rindu dengannya... Papa juga belum pernah bertemu cucu papa!"


"Aku janji pap, dalam waktu dekat Karennina Kaviandra akan kembali pada tempat asalnya!!"


Obrolan ringan keluarga Kaviandra di Negara S sedang berlangsung sebelum Keenan membuka perusahaan Startup miliknya di Jakarta.


Tanpa Nina tahu bahwa kakaknya mengundang Hanssel untuk menangani pembangunan perusahaannya. Keenan telah mengumpulkan informasi mengenai Nina selama di Indonesia. Dia mengetahui bahwa Nina bekerja di Adamson Group dan dari informasi tambahan tuan Ron mengatakan Nina akan mengambil alih kembali Suho miliknya.


Nina merupakan adik kesayangan Keenan, sudah tak terhitung beberapa balasan Keenan untuk Erick termasuk yang selalu membuat perusahaan itu mengalami penurunan indeks saham setelah perceraian Nina.


Jika saja Keenan tau bahwa adik kesayangannya di perlakukan bak pembantu dan selalu mendapat perlakuan kasar di kediaman Shin. Mungkin saat ini dia telah membumi hanguskan keluarga itu.


***


"Ingat selalu mengabariku!!"


"Astaga kamu tuh cuma sehari ke Negara S!!"


Nina terus merutuki suaminya yang sangat cerewet untuk melakukan ini dan itu saat dirinya tidak ada. Hanssel kembali mencium Nina sampai akhirnya bayangannya tidak lagi terlihat oleh wanita itu.


"Ibu, Jimmy kangen sama papa Rangga... Kenapa dia ga pernah ketemu Jimmy lagi?"


Nina tersenyum mengusap lembut kepala anaknya.


"Ayo kita jenguk papa Rangga..."


Nina berlalu dari bandara dan bergegas melaju menemui sahabat yang selalu mengharapkan balasan cintanya.


✲✲✲✲✲✲