Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 19 - Posesif



"Karennina..."


Erick terus menatap potret mantan istrinya yang masih dia simpan di dalam laci meja kerjanya, tentu saja tanpa Soraya istri barunya ketahui. Erick memang mencintai Nina, dia berniat berubah menjadi pria yang lebih baik demi mendapatkan Nina. Namun siapa menyangka penolakan keluarga besar Nina menoreh luka di dalam hatinya. Seolah dia dan keluarga besarnya tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka.


Terlebih ibu Erick membenci Nina, saat telah jadi menantunya wanita itu justru di coret dari ahli waris Kaviandra. Hilang sudah keinginan untuk menjadi keluarga bangsawan di SG. Dia selalu memperlakukan Nina dengan buruk selama serumah dengannya. Soraya datang untuk memprovokasi mereka, dia mengatakan bahwa keluarga Soraya jauh lebih baik dari Kaviandra.


Keluarga Kaviandra sendiri memang sudah di kenal di masyarakat luar menjadi keluarga bangsawan ke-7 di Negara S setelah Alister. Tapi bagi yang tidak mengetahuinya mereka justru saat ini berada di urutan ke-2 dibawah kerajaan Emperor. Nilai saham mereka terus meroket setelah putra sulung mereka Keenan Kaviandra mengusung StarUp yang mengubah kehidupan menjadi lebih mudah.


Tak hanya keluarga Emperor yang selalu menyembunyikan identitas mereka, Kaviandra pun demikian. Bahkan semenjak rumor buruk Karennina yang di persunting keluarga Shin yang mendapat reputasi buruk itu kembali menaruh luka dengan rumor perselingkuhan Erick dengan Soraya Bagaskara. Nina bercerai dari pria yang telah memberikannya satu putra di tengah rumor itu Nina menjauh dari lingkungannya menyamar menjadi Karennina si buruk rupa namun penuh talenta.


"Sayaang... Sudah saatnya mendatangi jamuan makan dengan keluarga Lin." Soraya mengejutkan lamunan Erick.


"Oke aku bersiap sebentar lagi."


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Iya hanya kelelahan saja, setelah ini Suho akan kembali bangkit. Adamson Group tengah mencari supplier bahan baku untuk proyek pengembangan Mall terbesar di area ibu kota."


"Kita akan pergi mengikuti dan memenangkannya."


"WAH Benarkah?!!"


"Ternyata perginya Jimmy membawa keberuntungan untuk kita!!"


"Tau gitu dari dulu kamu tidak perlu ngotot hak asus anak itu!"


"SORAYA!!"


Soraya terkejut dengan pekikan suaminya barusan, biasanya dia tidak pernah berkata kasar atau berujar dengan nada tinggi.


"Walau bagaimanapun dia darah dagingku... Penerus keluarga Shin..."


"Kamu sendiri sampai sekarang belum juga memberikanku keturunan untukku."


"Sayaaang... Bukannya aku tidak ingin, namun tuhan belum juga berpihak pada kita."


"Mungkin tahun ini..."


Soraya mendekat dan memberikan sentuhan fisik untuk suaminya agar melunak, namun nyatanya semua di tepis kasar oleh suaminya dan segera berlalu meninggalkan istrinya yang masih terpaku.


Ada apa dengannya? Ini pasti karena bertemu Karennina kemarin!!!


Soraya cemburu mengingat kembali bagaimana Erick menatap pada Nina tempo hari di Bali. Dia menghentakan kakinya dan berlalu dari ruang kerja suaminya.


***


Dua hari kemudian,


"Kamu beneran bawa Jimmy ke HK?" Tanya Rangga serius.


"Ehm..." Jawab Nina mantap dengan anggukan.


"Kamu kan ga pegang dokumen Jimmy sekarang?" Sungut Rangga masih tidak terima.


"Tadaaa..." Nina memperlihatkan paspor Jimmy dan yang lain-lain.


"Bagaimana kamu mendapatkannya?" Tanya Rangga heran.


"Dengan jalur uang dingin tentu saja!! Hoho" Jawaban Nina kembali dengan mantapnya.


Rangga mendengus kesal, pasalnya dia ingin sekali terus di sampingnya. Namun untuk ikut bersama ke HK dia tidak bisa, ia masih mengurus sidang dengan klien penting lainnya saat ini.


"Oh iya Rangga, kapan sidang ku di mulai? Jika ada jalur cepat aku akan menyanggupinya."


"Kalau bisa aku tidak perlu datang..." Nina menatap Rangga serius.


"Dalam ketentuan kalian wajib datang." Jawab Rangga singkat.


"Lagian ya dia masih di bawah 12 tahun! Otomatis hak asuh harusnya jatuh ketanganku... Hanya saja dulu aku begitu takut untuk memperjuangkannya..."


Nina kembali sendu mengingat bagaimana dia di perlakukan tidak baik saat itu. Keinginannya untuk pergi dan bertahan hidup sangat kuat. Sehingga berpikir cepat untuk membalas mereka suatu hari nanti membuatnya tidak berlama-lama berada di kediaman Shin.


"Maafkan aku tidak ada di saat kamu membutuhkan seorang pendukung..." Rangga tidak kalah menyesal.


"Sudahlah... Aku akan mengikuti semuanya. Aku ingin segera menuntaskan semuanya."


"Aku yakin Erick akan langsung memberikan hak asuh itu padamu."


"Mengapa kamu begitu yakin?"


"Tanpa Jimmy dia tidak bisa memeras aku lagi..."


Rangga hanya tersenyum menyentuh pipi Nina lembut. "Aku tidak pernah kalah dalam persidangan."


Rangga pamit pulang setelah bermain sebentar dengan Jimmy. Nina menghampiri Jimmy sejenak, "Jimmy, kamu harus ingat di luar rumah, diluar ibu dan papa Rangga jangan pernah mengungkit sebutan papa Rangga oke?"


"Kenapa bu?"


"Kamu menurut saja ya... Terlebih dia bukan papa mu, dan belum tentu jadi papa sambungmu!"


"Baik ibu..."


Jimmy sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudkan ibunya. Dia hanya berusaha patuh dan menjadi anak berbakti untuk ibunya.


Di dalam lorong lift Rangga memasuki lift yang pintunya lebih dulu terbuka. Setelahnya di sebelahnya keluar Hanssel dari balik lift sebelah.


Tring!


Saat akan tertutup Hanssel seperti melihat Rangga, kemudian dia berbalik namun pintu telah tertutup sempurna.


"Sepertinya barusan aku melihat Rangga?"


"Apa dia membeli apartemen disini? Lain kali aku akan menghubunginya."


Hanssel segera bergegas menemui kekasihnya, dua hari kemarin mereka sibuk dengan deadline pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga. Esok dia akan pergi ke HK melakukan Business Trip bersama sekertarisnya.


Ting... Tong...


Ceklek!


"Hai Om..." Sapa Jimmy ramah.


"Hai sayang... Tebak om bawa apa?" Hanssel bersimpuh mensejajarkan dirinya dengan bocah itu.


Jimmy hanya menunjukan gigi rapinya dan menggeleng antusias.


"Tadaaa...." Hanssel memberikan kotak besar dengan logo mainan lego.


"WUOWW!!"


"You're my favorite man after Papa R!!" Pekik Jimmy girang.


"Papa R?" Gumam Hanssel kini bangkit.


"Hanssel, kenapa kemari? Bukannya bersiap besok kita berangkat pagi?"


Nina membuyarkan pikiran Hanssel.


"Aku sudah di bantu Farell... Semua ada di dalam mobil di bawah..."


"Owh..."


"Look at this mom!! I LIKEE IT!!!" Jimmy berlari menuju kamarnya untuk membuka kotak besar itu.


Siapa yang di maksud Jimmy dengan papa R? Bukankah ayahnya bernama Erick?


Hanssel menatap Nina lekat, ingin dia mengintrogasinya saat ini juga.


"Masuk lah..." Nina mempersilahkan Hanssel dan menutup pintu.


"Siapa papa R?" Tanya Hanssel tanpa basa-basi menggenggam lengan Nina.


"Owh itu, salah satu tokoh film kartun setelah papa don." Bual Nina sedikit gelisah.


"Hah?"


"Aku tahu kamu tengah menipuku!!"


Hanssel mulai menampakan sisi posesifnya.


"Kenapa kamu sangat marah?" Tanya Nina heran.


Hanssel menarik tubuh wanita itu dan mencengkram wajahnya dengan satu tangannya. "Ingat Nina, kamu pacarku saat ini!!"


"Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku!!"


"Tidak ada laki-laki lain yang boleh mendekati mu dan Jimmy selain aku!!"


Gleek!!


Ada apa dengannya mengapa dia terlihat menyeramkan saat ini?


Nina tengah berpikir, dia tidak mungkin membongkar Rangga saat ini. Dia pastikan semuanya akan kacau. Dia masih membutuhkan Hanssel untuk membantunya mendapatkan Suho sebulan kedepan sesuai perjanjian pra pacaran mereka.


******