
"Ahh... Hans!"
Hanssel tengah meminta haknya pada istrinya yang sudah membuat harinya berat. Dia melepaskan Nina setelah mencapai puncaknya dan menarik tubuh Nina dalam dekapannya.
"Aku tidak melihat mobil mu beberapa hari ini."
Tanya Hanssel dengan mencium leher Nina.
"Di bengkel!"
"Kenapa?" Hanssel sedikit terkejut dengan jawaban Nina.
"Aku ga sengaja nyerempet kemaren."
"Ya udah aku beliin lagi..." Ujar Hanssel.
Dih, mentang-mentang sahabatan jawabannya aja bisa kompak kek gini!!
"Terus aja bikin rumorku makin anjlok!"
"Lah?"
"Aku sudah di rumorkan memiliki lebih dari satu sugar daddy!!"
"Apa Jessica masih mengganggumu?!"
"Tenang saja tidak ada yang bisa menyentuhku!!"
"Masaaa?" Hanssel menyeringai dan memanfaatkan situasi.
"Aku bisa lebih dari sekedar menyentuhmu nona..."
"Aahh... Hanss..."
Hanssel kembali melabuhkan cinta keduanya hingga benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk melakukannya.
***
Hari ini akhir pekan, Nina dan Hanssel tengah membawa Jimmy mengunjungi salah satu tempat wisata keluar dari ibu kota. Sebelumnya Nina tengah berdebat dengan Rangga pasalnya pria itu juga ingin mengajak dia dan putra angkatnya menikmati akhir pekan.
"Aku yakin Karen menyembunyikan sesuatu!!"
"Semenjak dia mabuk dan tertutup!"
"Apalagi kepindahan tempat tinggalnya yang aku tidak di perbolehkan mengunjungi rumah barunya."
"Aku sudah sangat bersabar Karen!"
Rangga tengah sangat kecewa dia juga sama berniat beristirahat di salah satu villanya di area puncak.
"Papa... Lihat apa aku boleh memelihara harimau itu?"
"W H A T?!" Nina membuka mulutnya lebar dengan penuturan anaknya.
"HAHAHA!"
"Bisa di bicarakan... Nanti papa akan membelikanmu yang masih bayi?"
"Bagaimana?"
"I WANT IT!!" Pekik Jimmy.
"NO WAY!!" Pekik Nina tanda tidak setuju.
Kedua pria itu terbahak menertawakan satu-satunya wanita dalam mobil mereka. Nina sudah lama ingin mengajak Jimmy mengenal dunia binatang. Selain bosan di dalam kota yang bertemu dengan tempat itu-itu saja. Akhirnya Nina memutuskan untuk mengajak Jimmy ke Taman Safari. Sejujurnya dia tidak ingin mengajak Hanssel namun pria itu selalu menempel membuat dia mengetahui rencana istrinya. Terlebih Jimmy meminta Hanssel menemani mereka.
Setelah selesai dengan tour melihat berbagai satwa liar, mereka memarkir mobil dan memasuki kawasan permainan.
"Ibuuu.... Carousel!!" Pekik Jimmy antusias.
"You wanna?"
"YES!!"
Nina dan Jimmy memasuki area komedi putar Hanssel tengah mempersiapkan ponsel untuk merekam kebersamaan mereka saat ini. Nina mendudukan Jimmy di kuda pilihan putranya, Nina memilih menjaganya dari samping. Keduanya tertawa dan tersenyum sangat indah di mata Hanssel saat ini. Keduanya tengah menikmati bermain komedi putar dengan penuh tawa ceria terlebih Jimmy.
"Aku tidak akan melepaskan kalian sampai kapanpun..."
"Betapa bahagia dan sempurnanya hidupku saat ini..."
Hanssel bergumam pada dirinya, kedua netranya tengah berkaca, dia mengusap kasar wajahnya. Jika kembali ingat masalahnya dengan Catherina yang belum selesai.
"Maaf kan aku Nina..." Lirihnya membalas senyuman istri dan anak sambungnya padanya saat ini.
Keduanya telah selesai hari sudah senja Hanssel mengajak Nina dan putranya menginap di salah satu villa miliknya di puncak. Dia sudah menghubungi Farell untuk membersihkan dan meyiapkan segala keperluan dan cemilan Jimmy. Namun di tengah jalan Jimmy meminta turun di sebuah mini market, Nina dan Hanssel menemani putra kesayangan mereka.
"Bukankah itu mobil Hanssel?" Gumam Rangga sesaat setelah memarkirkan mobilnya.
"Mungkin dia juga sama liburan kesini."
"Apa dia dengan Catherin?"
"Ah sudah lah..."
Rangga membeli cemilan sejenak dan buru-buru kembali ke Villa miliknya. Villa miliknya berada satu blok yang sama dengan Villa millik Hanssel hanya dipisahkan 3 rumah yang lain.
Hanssel menggendong putranya yang tertidur di jok belakang mobil mereka. Nina merangkul lengan Hanssel, keduanya selalu melayangkan senyum kebahagian. Sampai akhirnya menghilang setelah pintu tertutup.
Bruuuk!
"Karennina..." Rangga menjatuhkan semua barang bawaannya yang baru dia beli di mini market bawah sebelumnya.
Di Villa milik Hanssel, pria itu menaruh Jimmy di salah satu kamar di samping kamar utamanya. Nina menarik selimut dan mengecup kening putranya.
"Sleep well good boy!!"
Hanssel mengecup juga kening putranya, dan mengikuti Nina keluar kamar.
Hanssel segera memeluk wanitanya, dia menggendong istrinya menuju kamar.
Bruuk!
"Kita mandi bersama ya sayaaang..."
Nina mengusap lembut wajah hingga menyapu rambut lebat suaminya. Hanssel terus menciumi tubuh harum istrinya walau sudah seharian mereka berada diluar dan beraktifitas. Dia menanggalkan satu persatu pakaian mereka. Nina tengah melenguh, menutup matanya dan mencengkram tubuh suaminya erat.
Nina menyingkirkan lengan suaminya yang merangkul tubuhnya. Dia beranjak dengan tertatih menuju kamar mandi mereka. Nina terisak di dalam bak mandi, merasa menjadi manusia paling menyedihkan sedunia. Berusaha tegar dan tidak terjadi apa-apa. Nyatanya dia serapuh kaca!
***
"Apa semua sudah kamu siapkan dengan baik..."
"Sudah, tinggal menunggu ikan menyantap umpan..."
"Bagus..."
Catherina berjalan angkuh menemui Hanssel diruangannya. Terlihat Nina tidak berada di ruangannya.
"Masuk..."
Catherina masuk kedalam ruangan Hanssel, pria itu tengah melakukan beberapa verifikasi dokument.
"Ada apa?"
"Hans, aku datang kemari karena tengah mengusut beberapa kasus di departemen pemasaran."
Hanssel mengernyitkan keningnya. "Kasus apa?"
Selama ini dia selalu memonitoring para karyawannya dan mereka selalu melakukan Assessment berkala. Kecil kemungkinan jika ada penyalahgunaan yang terjadi di perusahaannya.
"Ada sejumlah dana yang keluar namun implementasinya tidak ada." Catherina mengatakan dengan lugas.
Hanssel menghentikan aktifitasnya dia menatap Catherina tajam dan dingin. Catherin yang di tatap seperti itu sedikit mengendurkan nyalinya. Dia menelan salivanya namun dia sudah memulainya.
"Aku ingin intinya!!" Bentak Hanssel dingin.
"Ehm..."
"Sepertinya semua ini ada kaitannya dengan dokumen ini..."
Catherina menyerahkan sebuah dokumen yang berisi perjanjian tender yang akan di ajukan departemen pemasaran. Dia sudah pernah memeriksanya minggu lalu. Nina juga sudah memastikan kebenaran dananya.
"Apa ini?"
"Di dalam dokumen ini nilai pengeluaran tidak sama antara actual dengan yang di canangkan."
Hanssel sudah menangkap apa yang akan di lakukan wanita yang pernah menjadi kekasih hatinya.
Kau sangat mengecewakanku Catherina.
"Sejumlah dana itu tidak di terima perusahaan melainkan masuk ke rekening pribadi."
"Oh ya?"
"Kau sudah melakukan investigasi?"
"Kemarin sore kami sudah melacak dan....."
"Tuan, ini berkas yang harus anda tanda tangani." Seperti biasa Nina memang satu-satunya karyawan yang di ijinkan Hanssel membuka pintunya tanpa perlu mengetuk atau menunggu persetujuannya.
Catherin seolah mendapat waktu yang pas dengan kedatangan Nina.
"Nina, aku yakin semua berkas pengajuan investasi melalui dirimu lebih dulu baru di tanda tangani Hanssel bukan?" Catherin langsung mencerca Nina yang tidak tahu apa-apa.
"Tentu..."
"Aku yakin kamu tahu proyek A."
Hanssel memperhatikan keduanya, dia seperti dejavu untuk selalu menonton aksi Ratu Drama dengan Ratu Antagonis ini di persatukan kembali.
Nina seolah tengah berpikir, namun pembawaannya sangat tenang. Berbanding terbalik dengan Catherin yang terburu-buru dan ada kegelisahan di dalam setiap perkataannya.
"Semua proyek Adamson aku sangat tahu..."
"Memang kenapa?" Tanya Nina merasa tidak berdosa.
"Aku rasa kita harus memanggil salah satu pihak accounting yang menyadari hilangnya uang proyek Adamson."
Nina hanya mengangguk mengiyakan dengan ekspresi datar. Hanssel tengah menahan tawanya.
Selang beberapa menit masuklah Jessica dan supervisornya tuan Jo.
Nina menatap Jessica nyalang, merasa di perhatikan Jessica menundukan pandangannya.
Aku memang tahu identitas Nina, tapi saat ini dalangnya adalah Catherina aku yakin aku tidak akan kena imbasnya. Aku tinggal mengelak jika sudah terpojok!
"Benar tuan, ada transaksi abnormal di bagian kami yang fisiknya tidak ada." Ucap tuan Jo dengan menyeka keringat dinginnya.
Jessica sungguh berani menghadapku saat ini. Aku belum membuat perhitungan dengannya atas penculikan Nina tempo hari. Jika hari ini dia kembali membuat masalah aku tidak akan segan.
"Jadi siapa pelakunya?" Hanssel kembali meminta inti dari permasalahan yang dibuat berbelit-belit ini.
"Sekertaris anda tuan..."
"Bulan ini dia mendapatkan uang dalam nominal yang cukup besar."
Nina mengatupkan bibirnya menahan untuk tidak tertawa.
"Buktinya?" Hanssel mendekati tuan Jo yang kini sudah gemetaran.
Tuan Jo menatap Jessica "Ehmm... Ini tuan"
"Ini adalah rekening koran terbaru semua transaksi sudah ter-Record di dalam aplikasi namun jumlah ini tidak sesuai."
"Adamson kehilangan berapa?!" Hanssel menatap nyalang Jessica seolah akan menerkamnya.
"Ehm... Ddu-Dua ratus juta tuan..."
"Hah?!" Hanssel tertawa keras mendengar nominal ini.
"Sekertaris hebatku hanya berkorupsi di nilai 200jt!!"
"Kau mengecewakanku Nina!!!"
Catherina dan Jessica telah salah persepsi dengan makian Hanssel barusan. Namun lagi-lagi Nina dengan tenang hanya melengkungkan senyumnya kearah beberapa orang yang tengah memfitnahnya saat ini.
✲✲✲✲✲✲