Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 65 - Let's talk about Love



SIALAAAAN!!


Kayak gini bisa-bisa ga dapet restu keluarga besar Nina!!


Karenninaaaaa!!


Kamu pulang aku harus minta kompensasi yang sesuai atas kebohongannya!!!


Mendengar perkataan kakak iparnya Hanssel merasa sangat malu saat ini. Sikapnya sungguh telah arogan sebelumnya karena dia tidak mengetahui hubungan asli kedua kakak beradik itu.


Hanssel terdiam tengah berpikir apa yang seharusnya dia lakukan saat ini.


"Aku yang menyuruhnya berpenampilan jelek!"


"Sudah cukup baginya terus di permainkan oleh pria brengsek sejenis Erick dan juga kamu!!"


Hanssel membulatkan matanya, bukankah kakak iparnya tahu sendiri betapa dia mati-matian mempertahankan Nina berada di sampingnya. Ingin rasanya Hanssel membantah saat ini, namun jika dia bersikap gegabah sedikit saja kemungkinan dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Nina.


Jadi alasan mengapa aku tidak pernah bisa menyentuh profil asli dari seorang Karennina karena keluarganya yang memang bukan dari keluarga biasa saja.


Pantas saja Jimmy terlihat di bandara, dan Nina menghilang dengan rapinya. Pilihanku memang tidak pernah salah!


Wanitaku sungguh berkelas!!


Di tengah kemelut permasalahan hubungannya dengan Nina yang tak kunjung usai, dia merasa berbangga diri bisa mendapatkan hati Nina. Terlebih saat ini dia dalam keadaan bahagia mengetahui istrinya benar-benar tengah hamil dari benih cinta mereka.


Hanssel sudah sangat tidak sabar ingin segera membawa pulang istri dan putra sambungnya. Dia akan melakukan apapun untuk mendapat pengakuan dari keluarga besar Kaviandra.


"Aku menempatkannya di dalam perusahaan mu agar tujuan ku tercapai!"


"Suho dan Group Lim adalah tujuannya."


"Kamu hanya batu loncatan dan alat baginya."


"Jika dia benar-benar terjerat dan mencintaimu mungkin itu hanya obsesi sementara saja!"


"Tolong jangan berlebihan!"


"Dia sudah memiliki putra dari pernikahannya terdahulu, apa kamu yakin bisa menerima mereka begitu saja?!"


"Apa tujuanmu menjerat adik ku hah?!"


"Ijinkan saya berbicara yang sebenarnya."


"Bagaimana jika kita berbincang dengan santai?!"


Keduanya memang masih berdiri saat ini, Keenan tertawa lirih.


"Ehm... Aku minta maaf bukan maksud ku seperti itu."


"Tapi sepertinya kita akan berbincang sangat panjang bukan?!"


Hanssel berbicara sangat sopan membuat Keenan tertawa melihat perubahan sikap pria yang biasanya sangat arogan terhadapnya.


"Kau salah, ini adalah hari terakhir kami di Indonesia."


"Nina akan kembali ke keluarga besarnya."


"Tempat dimana seharusnya dia berada!!"


"APAAA?!"


"Jangan pernah ganggu adik ku lagi!"


"Kamu tidak pantas untuk nya!!"


"Aku sudah mendaftarkan perceraian kalian di catatan sipil!"


"TIDAAAK!!"


"Saya minta maaf jika selama ini sikap saya arogan."


"Semua itu tentu karena saya sayang padanya dan terlalu posesif terhadapnya!!"


"Aku hanya menginginkan Nina!!"


"Anda tidak mengetahui isi hati saya!"


"Kami saling mencintai..."


"Aku mencintainya saat dia masih berwajah jelek, saya mencintainya saat dia bukan siapa-siapa."


"Saya mencintainya dan juga Jimmy."


"Saya tidak ingin apapun."


"Saya hanya ingin memiliki keluarga yang utuh dan normal."


"Hanya ada aku, Nina, Jimmy dan bayi kami!!"


"KAU SUDAH TAHU KEHAMILANNYA?!"


"Tentu saja, aku sudah mengetahui sejak lama. Bahkan saat Nina membohongiku aku sudah tahu dia mengandung anak ku!!"


"Jika bukan karena Nina dan Jimmy aku tidak akan pernah setuju dengan pernikahan Catherina ini, aku juga sudah melaporkan mereka atas tindakan penipuan secara komersil yang mereka lakukan pada Adamson!!"


"Apa kakak tidak bisa melihat betapa saya sangat mencintai Nina!!"


Keenan mengeratkan kepalan tangannya, kemudian dia berlalu tanpa kata meninggalkan Hanssel dalam diam.


"Tunggu!!"


"Saya mohon, saya akan melakukan apapun agar mendapat restu dari Kaviandra."


"Restu untuk mengambil alih menjaga Nina dan Jimmy dengan segenap jiwa dan ragaku."


"Aku bersumpah hanya akan ada satu wanita di dalam hidup ku!!"


"Kau sungguh menggelikan Hanssel!!"


"Seorang pria tidak mengemis cinta seperti itu!!"


"Aku tidak perduli lagi dengan harga diri."


"Aku hanya memperdulikan bagaimana aku bisa mendapatkan kembali istri dan putraku!!"


Keenan menatap Hanssel tajam, terlihat kedua netra adik iparnya memancarkan keseriusan dan ketulusan. Bahkan saat ini Hanssel sekuat tenaga tengah menahan air matanya.


"Cih!"


"Minggu depan, aku akan mengirimkan tugas untuk kamu selesaikan!"


"Jika kamu tidak bisa melakukannya."


"Maka jangan harap aku menyerahkan adik kesayanganku!!"


Hanssel bernafas lega, dia mengulumkan senyumnya "Terima kasih!"


Sebelum Keenan menjauh dia kembali berbalik badan menatap Hanssel sekilas yang masih mematung.


"Kau tahu Hanssel, aku benci mengetahui persamaan kalian!"


"Hah?!" Hanssel menatap penuh kebingungan.


"Aku tidak suka!!"


"Dengan begitu musuh akan sangat tahu untuk memanfaatkan kalian!!"


Keenan kembali meninggalkan gedung dan Hanssel masih termangu menatap kepergian kakak iparnya.


"Sayang, tunggu aku ya..."


"Aku janji aku akan berusaha menyelesaikan setiap yang di inginkan keluarga kalian."


"Sebentar lagi kita akan bersama."


***


Saat Keenan berbincang dengan Hanssel di dalam gedung, Rangga mencari keberadaan Nina. Dengan mobil paling mewah yang mencolok mata, Rangga bisa merasakan bahwa Nina disana.


Tok.. Tok.. Tok..


Rangga mengetuk kaca jendela. Nina menurunkannya perlahan.


"We need to talk!"


Nina menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Nona..." Sam tengah memperingatkan.


Dengan gerakan tangan Nina mengisyaratkan everything gonna be okay.


Nina turun dari mobil, mereka memilih berjalan di area parkiran dan berhenti di sebuah taman yang tersedia tempat untuk duduk disana.


"Apa kamu berniat pergi begitu saja?!" Tanya Rangga tanpa basa-basi.


"Aku minta maaf Rangga..."


"Keadaannya semakin rumit."


"Ijinkan aku yang menjagamu kemudian Karen!"


"Aku yakin kakakmu tidak akan merestui kalian!"


"Apa kau membayar kakak ku untuk merestui mu?!" Goda Nina dengan kekehan.


"Ti dak!" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf Rangga, aku telah nikah secara sah dengan Hanssel."


"Dan..."


"Dan apa?!"


"Aku sedang mengandung anaknya!!"


DEG!


Bagai di sambar petir di siang bolong Rangga mendengar pengakuan Nina.


"Itu alasan kamu membantunya mengusir Catherina."


"Ti dak..."


"Aku menyelesaikan Catherina karena wanita itu pantas di beri pelajaran."


"Karen..."


Nina menggenggam erat tangan Rangga.


"Aku minta maaf, aku benar-benar terlanjur mencintainya."


"Begitu pula Jimmy..."


"Jalan kami memang akan sangat sulit kedepannya."


"Namun aku yakin, kekuatan cinta dan kepercayaan kami bisa membuat tuhan membantu memudahkannya."


"Hahaha..." Rangga melepaskan genggaman tangan Nina dia tertawa dan menangis bersamaan dia juga berjalan depan ke belakang dengan menaruh tangan di kepalanya. Khas terlihat seperti seorang yang putus asa.


Nina juga tengah menangis kali ini.


"Kau tahu, jika ingin tahu harus menyalahkan siapa..."


"Maka salahkan keadaan dua tahun yang lalu, Hanssel yang menolongku!"


"Hanssel yang perlahan membukakan pintu hatiku kembali..."


"Hahaha!!"


Rangga masih tertawa dan menangis.


"I know..."


"I'm sorry Nina, pada dasarnya aku sudah kalah sedari awal!"


"Hanssel sudah sering menceritakan mu."


"Dia mengatakan dengan tulus dan bersungguh-sungguh."


"Dia sangat mencintai sekertarisnya."


"Sialnya aku baru tahu bahwa sekertarisnya adalah cinta pertamaku hingga saat ini!"


Nina semakin terisak dan merasa bersalah pada Rangga.


"I'm sorry..." Lirih Nina.


"It's okay..."


"Aku percayakan kamu padanya."


"Aku tahu pasti siapa Hanssel."


"Tapi jika dia menyakitimu sedikit saja, aku pastikan dia menyesal!!"


Nina mengangguk dan memeluk Rangga dengan eratnya.


"Nona... Tuan sudah keluar..."


"Oh okay."


Nina mengeluarkan sesuatu dalam tasnya menyerahkan pada seseorang yang sudah dia anggap seperti adik baginya.


"See you when I see ya..."


"Beberapa hari lagi aku ada pekerjaan ke Negara S, meet up okay?!"


"Siip!!"


Nina mengacungkan kedua jempolnya dan meninggalkan Rangga.


✲✲✲✲✲✲