
Nina segera menghapus make up tebal jeleknya, dia kembali berpenampilan seperti biasa seorang Karennina. Kemudian ponselnya berdering, dia segera menyambar dan mengangat panggilan tersebut.
"Halo Rangga, kamu dimana?"
"Aku tengah bersama dengan keluarga Shin, apa kamu mau bertemu Jimmy mu saat ini juga?"
DEG!!!
Tiba-tiba saja Nina tidak mempunyai kekuatan, bahkan ponselnya terlepas dari genggamannya. Sudah dua tahun dia tidak melihat putranya. Erick bahkan keluarga besar Shin menutup akses dirinya menemui putranya agar mereka dnegan leluasa menjadikan putranya alat untuk segera mendapatkan peralihan hak perusahaannya. Walau sudah mereka dapatnya Jimmy tak kunjung di berikan pada dirinya.
"Karen... Karennina... Are you okay?!" Rangga masih terus memanggil Nina. Nina segera tersadar dia kembali menautkan ponsel di telinganya.
"Iya, share location aku akan secepatnya menuju tempatmu..."
Dua puluh menit kemudian, Nina telah berpenampilan sangat cantik dan menarik. Tanpa disadarinya dia berpapasan dengan hanssel di salah satu lorong namun dia abai.
"Nina..." Lirih Hanssel.
"Huh!! Bodo amat cewek cantik manapun aku bisa dapatkan. Si nenek lampir itu sok jual mahal!!!"
Hanssel masih merasa sangat kesal atas perlakuan Nina yang terus menerus dingin dan menolaknya.
"Nina...." Lirih Erick menatap dengan binar mata yang seolah tengah merindukannya.
"Maaf aku terlambat..." Ujar Nina kemudian.
"HEH! UNTUK APA KAMU DATANG KEMBALI LAGI KEMARI HAH?!"
"Kau lihat Jimmy, dia adalah ibu kandungmu... Namun selama ini dia pergi bersenang-senang tanpa ingin membawamu!!!" Soraya mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti perasaan Nina.
Bahkan wanita ular itu tengah tidak tahu diri memutar balikkan kenyataan. Nina hampir saja menitikan air matanya namun Rangga dengan sigap berdiri dan merangkulnya.
"Kamu harus tenang, aku pikir Jimmy tahu kebenarannya."
Nina hanya mampu menganggukan kepalanya.
"Erick, sesuai perjanjian kita kamu menyetujuinya bukan?"
"Apa-apaan ini?!" Sergah Nyonya besar Shin.
"Karennina, kamu sudah bukan lagi bagian dari keluarga Shin! Untuk apa kamu kemari lagi..."
"Kamu telah gagal menjadi seorang istri yang baik bahkan kamu gagal menjadi ibu yang baik untuk penerus kami Jimmy Shin!!" Sungut Nyonya besar itu tidak terima dengan kehadiran Nina.
"Ma... Sudahlah... Semua sudah berlalu... Lagian jika bukan karena perusahaan Nina kita tidak ada apa-apanya." Lirih Erick menenangkan ibunya.
"ERICK SHIN!!!" Umpat Nyonya Besar kemudian pura-pura memegang dadanya dan bersiap tidak sadarkan diri.
"MAMAA!!" Ujar Erick dan Soraya berbarengan dengan panik menghampiri ibunya dan mencoba mendudukannya di kursi.
Nina dan Erick menyaksikan drama keluarga gila di depannya yang membuat mereka ingin muntah berjamaah. Rangga memperhatikan kesempatan, Jimmy tidak ada yang menjaga dia menghampirinya.
"Hey... Boleh kita saling kenal?" Tanya Rangga ramah.
"Boleh om..." Jawab Jimmy dengan takut-takut.
"Om adalah teman baik ibumu.... Dia banyak sekali menceritakan kamu. Dia bilang bahwa kamu adalah kesayangannya yang berharga!" Ujar Rangga kembali meyakinkan putra semata wayang Nina.
Deg!
Nina tak kuasa lagi menahan bendungan air mata yang sedari tadi dia tahan, dia menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tubuhnya bergetar, dia bersimpuh dan merentangkan kedua tangannya tanpa di perintah Jimmy menghambur memeluk ibunya.
Keduanya berpelukan dengan sangat erat, jika memungkinkan tidak akan ada yang bisa melepaskan ikatan mereka saat ini.
"Ibu minta maaf nak... Ibu kurang berjuang lagi mendapatkanmu..." Lirih Nina disela isak tangisnya.
"Jimmy kangen ibuu... Jimmy mau tinggal dengan ibu..."
"Omma dan mami Soraya jahat padaku!"
JEDEER!!
Bagai di sambar petir hati Nina mendengar ucapan polos putranya. Selama ini Nina tidak pernah memperlakukan Jimmy dengan kasar. Teringat bagaimana dia kesakitan saat berusaha mengeluarkan dia pada persalinan normalnya. Nina melepaskan pelukannya, dia memegang bahu Jimmy erat.
"Mulai saat ini kamu tinggal dengan ibu..."
Jimmy mengangguk senang, Nina melengkungkan senyumnya. Disaat orang-orang masih sibuk dengan pingsannya nyonya besar Nina telah membawa Jimmy pergi.
"Rangga, aku serahkan sisanya padamu."
"Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu..."
"Kita bertemu di apartemenku esok ya..."
"Iya..." Rangga terharu melihat pertemuan ibu dan anak barusan. Dia tidak bisa berkata banyak. Justru dia tengah memperingatkan Nina untuk segera pergi dari tempat ini dan membawa Jimmy pulang ketempatnya.
"Dimana Jimmy?!!" Ujar Soraya panik.
"Dia berada dengan orang yang tepat!!"
"Erick Shin berikut surat panggilan pengadilan...Karennina menggugat hak asuh anaknya. Minggu depan kamu harus datang kepengadilan mengikuti semua proses hukum di ibu kota!"
Tanpa basa-basi Rangga menaruh map coklat itu di atas meja kemudian berlalu dari hadapan keluarga Shin.
"APAAA??!!" Pekik Soraya tidak terima.
Bukan karena dia menginginkan bahkan menyayanginya melainkan tanpa Jimmy dia tidak bisa lagi memeras Nina kedepannya.
"Sudahlah Soraya... Kita tengah membutuhkan suntikan dana untuk perusahan kita yang sedang krisis."
"Rangga menawariku penawaran yang bagus..."
"Bukankah anak itu berguna... Menukarnya dengan kesehatan likuiditas perusahaan tidak rugi malah untung."
Erick menjelaskan dengan sedikit gemetar, walaupun dia sangat jahat selama ini tapi Jimmy sendiri merupakan darah dagingnya ada rasa bersalah dalam dirinya memperlakukan Jimmy seperti barang pertukaran dengan kekuasaan dan uang. Sedangkan dia dan Soraya sampai saat ini belum juga di karuniai seorang anak.
Aku tidak menyangka bisa kembali lagi bertemu dengan Nina. Dia bahkan terlihat lebih cantik dari terakhir aku mengusirnya.
Erick membaca berkas undangan dari pengadilan itu. Hatinya merasakan ada getaran lain saat dia kembali melihat wanita yang pernah menjadi istrinya selama setahun itu.
Aku sangat emosi saat tahu bahwa keluarga besarmu menghina keluargaku Nina. Semua ini tentu karena ulahmu!! Jika saja keluargamu itu tidak angkuh dalam melihat aku dan keluargaku mungkin kita masih berbahagia sampai detik ini!
***
"Putar balik!!" Pekik Hanssel pada supirnya.
"Tuan?" Farell bertanya ada apa gerangan.
Selama di perjalanan hatinya sangat gelisah. Dia tidak menampik bayangan Nina terus menari-nari di kepalanya. Saat ini seharusnya dia baru saja sampai di airport namun segera menyuruh supirnya kembali menuju Hotel sebelumnya.
"CEPAT!!"
"B-Baik..."
Kemudian mobil kembali menuju tempat yang diinginkan tuannya. Hanssel bergegas menuju lobby namun dia berpapasan dengan Rangga.
"Lah, lu masih disini bro?" Tanya Rangga heran dengan tingkah buru-buru sahabatnya.
"Iya ada urusan sebentar..." Ujarnya sedikit mengacuhkan namun dia kembali berteriak pada temannya.
"Lu pulang sekarang?"
"Yoi..."
"Tunggu disitu!!"
Rangga membuka matanya lebar tidak mengerti keadaan sahabatnya saat ini. Hanssel dengan tergesa menuju resepsionis dan menanyakan tamu atas nama Karennina kemudian dari jawaban resepsionis itu dikatakan bahwa nina telah check out satu jam yang lalu.
Braaak!
"Sial!!" Hanssel menggebrak meja resepsionis membuat wanita didepannya terkejut.
Kemudian dia segera menghampiri Rangga yang tengah selesai berbincang dengan seseorang via telpon genggamnya.
"Urusan lu dah beres?" Tanya Hanssel kemudian.
"Udah barusan... Makanya gua mau langsung cabut... Fokus sidang di Jakarta."
"Owh.. Ok lah balik bareng aja.." Ujar Hanssel lesu.
"Lah... Emang kerjaan lu dah beres?" Tanya Rangga mereka mengobrol dengan lanjut berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka saat ini.
"Udah..."
"Nyampe jakarta langsung ke Mo ya, ajak yang lainnya."
"Lah kenapa lu?"
"Naga-naganya lu lagi patah hati ya?!" Ejek Rangga.
"Eh, Pria Casanova sebelah gue mana kenal sama patah hati ya gak sih!! HAHAHHA!" lanjutnya mengompori.
"B*NGKE!!" Umpat Hanssel kesal.
Lihat Nina gue bakalan bikin perhitungan panjang sama kamu!! Aku ingin kamu menyesal dan berlutut memohon padaku!!
******