Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 145 - Good Vibes



"Tuuuaan!"


Keenan terperanjat saat suara seorang pria yang sangat dia kenal membuyarkan lamunannya.


"ASTAGA KARENNINA!!"


Keenan bangkit dari kursi dan menghampiri Sam, menahan dan menggoyang bahu Sam berkali-kali.


"SAM GIMANA KAREN?!"


Pagi ini Keenan masih setia menunggu Farah di depan ICU, dengan tubuh yang masih berbalut bau amis darah dan beberapa luka sayatan pedang yang di berikan Azlan saat pertempuran kemarin. Para perawat rumah sakit tidak ada yang berani lagi mengganggu Keenan, setiap kali mereka menawarkan merawat luka Keenan, Keenan tolak dengan kasar. Dia bahkan tidak ingin memejamkan matanya. Saking fokusnya dengan Farah dia lupa akan kabar adik kesayangannya.


"Terakhir saya mendapat informasi Nona Karen sudah membaik tuan."


"Bayinya terlahir prematur dan harus di rawat di NICU."


"Sedangkan nona yang sempat mengalami koma sudah mulai terlihat ada gejala kembali sadar."


"Dia bisa merespon dengan beberapa kali menggerakan tangannya."


"Tuan besar dan nyonya sudah mengetahui semuanya tuan..."


Bruuk!


"Tuaan!"


Keenan menangis senang di tersungkur di lantai, adiknya baik-baik saja. Dia sempat mengumpat dalam hatinya, untuk pertama kalinya dia mengabaikan keselamatan adik kesayangannya. Hanya karena dia percaya Nina adalah wanita yang kuat dan pintar. Dia yakin adiknya mampu mengatasi masalahnya, terlebih ada suami di sampingnya. Sedangkan Farah, Keenan lah yang menarik wanita itu dalam bahaya. Dia tentu harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan gadis yang sangat dia cintai itu.


"Apa yang terjadi tuan?"


"Tuan, anda terluka."


"Anda harus melakukan pengobatan, jika anda lemah saat ini siapa yang akan menjaga nona Farah?!"


DEG!


"Perawatan luka anda tidak serius tapi jika di biarkan akan mempengaruhi kesehatan anda."


"Bisa jadi membuat musuh kita mengetahui dan menggunakannya untuk kembali mencelakai anda."


"Tuan, saya yang akan berjaga disini."


Untuk pertama kalinya Sam melihat tuannya semenyedihkan ini. Tampilannya sungguh berantakan, dia bahkan terkejut mata tuannya sembab dan meradang. Itu artinya Keenan terlalu banyak mengeluarkan air matanya. Dia tahu yang bisa membuat tuannya menangis adalah adiknya, namun menangisi Farah? Ini baru terjadi.


Tuan benar-benar sudah jatuh cinta pada Farah Lee! Aku doakan kebahagiaan mu tuan...


Brruk!


Keenan terjatuh di depan tubuh Sam, Sam terkejut tuannya pingsan.


"SUSTEEER!!!"


***


Dua minggu kemudian Negara S,


"Maafkan ibu nak..."


"Ibu yakin kamu kuat, sebentar lagi kamu pulang sayang..."


Nina meletakkan telapak tangannya di kaca jendela yang memperlihatkan bayinya yang tengah mendapat perawatan.


"Sayaang..."


"Kamu belum pulih betul!"


"Kita kembali ke kamar ya..."


Hanssel merangkul tubuh Nina dari belakang, "Putra ku tentu saja sangat kuat, buktinya dia selamat!"


Nina mendongak menatap suaminya dengan senyuman.


"Terlebih dia memiliki ibu yang begitu kuat dan juga sangat baik hati."


"Mengorbankan apapun demi orang lain yang akan mencelakainya."


"Jordan pasti sangat ingin bertemu dengan ibu yang selalu menjaganya selama ini."


"Apalagi jika dia tahu kakaknya akan selalu menjaga dan menemaninya bermain kelak!"


Nina meneteskan air matanya, dia sempat menyesal karena keteledorannya membuat bayinya yang diberi nama Jordan Adamson harus terlahir prematur dan kini tengah di rawat secara serius di ruang khusus Neonatal Intensive Care Unit (NICU).


Hanssel memapah tubuh Nina kembali ke ruang perawatannya. Nina mengalami koma selama satu pekan, kemudian dia terbangun saat dia mendengar suara Jimmy yang terus memanggilnya dengan terisak. Hanssel tidak pernah beranjak dari samping Nina, keluarga besar Kaviandra dan Adamson yang mengetahui keadaan Nina juga menemani Hanssel di rumah sakit.


"Ibuu..."


"Sayaang..."


Nina berjongkok memeluk putranya. Terlihat kedua orang tua dan mertuanya kembali menjenguknya.


"Ibu pasti abis liat adek Jordan ya?"


"Iya sayaang..." Nina yang masih lemah hanya bisa mengucap lirih dan mengacak rambut Jimmy perlahan.


"Bolehkah aku juga menjenguk Jordan."


"Siapa tau dia denger suara kakak dia bangun dan ingin bermain!"


Semuanya terharu dan tersenyum bahagia.


"Ayok Jimmy sama kakek kita liat adek Jordan!" Tuan Kaviandra mengulurkan tangan pada Jimmy dan membawanya menuju ruang NICU.


"Gimana keadaan mu sayang?" Tanya Nyonya Rossie.


"Sudah membaik ma..."


"Ayok masuk dulu sayang kamu jangan banyak berdiri."


"Abis operasi tuh ga boleh banyak aktifitas."


Nina mengangguk, dia sungguh bahagia bisa merasakan perhatian yang luar biasa dari mertuanya. Sangat berbanding terbalik saat dulu dia berada di keluarga Shin. Ah, masa lalu... Terima kasih, karena kamu aku belajar banyak hal!!!


"Woi!" Panggil Hanssel malas, karena sahabatnya itu malah berpacaran dengan Yvone.


Yvone melayangkan segaris senyum canggung pada Hanssel, setiap hari keduanya juga selalu datang mengunjungi Nina. Namun Hanssel masih keras hati, dia masih belum menerima keberadaan Yvone, jika bukan karena gadis itu dia yakin Nina dan putranya masih baik-baik saja saat ini.


"Hans!" Panggil Rangga merasa Hanssel selalu dingin pada kekasihnya.


"Masuk lah..." Hanssel tidak menanggapi dan berlalu mendekati istrinya.


"Siang kak..." Sapa Yvone ramah, dia membawa kembali rangkaian bunga hidup yang semerbak dengan satu keranjang buah-buahan.


"Hai..."


"Kalian terlalu formal sekali, ga usah ngerepotin gitu!"


"Tapi bunga ini aku suka!"


Nina menerima buket bunga mawar yang di serahkan Yvone padanya. Hanssel masih terdiam dingin, Nina menatap suaminya dengan perasaan tidak nyaman. Dia mengerti mengapa suaminya seperti itu, semoga suatu hari nanti Hanssel bisa menerima keberadaan Yvone, dia sendiri belum mengatakan kebenaran yang terjadi selama ini.


"Ayok sini duduk!" Nyonya Lyn mempersilahkan tamu putrinya duduk di sofa.


"Santai aja tan..." Ujar Rangga dengan senyuman.


"Jadi kapan nyusul?" Tanya Nyonya Rossie.


"Hehehe!" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedangkan Yvone menunduk tersipu malu.


Yvone mendekati Nina kembali, sedari awal dia bertemu dan Nina tersadar berkali-kali Yvone menangis di hadapan Nina dan mengucap ribuan kata maaf dan terima kasihnya.


"Kak..." Yvone menggenggam tangan Nina.


"Mulai lagii..." Canda Nina.


Yvone menyeringai malu, "Aku sungguh... Aku sungguh beruntung bertemu kakak!"


"Kamu bahkan menganggap ku seperti adik sendiri."


"Aku sungguh merasa tidak pantas."


"Aku sungguh berterima kasih pada kakak pada tuan Hanssel!"


"Terima kasih!"


Yvone menundukan tubuhnya 90 derajat menghormat pada Nina. Nina terkejut dengan aksi Yvone kali ini, begitu pula yang lainnya.


"Mulai hari ini dan seterusan aku sendiri Yvone Caroline berjanji mengabdikan diri pada kakak seumur hidupku!"


"Iddiihh merinding gini dengernya!!" Canda Nina merentangkan kedua tangannya, Yvone menghambur memeluk Nina dengan terisak. Kedua ibunya merasa bangga putri dan menantu mereka begitu memiliki jiwa sosial yang tinggi.


"Karena aku yakin kamu hanya perlu tempat yang tepat untuk mengasah kemampuan mu!"


"Aku selalu yakin kamu tidak akan mengkhianati ku."


Yvone kembali terisak dan memeluk Nina erat. "A aku ga bi sa na faas!"


"Oh maaaff kak!!" Yvone melepas pelukannya.


Semuanya tertawa melihat kebersamaan keduanya.


"Oh ya kak..."


"Selain aku, ada juga yang ingin bertemu kakak."


"Hah?!" Nina tercengang.


Yvone tersenyum dia keluar dari kamar dan membawa beberapa orang.


"Selamat siang..." Ujar kompak beberapa orang yang memasuki ruangan.


Mereka tak lain adalah tuan Albert, istri beserta anak terakhir mereka. Ketiganya langsung menundukan tubuh mereka di hadapan, nyonya Rossie, nyonya Lyn, Hanssel, Rangga terlebih di hadapan Nina.


"Kami keluarga Albert benar-benar berterima kasih pada kemurahan hati nona Karennina."


"Bahkan hidup kami di selamatkan oleh nona."


"Eh... Tidak perlu terus menunduk!"


"Bangkitlah..."


Nina merasa sungkan kali ini, merasa di hormati oleh yang lebih tua rasanya kurang nyaman.


"Kak, ini ayah, ibu dan adik ku."


"Halo kak, aku Yovanka."


"Hai Yovanka, ternyata kamu lebih imut di banding kakak mu."


"Hahahha"


Semua terbahak bersama.


"Loh ada banyak tamu ternyata..."


Tuan Adamson, tuan Kaviandra beserta Jimmy kini telah memasuki kembali kamar inap Nina.


"Ibu!"


Hanssel menghampiri Jimmy dan menggendongnya. "Sudah puas bertemu adik mu?!"


"Sudaaah! Dia ganteng seperti Jimmy!!"


Semua kembali berkelakar, kemudian melanjutkan dengan obrolan ringan. Rasa haru menguar di hati Nina.


Mungkinkah semua kekacauan ini telah berakhir?


Nina menggenggam erat jemari Hanssel tersenyum lebar dan kini keduanya memeluk Jimmy dengan hangat. Dia bersyukur semua telah berakhir dan mereka akhirnya bisa memulai kehidupan normal mereka sebagai sebuah keluarga yang hangat.


✲✲✲✲✲✲