
"Aarrgghh!!"
"Nona mudaa!"
"Ninaaaa!"
Kedua pandangan mata sepasang kekasih itu memudar dan pingsan bersamaan. Nina sendiri kembali merasa tertekan, dirinya membunuh nyawa seseorang disaat dia sedang mengandung. Merasa bahwa tindakannya terburu-buru padahal dia bisa menyuruh anak buahnya. Hanya karena dia marah wanita itu menjadikan Hanssel umpan.
Beruntung Sam tepat waktu, dia segera mengerahkan anak buahnya membantu keduanya dan segera melakukan tindakan medis.
"Sisanya rapihkan area ini."
"Jangan sampai kasus ini mencuat ke publik!"
"Noted tuan Sam!!"
Semua bergerak cepat agar tidak mengundang kecurigaan.
Di Negara B, Keenan sudah berhasil memasuki Emperor. Dia menyamar menjadi pegawai kelas rendah menjadi cleaning service. Dia mengubah tampilannya menjadi sosok yang dia pinjam identitasnya.
Keenan akhirnya mengetahui bahwa keluarga Tan membangun sebuah laboratorium di pulau B. Dia dan beberapa pegawai di rekrut sangat ketat. Mereka di kontrak tiap enam bulan sekali akan ada assignment ulang. Dilarang membawa peralatan gadget dan sebagainya. Mereka benar-benar polos tanpa membawa apapun.
Selama tinggal di pulau B, dia tinggal di sebuah dormitori khusus pegawai sesuai tingkatan. Keenan berdecak kagum Emperor benar-benar mempersiapkan sedetail mungkin. Bahkan terlihat seperti penjara tersembunyi.
Keenan bergerak menaruh beberapa kamera transparan tersembunyi di sudut ruangan tertentu saat dia bekerja membersihkan ruangan, dia juga merekam dengan bantuan laba-laba pengintai miliknya yang dia keluarkan mencari informasi tambahan, dia tidak sengaja mendengar percakapan petinggi Emperor atau CEO mereka yaitu Bo Qi yang dia ketahui merupakan keponakan dari nyonya besar Liliana Tan dengan asistennya.
"Tante akan melakukan inspeksi minggu depan, persiapkan semua dengan baik."
"Baik tuan muda."
"Apa ada kabar dari pemasok farmasi Xin?"
"Kita sudah mendapat portofolio dari beberapa perusahaan farmasi terbaik."
"Sesuai arahan nyonya besar kami hanya akan lanjut dengan 3 perusahaan."
"E.T termasuk di dalamnya..."
"Lalu Xin?!"
"Benar tuan, pemasok bahan antisera yang akan berpartisipasi di laboratorium kita ada Xin, Eternal dan J&P!"
"Baiklah..."
"Semua prosedur harus sudah siap sebelum nyonya besar Liliana Tan datang kemari."
Keenan mendengarkan percakapan keduanya di kamar mandi menggunakan handsfree yang sudah dia modifikasi agar gelombang suara dan elektromagnetik tidak terpancar.
Dia segera menarik kembali robotnya setelah merekam jelas apa yang mereka bincangkan.
"Jadi Emperor berusaha membuat serum obat anti inflamasi disini."
"Mengapa nyonya besar harus menyembunyikannya dari tuan besar?"
"Bukankah seharusnya mereka bekerja sama saja?!"
Keenan mendapat pesan tersembunyi, dia membacanya perlahan dan sontak membuat matanya terbelalak saat mengetahui bahwa adiknya membunuh salah satu antek Wijaya dan Hanssel mendapat suntikan obat terbaru yang di keluarkan Huateng yaitu obat Y.
"Aku bisa keluar dari sini setelah tiga bulan!"
Keenan merasa sangat khawatir dengan keadaan Nina dan Hanssel. Namun dia terikat pekerjaannya di pulau B.
"Ada baiknya aku tidak terburu-buru."
"Masih ada Sam yang menjaga Karen, jika aku sedikit lebih lama dan mengetahui apa yang diperbincangkan nyonya besar mungkin aku bisa mengetahui obat anti body bagi Hanssel."
"Wijaya sungguh bergerak sangat cepat."
"Apa yang dia inginkan sebenarnya?!"
Keenan merebahkan dirinya. Saat ini adalah jam malam, dia sudah berada di kamarnya yang berukuran 3x2 m hanya muat satu ranjang kecil serta nakas di samping.
"Faraaah..." Keenan menghirup lamat oksigen dengan kembali merindu kekasih kecilnya.
Sungguh merepotkan saat kita dilanda jatuh cinta. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa. Farah memang satu-satunya wanita selain Karen yang hilir mudik berada dekat dengan ku. Sampai hari naas itu membuat aku semakin dilanda perasaan aneh, antara menyesal, tidak percaya dan senang bercampur aduk begitu saja.
Keenan kembali memejamkan matanya, slideshow kebersamaannya dengan Farah silih berganti menemani tidurnya.
Di Negara yang sama namun di tempat yang berbeda, Farah memang memberi tahu ibunya dia menyewa sebuah rumah agar lebih dekat menuju tempat kerjanya. Ibunya tidak mempermasalahkannya, sedari dulu Farah memang terbiasa keluar dari rumah. Apalagi saat keluarga Kaviandra datang membantu dan mengangkat mereka menjadi bagian dari keluarga Kaviandra.
"Nak, apa kamu merindukan ayah mu?!"
"Sudah 3 bulan dia entah di mana."
"Mirip-mirip bang toyib kita ni!"
"Huh!"
Farah membuang nafas kasar, dia membuka ponselnya mengusap lembut wallpaper yang terpasang wajahnya dan Keenan dalam satu frame.
Saat itu dengan merengek Farah meminta berfoto dengan kakak sepupunya namun Keenan menolaknya mentah-mentah.
"Dih!!"
"Kakak kurang gaul!!"
"Dimana-mana pasangan itu punya foto berdua!!"
"Ini kagaaak!!"
"Biasa juga kita kan foto bareng bertiga!!"
"Sok jual mahal sekali anda."
Rentetan ocehan Farah yang melengking membuat Keenan menarik tubuh mungil Farah ke dalam dekapan dan lights, camera, action!
I see you lookin' at my P-I-C (I know)
Ceklek!
Farah terpaku, terdiam dan membisu.
O M G!
Keenan memotret dirinya tengah mencium pipi gadisnya erat. Setelah tersadar dan melihat hasil jepretan tidak direncanakan barusan Farah kembali mengoceh.
"Ulang ih!!"
"Gue jelek begini!!"
"Bilang dulu sih biar dapet angle yang cetar membahana membelah khatulistiwa!!!"
Keenan memutar bola matanya dan merutuk lirih dengan tingkah kekanak-kanakan pujaan hatinya. Dengan sabar Keenan menuruti setiap perkataan kelinci kesayangannya. Sudah ratusan kali mereka mengambil gambar. Farah kini mengabaikan prianya sibuk menscroll gallery ponselnya.
Nyuruh di foto aja bikin energi terkuras gini Faraah Lee!!
"Zoom in.. uh-huh... zoom out... okay..."
"Zoom in.. uh-huh... zoom out... okay..."
"Zoom in.. uh-huh... zoom out... okay..."
"APA SIH FARAAAAH!!" Keluh Keenan merasa wanitanya sedikit gila hari ini.
Farah terbahak tidak peduli, kemudian dia meminta ponsel kekasihnya.
"Hp kakak mana?!"
"Buat apa?!"
"Buat di pajang dong!!"
"Buat apa lagiii..."
"BUAT PAMER TENTU SAJAAA!!"
Walau sedikit enggan Keenan tetap menuruti kelincinya.
"Tadaaa!!"
Farah menunjukan wallpaper ponsel keduanya yang sama. Saling merangkul dan mencium.
Bruk!
Keenan menjatuhkan Farah di sofa.
"Aku sudah melakukan semua permintaanmu cutie!"
"Sekarang giliranku yang memintaaa..."
Keenan mengusap leher jenjang dan putih mulus kekasihnya dengan ujung lidahnya. Farah menggelinjang hebat, dia seperti terkena sengatan kejutan arus listrik jutaan volt.
"Aaargh kaaak..." Lenguh Farah.
Keenan sedang mencoba melucuti pakaian wanitanya. Namun Farah mendorong lemah.
"Kakak ni ga bisa kah milih tempat bagus buat enak-enak!!"
"Gimana kalo tiba-tiba ada yang datang?!"
Keenan melayangkan senyum rupawannya.
"Siapa yang berani melihat kita aku akan menghilangkan nyawanya."
"Isshh!
"Ye lah..."
Keenan menggendong kelinci kesayangannya ala bridal. Farah melingkarkan kedua tangannya di pundak kekasihnya, gadis itu juga mulai mendaratkan ciuman lembut dan terus berlanjut hingga mereka berada di atas ranjang dan melancarkan serangan membangun cinta diantara keduanya.
✲✲✲✲✲✲