Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 121 - Breath of Life



Yvone tengah bersuka cita, berlarian kesana kemari menarik lengan Rangga memasuki satu wahana ke wahana lainnya. Dia sungguh seperti terlahir kembali, nyatanya tanpa dia ketahui dia memang sedang terlahir kembali. Di tengah keputus-asaannya dia bersyukur tuhan masih memberikannya seseorang yang membuat harinya berwarna.


"Kak!"


"Hm?!"


Yvone dan Rangga terdiam di tepi jalan, lebih tepatnya di pinggir jembatan yang di kiri dan kanan ada pohon dan dibawahnya penuh bertaburan bunga berwarna-warni. Sungguh pemandangan yang cantik dan romantis bagi para pasangan muda. Yvone tengah merencanakan sebelumnya dia ingin menyatakan perasaannya pada pria yang sudah menolong nyawanya dan membuat harinya berwarna.


"Kak, terima kasih sebelumnya."


"Kakak adalah orang yang pertama aku lihat saat aku kembali membuka mata."


"Kakak juga sudah mengobati seberapa banyak luka yang selama ini aku terima."


"Ijinkan aku mengabdikan diriku padamu kak!"


"Aku sangat menyukai mu..."


Cup~


Dengan keberanian yang besar Yvone telah menyatakan perasaannya bahkan mencium pipi Rangga kemudian berlari kabur saking malunya. Rangga terpaku, dia masih terdiam di tempatnya dengan memegangi pipinya yang kini telah memerah ulah wanita yang baru kali ini ada yang menyatakan perasaannya begitu blak-blakan padanya.


Astaga Feliciaaa kamu sungguh tidak tahu maluuu!!


Yvone tengah sangat malu, dia terus berlari menjauhi Rangga. Hingga dia menabrak seseorang.


Bruuuk!!


"Upss maaf!" Ujar Yvone segera meminta maaf dan menundukan tubuhnya.


Satu orang pria tinggi tegap menyunggingkan senyuman mencurigakan, Yvone menelan salivanya ingin secepatnya dia berbalik arah dan menyesal telah berlari menjauh dari pria yang kini mencuri cinta darinya.


Tunggu, mengapa aku seperti mengenali rupa ini?!


Bukannya segera berlari seperti yang di perintahkan otaknya, Yvone justru tengah menatap lekat pria di depannya.


"Heh, kalo semua masalah bisa selesai dengan kata maaf apa gunanya polisi hah?!" Pria itu sengaja memprovokasi membuat masalah bagi Yvone.


Rangga yang sudah hampir mendekati tempat Yvone segera mempercepat langkahnya mengetahui gadisnya sedang mendapat masalah.


"Ada apa ini?" Rangga merangkul bahu Yvone menegaskan pada kedua pria di depannya akan kedekatan mereka berdua. Seketika juga Yvone terbelalak dengan respon Rangga yang begitu melindunginya setiap waktu.


"Cih!"


"Sok jadi pahlawan lu ya?!"


"Dasar segerombolan sampah masyarakat!!" Sungut Rangga tidak ingin kalah.


"Kak!" Lirih Yvone merangkul lengan Rangga dan beringsut mundur kebelakang tubuh prianya merasa sangat khawatir dan ketakutan bercampur menjadi satu.


"Sampah?!"


"Nyali mu sungguh tinggi anak muda!!!"


Si pria sangat mudah terpancing emosi, dia bersiap menghajar Rangga di hadapan beberapa orang yang sudah bersiap menyaksikan pertikaian mereka.


"DION!!"


Salah satu rekan si pria menghentikan aksi pertikaian komplotannya yang sudah bersiap menghajar Rangga dan Yvone.


"Cih!"


"Kamu hanya sedang beruntung saja kali ini!!!"


"Lain kali saat aku bisa menemukan kalian maka jangan salahkan aku menghidangkan daging segar kalian untuk makan siang anjing kesayangan ku!!"


Bisikan sarkas dan kasar dari si pria sukses membuat tubuh Yvone bergetar hebat. Rangga sendiri tidak melakukan perlawanan apapun dia hanya menunjukan senyum tipisnya. Bagi dia sekelompok preman itu hanya pandai menggertak saja.


Akhirnya si pria pergi meninggalkan keduanya, dan kerumunan orang yang sedari tadi menonton pertikaian mereka mulai membubarkan dirinya. Yvone yang kembali mengingat panggilan rekan preman barusan seketika kepalanya menegang dan seperti sekelebat ingatannya melayang memenuhi pikirannya.


"Tolong tinggalkan aku!"


"Atau aku akan adukan tindakan cabul kamu pada tuan Don!"


Yvone beringsut menjauh, saat tiba-tiba Dion menemuinya dan menggoda dirinya.


"Hahaha!!!"


"Kau anak kemaren sore ga usah banyak tingkah!"


Dion semakin memojokan Yvone yang sangat menarik perhatiannya, dia ingin sekali melampiaskan hasratnya pada gadis yang tiba-tiba diberi tugas satu team dengannya.


"Kita lihat saja nanti!" Ancam Yvone dia segera mengambil senjata untuk membela dirinya.


"Wooy!"


"Cewek tuh ga pantes bertingkah bar-bar!"


"Liat tuh si Sarah keseringan bar-bar mana ada yang mau sama dia mana bodynya kek triplek pula!"


Braaaaak!


"Aarrghh!!"


Sarah yang kebetulan lewat di ruangan bawah mendapati namanya di catut oleh salah satu rekannya dan menjelekkannya tentu saja dia emosi dan melempar botol mineral yang masih terisi penuh tepat di kepala plontosnya.


Yvone terpaku dengan masih mawas diri, dia tidak boleh lengah di tempatnya saat ini lawan bisa jadi kawan dan begitu pula sebaliknya tidak bisa dia prediksi.


"Lu di panggil tuan Don!!"


"Lu kalo nafsuan cari budak se*ks di bawah sana."


"Cewek ini spesial pesanan tuan besar!"


"Kamu lukai dia sama dengan gali kuburan sendiri."


"Cih!"


Dion merasa kesal, kesenangannya terhenti karena kedatangan Sarah.


"Terima kasih!" Ujar Yvone saat Dion pergi menyisakan dia dan Sarah berdua di dalam bangsal bawah tanah tempat markas mereka. Sarah tidak merespon hanya berlalu begitu saja.


"Aaarghh!!"


Yvone memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Felliii!" Pekik Rangga merangkul tubuh ringkih gadis itu.


Seketika Yvone tidak sadarkan diri, Rangga segera menggendong Yvone dan berlari menuju mobil mereka yang beruntungnya tak jauh dia parkir di area mereka barusan.


"Bertahan lah..."


"Team medis akan segera menangani mu dengan baik!"


Rangga terus menggenggam jemari tangan Yvone dengan satu tangannya, sedang tangan yang lain sibuk mengendalikan kemudinya.


Sesampainya di rumah sakit, dia segera meminta tim unit gawat darurat melakukan pemeriksaan dan pengobatan pada Yvone.


Dengan perasaan yang campur aduk Rangga menunggu Yvone di ruang tunggu pasien.


Braaak!


Pintu ruang pemeriksaan telah terbuka, dokter pribadi keluarganya tengah menghampiri Rangga.


"Nona hanay pingsan, sepertinya ada ransanagn kuat membuat aktifitas syaraf di otaknya menegang."


"Besok pagi kami akan melakukan kembali EEG dan CT Scan pada nona."


"Setelah kita lihat grafiknya baru kita simpulkan therapi dan jenis pengobatan lanjutannya tuan."


Dengan wajah yang lesu Rangga mengangguk mengiyakan tanpa bisa mengucap sepatah kata. Dokter ijin pamit meninggalkan Rangga yang kemudian menemani Yvone di ruang perawatan.


Rangga menghembuskan nafasnya berat, dia juga menelan salivanya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Dia menggenggam jemari Yvone.


"Padahal, baru saja kamu menyatakan perasaan mu padaku!"


"Padahal, kita sedang bersenang-senang sebelumnya."


"Hehe..."


Rangga terkekeh dengan mata berkaca mendongakan wajahnya.


"Jujur, kamu wanita yang berani menggeser posisi Karennina membuat hari ku semenyenangkan siang tadi."


"Apa mungkin aku sedang jatuh cinta padamu?"


"Kamu juga sanagt cantik, polos, dan pengertian."


"Sebelumnya kamu terus memberikanku semangat saat aku kecewa akan nasib percintaanku dengan Karen."


"Bagus juga kamu hilang ingatan."


"Kamu tidak akan ingat aku pernah menceritakan apa saja tentang perasaan ku pada Karen."


Rangga bangkit dari duduknya mendekatkan wajahnya dengan wajah Yvone yang tengah tertidur. Walau tertidur, wajahnya sungguh berseri. Rangga memberanikan diri menempelkan bibirnya di bibir wanita yang juga mencuri cinta darinya. Dia sempat berpikir, dulu saat tubuh Yvone sudah membeku menjadi mayat dia mencoba mengalirkan nafas kehidupan padanya. Mungkin saat ini masih berlaku filosofi yang tidak jelas kebenarannya itu. Hal yang Rangga yakini, dia ingin mencium bibir pucat itu dan mengalirkan kembali nafas hangat yang mungkin membangunkan Yvone sesegera mungkin.


✲✲✲✲✲✲