Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 72 - Cafe



Hoek... Hoek... Hoek...


Hanssel memijit tengkuk leher dan punggung istrinya perlahan. Dia sungguh cemas dengan keadaan istrinya.


"Udah baikan sayang?!"


"Apa masih mual?"


Nina hanya sanggup mengangguk, perutnya sungguh tidak nyaman. Dahulu saat mengandung Jimmy dia juga pernah mengalami morning sickness. Hanya saja bedanya Erick tidak pernah peduli, bahkan dia berselingkuh di saat istrinya hamil sungguh keterlaluan.


Hanssel memapah istrinya dan dengan cepat memberikan istrinya minuman hangat.


"Kamu ingin sesuatu?!"


Nina menggeleng, dia menyerahkan kembali gelas yang masih terisi setengah minumannya. Nina masih terlalu lemas untuk berbicara dan melakukan sesuatu. Kepalanya seolah berputar dan hanya ingin rebahan.


"Sayaaang ga boleh nakal ya..."


"Kasian ibu..."


"Kita sama-sama sayang sama ibu kan..."


"Kalo kamu mau ngambek, ngambek sama papa aja ya!"


Hanssel menunduk dan berbicara di depan perut istrinya, Nina menahan tawanya melihat kelakuan suaminya. Mood Nina kembali bersemangat setelah sebelumnya dia dilanda ketidaknyamanan yang membuatnya ingin terus menangis.


Nina memainkan rambut suaminya, Hanssel merangkul istrinya dengan masih mencium perut yang berisi buah cinta mereka.


"Kapan kita bisa tahu jenis kelaminnya?"


"Sepertinya menginjak 4 bulan atau 17 minggu."


"Ini sudah berapa bulan?!"


"Menginjak 6 minggu..."


"Kau menipuku selama 6 minggu!!!"


Glek!


"HAHAHAHA!"


"Why...." Hanssel berubah sendu, dia bangkit dan duduk di sebelah istrinya.


"Apa kamu berniat meninggalkan ku?" Hanssel memainkan rambut Nina dan menciumnya.


"Aku pikir kamu hanya mempermainkan ku."


"Terlebih mantan pacar dan cinta pertama mu kembali."


Hanssel merangkul kembali istrinya mencium lehernya menghirup lekat wangi tubuh alami dan parfume Nina yang sangat enak di ciumnya.


"Jika aku main-main dengan mu untuk apa aku memaksa menikah dengan mu sayang!"


"Sudah jelas bukan?"


Nina tersenyum dan menunduk mendekati wajah suaminya "Mmmm...."


Bruuk!


"Adek bayi mau papa jenguk lagi ya?!" Hanssel menjatuhkan Nina kembali di ranjang. Nina menggigit bibir bawahnya seksi.


Hanssel merangkak menuju tubuh istrinya, gerakan slow motion itu membuat tubuh Nina kembali meremang.


"Sayaaang" Rengek Nina.


"Kita ke butik dulu ya!!"


Hanssel berhenti, raut wajahnya mendadak kesal. Nina terkekeh.


"Yuk..."


Hanssel mengulurkan tangannya, perlahan membantu istrinya bangkit.


"I love you..."


Hanssel mendekatkan keningnya dan mengungkapkan perasaan bahagianya saat ini.


"Love you too..."


Nina merangkulkan tangannya di bahu suaminya. Keduanya masih enggan pergi sejujurnya.


Tok... Tok... Tok...


"Nona muda, tuan dan nyonya besar menunggu anda di bawah."


"Oh okay wait a minutes!"


Nina melepaskan tangannya dan kini menggelayut manja di lengan suaminya.


Betapa bahagianya diriku bersama mu sayang!!


Keduanya keluar dan berangkat bersama memilih gaun untuk resepsi mereka dua hari lagi yang akan mereka gelar.


***


[Karen... I already in Beverly!]


[Okay, aku share loc kamu kesitu!]


[Siap nyonya!]


Rangga tersenyum kemudian melajukan mobilnya menuju tempat yang di berikan Nina lewat aplikasi.


"Bridal Boutique?!"


Rangga mengangkat kedua bahunya tidak ingin berpikir keras saat ini dan terus melajukan mobilnya. Sesampainya disana area lokasi butik tengah di jaga beberapa protokol keamanan. Walau tidak begitu kentara namun Rangga merasakan sedikit berbeda terlebih tidak ada pengunjung lainnya disana.


"Halo..."


"Aku di depan!"


"Masuklah..."


Rangga mematikan sambungan telponnya dan hendak memasuki toko namun di cegah oleh 2 orang tinggi tegap dengan seragam khas para bodyguard.


"Ada keperluan apa anda kemari?!"


"Saya teman Karennina..."


Rangga mengetahui sepertinya semua orang ini adalah pengawal Karennina.


"Biarkan dia, dia orang ku!"


Nina keluar dan menyambut kedatangan Rangga. Rangga melebarkan senyumnya kemudian merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan.


"I miss you badly!!" Pekik Rangga tidak tahu diri.


Nina menyambutnya, sudah tidak heran mereka sudah berteman 5 tahun lamanya. Hanssel memperhatikan dari dalam boutique dan kecemburuannya kembali mencuat!


"Sudah cukup!!" Hanssel melerai pelukan keduanya.


"Ppfft!" Nina menahan tawanya.


Nina memang sengaja mempertemukan keduanya kembali. Mereka tidak boleh terus berselisih, Nina berharap mereka kembali bersahabat seperti sedia kala.


Nina mendekati Hanssel dan merangkul lengannya "Bukankah kalian perlu deep talk?!"


Hanssel menatap Nina tajam kemudian membuang mukanya. Bagi Hanssel sejujurnya dia ingin sekali memperbaiki hubungan dengan sahabatnya itu. Namun dia tidak berani mengingat dia lah yang membuat sahabatnya patah hati. Dia masih tidak enak perasaan pada Rangga.


"Huh!" Rangga membuang nafas kasar.


"Kalian berbincang lah dari hati ke hati, aku tidak ingin melihat kalian berselisih!"


"Kalian sudah besar kalian tahu harus seperti apa."


"Aku masuk dulu..."


"Sam, bisakah kamu membantuku memesankan mereka kopi?!"


"Baik nona..."


"Tidak perlu kami akan berbocara di coffee shop depan." Hanssel mencegah asisten pribadi kakak iparnya melakukan tugas yang di perintahkan istrinya.


"Oh okay..."


"Aku percaya sekali dengan kalian, jaga kepercayaanku dan jangan mengecewakan!!"


Nina berkata dingin dengan sedikit ancaman membuat kedua pria itu seperti tengah di ceramahi ibu mereka. Nina kembali memasuki boutique. Hanssel mempersilahkan Rangga berjalan lebih dulu.


Keduanya telah memesan minuman yang akan menemani mereka berbincang.


"Maafkan aku..." Hanssel memulai percakapan mereka. Dia menundukan wajahnya.


"Heh!" Rangga tersenyum mengejek.


"Me too!"


Hanssel mengulumkan senyumnya dia menatap sahabatnya yang kini tengah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda mereka benar-benar berbaikan.


Hanssel menyambutnya entah mengapa matanya berkaca dan meneteskan air matanya.


"Kau sungguh cengeng, memalukan!!"


"Hahaha!"


Percayalah wajah mereka tidak menandakan bahwa sifat mereka serupa dengan rupa mereka.


Hanssel mengusap sudut matanya.


"Aku sungguh minta maaf, aku minta maaf tidak bisa merelakan Nina untuk mu."


"Apapun aku bisa mengalah untukmu..."


"Namun Nina... Aku tidak bisa!"


Hanssel kembali mengutarakan semua isi hatinya.


"Aku tahu..."


"Semua salahku yang tidak pernah ingin mengekspos siapa wanita yang aku cintai."


"Sedari awal aku sudah kalah!"


"Aku terjebak friendzone bersamanya."


"Bahkan dia menganggapku hanya seperti adiknya."


"Heh!"


Rangga menertawakan dirinya sendiri. Hanssel kembali menundukan wajahnya. Rasa iba menyelimuti hatinya untuk sahabatnya itu.


"Aku yakin akan ada wanita yang baik lainnya yang akan mencintaimu sepenuh hati!"


"Hahaha!"


"Aku tidak ingin memikirkannya.."


Hanssel melengkungkan segaris senyumnya pada sahabatnya, dia akan terus menyemangati Rangga.


"Jika kamu butuh apapun aku akan bantu."


"Tidak perlu!"


Hanssel kembali menggelengkan kepalanya, dia sangat tahu sahabatnya itu.


"Mau kah kamu menjadi pendamping pria di acara pernikahanku lusa?!"


Dengan hati-hati Hanssel meminta pada sahabatnya.


"Dengan senang hati!"


"Aku akan marah jika kamu meminta pada yang lainnya."


"Hahaha!"


"Kita pilih baju sekarang!"


"Okay..."


"Mari kita temui wanita kita!"


Hanssel merubah air mukanya, Rangga tertawa dan meninggalkan temannya.


"Kamu yang bayar!!" Ujarnya kemudian.


"Ck!" Hanssel sunggu terlalu beruntung menjalani hidupnya selama ini.


Hanssel segera membayar bill dan berlari kecil menyusul temannya. Di merangkul sahabatnya "Thank you bro!"


"You're welcome!"


"Gue masih inget taruhan yang nikah duluan bayar pajak pake mobil sport!!"


Hanssel menghentikan langkahnya, Rangga terkekeh kemudian Hanssel mengejarnya dan siap menghajarnya.


"MATA DUITAN!!"


"HAHAHA!"


Nina tersenyum bahagia akhirnya keduanya kembali berhubungan baik. Ibunya merangkulnya dari belakang.


"Apa mereka memperebutkan dirimu?!"


"No..."


"Sedari awal aku menolak dan tidak membiarkan Rangga mengejarku!"


"Aku tidak bisa membalas perasaannya."


"Jika aku memberikannya harapan palsu dengan bersikap plin plan."


"Mungkin hingga saat ini dia tidak akan mengampuni kami."


Nyonya Lyn memeluk putrinya "You always grow so fast!!" lirihnya.


Nina tersenyum menanggapi dan ikut merasakan kebahagian bagi kedua pria di depan yang sedang bertingkah seperti anak kecil.


✲✲✲✲✲✲