
"Hari ini adalah penyerahan sample Suho untuk bahan baku..."
"Kamu sudah pastikan mereka akan mengambil sample yang tepat yang sudah mr. Long siapkan?"
"Sudah tuan..."
"Suho sendiri baru pertama kali mengikuti proyek jenis ini, maka dari itu mereka tidak begitu mementingkan detail."
"Sangat mudah menjebak mereka."
Hanssel mengembangkan senyumya, "Pria seperti itu yang sudah merusak Nina?"
"Aku tidak percaya istriku begitu bodoh terjerat oleh Erick Shin."
"Yah, seperti pepatah mengatakan cinta itu buta..." Ujar Farell spontan
"YOU'RE SO BLIND!!" Maki Hanssel kesal.
"A-Ampun sayaa banyak bicara..." Farell membungkuk dan undur diri.
"Anda juga sudah buta tuan..." Rutuk Farell dalam hatinya.
Tuut!
"Masuuk!!"
Tidak berapa lama sekertarisnya sudah berada di ruangannya.
"Ada yang anda inginkan tuan?" Tukas Nina formal.
"Sini!" Hanssel menunjukan jari telunjuk ke arah Nina dan menyuruhnya datang mendekat.
Nina melengkungkan seyumnya dan mendekat ke arah suaminya. Hanssel menarik tangan Nina segera.
Brug!
"Hans... Mmmm...."
Hah!
"Ini di kantor!!"
"Memang kenapa? Ini bukan yang pertama..."
"Kita sering melakukannya..."
"Kamu sekertarisku... Canduku..."
Hassel terus melayangkan ciuman bertubi-tubi pada tubuh istrinya.
"Tunggu!! Sepertinya aku melupakan sesuatu?!!" Hanssel mendorong tubuh Nina dan menatapnya tajam.
Nina hanya menanggapi datar dan mimik wajah kebingungannya.
"Mana hasil testpack mu?"
Nina mendengus perlahan "Belum aku pakai..."
Nina berbisik di telinga Hanssel dan menggigitnya.
"Jangan mengujiku Nina!!"
Bruk!
Hanssel melakukan aksinya di dalam kantornya.
"Aku tidak habis pikir sama si babi mesum Hanssel Adamson!!"
"Aku merasakan tubuhku hampir remuk karena ulahnya sepanjang hari dan setiap ada kesempatan!!"
"Apa dengan teman kencan lainnya dia juga seperti ini?"
"Beruntung dia ga mati kelelahan!!!"
Nina menopang kepalanya merasakan pusing mendera dan energinya terkuras habis saat ini. Kemudian OB telah mengantarkan makanan. Baru jam 11 siang tapi dia sudah sangat kelaparan.
Pagi hari sebelumnya, Nina menatap tajam benda pipih panjang yang dia beli sebelumnya. Esofagus Nina seolah di jejal bola api besar yang membuat dia tercekat tidak bisa berkata. Hanya bisa menumpahkan kesedihan dan kebodohannya dalam waktu bersamaan. Dia segera membungkus kembali benda itu dan menyimpannya rapi di rak meja riasnya yang paling dalam.
"Huh!"
Kreek!
"Makan ga ngajak-ngajak!!" Hanssel membuka pintu ruangan Nina dan duduk di depannya.
"Kamu ga biasanya jam segini dah makan?"
"Apaaa..." Hanssel mengerlingkan matanya menggoda Nina.
"APA?!"
"Tentu saja aku lelah ada yang menyantapku barusan!!!"
Nina mengoceh bak nenek lampir yang selalu Hanssel sematkan kata itu padanya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah Suho terdakwa melakukan penipuan?"
"Aku akan mengambil alihnya!"
"Dan kamu meninggalkan Adamson?!"
Nina menghentikan suapan makanannya, dia menatap suaminya yang tengah menunjukan raut kesedihan dan tidak rela.
"Tentu saja...."
"Apa kamu mau sekertarismu memiliki 2 pekerjaan."
"Di dalam kontrak kerja ku jelas itu dilarang bukan?"
"Kamu pengecualian..." Ujar Hanssel lirih.
"Aku tahu kamu bisa menerimanya, tapi nyonya Adamson?"
"Semua karyawan disini?"
"Selama mereka tidak tahu kamu adalah CEO Suho, semua akan baik-baik saja..."
"Bukankah ini keuntungan bagimu?"
"Hans..."
"Aku tidak suka menipu..."
"Kalau begitu aku tidak akan mengijinkanmu mengambil alih SUHO!!"
"Aku yang akan mengendalikan dan mengambil alih SUHO di bawah naungan Adamson!!"
"HANSSELL!!!" Nina berdiri dari tempatnya dengan penuh emosi.
"Apa kamu sudah lupa apa janji mu padaku?"
"Hubungan kita hanya berdasarkan kesepakatan semata."
"Kamu menikmati diriku dan aku mengambil Suho ku kembali!!"
Hanssel mengeratkan kepalan tangannya. "Apa kamu lupa Nina... Kamu istriku, selama kamu berada di sampingku aku akan berikan apapun termasuk Suho!"
"Asal kamu berada di sampingku Suho dalam kendalimu!!"
"Aku tidak ingin berdebat!!"
Hanssel meninggalkan Nina yang masih berdiri kaku, Nina menundukan wajahnya pilu.
***
"Wanita itu akan berada di hotel ini sore nanti."
"Aku akan meminta dia bertemu denganku..."
"Setelah dia meminum minuman ini kalian cepat lah bergerak."
"Baik Nona..."
"Aku tidak mau ada kesalahan..."
"Kalian harus melakukannya dengan bersih..."
Di tengah kesibukannya Nina menerima pesan singkat dari seseorang kemudian dia menyeringai.
"Kau sudah menyatakan perang?" Gumamnya.
"Aku akan menemanimu bermain kalau begitu...."
Nina beranjak dari kursinya, bermaksud menyerahkan berkas pada tuannya yang sehari ini dalam suasana hati yang buruk.
Di sebuah restaurant hotel berbintang Nina telah sampai. Sesuai intruksi di pesan singkatnya dia akan menemui seseorang.
"Maaf apa anda menunggu lama?" Ujar Nina berpura-pura sopan.
"Tidak masalah... Aku juga baru sampai."
Keduanya duduk berhadapan, Catherina mengundang Nina makan malam bersama. Dia bilang ingin mengenalnya satu sama lain.
"Aku lihat sepertinya hubunganmu dengan Hanssel tidak sederhana."
"Seperti lebih dari sekedar patner kerja..."
"Benar demikian?"
Nina menampilkan senyum datarnya, "Apa yang ingin anda ketahui?"
"Jika nona ingin tahu apa hubungan aku dengan tuan Hanssel, anda bisa menanyakannya pada beliau aku ini siapa."
"Setahu saya, saya hanya tangan kirinya di perusahaan."
"Ckck..."
"Kamu sungguh angkuh Nina..."
"Aku dengar banyak rumor di kantor mengenai dirimu."
"Tidak ada yang positif disana jika bukan Hanssel sendiri memberi gelar karyawan terbaik di Adamson selama 2 tahun berturut-turut!"
"Lantas, anda menginginkan apa dari saya?"
"Keluar dari Adamson!!"
"Aku akan memberikanmu kompensasi yang menguntungkan untukmu."
Nina tertawa lirih, Aku tidak menyangka Catherina bukan sosok wanita yang aku bayangkan. Apa benar Hanssel mencintainya?
"Apa anda akan membayarku lebih dari Adamson membayarku pertahunnya?"
"Sure!"
"Hmm... Alasan apa yang membuat nona ingin saya keluar?"
"Apa anda cemburu pada wanita jelek seperti saya?"
Catherina mengeratkan tangannya di bawah sana, dia sangat emosi dengan semua jawaban Nina yang benar-benar menyombongkan dirinya.
"Permisi nona, ini pesanan anda..."
Seorang pelayan tengah mendatangi meja mereka dan menata minuman yang tak lain Sampanye dan Wine. Nina memperhatikan waitress itu, dia tersenyum simpul.
Catherina menuang dalam dua gelas, satu untuknya dan satu lagi untuk Nina.
"Aku memintamu menerima perkenalan kita saat ini..."
"Aku minta maaf telah memaksamu barusan..."
"Aku hanya bercanda..."
Catherina menaruh satu gelas Sampanye di hadapan Nina, mempersilahkannya dan Catherina menenggaknya lebih dulu.
"Cheers..."
Nina mengambilnya dan meminumnya di hadapan Catherina, wajah Catherin menyeringai.
Habiskan lah Nina, sebentar lagi kamu tidak akan punya muka lagi di hadapan publik!!!
Setelah meminumnya Nina sedikit pusing, dia memegang kepalanya dengan raut wajah gelisah.
"Are you okay?" Tanya Catherina menghampiri Nina.
"Emm... Aku tidak pandai minum..." Ujar Nina lirih.
"Maafkan aku... Harusnya aku tidak memaksamu meminumnya.."
"Mari aku antar kamu pulang."
"Rumah mu dimana?"
"Tidak perlu saya bawa kendaraan pribadi."
"No way... Kamu mabuk, akan sangat berbahaya jika ngotot mengendarai sendiri." Catherin berpura-pura peduli saat ini.
"Oh iya bagaimana kalau kamu istirahatkan sebentar."
"Aku pesan kamar disini, aku biasa istirahat disini..."
Tanpa persetujuan Nina, Catherina memapah wanita itu menuju kamar yang dia maksudkan. Setelah sampai kamar, Catherin menidurkan Nina di ranjang besar. Nina telah hilang kesadaran sepenuhnya.
"Heh!"
"Kamu sudah membuatku muak Nina."
"Ini akibat kamu menentang batas kesabaranku!!"
Catherina menjentikan jarinya, beberapa pria telah berada di dalam kamar.
"Buat dia melayang di angkasa, jangan lupa foto dan videonya."
"Buat seekstrim mungkin..."
"Aku yakin Hanssel akan menyukainya..."
"Nona tenang saja... Kami sudah sangat ahli di bidang ini."
"Bagus..."
"Ini bayaran kalian..."
"Terima kasih nona!!"
Catherina menyerahkan satu map besar pada pria yang akan menodai Nina dengan gembira pria itu menerimanya. Catherina bersiap keluar ruangan.....
Bruuuk!
✲✲✲✲✲✲