Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 7 - Terungkap



Nina bergerak dan terbangun, dia merasakan ada yang salah dengan dirinya. Dia membukan matanya dan membulat sempurna saat tahu dirinya tidak mengenakan apa-apa. Ingin rasanya dia menjerit sekencang yang dia bisa saat dia membalikan tubuhnya sosok pria yang dia kenal menjadi bosnya tengah tertidur tanpa busana seperti dirinya. Namun kemudian pemikiran rasionalnya menguasainya kembali.


Sepertinya si Hanssel bodoh ini tidak meniduriku. Aku tidak merasakan apapun di bawah sana.


Segera setelah mengetahui dirinya berada dalam bahaya dia mengendap-endap keluar dari apartemen bosnya menuju rumahnya tanpa bersuara atau akan membangunkan si pria yang tengah berusaha menjeratnya saat ini.


Di apartemennya dia menyesali apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Aku sungguh mengkhawatirkanmu... Sampai aku menelponmu dan seorang pria yang mengatas namakan teman kencanmu memberitahukanku kamu akan bersamanya malam tadi."


Farah tengah menceritakan beberapa kejadian versi dirinya. Nina menyadari saat itu dia mabuk berat dan hanya bisa mengingat sedikit tentang apa yang terjadi. Dia berpapasan dengan Hanssel, dan dia tidak ingat setelahnya.


Di apartemen Hanssel, pria itu terbangun dan mendapati wanitanya tidak ada di situ. Dia menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Aku tahu kamu akan terus menghindar Nina... Kita lihat sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu dengan baik di kantor!!"


Hanssel bergegas membersihkan dirinya, dia bahkan tengah bersuka cita. Sepertinya dia tahu siapa yang menjadi teman kencannya bulan ini.


"Aku boleh berbangga diri bukan? Aku tidak pernah kehabisan stok wanita setiap bulannya..."


Senyumnya terukir indah di wajah tampan Hanssel. Dia bergegas menghubungi Farell dan menjadwalkan kerja sama dengan salah satu mitra di Bali akhir pekan ini.


***


Di kantor Adamson Group seperti biasa tengah disibukkan dengan aktifitasnya. Hari ini bertepatan dengan hari jumat. Hari yang selalu di tunggu dengan julukannya Thank God It's Friday! Nina melangkah dengan sedikit waspada. Sedari di apartemennya dia terus memikirkan alasan apa yang tepat untuk menghindar dari kejaran bosnya itu.


Tuut!


"Bawakan aku berkas Lee Hi!"


"Baik tuan..."


Nina berjalan gontai menuju ruangan bosnya, ingin rasanya saat ini dia berbalik dan melarikan diri tidak ingin menghadapi semua masalah identitasnya.


"Ini berkas yang anda perlu tanda tangani. Kemudian sore ini anda mendapat persetujuan kerjasama baru dengan JK di HK."


"Apa perlu saya jadwalkan kembali perjalanan bisnis anda ke HK?"


Hanssel tidak mendengarkan dengan baik perkataan sekertarisnya. Dia justru tengah menatap tampilan kuno Nina yang dibuatnya saat ini hanya untuk kamuflase semata. Nina yang di perhatikan tidak wajar merasa risih dia tidak kalah menatap nyalang bosnya.


"Apa anda tidak mendengarkanku?!!" Ujar Nina kesal.


"Heh..." Hanssel menyeringai dia beranjak dari kursinya dan mendekati Nina.


Nina menelan salivanya, sepertinya dia tahu apa yang akan di lakukan bosnya.


"Apa kamu akan menyangkal kembali jika aku bilang semalam kita bercinta Karennina?" Ujar Hanssel tanpa basa-basi.


"Sepertinya otak anda akhir-akhir ini perlu di cuci!!" Ujar Nina sarkas.


"Aku tahu Nina, berhenti memainkan peran tikus dan kucing... Apa kamu tidak lelah?!"


"Aku yang membawamu semalam dari bar!"


"Seorang wanita cantik yang tengah mabuk yang ternyata menyamar menjadi sekertaris norak saat ini."


Nina terkekeh menanggapi perkataan bosnya.


"Aku memiliki bukti kuat Nina, aku baru menyadari kamu juga pandai memanifulasi CCTV rumah ku. Ternyata kamu juga memiliki akses kesana."


Debar jantung Nina sulit di kendalikan, Dia semakin gelisah semoga saja tuannya tidak menyadarinya. Hanssel mengusap lembut pipi Nina dan mengapit wajahnya dengan satu tangannya. Nina terbelalak tidak menyangka Hanssel berani kurang ajar seperti sekarang ini. Nina mencoba berontak namun tangannya kembali di tahan oleh satu tangan lainnya milik pria itu.


"Malam itu aku pikir kamu mengetahui sedikit, sebelum kamu pingsan aku menciummu bukan?!"


DEG!


Hanssel menyukai respon terdiam Nina, "Benar aku menggigit bibirmu, dengan tujuan memperlihatkan padamu bahwa bekas gigitan itu bukti bahwa semalam benar kita bersama!!"


Hanssel kembali mencoba menyesap bibir seksi sekertarisnya namun segera di dorong kuat oleh Nina.


Terus saja berontak Nina!!! Semakin jual mahal semakin aku menginginkannya!!


"Kalau begitu jadilah pacarku sekarang!!"


"HAHAHAHA kamu kurang kopi ya?! Aku buatkan saat ini juga!!"


Nina segera berlalu tanpa mengindahkan lagi ocehan bosnya.


"HAH?"


"Kenapa dia selalu menolakku?!"


"Apa aku kurang tampan? Kurang kaya?"


Hanssel kembali merogoh ponselnya dan menghubungi Farell.


"Bukan Hanssel namanya jika tidak bisa mendapatkan mu Karennina Kaviandra!!"


Di ruangan Nina dia tengah menangis di atas lengan yang di tangkupkan di meja.


"Baru saja aku mendapatkan kenaikan gaji yang besar disini dan merencanakan sesuatu pada Suho. Kini si brengsek itu telah mengungkap jati diriku!"


"Tunggu! Bukankah dia hanya mengetahui tampilan asliku saja?"


"Kenapa semakin kesini kamu semakin lemah Nina!!"


Rutuk Nina dalam hati kemudian dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia selalu menyelesaikannya on time agar tidak melakukan over time. Dengan begitu frekuensi dia bertemu dengan bosnya berkurang.


"Nina persiapkan dirimu besok pagi belikan tiket untuk perjalanan bisnis kita ke Bali selama 2 hari."


Suara Husky bosnya terdengar tiba-tiba di ruangannya membuat Nina sedikit melonjak dari tempat duduknya. Hanssel yang menyadarinya terseyum tipis melihat tingkah Nina seperti tengah ketahuan melakukan sebuah kejahatan.


"Mengapa mendadak? Bukankah biasanya anda bersama Farell?"


"Farell tengah mengurusi masalah Mentari Abadi." Jawab Hanssel datar duduk di depan meja kerja Nina.


Nina menatap dengan tatapan kesal kemudian mendengus kesal dengan wajah di tekuknya.


"Apa karena tahu aku berpenampilan sesuai kriteria wajah wanitamu jadi kamu mengajakku?"


"Berhentilah berdebat dengan pemikiran konyolmu itu Nina."


"I'm done!!" Hanssel beranjak dari kursi.


"Jangan lupa besok pagi aku akan menjemputmu ke bandara!"


Hanssel meninggalkan Nina yang masih termenung tidak percaya dengan perubahan sikap bosnya. Dulu Hanssel mana pernah mau berlama-lama mengobrol dengannya. Bahkan Hanssel tidak pernah mengajaknya pergi keluar kota. Selalunya dia hanya membawa Farell dan teman kencan wanitanya untuk bermain dikala si pria bosan.


Tring!


Sebuah notifikasi pesan masuk membuat dia tersenyum kemudian dia mencari tiket dan memesan perjalanan bisnis itu dengan nama dirinya dan Bosnya.


[ Karen, aku mengetahui bahwa Erick besok ada penjamuan penting dengan klien utamanya Emperor di Bali. Aku juga mendapatkan informasi tambahan bahwa dia akan membawa serta seluruh keluarganya termasuk Jimmy. ]


Nina sampai di apartemennya mendapati rumahnya kosong dia menghubungi Farah gelisah.


"Kamu kemana?" Tanya Nina buru-buru.


"Aku mendadak ada urusan ke KL. Aku minta maaf ga sempat pamit... Tapi aku sudah merapihkan rumah!!"


"Baiklah... Aku juga ada urusan bisnis ke Bali..."


"Doakan aku... Aku akan membawa Jimmyku kembali..."


"Oh ya? Bagaimana bisa?"


Keduanya larut dalam perbincangan, dan Nina melupakan bahwa saat ini dia tengah melakukan Sambungan Internasionalnya.


✲✲✲✲✲