
"Tunggu Hans..."
"Mama sudah bangun?"
Semalam Hanssel tidak tega untuk meninggalkan ibunya. Setelah pingsan beliau hanya di rawat oleh dokter pribadi di kediaman besarnya.
"Haissh Hans... Mama minta maaf!"
"Mama sudah tidak punya muka di depan kamu, bahkan di depan Karennina."
"Mama sungguh telah bersikap kasar padanya."
Nyonya Rossie telah merenungkan sikapnya selama ini, setelah kejadian hilang kesadarannya dia menyadari semua kesalahannya. Selama ini dia selalu memaksakan kehendak atas anaknya. Dia begitu frustasi atas apa yang terjadi pada keluarga Adamson satu tahun terakhir ini, suaminya bertugas keluar negara dan tidak ada kabar berita hingga saat ini.
Semua beban perusahaan dan putranya berada di pundaknya. Walau Hanssel sudah dewasa namun satu tahun terakhir kelakuan casanova Hanssel membuat ibunya sungguh lelah dengannya. Namun dia selalu mencoba bersabar dia sangat tahu pasti bahwa Hanssel sangat mencintai wanita dan akan menghormatinya. Namun saat kepergian Catherina Hanssel kecilnya berubah drastis. Itulah alasan Nyonya Adamson menyetujui pernikahan yang di usung tetua Lim. Bagian yang menguntungkan lainnya adalah, selain pernikahan dia akan mendapatkan investasi tambahan dan bersatunya dua group besar di tanah air.
Hal yang tidak di ketahui Nyonya Rossie bahwa Hanssel telah jatuh cinta pada Katerinna. Dia memaksakan bahwa pasti Hanssel hanya menunggu Catherina, dia sangat tahu bahwa putranya tipe pria setia sejujurnya. Jadi Nyonya Rossie beranggapan bahwa sikap Bad Boy putranya hanya bentuk kekecewaannya pada Catherina. Jika Catherina kembali padanya dia pikir Hanssel akan kembali berubah.
Hanssel mendekati ibunya yang kini telah duduk di ruang tamu keluarga besar itu. Walau bagaimana pun dia adalah ibu kandung yang sangat berjasa baginya. Walau terkadang ibunya selalu salah dalam memprediksikan dirinya.
"Ma, aku tahu pasti Nina adalah wanita baik."
"Dia akan memaafkanmu..."
Hanssel menggenggam tangan wanita paruh baya yang dari raut wajahnya terlihat sangat lelah itu. Nyonya Rossie mengangguk lemah dengan senyuman tulusnya.
"Bawa dia kembali sayang..."
"Mama secara khusus akan meminta maaf padanya."
"Bukan karena investasi atau sejenisnya."
"Murni karena dia menantu mama!"
Plaaak!
Nyonya Rossie menepuk bahu Hanssel dengan keras, Hanssel mengerutkan keningnya.
"Maaa..."
"Kau bocah tengik menikah diam-diam biar apa HAH?!"
"Setengah mati mama membuat kamu berubah kebiasaan buruk mu itu!!"
"Taunya nikahin sekertaris sendiri!!"
Hanssel tertawa kecil dia menundukan wajahnya.
"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu aku sudah sangat nyaman bersamanya."
"Kapan pastinya aku juga tidak tahu pasti..."
"Mungkin jauh lebih awal dari yang aku perkirakan..."
"Dia begitu apa adanya, dia memang membohongi status dan tujuannya namun dia tidak pernah bermuka dua di depan ku ma!"
"Dia tidak pernah memiliki niatan buruk, dia bahkan selalu mencoba melepaskan diri dari jeratanku!"
"Cih!"
"Kamu kebanyakan baca novel ya jerat sekertarismu pake surat nikah?!"
"Jangan-jangan itu cuma nikah kontrak pula!!!"
Plaak!
"Dasar anak durjanaa!!"
"Maaa..."
"Tidak sama sekali... Aku menikahinya benar-benar karena aku mencintainya."
"Justru Nina yang mengajukan surat pra pernikahan."
"Aku setuju aja mau dia nguras harta aku sekalipun aku tidak peduli!"
"Hal yang aku inginkan dia selalu di sampingku seumur hidupku."
Percayalah sejujurnya Nyonya Rossie orang yang menyenangkan. Dia justru selalu bergibah bahkan sebelum mengetahui Nina dekat dengan Hanssel. Nina lah jadi tempat curhat Nyonya besar itu.
"Anakku sudah tumbuh besar..."
Nyonya Rossie mengacak rambut putranya dan meariknay dalam dekapannya.
"Udah ma... Malu!!"
"Hahahaha..."
Mata Hanssel berkaca, sudah sangat lama dia tidak mendengar ibunya tertawa lepas seperti saat ini. Wajah ibunya yang biasa selalu tertekan kini memudar kembali bersinar. Dia sungguh bersyukur, saat ini justru keadaan mereka jauh lebih baik.
"Apa yang akan papa mu katakan jika anaknya sudah bisa menyainginya!"
"Mengambil alih seluruh bisnisnya!"
Nyonya Rossie kembali dirundung sendu. Hanssel terpaku dengan pertanyaan tiba-tiba yang mencatut nama papanya yang selama setahun ini dilarang di sebut di rumah besar itu.
"Dia menyaingi ku?"
Pandangan Hanssel dan Nyonya Rossie secepatnya menatap asal suara. Suara yang sangat di rindukan beberapa tahun terakhir. Suara berat pria paruh baya yang masih terdengar seksi di telinga. Dengan perawakan tubuh tegap, gagah bak seorang raja. Wajahnya yang masih terlihat tampan di usianya yang akan menginjak kepala empat itu jika di sandingkan dengan Hanssel mereka akan dianggap bak adik kakak.
Nyonya Rossie tidak bergeming dari tempatnya, dia bahkan berusaha untuk tidak mengedipkan matanya.
"It's you?" Lirihnya.
Hanssel sendiri bingung harus melakukan reaksi seperti apa. Dia tidak menyangka bahwa ayahnya akan kembali pulang kerumah. Bukan dia tidak melakukan apa-apa atas menghilangnya kabar ayahnya setelah pergi dalam perjalanan bisnis ke Inggris tepatnya dua tahun yang lalu saat Nina baru pertama kali masuk ke perusahaannya. Namun semua informasi yang dia beli tidak menjelaskan keberadaan pasti ayahnya. Apakah masih hidup atau sudah tiada. Semua itu membuat nyonya Rossie depresi beberapa saat dan untuk pertama kalinya Hanssel mengerti mengapa ibunya sangat keras padanya setelah itu. Ibunya menanggung beban berat di pundaknya setelah kepergian suaminya.
"Kau pikir siapa lagi?!"
"Apa kamu membayar gigolo untuk menggantikanku selama aku pergi HAH?!"
Sekuat tenaga Hanssel menahan tawanya. Walau tampangnya gagah perkasa tapi ayahnya pandai ngelawak.
"KAU BAJINGAN TUA BANGKA!!!"
Bug!
Bug!
Nyonya Rossie tengah melempar bantal sofa kearah suaminya. Kemudian wanita itu menangis.
"Ok... I'm sorry honey!!"
Tuan Adamson segera merangkul tubuh ringkih istrinya yang masih lemah setelah kemarin kondisi kesehatannya sempat menurun.
Bug... Bug... Bug...
"Kau jahaaaat!!!"
"Aku sangat membencimu!!"
"It's okey... Kamu boleh membenciku asal tidak menceraikan ku."
"Kau tidak akan mendapat apa-apa!"
"BAJINGAAAN!!"
Tuan Adamson terbahak melihat kembali ekspresi istrinya yang sangat dia rindukan.
"Oh Shit*!"
"Kalian membuat mataku ternoda sepagi ini!"
"Sungguh kalian tidak mempunyai perasaan!"
"Aku yang sedang berjauhan dengan istriku lantas kalian pamer kemesraan!"
"I'm done!!"
"Kalian lanjutkan saja urusan kalian aku pergi..."
Hanssel pamit, dengan mengangkat tangan dan wajah masam.
"Heh bocah kurang ajar!"
"Udah bikin heboh satu jagat media, sekarang kamu ga mau sungkem sama bapak muni?"
"Dimana letak sopan santun kisanak?"
Pekik Tuan Adamson mengejek Hanssel yang memang sudah terbiasa terdengar bar-bar.
"Buah itu jatuh ga pernah jauh dari pohonnya."
"Yang pergi tanpa pamit juga siapa!"
Hanssel kembali membalikan badannya dan melambai pamit keluar.
"Haiiishh!"
Tuan Adamson hanya menunjukan wajah frustasinya.
"Aku sebal sama kamu, pergi lagi sana!!"
"Benarkah?"
"Bukan kah setiap malam kamu selalu menangis menanyakan kepulangan ku?"
"KAU MENGAWASI KU?!"
"HAHAHA"
Keduanya masih beradu mulut yang membuat Hanssel geli jika harus terus mendengarkan mereka.
***
Hanssel telah berada di kantornya, dia segera memeriksa beberapa pekerjaan yang akan dia kerjakan hari ini setelah sebelumnya dia mengabaikan begitu banyak pekerjaan.
"Oh sayaaaang!"
"Tanpa kamu disini beban pekerjaanku bertambah!!!"
Hanssel menangisi nasibnya setelah kepergian Nina dari kantornya beban pekerjaannya kembali seperti semula saat sebelum Nina datang ke perusahaannya. Walau beberapa telah di selesaikan baik oleh Farell namun dia tidak sekejam itu menggunakan tenaga Farell terus menerus. Bahkan dia takut jika asisten khususnya itu Andropause lebih awal dari seharusnya dan menggugatnya bahkan mungkin meminta resign. Semua membahayakan dirinya!
✲✲✲✲✲✲