
Hanssel masih menatap haru kearah istrinya yang semakin memancarkan aura keibuannya.
"Aku sungguh merindukanmu sayang..." Lirihnya.
"Me too..."
"Tidak sia-sia aku terus merengek pada kakak!"
Nina terekeh begitu pula Hanssel mereka tertawa bersama.
"So?"
"Kita pulang sekarang?"
Hanssel terus berbisik lirih di telinga Nina membuat tubuh wanita itu meremang. Nina tersenyum keduanya beranjak keluar restaurant dengan penuh suka cita.
"Pak..."
"Bangun..."
"Aneh kenapa mereka semua tertidur di meja begini?"
"Jangan-jangan...."
"Pak toloong pak ada yang pingsan di mejaaa!!"
Hanssel dan Nina terkekeh melihat keributan hasil usaha mereka membuat sekelompok orang yang terdiri dari empat orang pria dewasa yang di perkirakan usia mereka jauh lebih muda dari pada Hanssel tidak mengejar Yvone dan kawan-kawan. Nina menembakan obat bius setipis jarum dengan jam tangannya seperti biasa. Dengan tepat mengenai leher sekelompok orang itu membuat mereka pingsan.
"Aku harus lebih waspada pada istriku sendiri!!" Canda Hanssel.
Nina hanya menggelayut manja di lengan prianya, Hanssel mencium pucuk kepalanya.
***
Di depan kawasan perkantoran Suho, Rangga tengah menurunkan Yvone dan Farah.
"Kamu ikut aku dulu, aku akan mengajarkan beberapa daily job yang akan kamu kerjakan mulai besok pagi."
"Terima kasih kak!"
"Kayaknya kita seumuran deh!!" Protes Farah.
"Terus lu balik bisa sendiri kan ga perlu gue jemput?" Tanya Rangga menatap Farah.
"Yoi..."
"Eh btw Farewell Party dong katanya mau pulang kampung!!" Ujar Rangga mendadak mendapat ide.
"Ehmm..." Farah mengusap dagu dengan tangannya.
"Okay deh, aku tanya Karen dia ikut enggak." Ujar Farah kemudian.
"Kita taruhan dia lebih milih berduaan ama lakinya ketibang gabung ama kita!"
"AYOK GUE DEMEN TARUHAN KEK GINI!" Pekik Farah girang.
"100 DOLAR!" Ujar Farah menggoda.
"Ih ck..." Dengus Rangga.
"Gue taruhan Karen bakalan datang!!"
"Aku juga salah satu kesayangannya..." Dengan percaya diri Farah mengejek ke arah Rangga.
"DEAL!!!" Rangga tidak mau kalah.
"Walau bagaimanapun dia sudah bersuami dan memiliki anak!"
Yvone masih memperhatikan keduanya berdebat sampai akhirnya mengakhiri dan masuk ke area kantor.
"Ini meja kerja kamu nantinya."
"Karennina sangat perfeksionis, dia tidak suka meja kerja kita berantakan."
"Sebisa mungkin kamu pandai merapikan berkas."
"Dia juga si ratu on time!"
"Usahakan kamu harus datang lebih dulu..."
"Dia sangat teliti dan tidak pandang bulu jika sudah urusan pekerjaan."
"Aku sudah beberapa kali kena potong gaji karena teledor."
"Hahahahaha!!"
Farah mengucapkannya dengan semangat dan menggebu namun sejurus kemudian hatinya sakit. Apa yang dia impikan sedari dulu sebentar lagi akan menguap begitu saja Dia mengusap meja kerjanya yang baru beberapa bulan dia duduk disana dan dengan senang hati dan penuh dedikasi dia melayani tuannya yang merupakan malaikat penyelamat hidupnya dan keluarga Lee.
"Baik, aku akan mengingat semuanya."
Yvone tersenyum manis pada Farah keduanya kemudian menyelesaikan pekerjaan yang memang sedang Farah garap.
Di kediaman Nina, Hanssel tengah memeluk Jimmy dengan eratnya.
"Papa rinduuu!!"
"Jimmy jugaaaa...." Kali ini Jimmy menangis membuat Nina tidak percaya atas respon luar biasa putranya.
Padahal dia bukan ayah biologisnya namun kecintaannya pada Hanssel sudah di luar nalar. Wajar juga sih, aku sendiri terjerat dengan pria ini!
Nina merangkul keduanya kemudian dia merasakan ponselnya bergetar.
"Halo.."
"Bos!"
"Ada masalah?"
"Iya..."
"Aku besok pulang, kamu mau kan bergabung di last farewell yang aku adain bareng Rangga sama Yvone. Ajak Hanssel dan Jimmy sekalian tidak masalaaah!" Rengek Farah saat ini harus serius demi menang taruhan atau memang demi memiliki kesan yang baik saat perpisahaannya yang satu tahun kedepan dia tidak akan bertemu lagi dengan keluarga Kaviandra.
Entah mengapa perasaan Nina tidak nyaman dia bahkan tengah berkaca kali ini. "Oke, kamu sebutkan dimana lokasinya aku akan kesana dengan Hanssel."
"Jimmy akan mengantarmu besok!"
"Benarkah?!" Farah terdiam, dia sungguh sesak ingin rasanya saat ini dia memeluk sepupunya.
Hanya dia satu-satunya tumpuan diriku di saat aku bersedih selama ini. Tuhan tolong mampukan aku kehilangan segalanya mulai hari ini!!
"Faraaah?" Nina mulai khawatir.
"Kita akan ke Emperor kamu yang bayar oke!!!" Pekik Farah berpura-pura senang kenyataannya tengah hancur sehancur-hancurnya.
"Oke sayaaang..."
"Kamu ingin aku belikan apa?"
Suara lembut Nina sukses membuat Farah merosot di lantai dan menutup sambungan telponnya, terisak memegang lututnya. Dia sengaja menghubungi Nina di kamar mandi Nina tidak mungkin bisa memantaunya disini.
"Aku minta maaf Karen, aku benar-benar mengecewakan mu."
"Mengecewakan keluarga!"
Di kediaman Nina, dia bergegas membuka laptopnya dia sungguh gelisah pada Farah.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Hanssel, namun di acuhkan oleh wanitanya.
Hanssel mengerti, sepertinya Nina punya pekerjaan sendiri. Dia hanya memeluk istrinya menghirup wangi tubuh istrinya yang selalu dia rindukan saat ini.
Nina terus menggerakan kursor miliknya mencari keberadaan Farah di kantor. Terlihat Farah tengah mengajari Yvone dengan sesekali tertawa.
Mungkin aku terlalu berpikir berlebihan? Apa karena kehamilanku semakin membesar sifat sensitifku semakin besar juga? Selama kamu senang aku ikut senang untuk mu Farah!
Nina mematikan kamera pengawasnya, dia berbalik badan menatap Hanssel yang tiba-tiba tertidur.
"Hans, kamu lelah ya?"
Nina mencium kening suaminya dan membiarkannya tertidur saat ini.
***
Bar and Lounge Emperor, 8 PM
"Kareeeen!!!"
Farah melambai penuh semangat melihat sepupunya datang bersama dengan suaminya.
"Hahaha gue dah bilang apa!!"
"Karennina jauh mencintaiku di banding kamu!!"
"Sini duidnya aku menang!!"
"Cih!!"
"Aku yakin kamu ngerengek sama dia!!"
Rangga membuka dompetnya dengan kesal dan memberikannya uang 100 dollar seperti yang sudah di janjikan.
"Yuhuuuu!!" Farah mencium uangnya dan memasukan kedalam dompet miliknya.
"Lu bagi-bagi duid..."
"Gue dapet ga?"
Nina menggoda Rangga yang wajahnya masih dia tekuk kesal.
"Emang black card dari ku ga cukup sayang?" Tanya Hanssel menggoda.
"Pameeeeer teruuuuss!!" Protes keduanya membuat mereka kembali tertawa.
Mereka memesan makanan dan minuman, bersenda gurau dan membahas hal random lainnya.
Aku mendapat kabar bahwa para pengawal itu tiba-tiba pingsan di meja mereka. Aku ingin tahu apa yang di lakukan wanita ini pada mereka. Sangat menarik!!!
Yvone terus memperhatikan Nina, dia juga terus menyelidik tampilan Nina dari atas hingga bawah. Dia terpikat pada jam tangan Nina. Dari luar tampak seperti smartwatch biasa namun bagi yang mengetahui gadget yang di kenakan Nina itu berfungsi untuk apa saja tentu memiliki keinginan untuk merebutnya.
Aku ingat barang itu pernah muncul di sebuah pelelangan namun secepatnya terjual oleh seseorang. Apa mungkin dia?
"Yvone, apa kamu jadi pindah ke apartement yang aku pakai?" Farah akhirnya mengajak Yvone berbincang.
Yvone tersadar dari lamunan dan perhatian khususnya pada Karennina. "T-Tentu saja..."
"Aku tidak ingin pulang ke rumah..."
"Aku yakin aku akan segera di nikahkan oleh papa."
Yvone berubah sendu menundukan pandangannya.
"Kamu kabur dari rumah juga bukankah menyusahkan kedua orang tuamu?"
"Apa kamu tidak berpikir mungkin saja bandit itu melakukan hal berbahaya pada keluargamu..."
"Eh...." Yvone mendongak menatap Nina yang berkata dengan lugas.
Farah menyadari pestanya akan berubah menjadi mencekam jika Nina meneruskannya.
"Woy, kita kesini mau have fun ingat?" Protes Farah buru-buru melerai.
Hanssel terus menatap Yvone, dia sepertinya melihat wanita ini saat bertugas mencari keberadaan tuan Don.
Jangan-jangan dia adalah mata-mata yang di utus tuan Wijaya. Bisa sangat berbahaya!!
Hanssel menatap Nina kemudian, istrinya hanya tersenyum ke arahnya seolah tahu apa yang akan mereka lakukan kedepannya.
Nina memeluk Farah, Farah memeluk balik dengan eratnya.
"Ingat kamu tidak sendiri, jika kamu butuh bantuan apapun itu kamu hubungi aku."
"Secepatnya aku akan menemuimu..."
"Jikapun tidak bisa aku akan memberikan orangku!"
Nina dan Farah berada di depan pembatas roof top. Keduanya tengan berbincang hanya ada mereka.
"Kamu jangan khawatir, selama kakak Keenan mensupport finansial kami, tentu saja aku tidak akan kesulitan apapun." Bual Farah.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari ku bukan?" Tanya Nina serius, dia sungguh tidak nyaman akhirnya memberanikan diri bertanya langsung pada sepupunya.
Deg!
"Hahaha, bukan kah kamu sangat tahu diri ku Karen?"
"Aku bisa sembunyiin apa dari kamu?"
Nina tersenyum dan kembali merangkul yang selalu dia anggap saudara sendiri.
✲✲✲✲✲✲